SONGFABLE · 2000

Untitled (How Does It Feel)

D'ANGELO · 2000

TL;DR: Lagu yang dikenal dunia lewat video "telanjang" ini sebenarnya lahir sebagai upeti musikal untuk Prince, dan alih-alih membuat D'Angelo jadi bintang, kesuksesannya justru menghancurkannya. Ia merasa dipandang sebagai tubuh, bukan sebagai musisi, dan hilang dari peredaran hampir satu setengah dekade.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Sebuah lagu yang terlalu sukses sampai membunuh penciptanya

Ada lagu yang gagal dan membuat penyanyinya menghilang. Yang lebih langka adalah lagu yang terlalu berhasil, dan justru karena itu penyanyinya menghilang.

"Untitled (How Does It Feel)" adalah kasus kedua. Ketika video klipnya tayang di MTV pada awal tahun 2000, dunia melihat satu pengambilan gambar panjang: kamera bergerak perlahan naik-turun menyusuri tubuh D'Angelo yang tampak tanpa busana, dengan latar hitam pekat, tanpa potongan, tanpa penari, tanpa apa pun kecuali dia dan lagunya. Penonton terpaku. Album Voodoo melesat ke posisi puncak tangga album Amerika. Lagunya membawa pulang Grammy. Semua indikator sukses menyala hijau.

Dan di dalam sana, sang musisi mulai retak.

Yang jarang diceritakan adalah bahwa lagu itu, sebelum jadi ikon seksualitas, adalah surat cinta seorang murid kepada gurunya. D'Angelo menulisnya sambil membayangkan Prince. Bukan meniru: menyapa. Ia ingin membuat sesuatu yang, seandainya Prince mendengarnya, sang legenda akan mengangguk dan berkata "ya, anak ini paham." Judulnya bahkan tetap "Untitled" (tanpa judul) karena selama proses rekaman lagu itu memang belum pernah diberi nama, dan nama itu tak pernah datang. Yang tersisa hanya pertanyaan di dalam kurung: bagaimana rasanya?

Ironi paling pahitnya: sebagian besar orang yang bisa menghafal video itu tak bisa menyebutkan satu pun nama musisi yang bermain di dalamnya. Padahal di balik lagu ini ada salah satu kolektif musisi paling berbakat pada pergantian milenium.

Rumah kecil bernama Electric Lady, dan sebuah gerakan bernama Soulquarians

Untuk memahami lagu ini, kita harus mundur ke akhir 1990-an di New York. Di studio legendaris Electric Lady, yang dulu dibangun oleh Jimi Hendrix di Greenwich Village, sekelompok musisi muda praktis tinggal di sana selama berbulan-bulan. Mereka menyebut diri Soulquarians. Anggotanya termasuk D'Angelo, drummer Questlove dari The Roots, produser mendiang J Dilla, bassist Pino Palladino, serta nama-nama seperti Erykah Badu, Common, Q-Tip, dan Bilal yang datang dan pergi.

Cara kerja mereka nyaris bertentangan dengan seluruh industri musik saat itu. Tahun 1999–2000 adalah era di mana R&B semakin rapi, semakin terkuantisasi, semakin presisi secara digital. Soulquarians berjalan ke arah sebaliknya. Mereka merekam bersama-sama di satu ruangan, membiarkan groove sedikit "meleset", sengaja menempatkan ketukan agak di belakang, membuat musik terasa malas, berat, seperti berjalan di air. Questlove pernah menggambarkan bahwa mereka mengejar rasa "salah" yang justru terdengar benar. Bassnya sering seperti terlambat sepersekian detik. Vokalnya bertumpuk-tumpuk seperti paduan suara yang direkam sendirian.

Album yang lahir dari sesi itu, Voodoo, dirilis Januari 2000. Butuh lima tahun sejak album debut D'Angelo, Brown Sugar (1995), untuk sampai ke sana. Lima tahun adalah keabadian dalam kalender industri musik.

Di titik ini ada kaitan yang menarik untuk telinga Indonesia. Estetika yang dikejar Voodoo bertumpu pada rasa groove yang tidak lurus, yang bernapas, yang punya ayunan manusiawi. Pendengar di sini sebetulnya sudah lama akrab dengan logika semacam itu. Musik yang dimainkan bersama secara live, dengan tarikan ritme yang tidak kaku, adalah bahasa yang dipahami dari panggung-panggung jazz kampus sampai grup funk-soul lokal. Tidak mengherankan kalau Voodoo kemudian jadi salah satu album yang paling sering disebut sebagai kitab suci di kalangan musisi neo-soul Indonesia. Generasi yang membesarkan skena soul-funk kontemporer di Jakarta dan Bandung, dari kolektif-kolektif yang tumbuh lewat festival jazz sampai penyanyi-penyanyi yang membawa nuansa R&B hangat ke arus utama, hampir selalu menyebut nama D'Angelo ketika ditanya tentang akar mereka. Cara menaruh vokal yang mengambang di atas ketukan, harmoni bertumpuk yang lembut, bass yang gemuk dan santai: itu jejak yang sama.

Sesi rekaman "Untitled" sendiri konon berlangsung dengan pendekatan yang sangat sederhana secara aransemen namun sangat rumit secara emosional. Lapisan vokal ditumpuk berulang-ulang oleh D'Angelo sendiri, menciptakan efek seperti seorang lelaki yang bernyanyi bersama semua versi dirinya. Instrumentasinya dibiarkan minim: keyboard, bass, drum yang menahan diri. Kekosongan itu disengaja. Ruang kosong itulah yang membuat suaranya terasa begitu dekat, seolah dinyanyikan di depan telinga.

Yang sebenarnya ditanyakan lagu ini

Secara permukaan, "Untitled (How Does It Feel)" adalah lagu rayuan. Sang narator berbicara kepada seseorang yang ia inginkan, dan mengajukan satu pertanyaan yang terus kembali sepanjang lagu: bagaimana rasanya.

Tapi perhatikan siapa yang bertanya, dan kepada siapa.

Lagu rayuan konvensional biasanya bersifat menyatakan. Aku menginginkanmu. Aku akan melakukan ini padamu. Aku tahu apa yang kamu mau. Lagu ini melakukan hal sebaliknya. Ia menyerahkan wewenang kepada lawan bicaranya. Sang narator tidak memberi tahu perempuan itu apa yang ia rasakan; ia memintanya menjawab. Seluruh berat lagu bertumpu pada jawaban yang tak pernah kita dengar.

Dari sana muncul nuansa yang membuatnya bertahan puluhan tahun: ini bukan lagu tentang penaklukan, melainkan tentang kerentanan. Narator meminta izin. Ia menunggu. Ia mengaku bahwa ia tidak tahu, dan justru ketidaktahuan itu yang ia nyanyikan berulang kali. Dalam lirik, keinginannya digambarkan sangat langsung dan fisik, kadang nyaris memohon, tapi bingkainya selalu berupa pertanyaan, bukan perintah.

Ada juga lapisan kedua yang lebih spiritual, dan ini yang membuat sarjana musik senang membahasnya. Cara D'Angelo menumpuk suaranya sendiri mengambil bentuk dari tradisi gospel gereja kulit hitam Amerika. Ia tumbuh di lingkungan gereja Pentakosta di Richmond, Virginia; ayahnya seorang pendeta. Struktur pengulangan, cara kalimat naik dan menggantung, teknik memanggil dan menjawab antara vokal utama dan vokal latar, semuanya diambil dari ruang ibadah, lalu dipindahkan ke ruang tidur. Ketegangan antara yang sakral dan yang sensual itu bukan kecelakaan. Itu justru mesin utama lagunya, dan sekaligus warisan langsung dari Prince, Marvin Gaye, dan Al Green, tiga nama yang seumur hidup memainkan garis batas yang sama.

Yang tersisa hanyalah pertanyaan di judul. Tanpa nama, tanpa jawaban, digantung selamanya.

Video yang mengubah segalanya, dan menghancurkan seorang manusia

Video klipnya disutradarai oleh Paul Hunter, dengan Dominique Trenier disebut sebagai penggagas konsepnya. Idenya sederhana dan berani: satu bidikan, tanpa potongan, kamera perlahan menyusuri tubuh D'Angelo yang berkeringat dengan latar hitam total. Yang terlihat hanya ia, rantai emas, dan cahaya.

Efeknya seismik. Video itu memutar balik konvensi visual R&B: biasanya kamera memandangi tubuh perempuan sementara penyanyi pria berdiri sebagai subjek yang memandang. Di sini posisi itu dibalik. Yang dipandang adalah si penyanyi pria. Banyak kritikus menyebutnya sebagai salah satu momen paling signifikan dalam sejarah representasi tubuh laki-laki kulit hitam di layar populer.

Tapi bagi D'Angelo, harganya tak terbayar. Setelah video itu, konser-konsernya berubah. Penonton yang datang bukan lagi untuk mendengar aransemen groove yang ia bangun selama lima tahun, melainkan meneriakkan permintaan agar ia melepas bajunya. Ia dilaporkan pernah menghentikan pertunjukan karena tak tahan. Ia merasa direduksi menjadi objek, kebalikan persis dari yang ia inginkan sebagai musisi. Questlove kemudian menceritakan bahwa D'Angelo merasa musiknya tak lagi didengar; hanya tubuhnya yang dilihat.

Dari situ ia mundur. Bertahun-tahun ia bergulat dengan kecanduan alkohol dan masalah hukum. Berat badannya berubah drastis. Rumor tentang album berikutnya muncul dan hilang berkali-kali. Album ketiganya, Black Messiah, baru terbit akhir 2014, empat belas tahun setelah Voodoo, dan dirilis mendadak di tengah gelombang protes rasial di Amerika. Album itu langsung disambut sebagai salah satu comeback terbesar dalam sejarah musik modern.

Empat belas tahun. Semua bermula dari sebuah lagu yang, secara komersial, adalah kemenangan.

Kenapa lagu ini masih terus dicari

Ada beberapa alasan lagu berusia lebih dari dua dekade ini masih rutin muncul di playlist orang yang belum lahir saat ia dirilis.

Pertama, secara sonik ia terasa hangat dengan cara yang sulit ditiru. Karena direkam dengan pendekatan live dan analog, dengan ketukan yang sengaja tidak sempurna, lagu ini punya tekstur yang berlawanan dengan produksi digital yang serba rapi. Di era ketika hampir semua musik pop terdengar seperti dipoles dengan alat yang sama, ketidaksempurnaan justru terdengar mewah.

Kedua, temanya bertahan karena ia menolak sikap sombong. Kerentanan laki-laki dalam musik populer masih relatif langka, apalagi di lagu bernuansa seksual. Lagu ini menempatkan keraguan di tengah gairah, dan itu terasa jujur dengan cara yang jarang.

Ketiga, dan ini yang paling relevan hari ini, kisah di baliknya berubah makna seiring waktu. Ketika lagu ini rilis, sebagian besar orang membacanya sebagai kemenangan seorang bintang. Dua dekade kemudian, di dunia yang jauh lebih sadar soal kesehatan mental artis dan bahaya menjadi viral, ceritanya terbaca sangat berbeda. Ia jadi studi kasus tentang apa yang terjadi ketika satu citra tunggal menelan seluruh identitas seseorang. Siapa pun yang pernah melihat konten dirinya menyebar lalu merasa dirinya sendiri jadi lebih kecil daripada konten itu akan mengerti.

D'Angelo meninggal pada Oktober 2025, dan gelombang penghormatan yang mengikutinya menegaskan hal yang sama dari berbagai arah: ia diingat bukan hanya karena satu video, melainkan karena ia mengubah cara satu generasi musisi memahami groove, ruang, dan keberanian untuk pelan. Warisannya terdengar di banyak tempat, termasuk di skena soul dan R&B Indonesia yang tumbuh subur sejak akhir 2010-an.

Dan pertanyaan di judul lagu itu masih menggantung, tak pernah dijawab, seperti yang sejak awal dimaksudkan.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Larut dalam suaranya

📚 Menelusuri kisahnya

🌍 Mengunjungi tempatnya

🎸 Merasakannya sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
00s