Untitled (How Does It Feel)
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Sebuah lagu yang terlalu sukses sampai membunuh penciptanya
Ada lagu yang gagal dan membuat penyanyinya menghilang. Yang lebih langka adalah lagu yang terlalu berhasil, dan justru karena itu penyanyinya menghilang.
"Untitled (How Does It Feel)" adalah kasus kedua. Ketika video klipnya tayang di MTV pada awal tahun 2000, dunia melihat satu pengambilan gambar panjang: kamera bergerak perlahan naik-turun menyusuri tubuh D'Angelo yang tampak tanpa busana, dengan latar hitam pekat, tanpa potongan, tanpa penari, tanpa apa pun kecuali dia dan lagunya. Penonton terpaku. Album Voodoo melesat ke posisi puncak tangga album Amerika. Lagunya membawa pulang Grammy. Semua indikator sukses menyala hijau.
Dan di dalam sana, sang musisi mulai retak.
Yang jarang diceritakan adalah bahwa lagu itu, sebelum jadi ikon seksualitas, adalah surat cinta seorang murid kepada gurunya. D'Angelo menulisnya sambil membayangkan Prince. Bukan meniru: menyapa. Ia ingin membuat sesuatu yang, seandainya Prince mendengarnya, sang legenda akan mengangguk dan berkata "ya, anak ini paham." Judulnya bahkan tetap "Untitled" (tanpa judul) karena selama proses rekaman lagu itu memang belum pernah diberi nama, dan nama itu tak pernah datang. Yang tersisa hanya pertanyaan di dalam kurung: bagaimana rasanya?
Ironi paling pahitnya: sebagian besar orang yang bisa menghafal video itu tak bisa menyebutkan satu pun nama musisi yang bermain di dalamnya. Padahal di balik lagu ini ada salah satu kolektif musisi paling berbakat pada pergantian milenium.
Rumah kecil bernama Electric Lady, dan sebuah gerakan bernama Soulquarians
Untuk memahami lagu ini, kita harus mundur ke akhir 1990-an di New York. Di studio legendaris Electric Lady, yang dulu dibangun oleh Jimi Hendrix di Greenwich Village, sekelompok musisi muda praktis tinggal di sana selama berbulan-bulan. Mereka menyebut diri Soulquarians. Anggotanya termasuk D'Angelo, drummer Questlove dari The Roots, produser mendiang J Dilla, bassist Pino Palladino, serta nama-nama seperti Erykah Badu, Common, Q-Tip, dan Bilal yang datang dan pergi.
Cara kerja mereka nyaris bertentangan dengan seluruh industri musik saat itu. Tahun 1999–2000 adalah era di mana R&B semakin rapi, semakin terkuantisasi, semakin presisi secara digital. Soulquarians berjalan ke arah sebaliknya. Mereka merekam bersama-sama di satu ruangan, membiarkan groove sedikit "meleset", sengaja menempatkan ketukan agak di belakang, membuat musik terasa malas, berat, seperti berjalan di air. Questlove pernah menggambarkan bahwa mereka mengejar rasa "salah" yang justru terdengar benar. Bassnya sering seperti terlambat sepersekian detik. Vokalnya bertumpuk-tumpuk seperti paduan suara yang direkam sendirian.
Album yang lahir dari sesi itu, Voodoo, dirilis Januari 2000. Butuh lima tahun sejak album debut D'Angelo, Brown Sugar (1995), untuk sampai ke sana. Lima tahun adalah keabadian dalam kalender industri musik.
Di titik ini ada kaitan yang menarik untuk telinga Indonesia. Estetika yang dikejar Voodoo bertumpu pada rasa groove yang tidak lurus, yang bernapas, yang punya ayunan manusiawi. Pendengar di sini sebetulnya sudah lama akrab dengan logika semacam itu. Musik yang dimainkan bersama secara live, dengan tarikan ritme yang tidak kaku, adalah bahasa yang dipahami dari panggung-panggung jazz kampus sampai grup funk-soul lokal. Tidak mengherankan kalau Voodoo kemudian jadi salah satu album yang paling sering disebut sebagai kitab suci di kalangan musisi neo-soul Indonesia. Generasi yang membesarkan skena soul-funk kontemporer di Jakarta dan Bandung, dari kolektif-kolektif yang tumbuh lewat festival jazz sampai penyanyi-penyanyi yang membawa nuansa R&B hangat ke arus utama, hampir selalu menyebut nama D'Angelo ketika ditanya tentang akar mereka. Cara menaruh vokal yang mengambang di atas ketukan, harmoni bertumpuk yang lembut, bass yang gemuk dan santai: itu jejak yang sama.
Sesi rekaman "Untitled" sendiri konon berlangsung dengan pendekatan yang sangat sederhana secara aransemen namun sangat rumit secara emosional. Lapisan vokal ditumpuk berulang-ulang oleh D'Angelo sendiri, menciptakan efek seperti seorang lelaki yang bernyanyi bersama semua versi dirinya. Instrumentasinya dibiarkan minim: keyboard, bass, drum yang menahan diri. Kekosongan itu disengaja. Ruang kosong itulah yang membuat suaranya terasa begitu dekat, seolah dinyanyikan di depan telinga.
Yang sebenarnya ditanyakan lagu ini
Secara permukaan, "Untitled (How Does It Feel)" adalah lagu rayuan. Sang narator berbicara kepada seseorang yang ia inginkan, dan mengajukan satu pertanyaan yang terus kembali sepanjang lagu: bagaimana rasanya.
Tapi perhatikan siapa yang bertanya, dan kepada siapa.
Lagu rayuan konvensional biasanya bersifat menyatakan. Aku menginginkanmu. Aku akan melakukan ini padamu. Aku tahu apa yang kamu mau. Lagu ini melakukan hal sebaliknya. Ia menyerahkan wewenang kepada lawan bicaranya. Sang narator tidak memberi tahu perempuan itu apa yang ia rasakan; ia memintanya menjawab. Seluruh berat lagu bertumpu pada jawaban yang tak pernah kita dengar.
Dari sana muncul nuansa yang membuatnya bertahan puluhan tahun: ini bukan lagu tentang penaklukan, melainkan tentang kerentanan. Narator meminta izin. Ia menunggu. Ia mengaku bahwa ia tidak tahu, dan justru ketidaktahuan itu yang ia nyanyikan berulang kali. Dalam lirik, keinginannya digambarkan sangat langsung dan fisik, kadang nyaris memohon, tapi bingkainya selalu berupa pertanyaan, bukan perintah.
Ada juga lapisan kedua yang lebih spiritual, dan ini yang membuat sarjana musik senang membahasnya. Cara D'Angelo menumpuk suaranya sendiri mengambil bentuk dari tradisi gospel gereja kulit hitam Amerika. Ia tumbuh di lingkungan gereja Pentakosta di Richmond, Virginia; ayahnya seorang pendeta. Struktur pengulangan, cara kalimat naik dan menggantung, teknik memanggil dan menjawab antara vokal utama dan vokal latar, semuanya diambil dari ruang ibadah, lalu dipindahkan ke ruang tidur. Ketegangan antara yang sakral dan yang sensual itu bukan kecelakaan. Itu justru mesin utama lagunya, dan sekaligus warisan langsung dari Prince, Marvin Gaye, dan Al Green, tiga nama yang seumur hidup memainkan garis batas yang sama.
Yang tersisa hanyalah pertanyaan di judul. Tanpa nama, tanpa jawaban, digantung selamanya.
Video yang mengubah segalanya, dan menghancurkan seorang manusia
Video klipnya disutradarai oleh Paul Hunter, dengan Dominique Trenier disebut sebagai penggagas konsepnya. Idenya sederhana dan berani: satu bidikan, tanpa potongan, kamera perlahan menyusuri tubuh D'Angelo yang berkeringat dengan latar hitam total. Yang terlihat hanya ia, rantai emas, dan cahaya.
Efeknya seismik. Video itu memutar balik konvensi visual R&B: biasanya kamera memandangi tubuh perempuan sementara penyanyi pria berdiri sebagai subjek yang memandang. Di sini posisi itu dibalik. Yang dipandang adalah si penyanyi pria. Banyak kritikus menyebutnya sebagai salah satu momen paling signifikan dalam sejarah representasi tubuh laki-laki kulit hitam di layar populer.
Tapi bagi D'Angelo, harganya tak terbayar. Setelah video itu, konser-konsernya berubah. Penonton yang datang bukan lagi untuk mendengar aransemen groove yang ia bangun selama lima tahun, melainkan meneriakkan permintaan agar ia melepas bajunya. Ia dilaporkan pernah menghentikan pertunjukan karena tak tahan. Ia merasa direduksi menjadi objek, kebalikan persis dari yang ia inginkan sebagai musisi. Questlove kemudian menceritakan bahwa D'Angelo merasa musiknya tak lagi didengar; hanya tubuhnya yang dilihat.
Dari situ ia mundur. Bertahun-tahun ia bergulat dengan kecanduan alkohol dan masalah hukum. Berat badannya berubah drastis. Rumor tentang album berikutnya muncul dan hilang berkali-kali. Album ketiganya, Black Messiah, baru terbit akhir 2014, empat belas tahun setelah Voodoo, dan dirilis mendadak di tengah gelombang protes rasial di Amerika. Album itu langsung disambut sebagai salah satu comeback terbesar dalam sejarah musik modern.
Empat belas tahun. Semua bermula dari sebuah lagu yang, secara komersial, adalah kemenangan.
Kenapa lagu ini masih terus dicari
Ada beberapa alasan lagu berusia lebih dari dua dekade ini masih rutin muncul di playlist orang yang belum lahir saat ia dirilis.
Pertama, secara sonik ia terasa hangat dengan cara yang sulit ditiru. Karena direkam dengan pendekatan live dan analog, dengan ketukan yang sengaja tidak sempurna, lagu ini punya tekstur yang berlawanan dengan produksi digital yang serba rapi. Di era ketika hampir semua musik pop terdengar seperti dipoles dengan alat yang sama, ketidaksempurnaan justru terdengar mewah.
Kedua, temanya bertahan karena ia menolak sikap sombong. Kerentanan laki-laki dalam musik populer masih relatif langka, apalagi di lagu bernuansa seksual. Lagu ini menempatkan keraguan di tengah gairah, dan itu terasa jujur dengan cara yang jarang.
Ketiga, dan ini yang paling relevan hari ini, kisah di baliknya berubah makna seiring waktu. Ketika lagu ini rilis, sebagian besar orang membacanya sebagai kemenangan seorang bintang. Dua dekade kemudian, di dunia yang jauh lebih sadar soal kesehatan mental artis dan bahaya menjadi viral, ceritanya terbaca sangat berbeda. Ia jadi studi kasus tentang apa yang terjadi ketika satu citra tunggal menelan seluruh identitas seseorang. Siapa pun yang pernah melihat konten dirinya menyebar lalu merasa dirinya sendiri jadi lebih kecil daripada konten itu akan mengerti.
D'Angelo meninggal pada Oktober 2025, dan gelombang penghormatan yang mengikutinya menegaskan hal yang sama dari berbagai arah: ia diingat bukan hanya karena satu video, melainkan karena ia mengubah cara satu generasi musisi memahami groove, ruang, dan keberanian untuk pelan. Warisannya terdengar di banyak tempat, termasuk di skena soul dan R&B Indonesia yang tumbuh subur sejak akhir 2010-an.
Dan pertanyaan di judul lagu itu masih menggantung, tak pernah dijawab, seperti yang sejak awal dimaksudkan.
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Larut dalam suaranya
- Album Voodoo (2000) secara utuh — Jangan berhenti di satu lagu. Dengarkan dari awal sampai akhir, sebaiknya dengan headphone yang jujur, dan perhatikan bagaimana ketukannya sengaja terasa seperti terseret. "Untitled" ditempatkan di penghujung album bukan tanpa alasan; ia adalah pelepasan setelah satu jam ketegangan yang dibangun perlahan.
- Album Black Messiah (2014) — Rekaman yang muncul empat belas tahun kemudian, penuh gitar kotor dan vokal yang sengaja dikaburkan. Mendengarkannya tepat setelah Voodoo seperti membaca dua bab dari orang yang sama dengan jarak setengah hidup di antaranya.
- Album Sign o' the Times karya Prince (1987) — Ini kamus yang dipakai D'Angelo. Cara Prince menggabungkan yang sakral dan yang sensual, falsetto yang mengambang, dan penolakannya pada aransemen yang terlalu rapi, semuanya jadi bahan baku yang diolah ulang di Electric Lady.
📚 Menelusuri kisahnya
- Buku Mo' Meta Blues karya Questlove — Memoar drummer yang duduk di balik drum untuk sebagian besar Voodoo. Ia menceritakan dari dalam bagaimana Soulquarians bekerja, kenapa mereka mengejar ketukan yang "salah", dan bagaimana ia melihat sahabatnya perlahan tenggelam setelah lagu ini meledak.
- Artikel-artikel panjang tentang kembalinya D'Angelo (2014–2015) — Ketika Black Messiah keluar, sejumlah majalah musik besar menulis profil mendalam yang menelusuri empat belas tahun kekosongan itu. Dibaca berurutan, tulisan-tulisan tersebut membentuk potret seseorang yang berusaha merebut kembali definisi atas dirinya.
- Tulisan kritik tentang video "Untitled" — Ada banyak esai akademis maupun jurnalistik yang membahas video ini sebagai titik balik representasi tubuh laki-laki kulit hitam. Membacanya mengubah pengalaman menonton ulang video tersebut dari sekadar sensasi menjadi sesuatu yang jauh lebih berlapis.
🌍 Mengunjungi tempatnya
- Electric Lady Studios, Greenwich Village, New York — Studio yang dibangun Jimi Hendrix ini jadi rumah kedua bagi Soulquarians selama proses Voodoo. Studionya tidak dibuka untuk turis, tapi berjalan kaki di blok tersebut, di antara toko piringan hitam dan klub-klub tua, memberi rasa kenapa tempat itu jadi magnet bagi musisi selama lebih dari lima dekade.
- Richmond, Virginia — Kota kelahiran D'Angelo, tempat ia tumbuh di lingkungan gereja Pentakosta tempat ayahnya berkhotbah. Suasana gereja kulit hitam di wilayah selatan Amerika adalah asal-usul teknik vokal bertumpuk yang jadi ciri khasnya.
- Panggung soul dan jazz di Jakarta dan Bandung — Kalau ingin merasakan warisan Voodoo tanpa terbang ke Amerika, datangi gigs kolektif soul-funk lokal atau festival jazz yang menampilkan band live. Groove yang sedikit malas dan tidak terkuantisasi itu punya keturunan langsung di panggung-panggung kecil di sini.
🎸 Merasakannya sendiri
- Coba mainkan ketukannya sedikit terlambat — Kalau kamu bermain drum, bass, atau memprogram beat, ambil satu pola sederhana lalu geser sedikit ke belakang dari grid, hanya beberapa milidetik. Rasakan bagaimana lagu langsung terdengar lebih berat dan lebih manusiawi. Itu prinsip inti yang dikejar seluruh album.
- Rekam vokal bertumpuk sendirian — Nyanyikan satu melodi sederhana, lalu rekam ulang harmoninya berlapis-lapis dengan suaramu sendiri. Efek "paduan suara satu orang" itulah yang membuat lagu ini terdengar seperti doa sekaligus bisikan.
- Dengarkan ulang tanpa menonton videonya — Kalau selama ini kamu mengenal lagu ini terutama lewat gambar, coba sekali saja dengarkan dalam gelap tanpa layar. Banyak orang bilang lagunya terasa seperti karya yang sama sekali berbeda, dan itu tepat seperti yang diinginkan penciptanya.
-
Kenapa judul lagunya benar-benar "Untitled" alias tanpa judul?
Selama proses rekaman lagu itu memang tidak pernah diberi nama, dan sampai album selesai nama itu tak kunjung muncul, jadi statusnya sebagai berkas tanpa judul dibiarkan begitu saja. Bagian dalam kurung diambil dari pertanyaan yang terus berulang di lagunya agar orang bisa menyebutnya. Kebetulan yang manis: judul kosong itu justru cocok dengan isi lagunya, yang seluruhnya bertumpu pada pertanyaan tanpa jawaban. -
Benarkah D'Angelo membenci video klipnya sendiri?
Ia tidak pernah menyebut videonya sebagai kesalahan artistik, tapi ia dilaporkan sangat terluka oleh dampaknya. Penonton konser mulai memperlakukannya sebagai objek dan meneriakkan permintaan agar ia melepas baju, alih-alih mendengarkan musik yang ia bangun bertahun-tahun. Tekanan itu disebut sebagai salah satu pemicu utama ia menarik diri dari industri selama lebih dari satu dekade. -
Kalau saya suka lagu ini, dari mana sebaiknya saya melanjutkan?
Mulailah dari album Voodoo secara utuh, lalu mundur ke Prince dan Marvin Gaye untuk melihat akarnya, dan maju ke Black Messiah untuk melihat ke mana D'Angelo pergi setelahnya. Setelah itu, cari karya rekan-rekan Soulquarians seperti Erykah Badu, Common, dan Bilal dari periode yang sama, karena mereka praktis merekam di ruangan yang sama dengan filosofi yang sama.