SONGFABLE · 2011

Holocene

BON IVER · 2011

TL;DR: "Holocene" bukan lagu cinta dan bukan pula lagu patah hati. Lagu ini adalah momen langka ketika seseorang menyadari betapa kecil dirinya di hadapan waktu dan alam, lalu justru merasa lega dan damai karena kesadaran itu.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Lagu tentang menjadi kecil, dan merasa baik-baik saja

Kebanyakan lagu populer ingin membuat kita merasa besar. Lagu-lagu itu berbicara tentang cinta yang tak tergantikan, kemenangan, atau rasa sakit yang terasa seperti akhir dunia. "Holocene" berjalan ke arah yang berlawanan. Lagu ini mengajak pendengarnya untuk mengakui sesuatu yang biasanya kita hindari: bahwa kita sebenarnya tidak terlalu penting. Namun anehnya, pengakuan itu tidak terdengar muram. Ia terdengar seperti helaan napas panjang setelah seharian menahan beban.

Judulnya sendiri sudah menjadi petunjuk. Holosen adalah nama zaman geologi yang sedang kita jalani sekarang, sebuah periode yang dimulai kira-kira sebelas ribu tahun lalu, setelah zaman es terakhir berakhir. Seluruh sejarah peradaban manusia, dari pertanian pertama hingga ponsel di saku kita, terjadi di dalam satu babak geologi ini. Ketika Justin Vernon memilih kata itu sebagai judul, ia seolah menarik kamera sejauh mungkin ke belakang, sampai kehidupan satu orang terlihat seperti setitik debu di atas lanskap yang luas.

Yang membuat lagu ini istimewa adalah caranya menyeimbangkan dua skala itu. Di satu sisi ada kenangan yang sangat pribadi dan spesifik, momen-momen kecil dari masa lalu seseorang. Di sisi lain ada bentang waktu yang nyaris tak terbayangkan. "Holocene" hidup di antara keduanya, dan di situlah letak keajaibannya.

Dari kabin di Wisconsin ke panggung Grammy

Untuk memahami "Holocene", kita perlu mundur sedikit ke kisah asal-usul Bon Iver yang sudah menjadi semacam legenda di dunia musik indie. Pada pertengahan 2000-an, Justin Vernon, musisi asal Eau Claire, Wisconsin, konon sedang berada di titik terendah hidupnya. Band lamanya bubar, hubungan asmaranya kandas, dan ia sempat jatuh sakit. Ia lalu mengasingkan diri di sebuah kabin berburu milik keluarganya di pedalaman Wisconsin selama musim dingin. Dari masa sunyi itu lahirlah album debut For Emma, Forever Ago (2007), yang direkam dengan peralatan seadanya dan penuh falsetto yang rapuh.

Album itu menyebar dari mulut ke mulut dan mengubah Vernon dari musisi lokal yang tidak dikenal menjadi salah satu suara paling berpengaruh di musik indie. Ia bahkan kemudian berkolaborasi dengan Kanye West di album My Beautiful Dark Twisted Fantasy, sebuah pertemuan dunia yang dulu terdengar mustahil.

Namun kesuksesan membawa pertanyaan baru. Bagaimana cara membuat album kedua ketika album pertama sudah dikenal karena mitos kesendiriannya? Jawaban Vernon adalah Bon Iver, Bon Iver (2011). Kali ini ia tidak lagi bersembunyi di kabin. Ia membangun studio sendiri bernama April Base di Fall Creek, Wisconsin, konon di sebuah bekas klinik hewan yang diubah fungsinya. Ia mengundang banyak musisi, menambahkan tiupan brass, saksofon, gitar pedal steel, dan lapisan suara yang jauh lebih kaya.

Konsep album ini unik: hampir setiap lagu dinamai dengan nama tempat, baik yang nyata maupun yang setengah khayalan. Ada "Perth", "Minnesota, WI", "Calgary", dan "Michicant". "Holocene" berdiri sedikit berbeda karena namanya bukan tempat di peta, melainkan tempat di dalam waktu. Vernon pernah menjelaskan, kurang lebih, bahwa lagu-lagu di album ini adalah tentang tempat-tempat yang membentuk seseorang, dan "Holocene" terasa seperti tempat terbesar dari semuanya.

Bagi pendengar di Indonesia, ada sesuatu yang terasa akrab dari cara Bon Iver bekerja. Skena folk dan indie tanah air, dari nama-nama seperti Banda Neira hingga Payung Teduh, juga dikenal lewat lagu-lagu yang lahir dari suasana hening dan renungan tentang alam serta waktu. Banyak penikmat musik indie di Indonesia disebut-sebut menemukan Bon Iver lewat jalur yang sama: playlist larut malam, perjalanan kereta yang panjang, atau hujan sore yang tidak kunjung berhenti. Rasa melankolis yang lembut, yang tidak meledak-ledak tapi mengendap, adalah bahasa yang dipahami baik di Wisconsin maupun di Yogyakarta.

Membaca makna di balik kabut

Lirik Bon Iver terkenal sulit dipahami. Vernon sering menulis dengan cara yang lebih mengutamakan bunyi kata daripada makna harfiahnya, sehingga banyak baris terdengar seperti potongan mimpi. Namun "Holocene" termasuk salah satu lagunya yang paling jelas arah emosinya.

Lagu ini dibuka dengan serangkaian kilasan kenangan. Sang narator mengingat beberapa momen dari masa lalunya: suasana Halloween di masa muda, sebuah persimpangan jalan di Milwaukee, dan malam Natal ketika ia berada bersama saudara-saudaranya. Momen-momen ini tidak dramatis. Tidak ada tragedi besar atau pengakuan cinta. Yang ada hanyalah potongan kehidupan biasa, jenis kenangan yang tiba-tiba muncul tanpa diundang ketika kita sedang melamun di jalan pulang.

Dari kenangan-kenangan kecil itu, lagu perlahan berpindah ke sebuah kesadaran. Narator menyadari bahwa di masa lalu ia mungkin pernah merasa dirinya pusat dari segalanya, merasa bahwa hidupnya adalah sesuatu yang luar biasa. Lalu ia melihat ke luar, ke hamparan alam yang luas, dan memahami bahwa dirinya tidak sehebat yang ia kira. Baris kunci lagu ini, yang sering dikutip penggemar sebagai inti dari seluruh album, pada dasarnya adalah pengakuan jujur bahwa ia bukanlah sosok yang megah.

Kalimat semacam itu bisa saja terdengar seperti keputusasaan. Tetapi dalam konteks lagu ini, ia terdengar seperti pembebasan. Vernon sendiri, menurut beberapa wawancara, menggambarkan lagu ini sebagai tentang menyadari bahwa kamu tidak terlalu berarti, sambil tetap merasa bahwa kamu memiliki nilai. Dua hal itu tidak bertentangan. Justru ketika seseorang berhenti menuntut dirinya menjadi luar biasa, ia bisa mulai menghargai kehidupan apa adanya.

Ada juga lapisan tentang ingatan dan identitas. Kenangan-kenangan yang muncul di lagu ini adalah tempat-tempat yang membentuk sang narator. Namun ketika dibandingkan dengan zaman Holosen yang membentang ribuan tahun, tempat-tempat itu terasa rapuh dan sementara. Seolah Vernon ingin berkata bahwa semua yang kita anggap penting, rumah masa kecil, perayaan keluarga, jalanan kota yang kita kenal, hanyalah titik-titik kecil dalam arus besar waktu. Dan itu tidak apa-apa.

Secara musikal, lagu ini mencerminkan perjalanan batin tersebut. "Holocene" dibuka dengan petikan gitar yang berulang, lembut dan hampir hipnotis. Suara falsetto Vernon melayang di atasnya, berlapis-lapis seperti kabut pagi di atas danau. Perlahan, drum masuk dengan pola yang tidak tergesa, dan menjelang akhir lagu, semuanya mengembang menjadi puncak yang terasa seperti membuka jendela ke pemandangan yang sangat luas. Lalu, tanpa drama berlebihan, lagu itu kembali tenang dan menghilang. Tidak ada klimaks yang meledak. Hanya ada gelombang yang naik, lalu surut, seperti napas.

Warisan: dari video Islandia hingga Grammy

Salah satu alasan "Holocene" melekat di ingatan banyak orang adalah video musiknya. Disutradarai oleh Nabil Elderkin, video itu direkam di Islandia dan mengikuti seorang anak laki-laki kecil yang berkelana sendirian melintasi lanskap yang luar biasa: dataran vulkanik, pantai berpasir hitam, gletser, dan air terjun. Anak itu tampak sangat kecil di tengah bentangan alam yang begitu besar. Visual ini menerjemahkan tema lagu dengan sempurna, tanpa perlu satu kata pun. Banyak penonton mengaku video itu membuat mereka ingin segera memesan tiket ke Islandia, dan tidak sedikit yang benar-benar melakukannya.

Video tersebut kemudian mendapat nominasi Grammy untuk kategori video musik terbaik, menurut catatan yang beredar. Namun momen terbesar datang di Grammy Awards 2012. Bon Iver, Bon Iver memenangkan Best Alternative Music Album, dan Bon Iver sendiri memenangkan Best New Artist, sebuah ironi kecil mengingat Vernon sudah bermusik selama bertahun-tahun. "Holocene" juga dinominasikan untuk Record of the Year dan Song of the Year, dua kategori paling bergengsi, bersaing dengan nama-nama raksasa pop saat itu.

Kemenangan Best New Artist terkenal karena reaksi Vernon yang canggung dan rendah hati di atas panggung. Konon ia sempat ragu menghadiri acara itu karena merasa tidak nyaman dengan industri musik arus utama. Pidatonya singkat, dan ia menyebut rasa sungkannya berada di sana. Momen itu, dalam cara yang aneh, terasa selaras dengan "Holocene": seorang pria dari Wisconsin yang berdiri di panggung terbesar dunia musik, sambil tetap merasa bahwa dirinya bukan sosok yang megah.

Pengaruh lagu ini juga terasa dalam musik generasi berikutnya. Banyak musisi indie dan bahkan musisi pop kemudian mengadopsi estetika Bon Iver: falsetto berlapis, produksi yang atmosferik, dan lirik yang lebih mengutamakan suasana ketimbang cerita linear. Beberapa pengamat bahkan menyebut bahwa suara "indie sedih yang indah" yang mendominasi playlist streaming di dekade 2010-an banyak berutang pada album ini. Kolaborasi Vernon dengan Taylor Swift di "exile" pada 2020 memperkenalkan suaranya kepada jutaan pendengar baru, dan tidak sedikit dari mereka kemudian menelusuri balik hingga menemukan "Holocene".

Mengapa lagu ini masih terasa hari ini

Kita hidup di zaman ketika semua orang didorong untuk merasa istimewa. Media sosial mengajak kita menampilkan versi terbaik diri sendiri setiap hari, mengumpulkan pengikut, dan membuktikan bahwa hidup kita berarti. Tekanan untuk menjadi luar biasa terasa di mana-mana, dari ruang kelas hingga kantor, dari grup keluarga hingga linimasa.

Di tengah semua itu, "Holocene" menawarkan sesuatu yang jarang: izin untuk menjadi biasa. Lagu ini mengingatkan bahwa kita adalah bagian kecil dari cerita yang jauh lebih besar, dan bahwa ada kedamaian dalam menerima kenyataan itu. Kita tidak harus menjadi pusat semesta untuk merasa bahwa hidup kita layak dijalani.

Ada juga daya tarik yang sangat sederhana: lagu ini terdengar seperti tempat untuk beristirahat. Banyak orang mengaku memutar "Holocene" di saat-saat tertentu, ketika menatap jendela pesawat di atas awan, ketika berkendara malam di jalan tol yang sepi, atau ketika berdiri di puncak gunung setelah pendakian panjang. Bagi pendaki di Indonesia yang pernah menyaksikan matahari terbit dari Bromo, Rinjani, atau Semeru, perasaan yang ditawarkan lagu ini mungkin terasa sangat akrab: rasa kecil di hadapan alam yang begitu besar, bercampur dengan rasa syukur yang sulit dijelaskan.

Lagu ini juga menua dengan baik karena tidak terikat pada tren. Produksinya tidak mengandalkan efek yang cepat usang. Temanya universal dan abadi. Selama manusia masih bisa menatap langit malam dan merasa kecil, "Holocene" akan selalu punya pendengar.

Dan mungkin itulah pelajaran terbesar dari lagu ini. Merasa kecil tidak sama dengan merasa tidak berharga. Seperti satu lapisan tanah tipis dalam catatan geologi, kehidupan kita memang singkat dan sederhana. Tetapi lapisan itu tetap nyata, tetap ada, dan tetap menjadi bagian dari sejarah bumi. Justin Vernon menangkap perasaan itu dalam lima menit musik yang lembut, dan lebih dari satu dekade kemudian, kita masih terus kembali untuk mendengarkannya.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

📚 Ikuti kisahnya

🌍 Kunjungi tempat-tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
10s