SONGFABLE · 1991

The Thunder Rolls

GARTH BROOKS · 1991

TL;DR: Di balik badai petir yang menggelegar, "The Thunder Rolls" sebenarnya adalah kisah perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga yang berakhir dengan seorang istri yang membalas, sebuah bait terakhir yang begitu gelap sampai sengaja dipotong dari versi albumnya dan videonya dilarang tayang di televisi musik country Amerika.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Badai yang sebenarnya terjadi di dalam rumah

Ada satu hal yang membuat lagu ini berbeda sejak detik pertama: suara guntur sungguhan. Sebelum gitar masuk, sebelum Garth Brooks membuka mulut, kita sudah dilempar ke dalam malam yang basah dan gelisah. Banyak pendengar Indonesia yang pertama kali menemukan lagu ini mengira mereka sedang mendengar sebuah lagu country biasa tentang cuaca buruk dan seorang pria yang pulang terlambat. Padahal ini adalah salah satu lagu paling berbahaya yang pernah menjadi nomor satu di tangga lagu country Amerika.

Badai dalam lagu ini bukan latar belakang. Badai itu adalah alat cerita. Setiap kali guntur bergulung, ia menutupi suara langkah kaki, membenamkan bunyi mesin mobil, menyamarkan kebohongan yang sedang berjalan menuju pintu depan. Seorang perempuan terjaga sendirian di rumah, jam terus berdetak, dan suaminya belum pulang. Ia mencemaskan kecelakaan. Lalu kecemasan itu berubah bentuk menjadi sesuatu yang lebih pahit: kecurigaan.

Yang mengejutkan bukan hanya isi ceritanya, tapi bagaimana lagu ini beredar di dunia. Ada versi yang didengar jutaan orang lewat radio, dan ada versi lain yang lebih panjang, lebih brutal, dan lebih jujur, yang hanya muncul di panggung dan di dalam video musiknya. Perbedaan antara dua versi itulah yang membuat "The Thunder Rolls" menjadi salah satu kontroversi terbesar dalam sejarah musik country modern.

Dari Yukon, Oklahoma ke panggung terbesar Amerika

Garth Brooks lahir pada 1962 dan besar di Yukon, sebuah kota kecil di negara bagian Oklahoma. Ibunya, Colleen Carroll, kabarnya pernah menjadi penyanyi country yang sempat rekaman dan tampil di televisi pada era 1950-an, jadi musik bukan hal asing di rumah itu. Namun yang menarik, Garth muda justru lebih dikenal sebagai atlet. Ia masuk Oklahoma State University dengan beasiswa atletik dan berlatih lempar lembing. Ambisi menjadi bintang musik datang belakangan.

Perjalanannya ke Nashville pun tidak mulus. Cerita yang sering diulang menyebutkan bahwa upaya pertamanya pada pertengahan 1980-an berakhir cepat, ia pulang setelah menyadari betapa besar dan dinginnya kota musik itu. Ia kembali beberapa tahun kemudian dengan persiapan yang jauh lebih matang, dan akhirnya menandatangani kontrak dengan Capitol Nashville pada 1988.

Yang terjadi setelahnya adalah salah satu ledakan komersial paling ekstrem dalam sejarah musik Amerika. Album keduanya, "No Fences", dirilis pada 1990 dan meledak jauh melampaui pasar country. Album itu memuat "Friends in Low Places", "Unanswered Prayers", dan tentu saja "The Thunder Rolls". Penjualannya menembus angka yang sulit dipercaya untuk sebuah album country, dan Garth Brooks berubah dari penyanyi baru menjadi fenomena nasional dalam hitungan bulan. Tahun berikutnya, albumnya "Ropin' the Wind" bahkan langsung menduduki puncak tangga album pop Amerika, sesuatu yang belum pernah dicapai album country sebelumnya.

"The Thunder Rolls" ditulis Garth Brooks bersama Pat Alger, penulis lagu Nashville yang juga ikut menulis "Unanswered Prayers". Menariknya, lagu ini kabarnya sempat direkam lebih dulu oleh penyanyi country perempuan Tanya Tucker sebelum Garth merilis versinya, tetapi rekaman itu tidak pernah menjadi single besar dan baru muncul ke publik bertahun-tahun kemudian. Bayangkan sejarah alternatif di mana lagu tentang seorang istri yang membalas justru dinyanyikan oleh perempuan. Nasib lagu ini mungkin akan sangat berbeda.

Untuk pendengar di Indonesia, ada satu jembatan yang membuat lagu ini terasa akrab secara fisik. Kita hidup di negara tropis dengan musim hujan yang keras. Petir yang menyambar tiba-tiba di sore hari, langit yang berubah hitam dalam sepuluh menit, suara guruh yang membuat kaca jendela bergetar, semua itu bagian dari pengalaman sehari-hari kita. Ketika Garth Brooks memakai badai sebagai metafora untuk kemarahan yang menumpuk di dalam rumah, pendengar Indonesia tidak perlu membayangkan apa pun. Kita sudah tahu bagaimana rasanya menunggu di rumah sambil mendengar guntur, dan bagaimana suara hujan bisa menyembunyikan banyak hal.

Membedah maknanya: tiga babak yang bergerak seperti film

Lagu ini dibangun seperti skenario film pendek, dan itulah kekuatannya. Babak pertama menempatkan kita di sisi sang istri. Malam sudah larut, hujan turun deras, dan suaminya belum juga pulang. Ada ketegangan domestik yang sangat spesifik di sini: perasaan menunggu yang perlahan berubah dari khawatir menjadi curiga. Garth Brooks tidak perlu menjelaskan apa pun secara gamblang. Ia cukup menggambarkan seorang perempuan yang duduk sendirian, memandang jam, dan membiarkan pikirannya berkelana ke tempat yang tidak ingin ia datangi.

Babak kedua memindahkan kamera ke sang suami. Ia sedang dalam perjalanan pulang dari tempat yang tidak seharusnya ia datangi, bersama seseorang yang bukan istrinya. Detail yang paling menusuk adalah sesuatu yang sangat kecil dan sangat manusiawi: aroma parfum asing yang menempel di tubuhnya. Bukti perselingkuhan dalam lagu ini bukan surat, bukan foto, bukan pengakuan. Cukup bau. Dan ketika ia akhirnya masuk ke rumah dan mencoba berbohong, sang istri sudah tahu sebelum kalimat pertama selesai diucapkan.

Di sinilah "The Thunder Rolls" melakukan sesuatu yang lebih berani daripada lagu perselingkuhan biasa. Lagu ini tidak berhenti pada patah hati. Ia bergerak ke arah kekerasan. Bahasa yang dipakai menyiratkan bahwa ini bukan malam pertama sang perempuan menghadapi situasi seperti ini, dan bahwa rumah itu bukan tempat yang aman baginya. Metafora badai berubah fungsi. Guntur yang tadinya hanya menutupi kebohongan kini menjadi gambaran amarah laki-laki itu sendiri, sesuatu yang datang berulang, tak terhindarkan, dan menakutkan.

Lalu ada bait ketiga. Bait ini tidak ada di versi album yang beredar di radio. Kabarnya bait itu memang ditulis, tetapi diputuskan untuk tidak dimasukkan ke rekaman studio karena dianggap terlalu berat untuk publik pada masa itu. Dalam bait terakhir tersebut, sang istri tidak lagi menjadi korban yang pasif. Ia mengambil senjata yang selama ini tersimpan di rumah, dan malam itu berakhir dengan cara yang tidak bisa dibatalkan. Garth Brooks membawakan bait ini di panggung dan memasukkannya ke dalam video musik, dan itulah yang mengubah lagu ini dari drama rumah tangga menjadi bom budaya.

Yang penting dipahami: lagu ini tidak merayakan kekerasan dari pihak mana pun. Ia menyajikan sebuah lingkaran yang berputar sampai pecah, dan membiarkan pendengar duduk tidak nyaman dengan akibatnya. Tidak ada moral yang diucapkan di akhir. Hanya badai yang terus bergulung.

Video yang dilarang tayang dan perdebatan yang mengikutinya

Video musik "The Thunder Rolls", yang dirilis pada 1991, adalah salah satu keputusan artistik paling nekat dalam karier Garth Brooks. Ia tidak menyewa aktor untuk memerankan sang suami. Ia memerankannya sendiri, dengan rambut panjang dan janggut, tampil sebagai laki-laki yang mabuk, berselingkuh, dan melakukan kekerasan terhadap istrinya di depan anak mereka. Bintang country paling laris di Amerika saat itu memilih untuk menampilkan dirinya sebagai sosok yang dibenci penonton.

Videonya diakhiri dengan bait ketiga yang tidak ada di radio, lengkap dengan konsekuensinya. Reaksinya keras. Kanal musik country besar di Amerika pada masa itu, yang dikenal sebagai TNN dan CMT, memutuskan menghentikan penayangan video tersebut. Alasan yang dikemukakan berkisar pada kekhawatiran bahwa penggambaran kekerasan dan pembalasan itu terlalu ekstrem untuk penonton keluarga. Garth Brooks menolak mengubah videonya. Sikapnya kurang lebih adalah bahwa kekerasan dalam rumah tangga memang terjadi setiap hari di rumah-rumah nyata, dan menolak menampilkannya di layar tidak akan membuatnya berhenti terjadi.

Ironisnya, pelarangan itu justru memperbesar dampaknya. Video tersebut menjadi bahan perbincangan nasional dan kemudian tetap memenangi penghargaan video musik bergengsi dari asosiasi musik country Amerika pada tahun yang sama. Kabarnya, dalam beberapa penayangan, video itu ditutup dengan pesan yang mengarahkan penonton ke layanan bantuan bagi korban kekerasan dalam rumah tangga. Organisasi-organisasi pendamping korban kemudian menyebut lagu dan videonya sebagai salah satu momen langka ketika isu ini masuk ke ruang keluarga Amerika lewat pintu hiburan arus utama.

Konteks ini penting. Pada awal 1990-an, kekerasan dalam rumah tangga di banyak negara masih dianggap urusan pribadi yang tidak pantas dibicarakan di depan umum. Musik country sendiri punya sejarah panjang dengan lagu-lagu bertema gelap, tetapi radio country era itu cenderung memilih materi yang aman dan menyenangkan. "The Thunder Rolls" menembus filter tersebut, sebagian karena Garth Brooks sudah terlalu besar untuk dihentikan.

Di Indonesia, percakapan serupa datang lebih belakangan namun beresonansi kuat. Undang-undang tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga baru disahkan pada 2004, dan sampai hari ini laporan tahunan lembaga-lembaga pendamping perempuan masih menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Banyak kasus tidak pernah dilaporkan karena tekanan sosial, ketakutan, atau anggapan bahwa masalah rumah tangga sebaiknya diselesaikan diam-diam. Mendengarkan lagu berusia lebih dari tiga dekade dari Oklahoma ini, lalu menyadari betapa dekat temanya dengan berita yang kita baca sendiri, adalah pengalaman yang cukup mengguncang.

Kenapa lagu ini masih menggetarkan sampai hari ini

Kekuatan "The Thunder Rolls" terletak pada penolakannya untuk menjadi nyaman. Lagu ini tidak memberi kita pahlawan. Sang suami jelas bersalah, tetapi lagu ini juga tidak menjadikan sang istri sebagai simbol kemenangan. Ia hanya menunjukkan bahwa ketika seseorang terjebak cukup lama dalam ketakutan, akan tiba satu malam ketika sesuatu pecah. Ambiguitas moral itulah yang membuat lagu ini terus dibicarakan, ditulis ulang, dan diperdebatkan sampai sekarang.

Dari sisi musikal, lagu ini juga menjelaskan kenapa Garth Brooks bisa menembus pasar yang jauh lebih luas daripada penggemar country tradisional. Ia membawa sensibilitas rock arena ke dalam musik country: dinamika yang naik turun, efek suara sinematik, dan pertunjukan panggung yang teatrikal. Bagi pendengar Indonesia yang tumbuh dengan rock dan pop Barat, "The Thunder Rolls" adalah pintu masuk yang mudah ke dunia country, karena ia terdengar seperti drama, bukan seperti pelajaran sejarah musik Amerika.

Ada juga alasan yang lebih praktis kenapa banyak orang di Indonesia belum pernah mendengar lagu ini meskipun ia raksasa di Amerika. Selama bertahun-tahun, Garth Brooks dikenal menjauhkan katalog musiknya dari layanan streaming besar, termasuk platform yang paling banyak dipakai di sini, dan lebih memilih jalur distribusi sendiri atau kemitraan eksklusif. Akibatnya, generasi pendengar yang tumbuh sepenuhnya di era streaming bisa saja melewatkan salah satu artis terlaris sepanjang masa. Ketika akhirnya kamu menemukan lagu ini, rasanya seperti membuka lemari tua dan menemukan sesuatu yang seharusnya sudah lama kamu ketahui.

Dan tema intinya tidak menua. Perselingkuhan yang ketahuan dari detail sepele. Kebohongan yang runtuh di ambang pintu. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman tetapi berubah menjadi yang paling menakutkan. Selama semua itu masih terjadi, "The Thunder Rolls" akan terus terdengar seperti berita hari ini yang kebetulan diberi melodi.

Mungkin itulah kenapa lagu ini bertahan. Ia tidak berpura-pura bahwa badai akan berlalu begitu saja. Ia hanya membiarkan guntur terus bergulung, dan memaksa kita mendengarkan apa yang selama ini disembunyikan oleh suaranya.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Selami suaranya

📚 Ikuti kisahnya

🌍 Kunjungi tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanyakan lebih lanjut
Tags
90s