SONGFABLE · 2016

Ultralight Beam

KANYE WEST · 2016

TL;DR: Di balik reputasi Kanye sebagai sosok paling kontroversial di dunia musik, "Ultralight Beam" sebenarnya adalah doa gospel yang rapuh dan jujur — sebuah permohonan agar Tuhan tetap menyalakan seberkas cahaya di tengah kegelapan hati, dan panggung utamanya justru diserahkan Kanye kepada seorang penyanyi muda tak dikenal bernama Chance the Rapper.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Sebuah doa yang menyamar jadi lagu pembuka album

Bayangkan seorang seniman yang saat itu dianggap paling angkuh, paling ribut, paling "terlalu percaya diri" di planet ini. Lalu dia membuka albumnya bukan dengan ledakan ego, melainkan dengan suara seorang anak kecil dan seorang ibu yang berdoa. Itulah paradoks pertama "Ultralight Beam".

Lagu ini adalah track pembuka album The Life of Pablo (2016), dan alih-alih menyombongkan diri, Kanye West justru membuka pintu ke ruang paling rentan dalam dirinya. Ini bukan lagu tentang kemenangan. Ini lagu tentang seseorang yang tersesat, takut, dan tetap berusaha percaya bahwa ada sesuatu yang lebih besar yang menjaganya. Judulnya sendiri — "Ultralight Beam", seberkas cahaya ultra-ringan — adalah metafora untuk anugerah ilahi yang tipis namun cukup untuk menuntun seseorang keluar dari kegelapan.

Yang membuat lagu ini begitu diperbincangkan adalah keberanian Kanye untuk mundur ke belakang. Di lagu miliknya sendiri, di albumnya sendiri, dia memberikan sorotan paling terang bukan kepada dirinya, melainkan kepada suara-suara lain: paduan suara gospel, seorang penyanyi bernama Kelly Price, legenda The-Dream, dan yang paling dikenang, verse epik dari Chance the Rapper. Ini keputusan artistik yang aneh untuk seorang egomaniak — dan justru karena itu, lagu ini terasa begitu tulus.

Kanye di tahun 2016: keretakan di balik gemerlap

Untuk memahami "Ultralight Beam", kita perlu tahu di titik mana Kanye berada saat menulisnya. Tahun 2015-2016 adalah masa yang penuh gejolak baginya. Dia baru saja menjadi ayah untuk kedua kalinya, menikah dengan Kim Kardashian, dan hidup di bawah sorotan tabloid yang tak pernah padam. Di luar, semuanya tampak megah. Di dalam, kabarnya, ada tekanan mental yang terus menumpuk — tekanan yang beberapa bulan kemudian benar-benar meledak menjadi krisis kesehatan yang membuatnya membatalkan sisa tur dan dirawat.

The Life of Pablo sendiri adalah album yang lahir dalam kekacauan. Kanye mengubah judulnya berkali-kali (dari So Help Me God, ke SWISH, ke Waves, hingga akhirnya The Life of Pablo). Dia terus mengedit lagu-lagunya bahkan setelah album dirilis di platform streaming — sesuatu yang saat itu belum pernah dilakukan siapa pun. Album ini disebut Kanye sebagai "album gospel dengan banyak kata-kata kotor", dan tak ada lagu yang lebih menangkap deskripsi paradoksal itu selain "Ultralight Beam".

Konon, lagu ini terinspirasi sebagian dari sebuah video Instagram: seorang balita bernama Natalie Green sedang berdoa dengan penuh semangat, dipandu neneknya, Shirley Caesar — legenda gospel Amerika. Kanye melihat video itu, tersentuh, dan potongan suara doa anak itu akhirnya membuka lagu. Sesi rekamannya sendiri legendaris: Kanye mengumpulkan puluhan orang di studio, termasuk paduan suara gereja sungguhan, dan merekam sampai larut. Ada cerita bahwa verse Chance the Rapper direkam dan ditulis ulang berkali-kali hingga menit-menit terakhir sebelum album keluar.

Bagi pendengar di Indonesia, ada satu jembatan budaya yang mungkin terasa akrab di sini. Musik gospel — nyanyian pujian jemaat yang naik-turun penuh emosi, dipimpin suara solois yang melengking lalu disambut koor — punya kerabat dekat dengan tradisi pujian di gereja-gereja di Indonesia, dari Manado hingga Toraja hingga tanah Batak, di mana menyanyi bersama adalah bentuk doa itu sendiri. Rasa "berserah lewat suara" yang menjadi jantung "Ultralight Beam" bukan sesuatu yang asing; ia beresonansi dengan pengalaman kolektif menyanyi sampai menangis yang dikenal banyak komunitas di Nusantara.

Membedah maknanya: berserah di tengah ketakutan

Inti dari "Ultralight Beam" bisa diringkas dalam satu kata: berserah. Sepanjang lagu, suara-suara yang muncul tidak menyombongkan kekuatan, melainkan mengakui kelemahan. Ada permohonan agar dilindungi dari mimpi buruk, agar diselamatkan dari kegelapan, agar tetap diberi seberkas cahaya walau iman terasa goyah. Ini bukan doa orang yang yakin; ini doa orang yang ragu tapi tetap memilih percaya.

Kelly Price, dengan suaranya yang penuh luka dan kekuatan gospel, membawa beban emosional utama di bagian tengah. Ia menyanyikan permohonan yang terasa seperti seseorang berpegang erat pada tali terakhir imannya. Lalu The-Dream menambahkan lapisan kerinduan — sebuah kerinduan akan keselamatan yang tidak dijamin, tapi tetap didambakan. Di sepanjang lagu, ada ketegangan indah antara keputusasaan dan harapan, seolah lagu ini berdiri tepat di garis batas antara "aku hampir menyerah" dan "tapi aku masih di sini, masih berdoa".

Puncaknya datang dari Chance the Rapper. Verse-nya sering disebut sebagai salah satu verse tamu terbaik dalam sejarah hip-hop modern. Chance, yang saat itu masih penyanyi independen tanpa label besar, menggunakan momen ini untuk merayakan imannya sendiri, mencampur kegembiraan gospel dengan kejujuran seorang anak muda dari Chicago yang menemukan makna di tengah dunia yang keras. Ia berbicara tentang berkat, tentang keluarga, tentang menolak jalan pintas industri musik, dan tentang keyakinan bahwa jalannya sendiri — jalan yang tidak konvensional — adalah berkah. Tanpa mengutip satu barisnya pun, cukup dikatakan bahwa verse itu mengubah karier Chance dalam semalam dan menjadikannya simbol seniman independen yang menang tanpa menjual jiwanya.

Yang mengikat semuanya adalah struktur lagu yang sengaja dibuat seperti kebaktian gereja. Ada pemanggilan (doa pembuka anak kecil), ada khotbah (verse-verse), ada koor yang naik seperti gelombang, dan ada penutupan berupa doa yang diucapkan Kirk Franklin — legenda gospel sungguhan — memberkati "semua yang merasa terbuang, terpinggirkan, tertindas". Kanye tidak sekadar membuat lagu bertema religius; dia mereplika pengalaman ibadah itu sendiri ke dalam empat menit rekaman.

Konteks budaya dan warisannya

"Ultralight Beam" tiba di momen yang tepat untuk mengubah persepsi tentang siapa Kanye West. Setelah bertahun-tahun dikenal sebagai provokator, lagu ini mengingatkan dunia bahwa akar musiknya selalu ada di gospel dan soul — genre yang dia sampling sejak album debutnya The College Dropout (2004). Bahkan di puncak keangkuhannya, ada bagian dari Kanye yang selalu kembali ke gereja.

Dampak paling nyata dari lagu ini terlihat pada karier Chance the Rapper. Verse-nya di "Ultralight Beam" menjadi batu loncatan menuju mixtape-nya sendiri, Coloring Book (2016), yang beberapa bulan kemudian membuat sejarah sebagai proyek streaming-only pertama yang memenangkan Grammy. Banyak yang menyebut momen di lagu Kanye ini sebagai titik di mana Chance "diberkati" untuk melangkah ke panggung besar. Ada semacam ironi indah: lagu tentang berkat menjadi berkat nyata bagi seniman muda di dalamnya.

Lagu ini juga memicu perbincangan besar tentang bagaimana musik gospel dan hip-hop bisa hidup berdampingan tanpa saling menegasikan. Kanye membuktikan bahwa seseorang bisa memuji Tuhan dan tetap manusiawi dengan segala kekacauannya — sebuah tema yang beberapa tahun kemudian ia dorong lebih jauh dengan album Jesus Is King (2019) dan pertunjukan Sunday Service-nya. Banyak kritikus menganggap "Ultralight Beam" sebagai benih dari seluruh fase religius Kanye di kemudian hari.

Di kalangan penggemar, lagu ini secara luas dianggap sebagai salah satu karya terbaik Kanye — sering masuk daftar lagu terhebatnya, dan bagi sebagian orang, momen paling menyentuh di seluruh diskografinya. Ia menjadi bukti bahwa di balik semua kontroversi, ada seorang seniman yang benar-benar mampu menyentuh hal yang paling dalam dan universal: rasa takut, rasa rindu, dan kebutuhan untuk percaya pada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.

Kenapa lagu ini masih menggetarkan hari ini

Bertahun-tahun setelah dirilis, dan di tengah semua kontroversi yang mengelilingi Kanye West belakangan ini, "Ultralight Beam" tetap bertahan sebagai sesuatu yang murni. Alasannya sederhana: lagu ini menangkap perasaan yang dialami hampir setiap orang di titik tertentu dalam hidup — perasaan tersesat sambil tetap mencari cahaya.

Kita hidup di era yang, secara aneh, terasa gelap meski penuh gemerlap. Media sosial memberi kita panggung tanpa henti, tapi juga kecemasan tanpa henti. Dalam konteks itu, sebuah lagu yang dengan jujur berkata "aku takut, tapi aku masih berdoa" terasa lebih relevan dari sebelumnya. "Ultralight Beam" tidak menjanjikan bahwa semuanya akan baik-baik saja; ia hanya berpegang pada harapan bahwa seberkas cahaya cukup untuk melewati malam. Itu pesan yang tidak lekang oleh waktu.

Ada juga keindahan dalam cara lagu ini memisahkan karya dari kepribadian penciptanya. Banyak pendengar hari ini bergulat dengan pertanyaan apakah masih pantas menikmati musik Kanye mengingat perilakunya. Namun "Ultralight Beam" terasa seperti dokumen dari momen ketika ia paling rentan dan paling manusiawi — sebuah pengingat bahwa manusia, bahkan yang paling rumit sekalipun, mampu menciptakan sesuatu yang suci. Bagi banyak orang, lagu ini adalah bukti bahwa keindahan bisa lahir dari kekacauan, dan bahwa doa yang paling tulus sering datang justru dari mereka yang paling patah.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Selami suaranya

Untuk benar-benar merasakan "Ultralight Beam", dengarkan seluruh album The Life of Pablo dari awal, karena lagu ini dirancang sebagai gerbang pembuka. Rasakan bagaimana ia berpindah dari doa yang hening ke ledakan koor gospel.

📚 Ikuti kisahnya

Kisah di balik pembuatan The Life of Pablo dan sosok Kanye West sama dramatisnya dengan musiknya sendiri. Bacaan-bacaan ini membantu memahami manusia di balik seberkas cahaya itu.

🌍 Kunjungi tempatnya

Meski "Ultralight Beam" adalah lagu tentang ruang batin, ia lahir dari kota dan budaya yang sangat spesifik — Chicago dan tradisi gereja kulit hitam Amerika.

🎸 Rasakan sendiri

Musik gospel dan hip-hop yang bertemu di lagu ini bisa kamu dekati secara langsung — dengan bernyanyi, memproduksi, atau sekadar merasakan getaran koor di ruangmu sendiri.


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
10s