Turning Japanese
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Lagu Tentang Jepang yang Tidak Pernah Membahas Jepang
Inilah salah satu lelucon terbesar dalam sejarah musik pop: sebuah lagu berjudul "Turning Japanese", dibuka dengan riff melodi pentatonik yang langsung membuat telinga kita membayangkan Asia Timur, dinyanyikan oleh band asal Inggris — dan ternyata sama sekali tidak ada hubungannya dengan Jepang. Tidak ada Tokyo, tidak ada sushi, tidak ada budaya Jepang dalam lirik aslinya. David Fenton, sang penulis lagu sekaligus vokalis The Vapors, sudah berkali-kali menjelaskan bahwa frasa "berubah menjadi orang Jepang" hanyalah metafora acak untuk menggambarkan perasaan menjadi sesuatu yang asing bagi diri sendiri. Menurutnya, frasa itu bisa saja diganti menjadi "berubah menjadi orang Portugis" atau kebangsaan lain mana pun — yang penting adalah sensasi keterasingan itu sendiri.
Lebih lucu lagi, lagu ini kemudian dikejar-kejar oleh sebuah rumor yang jauh lebih liar: bahwa "Turning Japanese" adalah kode rahasia untuk aktivitas pribadi remaja yang tidak pantas dibahas di meja makan. Rumor ini begitu kuat melekat hingga puluhan tahun kemudian masih menjadi bahan trivia di pub-pub Inggris dan forum-forum musik. Fenton sendiri konsisten membantahnya — tetapi, seperti yang akan kita lihat, bantahan itu nyaris tidak ada gunanya melawan imajinasi publik.
The Vapors: Band yang Ditemukan oleh The Jam
Untuk memahami lagu ini, kita perlu kembali ke Guildford, sebuah kota kecil di Surrey, Inggris, pada akhir era 1970-an. Inggris saat itu sedang berada di persimpangan musik yang sangat menarik. Ledakan punk tahun 1976-1977 sudah mulai mereda, dan dari abunya lahir gelombang baru: new wave dan power pop — musik yang masih membawa energi punk, tetapi dengan melodi yang lebih rapi, lirik yang lebih cerdas, dan jas yang lebih necis. Di tengah arus inilah The Vapors terbentuk pada 1979, dengan formasi David Fenton (vokal dan gitar), Edward Bazalgette (gitar), Steve Smith (bas), dan Howard Smith (drum).
Nasib baik datang dengan cara yang hampir seperti dongeng. Bruce Foxton, basis dari The Jam — salah satu band paling berpengaruh di Inggris saat itu — kabarnya menyaksikan penampilan The Vapors di sebuah panggung kecil dan langsung terkesan. Foxton kemudian ikut menangani manajemen band ini bersama John Weller, yang tidak lain adalah ayah dari Paul Weller, frontman The Jam. Bayangkan: band kecil dari kota satelit London tiba-tiba berada di bawah sayap keluarga besar The Jam. The Vapors pun ikut dalam tur The Jam, mendapatkan kontrak rekaman dengan United Artists, dan masuk studio bersama produser Vic Coppersmith-Heaven — orang yang sama yang menggarap album-album emas The Jam.
Dari sesi rekaman itulah lahir album debut mereka, New Clear Days (1980) — judulnya sendiri permainan kata yang cerdas, terdengar seperti "nuclear days", mencerminkan kecemasan Perang Dingin yang menghantui generasi muda saat itu. Dan di dalam album itu, ada satu lagu berdurasi tiga menit empat puluh detik yang akan mengubah hidup mereka selamanya.
Bagi pendengar di Indonesia, ada satu jembatan budaya yang menarik di sini. Era awal 1980-an adalah masa ketika new wave Barat mulai merembes ke Indonesia lewat kaset-kaset impor dan siaran radio anak muda. Generasi yang tumbuh dengan Duran Duran, The Police, dan Blondie di Jakarta atau Bandung kemungkinan besar pernah mendengar riff pembuka "Turning Japanese" tanpa tahu judulnya. Dan menariknya, pada dekade yang sama Indonesia juga sedang mengalami "demam Jepang" versinya sendiri — masuknya produk elektronik, motor, dan budaya pop Jepang yang membuat citra "Jepang" terasa futuristis dan aspiratif. Lagu ini, dengan segala ironinya, lahir dari fenomena global yang juga dirasakan di Asia Tenggara: Jepang sebagai simbol dunia baru yang asing sekaligus memikat.
Obsesi, Foto, dan Keterasingan: Apa yang Sebenarnya Diceritakan
Kalau kita kupas liriknya dengan kepala dingin, "Turning Japanese" adalah lagu patah hati yang sangat gelap untuk ukuran lagu pop seceria ini. Narator lagu ini adalah seorang pemuda yang baru saja kehilangan kekasihnya, dan satu-satunya yang tersisa darinya adalah selembar foto. Sepanjang lagu, ia menatap foto itu terus-menerus — di kamarnya, dalam kegelapan, sendirian. Ia membayangkan dirinya memiliki perempuan itu seutuhnya, membayangkan dokter yang bisa "memotret" isi kepalanya yang kacau, dan perlahan menyadari bahwa obsesinya telah mengubah dirinya menjadi orang lain. Menjadi sesuatu yang asing. Menjadi — dalam metafora Fenton — "orang Jepang".
Fenton pernah menjelaskan bahwa lagu ini ia tulis tengah malam, dan intinya adalah tentang kecemasan masa muda: momen ketika cinta berubah menjadi obsesi, dan obsesi membuat kita tidak lagi mengenali diri sendiri di cermin. Frasa judulnya dipilih bukan karena Jepang punya makna khusus, melainkan karena terdengar seperti transformasi total — menjadi seseorang dengan wajah, bahasa, dan dunia yang sama sekali berbeda. Ini adalah lagu tentang alienasi, dibungkus dalam kemasan pop yang begitu renyah sehingga kebanyakan orang berjoget tanpa pernah menyadari betapa murungnya isi ceritanya.
Lalu dari mana rumor "makna kotor" itu? Konon, interpretasi itu lahir dari gabungan dua hal: citra narator yang menyendiri di kamar gelap sambil menatap foto, dan sebuah stereotip kasar yang beredar di kalangan anak sekolah Inggris saat itu tentang ekspresi wajah tertentu. Begitu interpretasi ini menyebar, ia tidak bisa dihentikan lagi. Fenton membantah, anggota band lain membantah — meskipun dilaporkan bahwa salah satu personel pernah berseloroh bahwa versi rumor itu "lebih menjual" — tetapi publik sudah memutuskan. Dan inilah pelajaran abadi tentang musik pop: begitu sebuah lagu dilepas ke dunia, maknanya bukan lagi milik penciptanya.
Satu elemen lagi yang patut dibedah adalah riff pembukanya. Melodi pentatonik itu adalah apa yang oleh para musikolog disebut "Oriental riff" — sebuah klise musikal Barat yang sudah dipakai sejak awal abad ke-20 untuk menandakan "Asia" secara umum, dari kartun hingga film Hollywood. The Vapors memakainya secara sadar sebagai lelucon yang menggarisbawahi judul. Di telinga modern, pilihan ini terdengar problematis — dan memang menjadi bahan diskusi panjang tentang stereotip Asia dalam musik pop Barat. Tetapi justru ketegangan inilah yang membuat lagu ini menarik untuk dibahas hari ini: ia adalah artefak dari zamannya, lengkap dengan kecerdasan dan titik butanya sekaligus.
Dari Puncak Tangga Lagu ke Kutukan One-Hit Wonder
Begitu dirilis sebagai singel pada awal 1980, "Turning Japanese" meledak. Lagu ini melesat ke posisi tiga besar tangga lagu Inggris, dan yang lebih mengejutkan, menjadi nomor satu di Australia selama berminggu-minggu. Di Amerika Serikat, lagu ini menembus Billboard Hot 100 dan menjadi favorit di stasiun-stasiun radio rock baru. Untuk sebuah band yang dua tahun sebelumnya masih manggung di pub-pub kecil Surrey, ini adalah roket yang luar biasa.
Tetapi roket itu juga menjadi kutukan. Singel-singel berikutnya — termasuk "News at Ten" yang sebenarnya sangat bagus — tidak pernah mendekati kesuksesan "Turning Japanese". Album kedua mereka, Magnets (1981), yang lebih gelap dan ambisius, gagal secara komersial. Dilaporkan bahwa kekacauan di tubuh label rekaman mereka ikut memperburuk keadaan: promosi macet justru di saat band paling membutuhkannya. Pada akhir 1981, The Vapors bubar. David Fenton kemudian beralih profesi menjadi pengacara di industri musik, sementara gitaris Edward Bazalgette menempuh jalan yang tak kalah menarik — ia menjadi sutradara televisi ternama di Inggris, termasuk menyutradarai beberapa episode Doctor Who.
Sementara band-nya menghilang, lagunya justru hidup makin lama makin kuat. "Turning Japanese" menjadi penghuni tetap kompilasi new wave, soundtrack film remaja Hollywood, acara nostalgia 80-an, dan iklan televisi. Ia di-cover oleh banyak musisi lintas generasi, muncul di film maupun serial, dan setiap kali muncul, rumor tentang maknanya ikut bangkit kembali seperti hantu yang setia. Lagu ini juga kerap dijadikan studi kasus tentang fenomena "one-hit wonder": bagaimana satu lagu bisa lebih besar, lebih panjang umur, dan lebih kaya daripada seluruh karier band yang menciptakannya. Kabar baiknya, kisah ini punya babak lanjutan yang manis — The Vapors dilaporkan bersatu kembali pada 2016, kembali manggung, dan bahkan merilis album baru setelah hampir empat dekade, disambut hangat oleh penggemar lama yang kini datang ke konser bersama anak-anak mereka.
Mengapa Lagu Ini Masih Terasa Relevan Hari Ini
Dengarkan "Turning Japanese" hari ini, di era media sosial, dan tiba-tiba liriknya terasa seperti ramalan. Seorang pemuda yang terobsesi menatap foto seseorang yang sudah tidak bersamanya lagi, berjam-jam, dalam kesendirian, hingga ia merasa kehilangan dirinya sendiri — bukankah itu deskripsi sempurna untuk kebiasaan kita menggulir profil mantan di Instagram pada jam dua pagi? Fenton menulis tentang selembar foto fisik di tahun 1980; kita sekarang punya ribuan foto digital, dan obsesi yang sama, hanya dengan layar yang menyala.
Lagu ini juga relevan sebagai pengingat tentang bagaimana makna sebuah karya bisa lepas kendali. Di era ketika satu potongan video TikTok bisa mengubah lagu lama menjadi viral dengan interpretasi yang sama sekali baru, kisah "Turning Japanese" terasa sangat akrab: publik mendengar apa yang ingin mereka dengar, dan kadang versi salah paham itulah yang membuat sebuah lagu abadi. Bagi pendengar Indonesia, ada lapisan tambahan yang menarik: kita terbiasa dengan lagu-lagu yang maknanya diperdebatkan publik, dan fenomena "lagu yang dituduh punya arti tersembunyi" bukan hal asing dalam budaya pop kita sendiri.
Terakhir, ada relevansi yang lebih dalam soal identitas. "Berubah menjadi orang lain" — kehilangan diri karena cinta, karena tekanan, karena dunia yang berubah terlalu cepat — adalah kecemasan universal yang tidak mengenal dekade. Generasi 1980 merasakannya lewat Perang Dingin dan gelombang teknologi Jepang; generasi sekarang merasakannya lewat algoritma dan krisis identitas digital. The Vapors, tanpa sengaja, menulis lagu tentang perasaan yang akan selalu dialami setiap generasi muda: momen ketika kita menatap diri sendiri dan bertanya, "Sejak kapan aku jadi seperti ini?"
Dan mungkin itulah ironi terindahnya. Sebuah lagu yang dituduh punya makna paling dangkal ternyata menyimpan salah satu pertanyaan paling dalam dalam musik pop. Tidak buruk untuk band dari Guildford yang hanya diberi satu kali kesempatan bersinar.
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Tenggelam dalam suaranya
- New Clear Days - The Vapors (Vinyl/CD) — Album debut tempat "Turning Japanese" bernaung ini jauh lebih dari sekadar satu hit. Dengarkan "News at Ten" dan "Letter from Hiro", dan Anda akan paham mengapa banyak kritikus menyebut The Vapors sebagai band yang pantas mendapat nasib lebih baik.
- Kompilasi New Wave 80s — Untuk memahami habitat asli lagu ini, dengarkan ia berdampingan dengan The Knack, Blondie, dan The Cars. Era power pop 1979-1981 adalah salah satu momen paling renyah dalam sejarah musik.
- The Jam - Greatest Hits — Band yang "menemukan" The Vapors. Mendengarkan The Jam membantu Anda mendengar dari mana energi gitar dan urgensi vokal The Vapors berasal.
📚 Ikuti kisahnya
- Buku sejarah musik new wave dan post-punk — Rip It Up and Start Again karya Simon Reynolds adalah peta terbaik untuk memahami Inggris 1978-1984, era ketika band seperti The Vapors lahir, meledak, dan menghilang dalam hitungan bulan.
- Buku tentang one-hit wonders — Kisah The Vapors adalah salah satu studi kasus klasik fenomena ini. Buku-buku tentang one-hit wonder membongkar mengapa industri musik bisa begitu kejam pada band yang "hanya" punya satu lagu abadi.
- Buku tentang sejarah musik pop Inggris 1980-an — Konteks lebih luas: bagaimana kecemasan Perang Dingin, ekonomi Thatcher, dan kebangkitan Jepang membentuk imajinasi musisi muda Inggris.
🌍 Kunjungi tempat-tempatnya
- Panduan wisata Surrey dan Guildford, Inggris — Kota asal The Vapors, sekitar 45 menit dari London. Kota universitas yang tenang ini juga melahirkan The Stranglers, menjadikannya titik ziarah kecil yang menyenangkan bagi penggemar new wave.
- Panduan wisata London musik — Klub-klub kecil London adalah panggung tempat band-band era ini ditemukan. Panduan wisata musik London membawa Anda menyusuri Soho dan Camden tempat sejarah new wave ditulis.
- Panduan wisata Jepang — Ironis tapi wajib: negara yang namanya dipinjam lagu ini. Mengunjungi Tokyo hari ini membuat Anda memahami mengapa di tahun 1980 "Jepang" menjadi simbol dunia masa depan di mata Barat.
🎸 Rasakan sendiri
- Gitar elektrik untuk pemula — Riff pembuka "Turning Japanese" adalah salah satu riff paling mudah dikenali dan cukup ramah untuk pemula. Memainkannya sendiri adalah cara tercepat memahami kenapa melodi pentatonik ini begitu lengket.
- Buku chord dan tab lagu new wave — Kumpulan tab lagu era ini mengajarkan satu rahasia power pop: aransemen sederhana, dimainkan cepat dan yakin, mengalahkan kerumitan apa pun.
- Turntable untuk vinyl — Lagu ini lahir di era piringan hitam, dan mendengarkan singel 7 inci aslinya berputar di turntable adalah pengalaman yang tidak bisa ditiru playlist streaming mana pun.
🤖 Tanya lebih lanjut:
- Apa saja lagu new wave lain dari era 1980 yang punya kisah salah paham serupa?
- Mengapa The Vapors bubar begitu cepat padahal lagunya sukses besar?
- Bagaimana sejarah "Oriental riff" dalam musik pop Barat dan kenapa kontroversial?