SONGFABLE · 1995

Smile

MICHAEL JACKSON · 1995

TL;DR: "Smile" bukan ciptaan Michael Jackson, melainkan melodi karya Charlie Chaplin dari tahun 1936 yang ia peluk sebagai lagu favoritnya sepanjang hidup. Di tangan Michael, lagu ini berubah menjadi pengakuan paling jujur dari seorang pria yang pekerjaannya adalah tersenyum saat dunia sedang menuduhnya.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Penyanyi paling terkenal di dunia menutup albumnya dengan lagu orang lain

Bayangkan situasinya. Tahun 1995, Michael Jackson merilis HIStory: Past, Present and Future, Book I — album ganda yang setengahnya berisi greatest hits dan setengahnya lagi berisi materi baru. Materi baru itu penuh amarah. Ada lagu yang berteriak, ada lagu yang menuding media, ada lagu yang menyebut nama seorang jaksa secara terang-terangan. Ini adalah album seorang pria yang baru saja melewati dua tahun paling brutal dalam hidupnya: tuduhan pelecehan tahun 1993, penyelidikan polisi, penyelesaian di luar pengadilan, kecanduan obat pereda nyeri, dan sorotan kamera yang tidak pernah padam.

Lalu, setelah semua kemarahan itu, bagaimana ia menutup album tersebut? Dengan sebuah balada berusia hampir enam dekade yang ditulis oleh seorang komedian bisu asal Inggris.

Itulah kejutan pertama dari "Smile". Lagu penutup HIStory bukan karya Michael Jackson sama sekali. Melodinya ditulis Charlie Chaplin pada tahun 1936 sebagai tema instrumental untuk filmnya, Modern Times. Liriknya baru ditambahkan delapan belas tahun kemudian oleh John Turner dan Geoffrey Parsons, dan Nat King Cole-lah yang pertama menjadikannya hit pada 1954. Michael hanya menjadi salah satu dari ratusan penyanyi yang pernah merekamnya.

Tetapi Michael dikabarkan berkali-kali menyebut "Smile" sebagai lagu favoritnya sepanjang masa — bukan lagu favoritnya di antara karya orang lain, melainkan lagu favoritnya, titik. Dan begitu kita memahami mengapa, seluruh diskografinya terasa sedikit berbeda.

Dari pabrik Chaplin ke Neverland: perjalanan sebuah melodi

Untuk mengerti "Smile", kita harus mundur ke Amerika era Depresi Besar. Modern Times adalah film Chaplin tentang seorang buruh pabrik kecil yang digilas oleh mesin, secara harfiah maupun kiasan. Filmnya lucu, tetapi kelucuannya adalah kelucuan orang yang sedang kelaparan. Di adegan penutup, tokoh Si Gelandangan dan seorang gadis tunawisma duduk di pinggir jalan tanpa uang, tanpa rumah, tanpa rencana. Si Gelandangan menyuruh gadis itu mengangkat wajahnya. Mereka lalu berjalan menuju cakrawala, dan melodi itu mengalun — melodi yang kelak dikenal sebagai "Smile".

Chaplin sendiri bukan orang yang hidupnya penuh senyum. Ia tumbuh dalam kemiskinan parah di London; ibunya dirawat di rumah sakit jiwa; ia sempat tinggal di rumah penampungan anak miskin. Kemudian, setelah menjadi salah satu manusia paling terkenal di planet ini, ia diusir secara efektif dari Amerika pada 1952 di tengah histeria politik era McCarthy dan tidak kembali selama dua dekade. Orang yang menulis melodi tentang tersenyum di tengah kehancuran tahu persis seperti apa rasanya kehancuran itu.

Di sinilah benang merahnya menjadi mengerikan sekaligus indah. Michael Jackson adalah pengagum berat Chaplin sejak kecil. Ada banyak foto Michael berdandan lengkap sebagai Si Gelandangan — topi bowler, kumis kecil, tongkat. Ia dikabarkan menonton film-film Chaplin berulang kali dan merasa mengenali sesuatu dalam diri sang komedian: anak miskin yang menjadi bintang global, lalu dihancurkan oleh pers dan publik yang sama yang dulu mengangkatnya. Michael bahkan menamai putrinya Paris-Michael Katherine, dan salah satu putranya dipanggil Blanket — detail kecil yang menunjukkan betapa pribadinya dunia yang ia bangun di sekeliling anak-anaknya, jauh dari sorotan.

Rekaman versi Michael dibuat untuk HIStory dengan aransemen orkestra yang mewah. Produksi dan aransemennya dikaitkan dengan David Foster, salah satu arsitek balada besar era itu. Tidak ada drum mesin, tidak ada bassline funk, tidak ada napas tajam khas Michael yang biasanya menjadi tanda tangan ritmisnya. Yang ada hanyalah senar, piano, dan suara yang untuk sekali ini dibiarkan telanjang. Lagu ini bahkan sempat disiapkan sebagai single di Inggris pada 1997 sebelum akhirnya dibatalkan; salinan promo yang terlanjur dicetak kini menjadi barang buruan kolektor.

Untuk pendengar Indonesia, ada satu titik temu yang membuat lagu ini terasa lebih dekat. Pada akhir 1996, hanya setahun setelah HIStory dirilis, Michael membawa tur album ini ke Jakarta dan tampil di Stadion Utama Senayan — salah satu konser paling legendaris dalam sejarah musik populer di Indonesia. Puluhan ribu orang berdesakan malam itu, dan bagi satu generasi penggemar musik Tanah Air, itulah momen ketika bintang terbesar dunia benar-benar berdiri di tanah mereka. Album yang mereka teriakkan lagu-lagunya di stadion itu adalah album yang berakhir dengan "Smile".

Dan ada resonansi kedua yang lebih dalam. Dalam budaya Indonesia, senyum bukan sekadar ekspresi wajah; ia nyaris sebuah etika sosial. Ada ajaran yang sangat dikenal bahwa tersenyum kepada sesama adalah bentuk sedekah. Ada pula kebiasaan menjaga muka tetap ramah demi tidak membebani orang lain dengan kesusahan pribadi — sesuatu yang sering disebut sebagai kesopanan, tetapi kadang juga menjadi beban. "Smile" berbicara persis di persimpangan itu: antara senyum sebagai pemberian, dan senyum sebagai topeng.

Membedah maknanya: sebuah perintah yang mustahil

Lirik "Smile" secara teknis adalah serangkaian instruksi. Lagu ini tidak menghibur pendengarnya dengan janji bahwa keadaan akan membaik. Ia tidak berkata bahwa penderitaan itu palsu atau sementara. Ia mengakui bahwa hati sedang hancur, bahwa langit sedang mendung, bahwa ada ketakutan dan kesedihan yang nyata — lalu tetap menyuruh orang itu mengangkat sudut bibirnya.

Kalau dipikir sebentar, ini adalah nasihat yang hampir kejam. Menyuruh orang yang sedang remuk untuk tersenyum terdengar seperti menyuruhnya berpura-pura. Namun logika lagu ini lebih halus dari itu. Inti argumennya adalah bahwa senyum bukan laporan tentang keadaan batin, melainkan tindakan bertahan hidup. Kamu tidak tersenyum karena keadaan sudah membaik; kamu tersenyum supaya kamu punya alasan untuk melewati hari berikutnya, dan supaya orang di sebelahmu punya alasan juga. Di adegan penutup Modern Times, senyum itu bukan kemenangan — mereka tetap tidak punya apa-apa. Senyum itu adalah keputusan untuk terus berjalan.

Di situlah versi Michael menjadi dokumen yang nyaris terlalu pribadi untuk didengar. Ketika seorang pria yang seluruh pekerjaannya adalah menghibur dunia menyanyikan lagu tentang menyembunyikan kepedihan di balik wajah ceria — pada tahun ketika seluruh dunia sedang memperdebatkan karakternya di halaman depan koran — penampilannya berhenti menjadi interpretasi dan mulai menjadi pengakuan. Ia tidak menyanyikannya dengan teknik vokal yang mencolok. Tidak ada melisma panjang, tidak ada jeritan klimaks. Frasa-frasanya ia nyanyikan hampir seperti orang yang berbicara kepada dirinya sendiri di kamar kosong, dengan orkestra yang mengikutinya dari belakang seolah takut mengganggu.

Perhatikan juga penempatannya. Setelah "Scream", setelah "They Don't Care About Us", setelah semua tuduhan balik dan kemarahan yang membakar album itu, "Smile" datang terakhir. Urutan ini seperti argumen tersembunyi: inilah yang tersisa setelah amarah habis. Bukan pembelaan, bukan kemenangan — hanya seorang manusia yang memutuskan untuk tetap berdiri.

Konteks budaya dan warisan lagu ini

"Smile" sudah menjadi standar Amerika jauh sebelum Michael menyentuhnya. Nat King Cole memberinya suara beledu yang kini dianggap versi definitif; Judy Garland menyanyikannya dengan getaran rapuh yang membuat penonton menahan napas; Barbra Streisand, Tony Bennett, hingga Michael Bublé masing-masing pernah menafsirkannya. Melodi Chaplin cukup sederhana untuk dinyanyikan siapa saja, tetapi harmoninya cukup melankolis untuk menolak dinyanyikan dengan riang.

Namun ada satu momen yang mengubah arti lagu ini selamanya bagi penggemar Michael. Pada Juli 2009, di upacara peringatan untuknya di Staples Center, Los Angeles, kakaknya Jermaine Jackson berdiri di depan peti mati dan menyanyikan "Smile". Ia dikabarkan nyaris tidak sanggup menyelesaikannya. Sejak malam itu, lagu yang semula milik seorang komedian bisu dari era film hitam-putih resmi menjadi lagu perpisahan untuk Michael Jackson — dinyanyikan bukan oleh penggemar, tetapi oleh keluarganya sendiri, dengan kalimat yang persis menggambarkan apa yang Michael lakukan sepanjang kariernya.

Ada ironi struktural yang layak dicatat di sini. Lagu tentang menyembunyikan air mata dinyanyikan di sebuah pemakaman publik yang disiarkan ke seluruh dunia — momen paling tidak privat yang bisa dibayangkan untuk sebuah keluarga yang berduka. Chaplin mungkin akan menghargai betapa kelamnya lelucon itu.

Warisan lain yang sering terlewat: "Smile" menjadi bukti bahwa Michael bukan hanya produk era MTV. Ia tumbuh menyerap Motown, standar jazz, musikal Hollywood, dan komedi bisu. Kemampuannya menyanyikan balada kamar tahun 1936 tanpa terdengar seperti bintang pop yang sedang menyamar menunjukkan bahwa fondasi musikalnya jauh lebih tua daripada ketukan yang membuatnya terkenal.

Mengapa lagu ini masih menggetarkan hari ini

Kita sekarang hidup di era di mana setiap orang punya panggung kecil di telepon genggamnya. Kita semua, dalam skala yang jauh lebih kecil daripada Michael Jackson, mengelola versi publik dari diri kita sendiri: foto yang dipilih, kabar baik yang dibagikan, hari buruk yang disembunyikan. Kita semua tahu rasanya mengetik balasan ceria sambil menatap layar dengan mata yang lelah.

Itulah sebabnya "Smile" tidak pernah terasa kuno. Lagu ini merumuskan dilema paling modern dengan kosakata tahun 1930-an: berapa banyak kepedihanmu yang boleh terlihat? Di Indonesia, pertanyaan ini punya bobot tersendiri. Budaya yang menghargai keramahan dan menjaga perasaan orang lain menghasilkan banyak orang yang sangat mahir tersenyum dalam keadaan sulit — dan diam-diam kelelahan karenanya. Lagu ini tidak menghakimi pilihan itu. Ia justru memberinya martabat, sambil tetap mengakui harganya.

Ada juga alasan yang lebih sederhana: melodi Chaplin itu memang indah. Ia bergerak dengan langkah pelan, naik sedikit, lalu turun kembali, seperti napas orang yang sedang menenangkan diri. Dinyanyikan pada pukul dua pagi, ia terdengar seperti pelukan. Dinyanyikan di pemakaman, ia terdengar seperti perpisahan. Dinyanyikan oleh pria yang seluruh dunia sedang menghakiminya, ia terdengar seperti kebenaran yang tidak sempat ia katakan dengan cara lain.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

📚 Menelusuri kisahnya

🌍 Mengunjungi tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
90s