Here Comes the Sun
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Hook
Ada lagu-lagu yang tampak sederhana tetapi menyimpan arsitektur yang rumit di baliknya. "Here Comes the Sun" adalah contoh paripurna dari kategori ini. Permainan gitar akustik fingerpicking yang membuka lagu ini terdengar seolah dimainkan oleh seseorang yang sedang duduk santai di teras, namun struktur ritmiknya sebenarnya berpindah-pindah antara tanda birama 4/4, 2/4, 3/8, dan 5/8 — sebuah kompleksitas yang nyaris tidak terdeteksi telinga awam karena dimainkan dengan begitu mengalir.
Inilah keajaiban George Harrison sebagai komposer: ia membungkus matematika musikal yang rumit dalam pakaian yang begitu hangat dan ramah, sehingga pendengar merasa sedang disambut, bukan ditantang. Pada era streaming, lagu ini secara konsisten menjadi salah satu track Beatles yang paling banyak diputar — angka yang melampaui hit-hit Lennon-McCartney yang lebih ikonik secara historis. Ini menunjukkan sesuatu yang penting tentang lagu ini: ia bertahan bukan karena nostalgia, tetapi karena ia menawarkan sensasi emosional yang manusia universal cari berulang kali, terutama di pagi-pagi yang berat atau setelah periode yang menguras jiwa.
Background
Pada awal 1969, The Beatles sebenarnya berada di ambang kehancuran. Album Let It Be (yang saat itu masih berjudul Get Back) baru saja direkam dalam suasana yang penuh ketegangan. Apple Records, perusahaan rekaman yang mereka dirikan sebagai eksperimen utopis pada 1968, telah berubah menjadi mimpi buruk birokrasi. Rapat-rapat bisnis yang tak berkesudahan, pengacara, akuntan, dan perselisihan tentang manajemen membebani keempat anggota band, terutama George Harrison yang merasa paling tidak nyaman dengan dunia korporat.
Pada suatu hari di musim semi tahun itu, Harrison memutuskan untuk membolos. Ia berkunjung ke rumah sahabatnya, Eric Clapton, di Surrey. Setelah musim dingin Inggris 1968-1969 yang dikenal sangat panjang dan kelabu, matahari musim semi akhirnya muncul. Harrison mengambil salah satu gitar akustik Clapton, berjalan ke kebun, dan menulis lagu ini dalam satu duduk. Ia kemudian mengatakan dalam autobiografinya I, Me, Mine bahwa lagu itu lahir dari rasa lega — bukan hanya lega dari musim dingin yang panjang, tetapi juga dari tekanan menjadi seorang Beatle.
Rekaman dilakukan pada Juli dan Agustus 1969 di Abbey Road Studios. Yang menarik, John Lennon tidak terlibat sama sekali dalam track ini — ia masih dalam masa pemulihan setelah kecelakaan mobil di Skotlandia. Harrison memainkan gitar akustik dan vokal utama, Paul McCartney mengisi bass, Ringo Starr mengisi drum, dan George Martin menyusun aransemen string dan brass yang halus. Salah satu detail teknis yang paling sering didiskusikan musisi adalah penggunaan Moog synthesizer oleh Harrison di bagian bridge dan outro — salah satu penggunaan paling awal dari instrumen ini dalam musik pop arus utama.
Album Abbey Road dirilis pada September 1969. Meskipun "Something" — komposisi Harrison lainnya di album yang sama — dipilih sebagai single dan menjadi hit besar, "Here Comes the Sun" tidak pernah dirilis sebagai single pada masanya. Justru karena itu, lagu ini menjalani kehidupan yang panjang dan lambat, tumbuh secara organik dalam kesadaran kolektif selama beberapa dekade, hingga akhirnya, di era digital, menjadi salah satu warisan paling abadi dari band tersebut.
Real meaning
Pada permukaan, "Here Comes the Sun" adalah lagu tentang musim semi yang tiba setelah musim dingin yang panjang. Tetapi Harrison sendiri telah menjelaskan bahwa lagu itu memiliki lapisan makna yang lebih dalam: ini adalah lagu tentang pembebasan psikologis. Matahari yang muncul adalah metafora untuk kelegaan setelah periode kegelapan internal — baik itu depresi, kelelahan, tekanan kerja, atau hubungan yang menyulitkan.
Konteks penulisannya sangat penting. Harrison saat itu sedang berjuang dengan posisinya dalam The Beatles. Selama bertahun-tahun, komposisinya sering diabaikan atau hanya mendapat sedikit slot dalam album, sementara Lennon-McCartney mendominasi. Ia juga baru saja ditangkap karena kepemilikan ganja, dipenjara sebentar oleh polisi London, dan secara umum merasa terkepung. Lagu ini, dengan demikian, adalah tindakan kemenangan personal yang halus — bukti bahwa di tengah segala kekacauan, ia masih bisa menulis sesuatu yang murni dan indah.
Ada juga dimensi spiritual yang tidak boleh diabaikan. Harrison pada periode ini telah mendalami filosofi Hindu, terutama melalui Maharishi Mahesh Yogi dan kemudian Krishna Consciousness. Dalam tradisi-tradisi ini, matahari sering menjadi simbol pencerahan, kesadaran, dan kebangkitan jiwa. Meskipun "Here Comes the Sun" tidak secara eksplisit religius seperti "My Sweet Lord" yang akan ia tulis setahun kemudian, lapisan spiritualitas tersebut hadir secara halus — matahari sebagai simbol kesadaran yang muncul kembali setelah periode kegelapan batin.
Yang membuat lagu ini kuat secara universal adalah bahwa Harrison tidak pernah membuatnya menjadi terlalu spesifik. Tidak ada referensi langsung ke The Beatles, ke Apple Records, atau ke filosofi tertentu. Ini memungkinkan pendengar dari latar belakang manapun untuk mengisi lagu itu dengan musim dingin mereka sendiri — entah itu kehilangan, sakit, patah hati, atau kelelahan kronis — dan merasakan matahari yang sama muncul kembali di akhir.
Cultural context untuk Indonesia
Sensasi "matahari muncul setelah musim dingin" memiliki resonansi unik di Indonesia, sebuah negeri tropis yang tidak mengenal empat musim. Namun "musim dingin" dalam lagu ini bukan tentang cuaca — ia tentang periode berat dalam hidup, dan inilah yang menghubungkan lagu ini dengan tradisi musik Indonesia yang kaya akan ekspresi ketahanan dan harapan.
Slank, band rock legendaris dari Gang Potlot, sering menjadi suara generasi yang melewati periode-periode gelap — krisis ekonomi 1998, reformasi, ketergantungan, hingga pemulihan. Lagu-lagu seperti "Terlalu Manis" atau "Bali Bagus" mengandung DNA yang sama dengan "Here Comes the Sun": kemampuan untuk menemukan kelegaan dan keindahan setelah segalanya terasa berat. Pendengar Slank di Indonesia akan mengenali emosi yang sama yang Harrison tulis di taman Clapton.
Iwan Fals, dengan tradisi lagu-lagu sosialnya, juga sering bekerja di wilayah emosional yang serupa. Karya-karyanya seperti "Bento" atau "Bongkar" memang lebih politis, tetapi balada-balada hangatnya — "Yang Terlupakan", misalnya — menunjukkan kemampuan yang sama untuk mengekspresikan kelegaan, refleksi, dan penerimaan. Iwan Fals dan Harrison sama-sama adalah penulis lagu yang memahami bahwa keindahan terbesar sering muncul dari kontras dengan kesulitan.
Dewa 19 di era 1990-an dan awal 2000-an juga membawa sensibilitas yang sebanding. Album-album seperti Bintang Lima mengandung lagu-lagu seperti "Risalah Hati" yang menggunakan struktur akustik yang halus untuk mengekspresikan emosi yang dalam. Ahmad Dhani sebagai komposer sering disebut sebagai admirer Beatles, dan pengaruh fingerpicking Harrison-esque dapat ditemukan dalam beberapa karya Dewa.
God Bless, sebagai dedengkot rock Indonesia, mungkin terkesan jauh dari estetika lembut "Here Comes the Sun". Tetapi lagu-lagu seperti "Rumah Kita" justru menunjukkan sisi Achmad Albar dan Ian Antono yang sama akustik dan reflektif — sebuah ode pada kehangatan rumah, sebanding dengan ode Harrison pada matahari yang kembali. Generasi pendengar God Bless tahu bahwa rock klasik Indonesia memiliki kedalaman emosional yang tidak kalah dengan rock Inggris.
Java Jazz Festival, sebagai salah satu festival musik terbesar di Asia, telah menjadi panggung di mana lagu-lagu Beatles sering dimainkan ulang oleh musisi jazz Indonesia. Aransemen "Here Comes the Sun" dalam versi bossa nova, jazz akustik, atau bahkan dengan sentuhan gamelan, telah menjadi bagian dari kosakata musisi Jakarta. Festival ini menunjukkan bagaimana lagu yang lahir di Surrey pada 1969 dapat diterjemahkan ulang melalui sensibilitas musikal Indonesia kontemporer tanpa kehilangan esensinya.
Lebih dari itu, ada konteks kultural yang lebih luas. Indonesia adalah negeri yang akrab dengan siklus harapan dan kekecewaan — politik, ekonomi, bencana alam. Konsep "matahari muncul kembali" bukan hanya metafora musik, tetapi pengalaman hidup yang berulang. Mungkin itulah mengapa lagu ini, meskipun sangat Inggris dalam asalnya, terasa begitu akrab di telinga Indonesia.
Why it resonates today
Di era 2020-an, "Here Comes the Sun" mengalami kebangkitan yang tidak terduga. Selama pandemi COVID-19, lagu ini menjadi semacam himne global pemulihan. Streaming-nya melonjak. Berbagai musisi melakukan cover akustik dari rumah. Di Indonesia, video-video TikTok dengan lagu ini sebagai background — terutama yang dibuat selama PSBB dan PPKM — menunjukkan bagaimana generasi yang lahir 40 tahun setelah lagu ini dirilis masih dapat menemukan kelegaan yang sama di dalamnya.
Ada alasan struktural mengapa lagu ini bertahan begitu baik. Pertama, ia menghindari semua jebakan zaman 1960-an. Tidak ada sitar yang heavy-handed, tidak ada referensi politik spesifik, tidak ada psychedelia yang berlebihan. Aransemennya bersih dan tidak menua. Kedua, lagunya pendek — hanya sekitar tiga menit — yang membuatnya cocok untuk era atensi pendek. Ketiga, dan paling penting, emosi inti lagu ini — kelegaan setelah kesulitan — adalah salah satu pengalaman manusia yang paling universal dan paling tidak berubah seiring waktu.
Generasi muda Indonesia yang sedang berjuang dengan tekanan akademis, ketidakpastian ekonomi, krisis iklim, dan kelelahan digital, menemukan dalam lagu ini sebuah jangkar emosional. Bukan kebetulan bahwa playlist-playlist "morning vibes" atau "fresh start" di Spotify Indonesia hampir selalu menyertakan lagu ini. Ia berfungsi sebagai semacam ritual harian — pengingat bahwa apa pun yang berat sedang berlalu, dan bahwa matahari, secara metaforis maupun harfiah, selalu kembali.
Dalam konteks musik kontemporer Indonesia, pengaruh struktur emosional "Here Comes the Sun" dapat ditemukan dalam karya-karya Hindia, Pamungkas, atau Ardhito Pramono — musisi-musisi yang menggunakan fingerpicking akustik dan vokal lembut untuk mengekspresikan emosi yang reflektif dan optimistik. Ini bukan plagiarisme, tetapi pewarisan tradisi: cara menulis lagu yang Harrison perintis sekarang menjadi kosakata umum bagi singer-songwriter di seluruh dunia, termasuk di Jakarta dan Yogyakarta.
Lagu ini juga mengingatkan kita pada nilai dari ekspresi emosional yang halus dan tidak berlebihan. Di era ketika musik pop sering kali mengandalkan drop yang besar, produksi yang padat, dan emosi yang berteriak, "Here Comes the Sun" menawarkan model alternatif: keindahan datang dari pengekangan, dari kepercayaan bahwa pendengar cukup pintar untuk merasakan tanpa dipaksa. Ini adalah pelajaran yang tetap relevan bagi musisi mana pun di mana pun, termasuk di scene musik Indonesia yang terus berkembang.
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Dengarkan
Abbey Road (The Beatles) Album lengkap di mana "Here Comes the Sun" hidup. Side B medley adalah salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah musik pop, dan mendengarkannya dari awal hingga akhir memberi konteks penuh untuk lagu ini. → Search
All Things Must Pass (George Harrison) Album solo pertama Harrison pasca-Beatles, dirilis 1970. Memperdalam pemahaman tentang sensibilitas spiritual dan musikal yang juga menjiwai "Here Comes the Sun". → Search
📚 Baca
I, Me, Mine (George Harrison) Autobiografi Harrison yang juga berisi catatan tentang proses penulisan lagu-lagunya, termasuk "Here Comes the Sun". Wajib untuk memahami pikiran sang komposer. → Search
Here, There and Everywhere (Geoff Emerick) Memoar dari engineer rekaman utama Beatles, memberi pandangan dari studio Abbey Road tentang bagaimana lagu-lagu itu sebenarnya dibuat secara teknis. → Search
🌍 Kunjungi
Abbey Road Studios (London) Studio legendaris di mana lagu ini direkam. Penyeberangan zebra di luar studio adalah salah satu lokasi paling difoto di dunia. Sebuah ziarah bagi penggemar musik manapun yang berkunjung ke London. → Search
Java Jazz Festival (Jakarta) Festival tahunan di JIExpo Kemayoran yang sering menampilkan tribute Beatles dan aransemen ulang lagu-lagu klasik oleh musisi internasional dan lokal. Lokasi sempurna untuk mendengar "Here Comes the Sun" dalam konteks Indonesia. → Search
🎸 Coba sendiri
Gitar Akustik Yamaha F310 atau setara Lagu ini dapat dimainkan dengan satu gitar akustik. Yamaha F310 adalah gitar pemula yang baik untuk mempelajari fingerpicking khas Harrison. → Search
Capo Gitar Harrison memainkan "Here Comes the Sun" dengan capo di fret ke-7. Tanpa capo, lagu ini hampir mustahil dimainkan dengan suara aslinya. Aksesori sederhana ini akan membuka pintu ke seluruh repertoar Beatles akustik. → Search
-
Bagaimana George Harrison berkembang sebagai komposer di luar bayang-bayang Lennon-McCartney, dan apa warisan musikalnya yang paling diabaikan?
Selama bertahun-tahun komposisi Harrison hanya mendapat sedikit slot dalam album Beatles, tetapi Abbey Road menjadi titik balik dengan "Something" dan "Here Comes the Sun" yang membuktikan kelasnya. Setelah band bubar, ia melepaskan koleksi lagu yang menumpuk lewat album triple All Things Must Pass (1970), yang banyak disebut sebagai pernyataan solo paling kuat dari mantan Beatle. Warisannya yang sering diabaikan adalah kepekaan harmonik dan spiritualnya — kemampuan membungkus struktur rumit dan tema batin dalam melodi yang terasa hangat dan ramah. -
Mengapa album Abbey Road dianggap sebagai puncak artistik The Beatles meskipun direkam di tengah perpecahan band?
Abbey Road direkam pada 1969 saat ketegangan internal dan kekacauan bisnis Apple Records sedang memuncak, namun justru menghasilkan karya yang sangat terpadu. Medley di sisi B sering disebut sebagai salah satu pencapaian aransemen terbesar dalam sejarah pop, menggabungkan fragmen-fragmen lagu menjadi satu alur yang mengalir. Banyak pengamat menilai album ini sebagai perpisahan yang anggun — bukti bahwa keempat anggota masih mampu bekerja pada level tertinggi meski hubungan mereka sedang retak. -
Lagu-lagu Indonesia apa saja yang mengandung sensibilitas "matahari kembali" yang sama, dan bagaimana mereka mengekspresikan tema kelegaan dengan cara yang khas Nusantara?
Tradisi musik Indonesia kaya akan ekspresi ketahanan dan harapan: balada hangat Iwan Fals seperti "Yang Terlupakan", lagu-lagu Slank yang menemani generasi melewati masa-masa berat, hingga "Rumah Kita" dari God Bless yang menjadi ode pada kehangatan dan rasa aman. Karya-karya ini mengekspresikan kelegaan dengan cara yang khas Nusantara — sering kali berakar pada gagasan rumah, kebersamaan, dan penerimaan ketimbang individualisme. Di generasi yang lebih baru, musisi seperti Hindia, Pamungkas, dan Ardhito Pramono melanjutkan sensibilitas reflektif-optimistik yang serupa lewat petikan gitar akustik dan vokal lembut.