SONGFABLE · 1978

September

EARTH WIND & FIRE · 1978

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

September - Earth Wind & Fire (1978)

TL;DR: "September" terdengar seperti lagu cinta yang penuh kenangan, tapi rahasia terbesarnya justru ada pada satu tanggal yang sama sekali tidak punya arti — "21 September" dipilih hanya karena enak dinyanyikan, bukan karena ada peristiwa nyata. Lagu ini adalah mesin kebahagiaan murni yang dibangun di atas sebuah ketiadaan makna yang disengaja.

Sebuah tanggal yang sebenarnya tidak berarti apa-apa

Mari kita mulai dari hal yang paling sering bikin orang terkejut. Jutaan orang di seluruh dunia menyanyikan "September" sambil yakin lagu ini merayakan sebuah momen spesial pada tanggal 21 September. Setiap tahun, ketika kalender menyentuh tanggal itu, media sosial dipenuhi meme dan ucapan, seolah-olah ada sesuatu yang penting benar-benar terjadi di hari tersebut.

Padahal, menurut cerita dari Allee Willis — salah satu penulis liriknya — angka 21 itu dipilih semata-mata karena terdengar paling pas saat dinyanyikan. Konon ia dan Maurice White sempat mencoba berbagai tanggal lain, tapi tidak ada yang mengalir senyaman "the twenty-first night of September." Tidak ada ulang tahun. Tidak ada peristiwa bersejarah. Tidak ada kisah patah hati di baliknya. Hanya soal bunyi yang enak di telinga.

Inilah keajaiban kecil yang membuat lagu ini begitu istimewa. "September" adalah bukti bahwa kadang-kadang, kegembiraan tidak perlu alasan. Lagu ini tidak mengajak kita mengingat sesuatu yang spesifik — ia mengajak kita merasa, titik. Dan justru karena maknanya sengaja dibiarkan kosong, setiap pendengar bisa mengisinya dengan kenangan mereka sendiri.

Earth, Wind & Fire dan ledakan kegembiraan di akhir 1970-an

Untuk memahami "September," kita perlu mengenal sosok di belakangnya: Maurice White. Ia lahir di Memphis, kota yang dibasahi blues dan soul, lalu pindah ke Chicago dan belajar di Chicago Conservatory of Music. Sebelum membentuk Earth, Wind & Fire, ia bekerja sebagai drummer sesi di Chess Records yang legendaris, mengiringi nama-nama besar seperti Etta James dan Fontella Bass.

Earth, Wind & Fire bukan band biasa. Maurice membangunnya sebagai semacam filosofi hidup yang berbalut musik. Nama bandnya sendiri diambil dari unsur-unsur dalam bagan astrologinya — ia kabarnya tertarik pada spiritualitas, mistisisme Mesir kuno, dan gagasan tentang pencerahan. Sampul album mereka penuh dengan piramida, simbol kosmis, dan warna-warni yang menyala. Mereka ingin musik mereka mengangkat jiwa, bukan sekadar menghibur.

"September" dirilis pada akhir 1978 sebagai lagu baru dalam album kompilasi The Best of Earth, Wind & Fire, Vol. 1. Saat itu band ini sedang berada di puncak. Mereka baru saja menelurkan album-album raksasa seperti That's the Way of the World dan All 'n All. Proses pembuatan "September" mempertemukan tiga otak kreatif: Maurice White, gitaris Al McKay yang menciptakan riff gitar pembuka yang ikonik itu, dan Allee Willis sang penulis lirik baru yang kelak juga ikut menulis lagu tema Friends.

Ada cerita menarik dari ruang studio. Allee Willis konon sempat keberatan dengan kata "ba-dee-ya" yang diulang-ulang di lagu. Ia bertanya kepada Maurice apa sebenarnya artinya, dan ingin menggantinya dengan kata yang bermakna. Jawaban Maurice, kira-kira: jangan pernah biarkan kata merusak alur (groove). Pelajaran itu, kata Willis di kemudian hari, mengubah cara ia memandang penulisan lagu selamanya — bahwa perasaan kadang lebih penting daripada arti harfiah.

Sentuhan untuk pendengar Indonesia: Bagi penggemar musik di tanah air, sound funk-soul ala Earth, Wind & Fire ini bukan barang asing. Pada era yang sama, scene musik Indonesia juga menyerap pengaruh funk dan disko dengan hangat — pikirkan bagaimana grup-grup macam The Mercy's atau gelombang lagu-lagu bertempo dansa mewarnai radio dan pesta-pesta tahun 70-an hingga 80-an. Tiupan section brass yang megah dan groove yang bikin pinggul bergerak adalah bahasa universal yang langsung nyambung dengan telinga Indonesia. Sampai hari ini, "September" hampir pasti muncul di playlist pernikahan, acara kantor, dan reuni di berbagai kota dari Jakarta sampai Surabaya.

Membongkar makna: rayuan untuk mengingat masa bahagia

Kalau kita dengarkan baik-baik, "September" pada dasarnya adalah ajakan untuk mengenang. Suara penyanyi — Maurice White berbagi panggung vokal dengan Philip Bailey dan falsettonya yang melengking indah — seperti sedang menepuk pundak seorang teman lama, bertanya apakah ia masih ingat masa-masa indah yang pernah mereka lalui bersama.

Suasana yang dilukiskan adalah malam-malam yang tak berawan, hati yang ringan, dan tarian yang tak ada habisnya. Ada nuansa cinta di sana, tapi bukan cinta yang rumit atau menyakitkan. Ini cinta dalam bentuknya yang paling cerah: dua orang menari di bawah langit, merasa seolah dunia milik mereka berdua, dan menyimpan momen itu sebagai harta yang akan dikenang selamanya.

Yang menarik, lirik lagu ini tidak benar-benar bercerita tentang sebuah kisah dengan awal, tengah, dan akhir. Ia lebih seperti potret perasaan. Refrain dengan suku-kata yang sengaja tanpa makna itu — bunyi "ba-dee-ya" yang sudah disebut tadi — justru menjadi inti dari pesannya. Ketika kata-kata tidak cukup untuk mengungkapkan kegembiraan, yang tersisa hanyalah suara murni dari kebahagiaan itu sendiri. Lagu ini seakan berkata: ada momen-momen dalam hidup yang terlalu indah untuk dijelaskan, dan satu-satunya respons yang jujur adalah bernyanyi tanpa peduli artinya.

Itulah kenapa "September" terasa begitu membebaskan. Ia tidak menuntut kita memahami apa pun. Ia hanya meminta kita untuk ikut larut, bergoyang, dan membiarkan diri bahagia tanpa rasa bersalah.

Konteks budaya dan warisan abadi

Pada masa rilisnya, "September" langsung menjadi hit besar. Lagu ini menembus tangga lagu pop dan R&B di Amerika Serikat serta menyeberang ke Inggris dan banyak negara lain. Tapi yang membuatnya luar biasa bukan sukses awalnya — melainkan bagaimana ia menolak untuk menua.

Berbeda dengan banyak lagu disko era 70-an yang akhirnya terdengar usang, "September" justru semakin dicintai seiring waktu. Ia menjadi semacam lagu kebangsaan untuk perayaan. Anda akan mendengarnya di pesta pernikahan, acara kelulusan, pertandingan olahraga, hingga iklan televisi. Lagu ini sudah dipakai dalam film dan serial tak terhitung jumlahnya, dari adegan dansa hingga momen penutup yang bahagia.

Fenomena "21 September" di internet juga memperpanjang umurnya secara tak terduga. Setiap tahun, ketika tanggal itu tiba, lagu ini meledak lagi di platform streaming dan media sosial. Sebuah lirik yang dulu dipilih hanya karena enak dinyanyikan kini menjadi semacam hari libur tidak resmi yang dirayakan jutaan orang. Tidak banyak lagu yang punya kekuatan untuk menciptakan tradisi budaya seperti ini.

Maurice White sendiri meninggal dunia pada awal 2016 setelah bertahun-tahun berjuang melawan penyakit Parkinson. Kepergiannya membuat banyak orang kembali memutar katalog Earth, Wind & Fire, dan sekali lagi "September" menjadi titik kumpul kerinduan. Lagu ini, dengan segala kepolosan kegembiraannya, menjadi cara dunia mengenang seorang visioner yang ingin musiknya membawa cahaya.

Warisan band ini juga terasa dalam musik modern. Bunyi brass yang gemilang, harmoni vokal berlapis, dan groove yang rapi telah memengaruhi musisi lintas generasi — dari produser funk-pop kontemporer hingga artis yang menyampling karya mereka. "September" adalah cetak biru tentang bagaimana membuat lagu gembira yang benar-benar bertahan.

Kenapa lagu ini masih nyangkut sampai sekarang

Di tengah dunia yang sering terasa berat — berita yang melelahkan, jadwal yang padat, kecemasan yang menumpuk — "September" menawarkan sesuatu yang langka: kebahagiaan tanpa syarat. Tidak ada ironi, tidak ada lapisan kesedihan tersembunyi, tidak ada pesan moral yang berat. Hanya tiga setengah menit kegembiraan murni yang dirancang dengan sangat cerdas.

Dan justru di sinilah letak kejeniusannya. Untuk membuat lagu yang terdengar begitu mudah dan riang, dibutuhkan musisi-musisi kelas dunia yang menggarap setiap detail dengan presisi. Riff gitar Al McKay yang langsung dikenali, susunan brass yang muncul di saat yang tepat, falsetto Philip Bailey yang melayang di atas semuanya — semua itu bukan kebetulan. Kegembiraan yang terasa spontan itu sebenarnya hasil kerja keras dan cita rasa yang luar biasa.

Buat pendengar muda di Indonesia yang baru menemukan lagu ini lewat playlist, film, atau video viral, "September" punya daya tarik yang tidak lekang waktu. Ia tidak terikat pada satu generasi atau satu budaya. Saat melodi itu mulai berputar, ada sesuatu yang otomatis terjadi: kaki bergerak, kepala mengangguk, dan senyum muncul tanpa diperintah. Itulah definisi lagu yang abadi.

Mungkin pelajaran terbesar dari "September" adalah ini: kita tidak selalu butuh alasan untuk berbahagia. Kadang, sebuah tanggal yang dipilih secara acak, beberapa suku kata tanpa arti, dan groove yang sempurna sudah cukup untuk membuat seluruh dunia menari bersama. Dan itu, di tengah segala kerumitan hidup, adalah hadiah yang luar biasa berharga.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Larut dalam suaranya

Cara terbaik mengenal "September" adalah mendengarnya dalam konteks penuh karya Earth, Wind & Fire. Mulailah dari album kompilasi yang memuat lagu ini, lalu jelajahi katalog mereka yang lebih dalam untuk merasakan perjalanan kreatif Maurice White.

📚 Telusuri kisahnya

Di balik kegembiraan lagu ini ada cerita-cerita menarik tentang Maurice White dan filosofi band yang ia bangun. Bacaan berikut membuka lapisan-lapisan yang tak terdengar dari rekaman.

🌍 Kunjungi tempatnya

Musik Earth, Wind & Fire lahir dari kota-kota tertentu yang membentuk suaranya. Menelusuri jejaknya bisa jadi tema perjalanan yang seru bagi penggemar musik.

🎸 Rasakan sendiri

Tidak ada cara lebih seru memahami "September" selain mencoba memainkannya sendiri. Riff gitar dan section brass-nya adalah tantangan menyenangkan untuk musisi pemula maupun berpengalaman.


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanyakan lebih lanjut:

Tags
70s