SONGFABLE · 2019

Revival

ZACH BRYAN · 2019

TL;DR: "Revival" terdengar seperti lagu pesta minum yang berisik, tapi sebenarnya lagu ini meminjam bahasa kebaktian gereja untuk bilang satu hal: bagi orang yang sedang hancur, kumpul-kumpul bareng teman di malam hari bisa jadi satu-satunya bentuk penyelamatan yang benar-benar terasa nyata.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Sebuah pesta yang diam-diam adalah ibadah

Coba dengarkan "Revival" tanpa tahu apa-apa tentang Zach Bryan. Yang kamu dapat: gitar yang digenjot kasar, suara serak yang hampir pecah, tepuk tangan, dan sekelompok orang yang terdengar seperti sedang berteriak bersama di halaman belakang rumah seseorang. Rasanya seperti rekaman pesta. Rasanya seperti sesuatu yang tidak sengaja tertangkap mikrofon.

Lalu kamu sadar judulnya. Revival. Dalam tradisi Kristen di Amerika bagian selatan dan Midwest, "revival" bukan sekadar kata "kebangkitan". Itu istilah sangat spesifik: kebaktian kebangunan rohani, biasanya digelar berhari-hari di bawah tenda besar di pinggir kota, dengan pengkhotbah yang berkeringat, nyanyian keras, dan orang-orang yang datang dalam keadaan rusak lalu pulang dengan perasaan diperbaiki.

Dan di situlah letak kejutannya. Zach Bryan mengambil kosakata paling sakral dari kampung halamannya — tenda kebaktian, penyelamatan, pengakuan dosa, komunitas yang menangis bersama — lalu menempelkannya ke sebuah malam penuh wiski bersama teman-teman. Bukan untuk mengejek. Justru sebaliknya. Dia serius. Baginya, malam seperti itu memang menyelamatkan.

Itu kalimat yang berani, terutama datang dari seorang anak Oklahoma berusia dua puluhan awal yang saat itu masih aktif berdinas di Angkatan Laut Amerika Serikat dan merekam lagunya sendiri, tanpa label, tanpa produser, tanpa siapa-siapa yang menyuruhnya.

Kabin kayu, iPhone, dan seragam Angkatan Laut

Untuk mengerti "Revival", kamu harus mengerti tahun-tahun sebelum lagu ini ada.

Zach Bryan lahir tahun 1996 — menariknya, di Okinawa, Jepang, karena kedua orang tuanya bertugas di pangkalan militer Amerika di sana. Buat pendengar di Asia, ini detail kecil yang lucu: salah satu suara country paling Amerika dalam satu dekade terakhir sebenarnya memulai hidupnya di sebuah pulau di Asia Timur. Keluarganya kemudian pindah ke Oologah, kota kecil di Oklahoma, tempat dia tumbuh besar.

Di usia 17, dia mendaftar ke Angkatan Laut, mengikuti jejak orang tuanya. Lalu tahun 2016 datang pukulan yang mengubah segalanya: ibunya, DeAnn, meninggal dunia. Zach masih sangat muda dan sedang berdinas. Dari cerita yang beredar, lagu-lagu pertamanya lahir dari lubang itu — ditulis di barak, di kamar sewaan, di mana pun dia sempat memegang gitar.

Dia mulai mengunggah video ke YouTube. Bukan video musik. Benar-benar video mentah: dia duduk di depan kamera ponsel atau kamera murah, menyanyi sendirian, kadang suaranya pecah, kadang ada suara angin. Tidak ada lampu, tidak ada tata rias, tidak ada strategi. Video-video itu pelan-pelan menemukan penontonnya — orang-orang yang capek dengan country radio yang terdengar terlalu licin dan terlalu dipoles.

Tahun 2019, dia merilis album pertamanya, DeAnn, dinamai dari ibunya sebagai bentuk penghormatan. Rekamannya konon dibuat dalam waktu sangat singkat di sebuah kabin, dengan peralatan seadanya dan teman-teman yang ikut menyanyi di latar. "Revival" adalah salah satu lagu di album itu, dan suara ramai yang kamu dengar di dalamnya bukan efek studio — itu memang orang-orang yang ada di ruangan tersebut.

Di sinilah ada jembatan yang kuat buat pendengar Indonesia. Cerita ini terasa sangat familiar: musisi muda yang merekam sendiri di kamar atau di rumah teman, mengunggah ke YouTube dan media sosial, lalu ditemukan bukan oleh label tapi oleh pendengar yang merasa "ini jujur". Pola yang sama sudah berkali-kali terjadi di sini — dari generasi musisi indie yang membangun basis penggemar lewat internet sebelum ada satu pun radio yang memutar lagu mereka. "Revival" adalah bukti bahwa rekaman yang "kotor" bisa lebih kuat daripada rekaman yang sempurna, asal ada sesuatu yang benar di dalamnya.

Apa yang sebenarnya diceritakan lagu ini

Secara permukaan, isinya sederhana: undangan. Ada ajakan untuk datang, membawa botol, mengumpulkan orang-orang, menyalakan sesuatu, dan bertahan sampai pagi. Ada karakter-karakter yang muncul — teman-teman dengan masalah masing-masing, orang-orang yang tidak sedang baik-baik saja, yang datang membawa beban mereka ke halaman yang sama.

Tapi perhatikan cara Zach membingkainya. Dia tidak menggambarkan pesta sebagai pelarian. Dia menggambarkannya sebagai upacara. Ada ritme yang berulang, ada semacam panggilan-dan-jawaban antara penyanyi dan orang-orang di sekelilingnya, ada perasaan bahwa semua yang hadir sedang menjalani sesuatu bersama-sama, bukan sekadar mabuk bersama-sama.

Bahasa yang dia pakai adalah bahasa keselamatan. Tenda. Pengakuan. Penyembuhan. Dibersihkan. Kata-kata yang biasanya dipakai untuk menggambarkan apa yang terjadi di dalam gereja, di sini dipakai untuk menggambarkan apa yang terjadi ketika sekelompok anak muda yang patah hati berkumpul karena tidak punya tempat lain untuk pergi.

Ada dua cara membaca ini, dan keduanya benar sekaligus.

Bacaan pertama: ini lagu yang getir. Anak-anak muda di kota kecil Amerika sering hidup di antara dua institusi — gereja dan bar. Ketika gereja terasa menghakimi atau terasa tidak menjawab kehilangan yang baru saja kamu alami, yang tersisa adalah teman-temanmu dan sesuatu yang bisa diminum. Menyebut itu sebagai "revival" adalah pengakuan pahit bahwa penyembuhan yang dijanjikan dari mimbar tidak datang, jadi kamu membuat versimu sendiri.

Bacaan kedua: ini lagu yang hangat dan bahkan penuh syukur. Zach tampaknya benar-benar percaya bahwa kehadiran orang lain adalah bentuk anugerah. Bahwa ketika kamu kehilangan ibumu di usia dua puluh, dan tidak ada satu pun kalimat penghiburan yang masuk akal, yang menyelamatkanmu bukan khotbah melainkan orang-orang yang tetap duduk di sampingmu sampai matahari terbit. Dalam bacaan ini, menyebutnya "revival" bukan sarkasme sama sekali. Itu definisi ulang yang tulus.

Kekuatan lagu ini justru karena dia tidak memilih salah satu. Dia membiarkan keduanya berdiri berdampingan, seperti memang begitulah rasanya hidup di usia dua puluhan ketika semuanya baru saja runtuh.

Perhatikan juga bahwa lagu ini hampir tidak punya bagian introspektif yang sunyi. Dia terus melaju, terus keras, terus mengajak. Itu pilihan artistik yang cerdas. Duka tidak selalu terdengar seperti balada pelan. Kadang duka terdengar seperti sekelompok orang berteriak sekeras mungkin supaya tidak perlu mendengar isi kepala sendiri.

Dari kabin sepi ke lautan manusia di Red Rocks

Nasib "Revival" setelah 2019 adalah bagian paling menarik dari ceritanya.

Lagu ini tidak pernah dirancang jadi hit radio. Tidak ada struktur pop, tidak ada refrain yang dipoles, tidak ada produksi mahal. Tapi justru lagu inilah yang berubah jadi salah satu momen paling ditunggu di konser Zach Bryan. Ketika dia memainkannya, ribuan orang menyanyikannya balik dengan volume yang sering kali mengalahkan suaranya sendiri.

Dan di situlah lagu ini menutup lingkarannya dengan sempurna. Lagu tentang sekelompok kecil orang yang berkumpul di halaman belakang, direkam di kabin bersama segelintir teman, akhirnya dinyanyikan oleh puluhan ribu orang asing yang tiba-tiba berubah jadi satu jemaat. Rekaman konsernya di Red Rocks Amphitheatre, Colorado — amfiteater batu merah raksasa yang terbentuk secara alami dan dianggap salah satu venue paling sakral di Amerika — dirilis dalam album live tahun 2022 dan menangkap persis fenomena itu. Metafora kebaktian yang tadinya hanya kiasan dalam lirik berubah jadi kenyataan harfiah: orang banyak, di ruang terbuka, menyanyi bersama sampai suara habis.

Zach sendiri akhirnya meninggalkan Angkatan Laut pada 2021 setelah mendapat izin untuk fokus bermusik, dan dalam beberapa tahun berikutnya dia jadi salah satu artis terbesar di Amerika — mengisi stadion, menolak banyak konvensi industri, dan terkenal karena sikap keras kepalanya soal harga tiket dan soal menjaga musiknya tetap mentah. "Revival" adalah salah satu batu fondasi dari reputasi itu.

Yang juga penting: lagu ini ikut mendefinisikan ulang apa yang boleh disebut country. Selama bertahun-tahun, country arus utama identik dengan produksi mengilap dan tema yang aman. Gelombang yang dibawa Zach Bryan bersama sejumlah penulis lagu muda lain mengembalikan country ke akarnya sebagai musik naratif orang biasa — dekat dengan folk, dekat dengan Americana, dan sama sekali tidak takut terdengar berantakan.

Kenapa lagu ini masih nyangkut sampai sekarang

Ada alasan kenapa "Revival" terus menemukan pendengar baru, termasuk di negara yang sangat jauh dari Oklahoma.

Pertama, soal kesepian struktural. Generasi muda di banyak negara — termasuk Indonesia — hidup dengan ratusan kontak di ponsel tapi makin sedikit ruang untuk benar-benar berkumpul tanpa agenda. "Revival" merayakan sesuatu yang tampak sepele: hadir secara fisik, di tempat yang sama, tanpa alasan produktif apa pun. Itu terasa makin mewah setiap tahun.

Kedua, soal duka yang tidak punya tempat. Banyak budaya, termasuk di sini, mengajarkan bahwa kesedihan sebaiknya diselesaikan dengan sabar dan diam. Lagu ini menawarkan alternatif: kesedihan yang berisik, yang dibagi, yang dinyanyikan ramai-ramai. Buat sebagian orang, itu terasa jauh lebih jujur.

Ketiga, soal komunitas dan ritual. Indonesia punya tradisi kuat berkumpul — nongkrong sampai subuh, main gitar di teras, pengajian dan doa bersama saat ada yang kehilangan, tahlilan, kumpul kampung. Semua itu berbagi DNA yang sama dengan apa yang digambarkan "Revival": manusia yang percaya bahwa kehadiran orang lain punya daya sembuh. Bahwa duduk bareng adalah obat. Lagu ini datang dari tradisi religius yang sangat berbeda, tapi menyampaikan keyakinan yang persis sama.

Keempat, soal suara itu sendiri. Di era ketika hampir semua musik bisa dibuat sempurna, telinga kita jadi lapar pada hal-hal yang terdengar tidak dikoreksi. Napas, nada yang meleset sedikit, suara ruangan, orang yang masuk tidak pas. "Revival" penuh dengan itu, dan itulah yang membuatnya terasa seperti sesuatu yang benar-benar terjadi, bukan sesuatu yang dirakit.

Dan mungkin yang paling utama: lagu ini memberi izin. Izin untuk tidak baik-baik saja di depan teman-temanmu. Izin untuk menyebut malam-malam berantakan itu sebagai sesuatu yang berharga, bukan sesuatu yang memalukan. Izin untuk percaya bahwa penyelamatan tidak selalu turun dari langit — kadang dia datang lewat pintu pagar, membawa sesuatu untuk dibagi, dan tinggal sampai pagi.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

📚 Ikuti ceritanya

🌍 Kunjungi tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
10s