SONGFABLE · 2019

Old Town Road

LIL NAS X · 2019

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Old Town Road - Lil Nas X (2019)

TL;DR: Lagu ini bukan sekadar tentang koboi dan kuda. "Old Town Road" adalah kisah seorang anak muda kulit hitam, queer, dan nyaris bangkrut yang membeli sebuah beat seharga 30 dolar di internet, lalu mengubahnya menjadi lagu terlama yang pernah bertengger di puncak tangga lagu Amerika — sebuah pemberontakan diam-diam terhadap orang-orang yang ingin menentukan siapa yang "boleh" jadi bintang.

Sebuah Beat Seharga 30 Dolar yang Mengguncang Industri Musik

Bayangkan ini: seorang pemuda berumur 19 tahun, tidur di sofa rumah saudara perempuannya, baru saja keluar dari kuliah, dan secara teknis menganggur. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di internet, mengelola akun-akun meme dan mempelajari cara kerja viralitas seperti orang lain mempelajari kitab suci. Suatu hari ia menjelajahi YouTube, mencari beat untuk dibeli, dan menemukan satu yang dibuat oleh seorang produser remaja asal Belanda bernama YoungKio. Harganya? Tiga puluh dolar.

Dari transaksi kecil itu lahirlah salah satu lagu paling berpengaruh dalam sejarah musik pop abad ke-21. Yang luar biasa bukan hanya betapa murahnya proses pembuatannya, melainkan betapa lagu ini akhirnya menumbangkan begitu banyak aturan tak tertulis tentang siapa yang boleh sukses, di genre apa, dan dengan cara apa. "Old Town Road" pada akhirnya bertahan 19 minggu di puncak Billboard Hot 100 — rekor terpanjang yang pernah ada hingga saat itu, mengalahkan legenda seperti Mariah Carey dan Mariah-Boyz II Men. Dan semuanya dimulai dari seorang anak muda yang lebih paham algoritma internet daripada paham cara bermain gitar.

Montero, Internet, dan Cara Menjadi Terkenal Tanpa Izin Siapa Pun

Nama asli Lil Nas X adalah Montero Lamar Hill, lahir tahun 1999 di Lithia Springs, Georgia, dekat Atlanta. Masa kecilnya tidak mudah — orang tuanya bercerai, dan ia sempat tinggal berpindah-pindah. Yang membentuknya bukanlah panggung musik tradisional, melainkan internet. Konon, sebelum menjadi musisi, ia adalah "stan Twitter" yang sangat ahli, seseorang yang mengerti betul bagaimana sebuah konten bisa menyebar, bagaimana sebuah lelucon bisa meledak, dan bagaimana perhatian publik bisa dipanen.

Ketika ia merilis "Old Town Road" pada akhir 2018, ia menggunakan semua pengetahuan internet itu sebagai senjata. Ia mendorong lagunya melalui TikTok — platform yang saat itu baru naik daun — dengan menciptakan apa yang kemudian dikenal sebagai "Yeehaw Challenge". Orang-orang akan memfilmkan diri mereka tiba-tiba berubah menjadi koboi saat lagu itu dimulai. Tren itu meledak. Lagu yang tadinya hanya beredar di sudut-sudut internet tiba-tiba ada di mana-mana.

Di sinilah ada benang merah yang mungkin terasa akrab bagi pendengar di Indonesia. Indonesia adalah salah satu pasar TikTok terbesar di dunia, dan cara "Old Town Road" menyebar — dari klip pendek, tantangan, hingga jutaan video remix — sangat mirip dengan bagaimana lagu-lagu lokal Indonesia bisa mendadak viral lewat platform yang sama. Lagu seperti ini membuktikan sesuatu yang sudah lama dirasakan generasi muda Tanah Air: bahwa kamu tidak lagi membutuhkan label besar atau radio untuk didengar. Cukup punya sesuatu yang menarik dan internet yang tepat. "Old Town Road" boleh jadi adalah salah satu contoh paling murni dari era di mana viralitas bisa mengalahkan modal.

Namun perjalanan itu tidak mulus. Pada Maret 2019, Billboard mengeluarkan lagu ini dari tangga lagu country mereka, dengan alasan lagu tersebut "tidak cukup country". Keputusan ini segera memicu perdebatan besar. Banyak yang menduga, dan Lil Nas X sendiri kemudian secara halus menyiratkannya, bahwa keputusan itu sulit dilepaskan dari fakta bahwa ia seorang seniman kulit hitam yang memasuki genre yang secara historis didominasi citra kulit putih. Kontroversi itu, ironisnya, justru membuat lagu tersebut makin terkenal.

Mengurai Makna: Koboi sebagai Topeng untuk Sebuah Kebebasan

Secara permukaan, lirik "Old Town Road" adalah fantasi koboi yang sederhana hampir kekanak-kanakan: ada citra menunggang kuda menuju jalan tua di pinggir kota, ada referensi tentang topi koboi, sepatu bot, traktor, dan keinginan untuk pergi serta tidak bisa diberitahu apa pun oleh siapa pun. Jika dibaca sepintas, ini terdengar seperti lagu main-main, hampir seperti lelucon yang dirancang untuk meme.

Tapi justru di situlah letak kecerdasannya. Citra koboi dalam lagu ini sebenarnya berfungsi sebagai metafora untuk pelarian dan kebebasan diri. Sang narator berbicara tentang meninggalkan masa lalu yang sulit, tentang akhirnya memiliki uang setelah masa-masa kekurangan, dan tentang menolak untuk dikendalikan oleh siapa pun. Ada nada keras kepala yang membanggakan di dalamnya — sebuah deklarasi bahwa ia akan terus berjalan di jalannya sendiri sampai tidak bisa lagi, tak peduli apa kata orang.

Bila kita tahu konteks kehidupan Lil Nas X — anak muda yang tidur di sofa, yang ditolak industri, yang belakangan secara terbuka mengaku sebagai bagian dari komunitas LGBTQ+ pada puncak ketenaran lagu ini — citra "menunggang menjauh menuju jalan tua" itu mendapat lapisan makna yang jauh lebih dalam. Koboi adalah simbol kemerdekaan Amerika yang klasik, sosok penyendiri yang tidak terikat aturan. Dengan mengenakan "topeng" koboi itu, seorang pemuda kulit hitam dan queer mengklaim sebuah ikon yang selama ini tidak pernah dianggap miliknya. Itu adalah pernyataan kepemilikan yang berani, dibungkus dalam kemasan yang begitu menyenangkan sehingga semua orang ikut bernyanyi tanpa sadar mereka sedang menyaksikan sebuah revolusi kecil.

Penting untuk dicatat bahwa lagu ini tidak pernah berkhotbah. Ia tidak menyodorkan pesan secara terang-terangan. Sebaliknya, ia menyembunyikan beratnya di balik ritme yang ringan, sebuah trik yang membuatnya bisa diterima jutaan orang yang mungkin tidak akan pernah mendengarkan sebuah lagu protes yang kentara.

Country-Rap, Billy Ray Cyrus, dan Runtuhnya Tembok Genre

Salah satu hal paling menarik tentang "Old Town Road" adalah bagaimana ia menolak untuk dimasukkan ke dalam satu kotak. Lagu ini menggabungkan banjo dan citra country dengan ketukan trap dan gaya vokal hip-hop. Para kritikus menyebut subgenre ini "country-rap" atau bahkan "country trap". Inilah inti dari pertikaian dengan Billboard tadi: lagu ini terlalu country untuk radio rap, tapi dianggap terlalu rap untuk radio country. Ia jatuh di celah di antara dunia-dunia yang selama ini dijaga ketat.

Lalu datanglah momen yang mengubah segalanya. Billy Ray Cyrus — penyanyi country legendaris yang terkenal lewat "Achy Breaky Heart" di tahun 90-an dan, bagi sebagian orang, lebih dikenal sebagai ayah dari Miley Cyrus — secara terbuka membela Lil Nas X dan setuju untuk merekam versi remix bersamanya. Kolaborasi lintas generasi dan lintas genre ini bukan sekadar trik pemasaran; ia menjadi semacam restu simbolis dari dunia country tradisional. Remix itu meledak lebih besar lagi dan mengunci posisi lagu tersebut di puncak tangga lagu selama berbulan-bulan.

Apa yang terjadi setelahnya mengubah cara industri musik berpikir. "Old Town Road" membuktikan bahwa batas-batas genre yang selama puluhan tahun dianggap sakral sebenarnya hanyalah konstruksi yang bisa diruntuhkan. Setelah lagu ini, gelombang seniman mulai dengan bebas mencampur country dengan pop, hip-hop, dan elektronik tanpa rasa malu. Boleh dibilang, lagu ini ikut membuka jalan bagi ledakan musik country-pop yang kita saksikan beberapa tahun setelahnya, ketika makin banyak musisi non-tradisional masuk ke genre tersebut dan diterima.

Lagu ini juga menyapu hampir semua penghargaan yang bisa diraihnya. Ia memenangkan dua Grammy, terjual puluhan juta kopi, dan menjadi salah satu lagu dengan sertifikasi penjualan tertinggi sepanjang masa di Amerika. Bagi sebuah lagu yang dimulai dari beat seharga 30 dolar dan disebarkan lewat lelucon di TikTok, pencapaian itu nyaris tidak masuk akal.

Mengapa Lagu Ini Masih Bergema Hari Ini

Beberapa tahun setelah perilisannya, "Old Town Road" tetap terasa relevan, dan alasannya lebih dalam dari sekadar nostalgia. Pertama, lagu ini adalah cetak biru sempurna tentang bagaimana seni dibuat dan disebarkan di era digital. Setiap musisi independen yang hari ini mengunggah karyanya ke TikTok atau YouTube dengan harapan menjadi viral, sadar atau tidak, mengikuti jejak yang ditinggalkan Lil Nas X. Ia membuktikan bahwa penjaga gerbang tradisional — label rekaman, stasiun radio, kritikus — bukan lagi satu-satunya jalan menuju kesuksesan.

Kedua, kisah di baliknya adalah kisah keberanian menjadi diri sendiri di tempat yang tidak mengharapkan kehadiranmu. Lil Nas X memasuki ruang yang seolah-olah bukan untuknya, lalu menolak untuk keluar. Tak lama setelah lagu ini berkuasa, ia mengumumkan jati dirinya kepada publik, sebuah langkah berisiko bagi seorang seniman muda di puncak popularitas. Pesan tersirat itu — bahwa kamu boleh ada di mana pun kamu mau, dengan caramu sendiri — terasa universal, melampaui batas negara dan budaya.

Ketiga, dan mungkin yang paling sederhana: lagu ini menyenangkan. Di balik semua lapisan makna dan sejarahnya, "Old Town Road" tetaplah lagu yang membuat orang ingin bergerak, tersenyum, dan ikut bernyanyi. Bagi pendengar musik Barat di Indonesia, lagu ini adalah pintu masuk yang ramah ke percakapan yang jauh lebih besar tentang ras, genre, identitas, dan kekuatan internet untuk meratakan medan permainan. Sebuah lelucon koboi yang ternyata menyimpan seluruh peta perubahan budaya di dalamnya.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Larut dalam suaranya

📚 Ikuti kisahnya

🌍 Kunjungi tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanyakan lebih lanjut:

Tags
10s