Something
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Hook
Ada momen aneh dalam sejarah musik populer ketika sebuah lagu cinta yang sangat sederhana — hanya beberapa frasa yang menggambarkan getaran tak terdefinisikan terhadap seseorang — menjadi penanda pergeseran tektonik dalam sebuah band paling berpengaruh di dunia. "Something" bukan lagu yang berteriak. Ia tidak punya jeritan vokal Lennon, tidak punya hook pop McCartney yang langsung menempel di kepala setelah satu kali dengar. Yang ia punya adalah riff gitar pembuka empat not — turun, naik, turun lagi — yang terdengar seperti seseorang sedang menarik napas sebelum mengaku.
Empat not itu, yang dimainkan Harrison di gitar Les Paul "Lucy" pemberian Eric Clapton, adalah salah satu intro paling dikenali dalam sejarah rock. Tapi yang lebih mengejutkan adalah konteksnya: ini adalah momen ketika George Harrison, "the quiet Beatle," akhirnya diberi side A pada sebuah single Beatles. Sampai 1969, dua belas album studio penuh, hanya Lennon dan McCartney yang mendapat hak istimewa itu. "Something" mengakhiri monopoli tersebut, dan ironisnya, ia melakukannya tepat ketika band tersebut sedang retak ke tahap akhir mereka.
Background
Untuk memahami "Something," kita harus memahami posisi Harrison dalam The Beatles. Sejak hari pertama, ia adalah adik bungsu — secara harfiah maupun kreatif. Lennon dan McCartney sudah menulis lagu bersama sebelum Harrison resmi bergabung, dan dinamika "songwriter senior vs lead guitarist" itu mengeras seiring waktu. Setiap album Beatles biasanya berisi 10-12 lagu Lennon-McCartney dan 1-2 lagu Harrison, sering diletakkan di posisi yang kurang menonjol dalam tracklist.
Harrison mulai menulis "Something" pada 1968 selama sesi rekaman "White Album." Menurut wawancara Harrison kemudian, frasa pembuka — sebuah observasi tentang gerakan seseorang yang memikat tanpa bisa dijelaskan secara rasional — sebenarnya dipinjam dari sebuah lagu James Taylor berjudul "Something in the Way She Moves," yang dirilis Apple Records (label milik Beatles) pada tahun yang sama. Harrison terbuka tentang peminjaman ini; ia menganggap frasa itu seperti "fragmen melodi yang menggantung di udara studio," dan ia hanya mengambilnya untuk dijadikan titik awal komposisi.
Lagu itu sempat ditawarkan kepada Joe Cocker, yang merekamnya sebelum versi Beatles dirilis. Tapi ketika sesi Abbey Road dimulai pada awal 1969, Harrison akhirnya membawanya kembali ke band. Yang menarik: pada sesi-sesi awal, Lennon dan McCartney tidak menunjukkan antusiasme khusus. McCartney dilaporkan menyarankan beberapa perubahan pada bridge, sementara Lennon — meski belakangan memuji lagu itu sebagai salah satu yang terbaik di album — awalnya bersikap acuh tak acuh. Ini adalah pola yang sudah dikenal Harrison selama bertahun-tahun: lagu-lagunya harus berjuang lebih keras untuk mendapat perhatian.
Sesi rekaman "Something" berlangsung dari April hingga Agustus 1969 di Abbey Road Studios. Pola Harrison adalah perfectionist: ia merekam ulang vokal berkali-kali, dan solo gitar yang ikonis itu sebenarnya direkam dalam beberapa take, dengan Harrison menggabungkan frasa terbaik dari masing-masing. Billy Preston memainkan organ Hammond, dan aransemen orkestra ditambahkan kemudian oleh George Martin. Hasilnya adalah sebuah produksi yang lapisannya kaya tanpa pernah terdengar berlebihan — sebuah keseimbangan yang menjadi ciri khas era akhir Beatles.
Real meaning
Pertanyaan klasik tentang "Something" adalah: untuk siapa lagu ini ditulis? Selama bertahun-tahun, jawaban populer adalah Pattie Boyd, istri Harrison saat itu — model Inggris yang juga menjadi inspirasi untuk "Layla" karya Eric Clapton beberapa tahun kemudian. Pattie sendiri dalam memoarnya "Wonderful Tonight" (2007) mengonfirmasi bahwa Harrison mengatakan lagu itu untuk dia.
Namun Harrison sendiri, dalam wawancara akhir 1990-an, memberikan jawaban yang lebih ambigu. Ia mengatakan bahwa ketika menulis lagu itu, ia tidak benar-benar memikirkan satu orang spesifik. Ia menyebut Ray Charles, dan bahkan dalam beberapa kesempatan menyiratkan bahwa lagu itu bisa dibaca sebagai cinta spiritual — cinta kepada Tuhan, kepada Krishna, kepada sumber dari mana semua keindahan mengalir. Ini bukan tafsiran yang dipaksakan: Harrison pada akhir 1960-an sudah dalam perjalanan spiritual yang dalam dengan ajaran Hindu dan filosofi Hare Krishna, dan banyak lagunya dari era itu ("Within You Without You," "My Sweet Lord," "Long Long Long") memiliki lapisan religius yang tersembunyi di balik bahasa cinta romantis.
Ambiguitas inilah yang membuat "Something" begitu tahan lama. Lagu ini tidak pernah menyebut nama. Ia tidak pernah menggambarkan wajah, rambut, atau tubuh secara detail. Yang ia gambarkan adalah perasaan — sebuah kepastian yang tidak bisa dijelaskan, sebuah keyakinan yang muncul dari pengamatan kecil yang melampaui kata-kata. Inilah mengapa lagu ini bisa dinyanyikan di pernikahan, di pemakaman, di sesi meditasi, di film — karena objeknya selalu kosong, dan pendengar bebas mengisinya.
Bridge lagu ini menyimpan momen keraguan yang halus: pertanyaan tentang apakah cinta ini akan bertahan. Harrison tidak memberi jawaban definitif. Ia hanya mengatakan bahwa ia tidak tahu — sebuah pengakuan kerendahan hati yang jarang ditemukan dalam lagu cinta pop tahun 1960-an, yang biasanya berisi sumpah selamanya. Pengakuan "aku tidak tahu" ini, dalam retrospeksi, terasa seperti firasat: pernikahan Harrison dengan Pattie Boyd memang berakhir pada 1977, ketika Pattie meninggalkannya untuk Eric Clapton — sahabat Harrison sendiri.
Cultural context untuk pendengar Indonesia
Bagi telinga Indonesia, ada banyak titik masuk untuk memahami mengapa "Something" terasa familiar bahkan ketika didengar pertama kali. The Beatles sendiri adalah fondasi besar dari musik populer Indonesia modern. Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, ketika rezim Orde Baru mulai membuka pintu kepada budaya pop Barat (setelah era Sukarno yang melarang musik "ngak-ngik-ngok"), gelombang pertama band Indonesia yang lahir banyak yang membawa pengaruh Beatles secara langsung — termasuk Koes Plus, yang sering disebut sebagai "Beatles Indonesia," meski mereka cepat menemukan suara mereka sendiri.
Tapi lebih menarik daripada perbandingan langsung adalah cara filosofi songwriting "Something" — kesederhanaan emosional, kejujuran tentang ketidakpastian — bergema dalam tradisi balada Indonesia. Dengarkan lagu-lagu Iwan Fals yang tidak bersifat protes; balada-balada cintanya seperti "Aku Bukan Pilihan" atau "Antara Aku, Kau, dan Bekas Pacarmu" memiliki sensibilitas yang serupa: pengakuan tentang perasaan tanpa kemegahan dramatis. Iwan Fals dan Harrison berbagi sesuatu yang sulit dijelaskan: kemampuan untuk membuat pendengar merasa bahwa lagu itu sedang berbicara langsung kepada mereka, bukan sedang dipertontonkan dari panggung.
Dewa 19 di era 1990-an, terutama di album-album seperti "Bintang Lima," membawa estetika rock klasik yang sangat dipengaruhi oleh era akhir Beatles dan post-Beatles solo Harrison. Ahmad Dhani sebagai komposer secara terbuka mengakui pengaruh George Harrison dalam beberapa wawancara — terutama dalam cara membangun lapisan harmonik dan menggunakan slide guitar. Lagu seperti "Aku Milikmu" atau "Kangen" punya DNA balada Harrisonian: melodi yang sederhana di permukaan tapi dengan gerakan harmonik yang lebih kompleks daripada yang terdengar pertama kali.
Slank, dengan akar mereka di Rolling Stones lebih daripada Beatles, tetap berbagi sesuatu dengan etos Harrison: kesetiaan jangka panjang pada keaslian musikal di tengah tekanan industri. Bimbim dan Kaka sebagai pasangan kreatif pernah membahas dalam wawancara bagaimana mereka belajar dari dinamika band-band 60-an dan 70-an tentang cara bertahan sebagai unit kreatif selama puluhan tahun — sebuah pelajaran yang Beatles sendiri gagal raih, tapi yang Harrison pribadi berhasil terjemahkan dalam karir solonya.
God Bless, yang merupakan salah satu band rock tertua Indonesia, membawa pengaruh era progresif rock yang Harrison sendiri tidak banyak terlibat, tapi yang muncul dari ekosistem musik yang sama. Iyan Antono sebagai gitaris memiliki pendekatan terhadap solo gitar yang sangat melodis — bukan teknis demi teknis — yang merupakan filosofi yang sama dengan solo gitar di "Something." Solo Harrison di lagu ini hanya berdurasi sekitar 23 detik, tapi ia bercerita: setiap bend, setiap sustain, terasa seperti kalimat lengkap.
Java Jazz Festival, sebagai panggung musik internasional terbesar di Indonesia, telah berkali-kali menampilkan artis yang membawa interpretasi ulang lagu-lagu Beatles. Dari penyanyi jazz internasional yang mengaransemen "Something" sebagai ballad standar (lagu ini telah dicover lebih dari 150 kali, kedua terbanyak setelah "Yesterday"), hingga musisi Indonesia seperti Indra Lesmana yang membawa pendekatan jazz harmonik pada lagu-lagu pop klasik. Konteks Java Jazz penting karena ia menunjukkan bahwa "Something" telah lama melampaui status sebagai lagu rock Inggris — ia kini bagian dari kanon standar internasional yang sama statusnya dengan komposisi Gershwin atau Bacharach.
Ada juga dimensi lain yang relevan untuk pendengar Indonesia: tradisi musik dangdut dan keroncong, meski genrenya berbeda, berbagi dengan "Something" sebuah penghargaan terhadap melodi yang panjang dan vokal yang mengalir. Ketika Rhoma Irama atau Hetty Koes Endang menafsirkan lagu cinta, mereka membiarkan setiap frasa bernapas — sebuah pendekatan yang Harrison juga gunakan, meski dalam idiom musikal yang sangat berbeda. Kesabaran melodis ini adalah sesuatu yang justru hilang dari banyak musik pop kontemporer, dan inilah salah satu alasan mengapa "Something" terus terdengar segar bahkan setelah lebih dari setengah abad.
Why it resonates today
Pada tahun 2026, hampir 57 tahun setelah dirilis, "Something" masih menjadi salah satu lagu Beatles yang paling banyak distream di Spotify. Mengapa? Ada beberapa alasan yang saling berlapis.
Pertama, ada masalah perhatian. Era streaming telah memproduksi sebuah ekosistem lagu pop yang panjangnya menyusut, hooknya muncul dalam 7 detik pertama, dan strukturnya disesuaikan untuk algoritma TikTok. "Something" adalah kebalikan dari itu: ia membangun perlahan, mencapai puncaknya pada solo gitar di tengah lagu, lalu turun kembali. Bagi telinga modern yang lelah dengan musik yang berteriak untuk perhatian, "Something" menawarkan kesabaran — sebuah kemewahan langka.
Kedua, ada masalah kerendahan hati emosional. Budaya pop kontemporer cenderung memperkuat narasi tentang cinta sebagai performance — sumpah grand, gestur dramatis, deklarasi publik di media sosial. "Something" menawarkan model berbeda: cinta sebagai observasi, sebagai keyakinan yang dipegang sambil mengakui ketidaktahuan. Frasa "aku tidak tahu" di bridge lagu ini, di tahun 2026, terasa hampir revolusioner. Berapa banyak lagu pop hari ini yang berani mengakui ketidakpastian tentang masa depan hubungan?
Ketiga, ada politik karir Harrison yang terus relevan. "The quiet one yang akhirnya berbicara" adalah narasi universal — relevan untuk siapa pun yang merasa tidak terlihat dalam tim, dalam keluarga, atau dalam institusi. Cerita di balik "Something" adalah cerita tentang ketekunan, tentang menunggu giliran tanpa menjadi pahit, dan akhirnya tentang menghasilkan karya yang melampaui kompetisi tersebut. Di era ketika "personal branding" menuntut promosi diri yang agresif, model Harrison — kerja tenang, fokus pada kerajinan, biarkan karya berbicara — terasa seperti antidot.
Keempat, ada dimensi spiritual. Generasi yang tumbuh dengan ketegangan antara sekularisme dan kerinduan akan makna, sering menemukan dalam "Something" sebuah lagu yang bisa dibaca di kedua arah: sebagai cinta duniawi atau sebagai pencarian transendental. Harrison di akhir hayatnya (ia meninggal pada 2001 karena kanker) berbicara terbuka tentang bagaimana ia melihat musik sebagai bentuk doa. "Something" tidak pernah secara eksplisit religius, tapi ia memiliki kualitas devosional — sebuah keterbukaan terhadap sesuatu yang lebih besar daripada yang bisa dijelaskan kata-kata.
Terakhir, ada keajaiban kerajinan murni. Solo gitar 23 detik itu, riff pembuka empat not itu, transisi harmonik di bridge yang turun ke kunci yang tak terduga — ini adalah teknik songwriting yang masih dipelajari di sekolah musik di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Untuk siapa pun yang serius tentang menulis lagu, "Something" adalah masterclass yang berdurasi kurang dari tiga menit.
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Dengarkan
Abbey Road (Remastered) (The Beatles) Dengarkan "Something" dalam konteks album lengkapnya, di mana ia mengalir dari intro instrumental "Here Comes the Sun" Harrison yang lain dan menjadi bagian dari medley side B yang legendaris. Mendengarkan Abbey Road dari awal hingga akhir memberi konteks tentang mengapa "Something" adalah momen pivot dalam album dan dalam karir Harrison. → Search
All Things Must Pass (George Harrison) Album solo pertama Harrison setelah Beatles bubar, dirilis tahun 1970. Ini adalah pernyataan artistik yang menjelaskan mengapa "Something" hanya permulaan — sebuah triple album berisi semua lagu yang sebelumnya ditolak atau tidak diberi ruang oleh Lennon-McCartney. Termasuk "My Sweet Lord," "What Is Life," dan "Isn't It a Pity." → Search
📚 Baca
I, Me, Mine (George Harrison) Otobiografi Harrison yang diterbitkan tahun 1980, berisi lirik lagu-lagunya disertai komentar pribadi tentang konteks penulisan masing-masing. Bagian tentang "Something" relatif singkat tapi mengungkapkan tentang ambiguitas yang ia rasakan terhadap kesuksesan lagu tersebut. → Search
Here Comes the Sun: The Spiritual and Musical Journey of George Harrison (Joshua M. Greene) Biografi yang fokus pada perjalanan spiritual Harrison dan bagaimana itu membentuk songwriting-nya. Memberi konteks penting untuk memahami lapisan religius di balik lagu-lagu cinta Harrison, termasuk "Something." → Search
🌍 Kunjungi
Abbey Road Studios, London Studio legendaris di mana "Something" direkam. Meskipun studio itu sendiri tidak terbuka untuk umum, penyeberangan zebra di luar studio yang menjadi cover album Abbey Road adalah tujuan ziarah musik global. Untuk pendengar Indonesia yang berkesempatan ke London, kunjungan ini menghubungkan kita secara fisik dengan sejarah produksi lagu ini. → Search
Friar Park, Henley-on-Thames Rumah George Harrison setelah Beatles, di mana ia menghabiskan tiga dekade terakhir hidupnya, berkebun dan menulis musik. Meskipun rumah itu tidak terbuka untuk umum, kota Henley-on-Thames bisa dikunjungi dan memiliki tur sejarah lokal yang menyinggung kehidupan Harrison. → Search
🎸 Coba sendiri
Gitar elektrik dengan pickup humbucker Untuk mempelajari riff dan solo "Something," sebuah gitar elektrik dengan karakter sustain panjang sangat membantu. Harrison menggunakan Les Paul, tapi gitar dengan humbucker dari merek terjangkau di pasar Indonesia bisa memberi sound yang mirip. Latihan riff pembuka adalah cara terbaik untuk memahami bagaimana melodi sederhana bisa terasa monumental. → Search
Buku transkripsi tab gitar Beatles Tab dan partitur "Something" tersedia di berbagai buku transkripsi resmi Beatles. Mempelajari solo gitar 23 detiknya secara not-per-not adalah pelajaran masterclass tentang bagaimana frasa melodis yang ekonomis bisa lebih kuat daripada teknik flashy. → Search
-
Bagaimana hubungan kreatif antara Harrison dan Eric Clapton — yang akhirnya menikahi Pattie Boyd — mempengaruhi musik kedua musisi tersebut?
Harrison dan Clapton memiliki persahabatan yang luar biasa erat dan saling menghormati secara musikal — Harrison bahkan dilaporkan meminta Clapton untuk bermain lead guitar di "While My Guitar Gently Weeps" karena ia merasa Clapton akan dihormati oleh musisi Beatles lainnya. Ketika Pattie Boyd meninggalkan Harrison dan menikahi Clapton pada 1979, hubungan keduanya tetap berlanjut tanpa permusuhan yang terbuka, sesuatu yang oleh banyak pihak dianggap mencerminkan kepribadian Harrison yang tidak mudah menyimpan dendam. Clapton kemudian menciptakan "Layla" — lagu yang secara eksplisit tentang obsesinya terhadap Pattie Boyd — sehingga secara tidak langsung satu wanita menginspirasi dua karya cinta ikonik dari dua sahabat yang berbagi dunia musik yang sama. -
Mengapa solo gitar pendek dan melodis seperti di "Something" sering lebih berkesan daripada solo teknis yang panjang, dan apa pelajarannya untuk musisi Indonesia hari ini?
Solo yang singkat namun melodis berfungsi seperti kalimat yang tepat sasaran: setiap not membawa beban emosional karena tidak ada not yang terbuang, sehingga pendengar mengingat keseluruhan frasa bukan hanya keahlian teknis pemainnya. Dalam konteks musikal, solo 23 detik Harrison di "Something" terasa cukup karena ia melanjutkan percakapan emosional yang sudah dibangun vokal dan harmoni, bukan memotong aliran lagu untuk unjuk kebolehan. Bagi musisi Indonesia hari ini — terutama di era di mana konten pendek mendominasi — pelajarannya adalah bahwa ekonomi musikal justru memberi dampak yang lebih tahan lama: lebih sedikit yang dikatakan dengan lebih banyak rasa. -
Bagaimana ambiguitas antara cinta romantis dan cinta spiritual dalam lagu-lagu Harrison membedakannya dari Lennon dan McCartney, dan apakah ada paralel dalam tradisi musik religius Indonesia?
Lennon cenderung menulis tentang cinta sebagai konfrontasi atau transformasi personal ("All You Need Is Love" sebagai pernyataan politik, "Jealous Guy" sebagai pengakuan kelemahan diri), sementara McCartney cenderung ke narasi yang konkret dan cerah; Harrison berbeda karena ia membiarkan subjek lagunya tetap tidak terdefinisi, membuka ruang bagi penafsiran transendental. Pendekatan ini punya paralel yang kuat dalam tradisi musik sufistik Indonesia — terutama dalam qasidah dan beberapa tembang Jawa — di mana bahasa cinta kepada manusia digunakan sebagai metafora cinta kepada Yang Maha Kuasa, sehingga sebuah lagu bisa dibaca sekaligus sebagai romansa dan sebagai doa. Ambiguitas yang disengaja ini bukan kelemahan melainkan kekuatan, karena ia menjadikan lagu tersebut relevan di lebih banyak konteks dan lebih tahan terhadap penuaan makna.