Submission
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Sebuah perintah yang dibelokkan jadi lelucon
Bayangkan kamu seorang manajer band yang sedang naik daun, dan kamu menulis sepotong kertas berisi instruksi: "Buatkan saya sebuah lagu tentang submission — soal dominasi, soal tunduk, soal seks yang gelap." Kamu serahkan itu ke vokalismu dengan harapan dia akan menghasilkan sesuatu yang provokatif, sesuatu yang menjual kontroversi. Itulah yang kabarnya dilakukan Malcolm McLaren, sang otak di balik Sex Pistols, saat ia ingin band-nya membuat lagu bertema sadomasokisme demi mendukung citra dan bisnis butik fesyen miliknya, SEX, yang memang menjual pakaian fetish.
Tapi Johnny Rotten, sang vokalis dengan otak yang jauh lebih licin daripada yang diperkirakan orang, melihat kata itu dan memutuskan untuk tidak menurutinya. Alih-alih menulis tentang tunduk dan patuh, ia memecah kata "submission" menjadi "sub-mission" — sebuah misi di bawah laut. Maka jadilah sebuah lagu yang penuh citra samudra, kapal selam, dan penyelaman ke kedalaman, sebuah teka-teki berlapis yang justru menertawakan perintah yang diberikan kepadanya. Inilah ironi terindah dari "Submission": sebuah lagu yang seharusnya tentang ketundukan, tapi dilahirkan dari penolakan untuk tunduk. Rotten menolak untuk mengikuti perintah, dan dari penolakan itulah lahir karya yang justru menjadikan band ini begitu menarik.
Latar belakang: London 1977 dan ledakan yang mengubah segalanya
Untuk memahami "Submission", kamu harus membayangkan Inggris pada tahun 1976–1977. Negara itu sedang lesu — angka pengangguran tinggi, anak-anak muda merasa tidak punya masa depan, dan musik yang merajai radio terasa megah tapi jauh: rock progresif yang panjang-panjang, gitaris virtuoso yang bermain dua puluh menit nonstop. Lalu datanglah Sex Pistols seperti batu bata yang dilempar ke jendela kaca. Mereka tidak pandai bermain alat musik (setidaknya itulah mitosnya), tapi mereka punya energi, kemarahan, dan sikap yang membuat seluruh generasi merasa, "Oh, ternyata aku juga bisa melakukan ini."
Band ini terdiri dari Johnny Rotten (John Lydon) di vokal, Steve Jones di gitar, Paul Cook di drum, dan Glen Matlock di bas — yang kemudian digantikan oleh Sid Vicious, sosok yang lebih ikonik sebagai simbol kekacauan ketimbang sebagai pemain bas. "Submission" sendiri sebagian besar ditulis bersama oleh Rotten dan Matlock, dan kabarnya ini adalah salah satu momen ketika kedua orang yang sering bertengkar itu benar-benar duduk bersama dan menyusun sesuatu. Lagu ini masuk ke dalam satu-satunya album studio mereka, Never Mind the Bollocks, Here's the Sex Pistols, yang dirilis Oktober 1977 — album yang sering disebut sebagai salah satu rekaman paling berpengaruh dalam sejarah rock, meski isinya hanya dua belas lagu dan band-nya bubar tak lama kemudian.
Bagi pendengar Indonesia, ada benang merah yang menarik di sini. Gelombang punk yang dilepaskan Sex Pistols tidak berhenti di London. Pada akhir 1980-an dan terutama 1990-an, semangat "do it yourself" — bikin band sendiri, rekam sendiri, manggung di mana saja — menyeberang ke Jakarta, Bandung, dan kota-kota lain. Scene punk dan hardcore Indonesia, dari Bandung hingga komunitas-komunitas independen yang menjamur, sebagian besar berakar pada etos yang dirintis band seperti Sex Pistols: bahwa kamu tidak butuh izin, tidak butuh label besar, dan tidak butuh keahlian sempurna untuk bersuara. Banyak anak muda Indonesia yang pertama kali memegang gitar karena mendengar bahwa band sekelas Sex Pistols pun katanya tidak terlalu jago di awal. Etos itulah, bukan sekadar suaranya, yang menjadi warisan paling abadi di Nusantara.
Makna inti: menyelam ke dasar yang tak terjamah
Kalau kamu mencoba membongkar isi "Submission", kamu akan menemukan sebuah lagu yang sengaja dibuat licin dan sulit dipegang. Permukaan liriknya dipenuhi citra laut dalam: tokoh yang bernyanyi seolah sedang melayang turun ke dasar samudra, kehilangan arah, tenggelam ke dalam sesuatu yang gelap dan misterius. Ada sosok perempuan yang digambarkan seperti misteri yang tak terpecahkan, seperti kedalaman laut itu sendiri — sesuatu yang menarik tapi tak bisa benar-benar dikuasai atau dipahami.
Di sinilah letak kecerdasan Rotten. Permainan kata "sub-mission" memungkinkan lagu ini dibaca dalam beberapa lapisan sekaligus. Di satu sisi, ia bisa dibaca sebagai kisah tentang seseorang yang tenggelam dalam pesona orang lain, jatuh begitu dalam sampai kehilangan kendali atas dirinya — sebuah bentuk "ketundukan" emosional, bukan ketundukan seksual yang diminta McLaren. Di sisi lain, ia adalah lelucon harfiah tentang menyelam ke bawah laut, lengkap dengan citra kapal selam dan eksplorasi. Dan di lapisan ketiga, lagu ini sendiri adalah tindakan pembangkangan: Rotten menolak menuliskan apa yang diperintahkan, lalu menyembunyikan penolakannya itu di balik teka-teki yang terlalu pintar untuk ditangkap orang yang memberi perintah.
Yang menarik, secara musikal "Submission" juga keluar dari pakem. Di antara lagu-lagu lain di album yang serba cepat, marah, dan to-the-point, "Submission" justru lebih panjang, lebih lambat tempo-nya, dan punya nuansa yang hampir hipnotis — ada bagian-bagian yang terasa melayang, seolah benar-benar menggambarkan rasa tenggelam. Untuk band yang dikenal hanya bisa "tiga akor dan satu teriakan", lagu ini membuktikan bahwa mereka — terutama Matlock di sisi melodi — sebenarnya jauh lebih cakap secara musik daripada yang mau diakui mitos punk.
Konteks budaya dan warisan: ketika menolak adalah pesan utamanya
"Submission" mungkin bukan single Sex Pistols yang paling terkenal. Lagu-lagu seperti "Anarchy in the U.K.", "God Save the Queen", dan "Pretty Vacant" jauh lebih sering disebut sebagai lagu yang mendefinisikan punk. Tapi justru karena itu, "Submission" menjadi semacam jendela rahasia ke dalam cara kerja band ini. Lagu ini menunjukkan bahwa Sex Pistols bukan sekadar kemarahan acak — di balik ludah dan peniti, ada kecerdasan, humor gelap, dan kemampuan untuk membelokkan ekspektasi.
Ada juga sisi bisnis yang menarik. McLaren bukan sekadar manajer; ia adalah seorang situasionis, seorang yang gemar memprovokasi dan menjual kontroversi. Permintaannya akan lagu bertema S&M tidak lepas dari butik SEX miliknya. Maka ketika Rotten membelokkan perintah itu, ada sesuatu yang lebih dalam terjadi: pertarungan kreatif antara manajer yang ingin mengendalikan citra band dan vokalis yang menolak dikendalikan. Ketegangan inilah yang akhirnya meledakkan band itu dari dalam. Sex Pistols bubar pada awal 1978, hanya beberapa bulan setelah album mereka rilis, di tengah tur Amerika yang kacau. Rotten konon melontarkan pertanyaan getir di panggung terakhir — apakah penonton pernah merasa ditipu — dan itu menjadi nisan yang sempurna untuk band yang seluruh keberadaannya adalah tentang menolak ditipu.
Warisan lagu dan band ini melampaui musik. Mereka mendemonstrasikan bahwa sebuah produk budaya bisa dibuat sebagai senjata, sebagai pernyataan, sebagai cara untuk mengganggu kemapanan. Estetika punk — robekan, peniti, rambut warna-warni, tipografi potongan koran ala surat tebusan — sebagian besar lahir dari lingkaran kreatif di sekitar Sex Pistols, terutama desainer Jamie Reid. Bahkan hari ini, ketika sebuah merek fesyen besar memakai motif "robek-robek" atau tipografi kasar yang sengaja terlihat berantakan, itu adalah gema jauh dari estetika yang dipopulerkan band ini.
Kenapa lagu ini masih nyambung sampai sekarang
Hampir lima puluh tahun setelah dirilis, "Submission" tetap terasa relevan karena ia menyentuh sesuatu yang abadi: dorongan untuk menolak perintah, untuk tidak tunduk, untuk membelokkan apa yang diharapkan dari kita menjadi sesuatu yang menjadi milik kita sendiri. Di era sekarang, ketika algoritma memberi tahu kita apa yang harus disukai dan tren memberi tahu kita bagaimana harus berpenampilan, semangat Rotten yang menerima perintah lalu membelokkannya jadi lelucon terasa seperti pelajaran yang masih berlaku.
Bagi pendengar muda Indonesia yang baru mengenal Sex Pistols lewat playlist atau dokumenter, "Submission" adalah pintu masuk yang bagus untuk memahami bahwa punk bukan hanya soal teriak dan marah. Ada otak di baliknya. Ada permainan. Ada penolakan untuk dikotak-kotakkan. Dan justru karena lagu ini terasa "tidak terlalu punk" secara suara, ia mengajarkan bahwa pemberontakan sejati bukan soal mengikuti formula pemberontakan — melainkan soal menolak formula apa pun, termasuk formula pemberontakan itu sendiri.
Itulah kenapa "Submission" tetap layak diselami, sama seperti tokoh dalam liriknya yang terus turun ke dasar laut. Semakin dalam kamu menggali, semakin banyak lapisan yang kamu temukan. Dan di dasar paling bawah, kamu akan menemukan kebenaran yang manis: kadang cara terbaik untuk tunduk pada sebuah misi adalah dengan menolak untuk tunduk sama sekali.
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Menyelami suaranya
Titik awal terbaik adalah album penuhnya, satu-satunya rekaman studio yang pernah mereka buat dan tempat "Submission" bersarang di antara lagu-lagu legendaris lain. Dengarkan dalam urutan album untuk merasakan betapa berbedanya nuansa lagu ini dibanding sisanya.
- Cari album Never Mind the Bollocks Sex Pistols
- Cari koleksi punk rock 1977 CD
- Cari headphone untuk mendengarkan musik rock
Putar dengan volume yang membuat tetangga sedikit khawatir, lalu perhatikan bagaimana bagian-bagian "melayang" di lagu ini benar-benar terasa seperti tenggelam pelan ke dalam air. Versi vinyl punya kehangatan analog yang cocok dengan era ini.
📚 Mengikuti kisahnya
Sejarah Sex Pistols penuh dengan drama, intrik, dan tokoh-tokoh besar. Membaca otobiografi Johnny Rotten dan buku-buku tentang scene punk London akan membuatmu mengerti kenapa setiap lagu mereka adalah medan perang antara seni, bisnis, dan ego.
- Cari otobiografi John Lydon Rotten
- Cari buku sejarah punk rock London
- Cari buku Malcolm McLaren Sex Pistols
Buku-buku ini mengungkap bahwa perintah membuat lagu S&M itu nyata, dan reaksi Rotten yang membelokkannya menjadi misi bawah laut adalah salah satu momen pembangkangan kreatif paling cerdik dalam sejarah rock.
🌍 Mengunjungi tempatnya
Punk lahir di jantung London, terutama di sekitar King's Road tempat butik SEX milik McLaren dan Vivienne Westwood berdiri. Menelusuri peta London punk adalah cara menyentuh akar fisik dari gerakan ini.
- Cari buku panduan London musik dan budaya
- Cari buku fesyen punk Vivienne Westwood
- Cari poster seni punk London 1977
Bayangkan King's Road tahun 1977, dipenuhi anak muda berpakaian robek dan peniti, sambil mendengarkan lagu tentang menyelam ke dasar laut yang lahir dari toko fesyen fetish di jalan yang sama.
🎸 Mengalaminya sendiri
Cara terbaik memahami punk adalah dengan mencobanya. Etos "do it yourself" berarti kamu tidak butuh keahlian sempurna — cukup tiga akor, energi, dan keberanian untuk membuat keributanmu sendiri, persis seperti yang menginspirasi scene punk Bandung dan Jakarta.
- Cari gitar listrik untuk pemula
- Cari buku belajar akor gitar punk rock
- Cari amplifier gitar kecil untuk latihan
Pelajari beberapa akor sederhana, dengarkan ulang "Submission" untuk merasakan strukturnya, lalu cobalah membuat lagumu sendiri. Ingat pesannya: jangan tunduk pada formula, belokkan saja sesuai caramu.
🤖 Tanya lebih lanjut:
- Apa bedanya "Submission" dengan lagu Sex Pistols lain seperti "Anarchy in the U.K."?
- Bagaimana gerakan punk Sex Pistols memengaruhi scene musik indie di Indonesia?
- Kenapa Sex Pistols bubar begitu cepat padahal hanya punya satu album?