Imagine
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Hook
Bayangkan sebuah lagu yang dinyanyikan di pemakaman kenegaraan, di stadion Olimpiade, di vigil setelah serangan teroris, dan juga di demonstrasi anti-perang. Lagu yang sama itu pernah dilarang oleh BBC selama Perang Teluk 1991, dianggap subversif oleh Vatikan, namun juga dipuji sebagai "lagu kebangsaan kemanusiaan" oleh PBB. Tidak banyak komposisi musik populer yang mampu menampung paradoks sebesar ini.
"Imagine" karya John Lennon, dirilis pada September 1971 sebagai single utama dari album bertajuk sama, adalah salah satu lagu paling sering diputar di abad ke-21 namun juga paling sering disalahpahami. Permukaannya — melodi piano yang sederhana, suara Lennon yang nyaris berbisik, lirik yang terdengar seperti doa — telah membuat lagu ini berfungsi sebagai wallpaper sentimental di banyak peristiwa publik. Tetapi di balik kelembutan itu tersembunyi sebuah manifesto yang, jika dibaca dengan jujur, akan membuat sebagian besar pendengarnya tidak nyaman.
Lagu ini meminta kita membayangkan dunia tanpa surga, tanpa neraka, tanpa negara, tanpa agama, tanpa kepemilikan. Ini bukan permintaan kecil. Ini adalah penolakan sistematis terhadap struktur yang menopang sebagian besar peradaban manusia selama ribuan tahun. Dan inilah mengapa "Imagine" masih relevan: lagu ini terus mengganggu, bahkan ketika kita berpura-pura tidak terganggu.
Background
Untuk memahami "Imagine", kita perlu memahami John Lennon pada tahun 1971 — seorang pria yang baru saja keluar dari The Beatles, baru saja menjalani primal scream therapy dengan psikolog Arthur Janov, dan sedang dalam fase intelektual paling radikal dalam hidupnya. Album sebelumnya, "John Lennon/Plastic Ono Band" (1970), adalah karya mentah dan menyakitkan yang menelanjangi trauma masa kecilnya — kehilangan ibu, ditinggalkan ayah, pengasuhan oleh bibinya Mimi. Album itu komersial gagal karena terlalu intim, terlalu sulit didengar.
"Imagine" adalah strategi yang berbeda. Yoko Ono, istri Lennon dan kolaborator artistiknya, kemudian mengakui bahwa pendekatan album ini adalah "sugar-coating the message" — melapisi pesan radikal dengan permen. Lennon sendiri pernah menyebut lagu ini sebagai "anti-religious, anti-nationalistic, anti-conventional, anti-capitalistic, but because it is sugarcoated it is accepted." Pengakuan yang cukup mencengangkan dari seorang seniman tentang karyanya sendiri.
Sumber inspirasi liriknya berasal dari beberapa tempat. Yang paling sering disebut adalah buku Yoko Ono berjudul "Grapefruit" (1964), sebuah kumpulan instruksi konseptual yang dimulai dengan kata "Imagine" — "Imagine the clouds dripping", "Imagine a thousand suns in the sky at the same time". Lennon mengakui pada wawancara BBC 1980, beberapa minggu sebelum kematiannya, bahwa Yoko seharusnya tercantum sebagai co-writer. Pengakuan ini akhirnya direalisasikan secara resmi oleh National Music Publishers Association pada 2017.
Sumber lain adalah doa Kristen "Lord's Prayer" yang dibalik oleh Yoko dalam puisi "Cloud Piece" (1963), serta tradisi puisi utopian dari penyair Inggris seperti Percy Bysshe Shelley. Tetapi di luar semua itu, ada konteks politik yang spesifik: Perang Vietnam masih berkecamuk, gerakan civil rights di Amerika sedang dalam fase paling konfrontatif, dan Lennon sendiri sedang berada di bawah pengawasan FBI karena aktivisme anti-perangnya.
Rekaman dilakukan di Ascot Sound Studios, studio rumah Lennon di Tittenhurst Park, dengan produser Phil Spector. Piano Steinway berwarna putih yang dipakai Lennon — yang kemudian menjadi ikon visual lagu ini — masih dipajang di museum sebagai relik. Sesi rekaman berlangsung cepat; menurut George Harrison yang bermain gitar di album ini, Lennon sudah memiliki visi yang jelas dan tidak banyak ragu.
Real meaning
Inti dari "Imagine" adalah eksperimen pikiran yang dipinjam dari tradisi filsafat. Lennon meminta pendengar untuk melakukan sesuatu yang oleh filsuf John Rawls disebut "veil of ignorance" — membayangkan dunia tanpa kategori yang biasanya kita anggap given. Jika tidak ada surga, apa motivasi moral kita? Jika tidak ada negara, apa identitas politik kita? Jika tidak ada kepemilikan, apa arti kerja?
Ini bukan nihilisme. Ini adalah utopianisme aktif yang berdasar pada premis bahwa manusia mampu hidup dalam tatanan yang lebih sederhana dan lebih jujur — "a brotherhood of man", dalam frasa yang Lennon gunakan. Akar intelektualnya bisa dilacak ke pemikir-pemikir seperti Bertrand Russell (yang pernah ditemui Lennon dan secara terbuka ia kagumi), serta tradisi anarkisme pasifik yang sedang populer di lingkaran counterculture awal 1970-an.
Yang sering luput dari pembacaan sentimental adalah bahwa Lennon tidak berkata "tidak akan pernah ada perang lagi karena cinta menang". Ia berkata: hapus dulu hal-hal yang membuat manusia membunuh satu sama lain. Agama yang menjanjikan surga membuat orang rela mati untuk ideologinya. Negara yang menuntut loyalitas membuat orang membunuh tetangganya yang berbahasa berbeda. Kepemilikan privat membuat orang rela menghancurkan apa pun untuk mempertahankan miliknya. Argumennya bersifat struktural, bukan sentimental.
Inilah yang membuat banyak kritikus konservatif marah. Penulis Inggris Daniel Wolf pernah menyebut "Imagine" sebagai "lagu kekosongan moral" karena, menurutnya, sebuah dunia tanpa agama dan negara akan menjadi dunia tanpa kerangka etis. Sebaliknya, kritikus dari sayap kiri seperti Mark Fisher pernah mengomentari bahwa "Imagine" sebenarnya gagal karena hanya membayangkan ketiadaan, bukan struktur alternatif yang konkret.
Tetapi pembelaan terkuat datang dari Yoko Ono sendiri. Dalam berbagai wawancara, ia menegaskan bahwa kata kunci lagu ini adalah "imagine" — bayangkan. Lagu ini tidak menuntut realisasi langsung dari utopia. Ia hanya menuntut kapasitas imajinasi. Dan dalam dunia di mana imajinasi politik terus menyusut, di mana semakin sulit membayangkan alternatif terhadap kapitalisme global, undangan untuk sekadar membayangkan menjadi tindakan radikal tersendiri.
Ada juga ironi yang sering diangkat: Lennon menyanyikan tentang dunia tanpa kepemilikan dari rumah mansion seharga jutaan pound, di piano Steinway putih, dengan istri yang juga seniman kaya. Kritik ini valid secara biografis tetapi melenceng dari teks. Lagu adalah tentang yang dibayangkan, bukan yang dijalani. Lennon sendiri pernah merespons dengan setengah bercanda: "Saya kapitalis dengan hati nurani."
Cultural context for Indonesian audience
Bagi pendengar Indonesia, "Imagine" sampai melalui beberapa jalur. Radio-radio bahasa Inggris di kota besar memainkannya sejak tahun 1970-an, terutama setelah kematian Lennon pada Desember 1980 yang diliput luas oleh media nasional. Generasi yang tumbuh di era 1970-80an mengenal lagu ini sebagai bagian dari kanon rock klasik bersama "Bohemian Rhapsody" Queen atau "Stairway to Heaven" Led Zeppelin.
Tetapi resonansi "Imagine" di Indonesia memiliki dimensi yang khas. Band rock legendaris seperti God Bless, yang dibentuk pada 1973, mengambil banyak pengaruh dari rock progresif dan pasifis Barat termasuk Lennon. Vokalis Achmad Albar sering menyebut Lennon sebagai inspirasi vokal dan sikap. Lagu-lagu God Bless seperti "Rumah Kita" memiliki kualitas reflektif yang berkerabat dengan ballad Lennon — sederhana secara musikal, dalam secara lirik.
Yang lebih dekat secara semangat politik adalah Iwan Fals, yang sejak akhir 1970-an menggunakan musik akustik untuk menyuarakan kritik sosial. Iwan Fals, dengan lagu-lagu seperti "Bento" dan "Bongkar", menjalankan fungsi yang mirip dengan Lennon di periode pasca-Beatles: seniman populer yang menggunakan platformnya untuk membongkar struktur kekuasaan. Ada banyak generasi pendengar Indonesia yang mengenal Iwan Fals dulu, dan baru kemudian "menemukan" Lennon sebagai pendahulu spiritualnya.
Generasi yang lebih muda mengenal "Imagine" melalui jalur berbeda. Band Slank, yang dibentuk pada 1983, secara terang-terangan menempatkan diri dalam tradisi rock anti-kemapanan yang Lennon wakili. Bimbim, Kaka, dan personil Slank lainnya sering mengutip Beatles dan solo Lennon sebagai pengaruh fundamental. Lagu-lagu Slank seperti "Bali Bagus" dan "Maafkan" menunjukkan sensibilitas pasifis dan pluralis yang berakar pada tradisi yang sama.
Dewa 19, dengan ambisi musikal Ahmad Dhani dan suara Once Mekel di era 2000-an, membawa "Imagine" ke audiens mainstream Indonesia melalui interpretasi orkestral dalam berbagai konser. Album-album Dewa 19 sering kali memiliki sentimen filosofis-spiritual yang berkerabat dengan eksplorasi Lennon, meskipun dengan kerangka religius yang berbeda.
Festival musik juga berperan dalam menyebarkan warisan Lennon di Indonesia. Java Jazz Festival, yang sejak 2005 menjadi event musik terbesar di Asia Tenggara, telah menampilkan banyak musisi yang membawa interpretasi "Imagine" — dari artis jazz internasional hingga kolaborasi lintas-genre. Konteks Indonesia yang multi-religi, multi-etnik, dan beragam membuat pesan "no countries, no religion" terbaca dengan ambivalensi yang produktif: bagi sebagian pendengar ini adalah tantangan terhadap kohesi sosial, bagi sebagian lain ini adalah ekspresi semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam bahasa universal.
Yang menarik adalah bagaimana "Imagine" dibaca di Indonesia yang mayoritas Muslim. Lirik "no religion" tidak pernah memicu kontroversi besar di sini — sebagian karena lagu ini diterima sebagai puisi, bukan teologi; sebagian lagi karena audiens Indonesia memiliki kapasitas untuk memisahkan apresiasi estetik dari kesepakatan ideologis. Ini adalah sesuatu yang sering tidak dimiliki audiens Barat yang lebih polarized.
Why it resonates today
Lima puluh lima tahun setelah dirilis, "Imagine" tetap menjadi salah satu lagu paling sering dimainkan ulang di momen-momen krisis global. Setelah serangan 11 September 2001, radio-radio Amerika memutarnya berulang kali. Setelah serangan Paris November 2015, seorang pianis membawa piano grand ke depan Bataclan dan memainkan "Imagine" sebagai respons spontan. Selama pandemi COVID-19 pada 2020, Gal Gadot mengorganisir versi cover viral yang justru dicemooh karena dianggap tone-deaf — momen yang mengungkap betapa lagu ini bisa menjadi senjata mata-dua.
Mengapa lagu ini terus kembali? Salah satu jawaban: kita hidup di era ketika imajinasi politik mengalami krisis. Kapitalisme global, sebagaimana ditulis Mark Fisher dalam "Capitalist Realism", telah membuat semakin sulit membayangkan alternatif. Polarisasi politik di banyak negara — termasuk Indonesia menjelang Pemilu — telah mengubah perbedaan menjadi permusuhan. Krisis iklim menuntut kerjasama lintas-batas yang belum bisa dibayangkan oleh kerangka geopolitik saat ini.
Dalam konteks ini, undangan Lennon untuk "imagine" bukan lagi terdengar naif. Ia terdengar seperti latihan mental yang darurat. Membayangkan dunia tanpa batas — bukan untuk menghapus identitas, tetapi untuk memperluas empati. Membayangkan dunia tanpa kepemilikan ekstrem — bukan untuk menghapus motivasi, tetapi untuk mengurangi ketidaksetaraan obscene. Membayangkan dunia tanpa surga yang menjanjikan pembalasan — bukan untuk menghapus spiritualitas, tetapi untuk menahan kekerasan religius.
Generasi Z dan milenial Indonesia, yang tumbuh dengan TikTok, K-pop, dan kesadaran iklim, mendekati "Imagine" dengan kacamata baru. Bagi mereka, lagu ini bukan artefak dari era hippie tetapi pertanyaan kontemporer: apakah kita masih punya kapasitas untuk membayangkan masa depan yang berbeda? Atau kita sudah terlalu lelah, terlalu cynical, terlalu terikat pada algoritma media sosial yang menghadiahi outrage daripada visi?
Versi cover "Imagine" terus bermunculan — dari Eva Cassidy yang melodikal, Madonna yang teatrikal, hingga Ariana Grande yang R&B-pop. Setiap generasi menulis ulang lagu ini dengan idiomnya sendiri. Itulah tanda kanon: bukan lagu yang membatu, tetapi lagu yang terus ditafsir ulang.
Dan mungkin itulah warisan terdalam dari John Lennon. Bukan dunia tanpa agama, negara, dan kepemilikan yang berhasil ia wujudkan — itu jelas tidak terjadi, dan mungkin tidak akan pernah terjadi. Tetapi praktik membayangkan itu sendiri, sebagai disiplin spiritual sekuler yang harus dilatih terus-menerus, agar kita tidak menyerah pada dunia sebagaimana adanya. "Imagine" adalah lagu yang mengajarkan kita untuk tidak berhenti bermimpi — bahkan, atau terutama, ketika realitas terasa paling keras.
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Dengarkan
Imagine ([John Lennon]) Album lengkap 1971 yang memuat lagu ini, dengan track-track yang sama radikalnya seperti "Gimme Some Truth" dan "How Do You Sleep?". Mendengarkan album penuh memberi konteks tentang Lennon di puncak kekuatan kritisnya. → Search
Plastic Ono Band ([John Lennon]) Album sebelumnya yang lebih mentah dan psikologis. Mendengarkan ini sebelum "Imagine" mengungkap mengapa Lennon perlu "sugar-coating" pesannya di album berikutnya. → Search
📚 Baca
Lennon Remembers ([Jann S. Wenner]) Wawancara panjang Lennon dengan Rolling Stone tahun 1970 yang mengungkap pemikiran politik, spiritual, dan artistiknya secara terbuka. Ini adalah dokumen primer terbaik untuk memahami Lennon di periode "Imagine". → Search
Grapefruit ([Yoko Ono]) Buku puisi dan instruksi konseptual karya Yoko Ono yang menjadi sumber langsung inspirasi lirik "Imagine". Membaca ini mengubah pemahaman tentang siapa sebenarnya co-writer lagu legendaris ini. → Search
🌍 Kunjungi
Strawberry Fields, Central Park ([New York]) Monumen mosaik bertulisan "Imagine" yang didedikasikan untuk Lennon, terletak di seberang Dakota Building tempat ia ditembak. Tempat pilgrimage para penggemar dari seluruh dunia. → Search
John Lennon Wall ([Praha, Republik Ceko]) Tembok di Praha yang sejak 1980-an menjadi kanvas grafiti pesan damai dan lirik Lennon. Simbol perlawanan non-violent yang masih hidup sampai hari ini. → Search
🎸 Coba sendiri
Keyboard piano digital ([Yamaha/Casio]) "Imagine" dimainkan dengan progresi akor sederhana di C mayor — C, Cmaj7, F, Am, Dm, G. Salah satu lagu paling mudah untuk pemula yang ingin belajar piano dengan repertoir bermakna. → Search
Buku notasi lagu Beatles & Lennon ([Songbook]) Songbook resmi yang memuat partitur "Imagine" dan lagu-lagu lain dari katalog Lennon. Cocok untuk yang ingin memainkan dengan akurasi penuh. → Search
-
Mengapa Yoko Ono baru diakui sebagai co-writer "Imagine" pada 2017, dan apa implikasinya bagi sejarah musik perempuan dalam rock?
Lennon sendiri dalam wawancara BBC 1980 mengakui bahwa kontribusi Yoko — terutama melalui buku "Grapefruit" dan instruksi-instruksi konseptualnya — seharusnya membuatnya tercantum sebagai co-writer, namun pengakuan formal baru direalisasikan oleh National Music Publishers Association pada 2017, jauh setelah kematian Lennon. Keterlambatan ini sering dibaca sebagai cermin dari bagaimana kontribusi perempuan dalam rock kerap diremehkan atau diserap ke dalam nama pasangan laki-lakinya. Bagi sejarah musik perempuan, koreksi ini menjadi simbol penting tentang mengembalikan kredit yang selama puluhan tahun terhapus. -
Bagaimana lagu "Imagine" dibandingkan dengan tradisi protes-musik Indonesia seperti karya Iwan Fals dan Slank — di mana titik temu dan perbedaannya?
Titik temunya jelas: seperti Lennon, Iwan Fals dan Slank menggunakan musik populer sebagai platform untuk membongkar struktur kekuasaan, dengan idiom yang sederhana secara musikal namun tajam secara lirik. Perbedaannya terletak pada sasaran — kritik Iwan Fals dalam lagu seperti "Bongkar" dan "Bento" cenderung konkret dan lokal, menyasar ketidakadilan sosial-politik tertentu, sementara "Imagine" bekerja pada level abstrak-universal dengan menolak agama, negara, dan kepemilikan sekaligus. Keduanya berbagi semangat pasifis dan anti-kemapanan yang sama, tetapi Lennon membayangkan ketiadaan struktur, sedangkan musisi Indonesia lebih menuntut perbaikan struktur yang ada. -
Jika John Lennon hidup di era media sosial hari ini, apakah "Imagine" masih bisa menjadi lagu yang mempersatukan, atau justru akan menjadi target outrage culture?
Kemungkinan besar keduanya sekaligus — lagu ini sudah menunjukkan sifat senjata mata-dua, seperti terlihat dari cover viral Gal Gadot saat pandemi 2020 yang justru dicemooh karena dianggap tone-deaf. Di era algoritma yang menghadiahi outrage daripada nuansa, pesan radikal "no religion, no countries" hampir pasti akan dipotong dari konteksnya dan dijadikan bahan perang budaya. Namun justru karena imajinasi politik dianggap sedang menyusut, undangan Lennon untuk sekadar "membayangkan" bisa tetap beresonansi sebagai latihan empati — meskipun ruang untuk pembacaan yang tenang semakin sempit.