SONGFABLE · 2016

That's What I Like

BRUNO MARS · 2016

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

That's What I Like - Bruno Mars (2016)

TL;DR: Di balik kemewahan sampanye, sutra, dan jet pribadi yang dipamerkan lagu ini, "That's What I Like" sebenarnya adalah surat cinta yang sangat sederhana: ajakan untuk membagi semua kenikmatan hidup dengan satu orang istimewa. Mewahnya bukan soal pamer, tapi soal "semua ini cuma berarti kalau kamu ada di sampingku".

Bukan Lagu Pamer Harta, Tapi Lagu Rayuan

Kalau kamu mendengar "That's What I Like" sekilas, kamu mungkin mengira ini lagu sombong tentang uang. Lautan yang disebut, mobil mewah, perhiasan berlian, perjalanan ke pantai-pantai eksotis. Tapi ada kejutan kecil yang sering terlewat: semua barang mewah itu bukanlah inti lagunya. Mereka cuma alat. Inti yang sesungguhnya adalah seorang perempuan yang ingin Bruno manjakan, ingin dia bahagiakan, ingin dia ajak menikmati hidup berdua.

Bruno Mars memang seorang ahli rayuan dalam bentuk lagu. Di tangan dia, daftar barang mahal berubah menjadi semacam undangan: "Datanglah, ikut aku, mari kita nikmati semua ini bersama." Bukan "lihat betapa kayanya aku", melainkan "lihat betapa aku ingin memberikan dunia untukmu". Perbedaan kecil ini yang membuat lagu ini terasa hangat, bukan dingin atau angkuh.

Itulah daya tarik tersembunyinya. Di permukaan ini lagu pesta yang berkilau. Di bawah permukaan, ini lagu seseorang yang sedang jatuh hati dan ingin menunjukkan kasih sayang lewat cara yang paling berlimpah. Yang membuatnya begitu menyenangkan untuk didengar adalah karena keduanya benar pada saat yang sama: kamu bisa berdansa kepadanya, dan kamu juga bisa merasa dirayu olehnya.

Lahir dari Era Retro yang Dihidupkan Kembali

Untuk memahami lagu ini, kita perlu mundur ke awal kariernya. Bruno Mars lahir dengan nama Peter Gene Hernandez di Honolulu, Hawaii, pada tahun 1985. Dia tumbuh dalam keluarga musisi; konon sejak kecil dia sudah tampil di panggung, meniru Elvis Presley dengan kostum lengkap. Darah panggung itu tidak pernah hilang. Hawaii, dengan campuran budaya Filipina, Puerto Riko, dan Yahudi dalam keluarganya, membentuk seorang seniman yang nyaman menyeberangi berbagai gaya musik.

"That's What I Like" muncul di album ketiganya, 24K Magic, yang dirilis pada akhir tahun 2016. Album ini adalah pernyataan cinta Bruno kepada musik funk, R&B, dan new jack swing tahun 1980-an dan 1990-an. Dia tidak menyembunyikan inspirasinya. Suara synthesizer yang berkilau, ketukan yang renyah, dan vokal yang manis itu semua sengaja dibuat untuk membangkitkan nostalgia ke era ketika grup-grup seperti New Edition, Bobby Brown, dan Jodeci merajai tangga lagu.

Yang menarik, di era 2016 itu musik populer sedang didominasi oleh suara trap, hip-hop kelam, dan produksi elektronik yang gelap. Bruno melakukan hal yang agak nekat: dia justru kembali ke masa lalu yang ceria dan penuh warna. Banyak orang waktu itu skeptis apakah suara retro semacam itu masih laku. Ternyata strategi itu membuahkan hasil besar. "That's What I Like" konon menjadi salah satu singel paling sukses dalam kariernya dan kabarnya sempat mencapai puncak tangga lagu Billboard Hot 100 di Amerika Serikat pada tahun 2017.

Bagi pendengar Indonesia, ada sesuatu yang akrab di sini. Musik R&B dan funk era 90-an sebenarnya punya jejak kuat di Indonesia. Generasi yang tumbuh dengan MTV Asia, dengan grup-grup vokal R&B, atau yang menikmati lagu-lagu slow jam di radio malam hari, akan langsung mengenali "rasa" lagu ini. Suara new jack swing yang dibawa Bruno ke 2016 itu bukan sesuatu yang asing di telinga kita; ia justru terasa seperti kawan lama yang kembali setelah lama menghilang. Itu sebabnya lagu ini begitu mudah diterima di daftar putar anak muda Jakarta, Bandung, atau Surabaya saat itu.

Membongkar Makna: Mewah yang Sebenarnya Soal Kebersamaan

Mari kita bedah apa yang sebenarnya dinyanyikan Bruno tanpa mengutip satu baris pun. Sepanjang lagu, dia melukiskan serangkaian gambaran tentang kemewahan. Dia membayangkan membawa pasangannya ke kota judi yang gemerlap, di mana mereka bisa bertaruh dan bersenang-senang tanpa khawatir soal uang. Dia menyebut minuman mahal, pakaian dari bahan halus, dan kalung berlian yang berkilau di leher.

Tapi perhatikan bagaimana semua itu dibingkai. Bruno tidak mengatakan "aku punya semua ini". Dia mengatakan "aku ingin memberikan semua ini kepadamu". Setiap barang mahal disodorkan sebagai hadiah, sebagai cara untuk membuat orang yang dicintainya merasa istimewa dan dipuja. Ini bukan monolog tentang dirinya; ini dialog yang ditujukan kepada seseorang.

Ada juga nuansa kesetaraan dan kebebasan dalam lagu ini. Bruno mengisyaratkan bahwa pasangannya bebas memilih apa pun yang dia inginkan, bebas menentukan ke mana mereka pergi dan apa yang mereka nikmati. Pesan tersiratnya: "Kebahagiaanmu adalah prioritasku." Dalam tradisi lagu rayuan, ini adalah gerakan yang cerdas. Alih-alih meminta sesuatu, sang penyanyi justru menawarkan segalanya.

Frasa berulang yang menjadi judul lagu, "That's What I Like" (itulah yang aku suka), berfungsi sebagai semacam tanda persetujuan yang gembira. Setiap kali Bruno menggambarkan momen menyenangkan bersama kekasihnya — entah itu sebuah pesta, sebuah perjalanan, atau sekadar kebersamaan — dia menutupnya dengan ungkapan kepuasan itu. Yang dia sukai bukan barangnya semata, melainkan perasaan berbagi semua itu dengan orang yang tepat. Kalau kamu dengarkan dengan teliti, "yang dia suka" sebenarnya adalah dia, pasangannya, bukan kemewahannya.

Inilah trik kepenulisan yang membuat lagu ini awet. Lapisan luarnya hedonistik dan pesta-pesta, tapi lapisan dalamnya romantis dan tulus. Pendengar bisa masuk dari pintu mana pun. Yang datang untuk berdansa mendapatkan ketukan. Yang datang untuk perasaan mendapatkan kehangatan.

Konteks Budaya dan Warisan yang Ditinggalkan

"That's What I Like" tidak berdiri sendiri; ia adalah bagian dari proyek yang lebih besar untuk membawa kembali estetika kemewahan ceria era 90-an ke panggung pop modern. Pada masa itu, Bruno Mars hampir sendirian dalam membela suara funk dan R&B klasik di tangga lagu mainstream. Bersama kolaboratornya, dia membungkus nostalgia itu dalam produksi yang bersih dan modern sehingga terasa segar, bukan ketinggalan zaman.

Video musik untuk lagu ini juga menjadi bagian penting dari pesonanya. Konsepnya minimalis tapi pintar: Bruno tampil di depan latar belakang putih bersih, dengan animasi tulisan tangan dan gambar-gambar yang muncul mengikuti lirik. Pendekatan visual yang sederhana itu justru membuat kepribadian dan karismanya menjadi bintang utama. Tidak butuh efek mahal; cukup pesona dan gerakan tubuhnya.

Pengakuan terhadap lagu dan albumnya pun datang dengan deras. 24K Magic dan singel-singelnya kabarnya memenangkan beberapa penghargaan Grammy bergengsi, termasuk untuk kategori-kategori utama. "That's What I Like" sendiri konon meraih penghargaan untuk penulisan lagu, sebuah pengakuan bahwa di balik kesederhanaannya yang terasa mudah, ada kepiawaian menulis yang serius.

Warisan terbesar lagu ini mungkin adalah caranya membuktikan bahwa musik yang murni menyenangkan masih punya tempat di dunia yang sering kali serius dan murung. Di tengah era streaming yang dipenuhi lagu-lagu galau dan introspektif, Bruno menawarkan kebalikannya: rayakan hidup, rayakan cinta, rayakan kemewahan kecil yang bisa kita bagi. Lagu ini menjadi semacam izin untuk bersenang-senang tanpa rasa bersalah.

Bagi banyak pendengar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, "That's What I Like" juga menjadi lagu pesta pernikahan, lagu pesta ulang tahun, dan lagu yang sering muncul di acara-acara penuh kegembiraan. Iramanya yang mudah diikuti dan pesannya yang penuh kasih membuatnya cocok untuk momen-momen perayaan. Ada sesuatu yang universal tentang keinginan memanjakan orang yang kita sayangi, dan lagu ini menangkapnya dengan sempurna.

Mengapa Lagu Ini Masih Terngiang Sampai Sekarang

Bertahun-tahun setelah dirilis, "That's What I Like" tetap segar setiap kali diputar. Salah satu alasannya adalah karena ia tidak terikat pada tren sesaat. Justru karena ia merangkul suara klasik era 90-an, lagu ini sudah "tahan zaman" sejak awal. Sesuatu yang sudah retro tidak bisa menjadi ketinggalan zaman; ia hanya menjadi semakin nostalgis seiring waktu.

Alasan kedua adalah emosi di intinya. Keinginan untuk membuat seseorang merasa istimewa, untuk berbagi kenikmatan hidup dengan orang yang kita cintai, adalah perasaan yang tidak pernah usang. Selama manusia jatuh cinta dan ingin memanjakan pasangannya, lagu ini akan selalu punya pendengar. Kemewahan dalam liriknya bisa berubah seiring zaman — mungkin suatu hari berlian dan jet pribadi akan terdengar kuno — tapi niat di baliknya tetap abadi.

Ketiga, ada keahlian murni di sini. Vokal Bruno Mars yang luwes, kemampuannya berpindah dari nada rendah yang menggoda ke falsetto yang melayang, dan rasa ritmenya yang nyaris sempurna membuat lagu ini menyenangkan secara teknis maupun emosional. Banyak penyanyi bisa menyanyikan lagu pesta, tapi sedikit yang bisa membuatnya terasa begitu mulus dan tanpa usaha seperti Bruno.

Untuk pendengar muda di Indonesia hari ini, lagu ini juga menawarkan pintu masuk ke dunia musik funk dan R&B yang lebih luas. Jatuh cinta pada "That's What I Like" bisa membawamu menelusuri ke belakang: ke Michael Jackson, ke Prince, ke grup-grup new jack swing era 90-an, ke seluruh warisan musik soul Amerika. Bruno Mars selalu berfungsi sebagai jembatan antara masa kini dan masa lalu yang kaya itu.

Dan mungkin yang paling penting: di dunia yang terasa semakin berat dan rumit, lagu yang dengan tulus mengajakmu bersenang-senang dan merayakan cinta adalah hadiah yang langka. "That's What I Like" mengingatkan kita bahwa kadang-kadang, kebahagiaan itu sederhana — sebuah momen menyenangkan, dibagi dengan orang yang tepat. Itulah yang kita semua, pada akhirnya, sukai.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

Mulailah dari sumbernya. Album 24K Magic adalah karya yang dibuat untuk didengar dari awal hingga akhir, sebuah perjalanan penuh kilau ke era funk dan R&B yang dihidupkan kembali. Mendengarkan keseluruhan album akan membuatmu memahami betapa konsistennya visi Bruno untuk membawa kembali suara 90-an.

Untuk menangkap akar musik yang menginspirasi Bruno, dengarkan juga kompilasi new jack swing dan R&B era 90-an. Kamu akan langsung mengenali "rasa" yang sama, dan memahami dari mana Bruno mengambil inspirasinya yang berkilau itu.

📚 Ikuti kisahnya

Cerita di balik Bruno Mars sama menariknya dengan musiknya — anak panggung dari Hawaii yang naik dari penyanyi peniru menjadi salah satu bintang pop terbesar di dunia. Buku biografi dan buku tentang sejarah funk dan soul akan memberimu konteks yang lebih dalam.

Jika kamu penasaran bagaimana sebuah lagu pop yang terasa "mudah" sebenarnya dirancang dengan teliti, buku tentang seni menulis lagu akan membuka matamu. Kamu akan melihat bahwa kesederhanaan yang memikat itu justru hasil dari kerja keras yang serius.

🌍 Kunjungi tempatnya

Bruno Mars adalah putra Honolulu, Hawaii, dan jiwa pulau itu — kehangatan, perayaan, percampuran budaya — hidup di musiknya. Menjelajahi Hawaii lewat buku perjalanan akan membantumu memahami dari mana energi cerianya berasal.

Lagu ini juga membayangkan kota-kota gemerlap penuh kemewahan dan pesta. Sebuah panduan ke Las Vegas, kota lampu dan kasino, akan membawamu ke dunia yang sama yang dilukiskan Bruno dalam liriknya — tempat di mana kemewahan dan kegembiraan bertemu.

🎸 Rasakan sendiri

Cara terbaik memahami musik adalah dengan memainkannya sendiri. Belajar memainkan keyboard atau menyanyikan lagu-lagu Bruno Mars akan membuatmu menghargai seberapa rumit "kesederhanaan" itu sebenarnya.

Atau, ambil mikrofon karaoke dan rayakan lagu ini sebagaimana mestinya — bersama teman-teman, dengan suara keras dan tanpa rasa malu. Bagaimanapun, ini adalah lagu tentang berbagi kegembiraan, dan tidak ada cara lebih baik untuk menikmatinya selain merayakannya bersama orang-orang yang kamu sayangi.


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut:

Tags
10s