SONGFABLE · 2012

Ho Hey

THE LUMINEERS · 2012

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Ho Hey - The Lumineers (2012)

TL;DR: "Ho Hey" terdengar seperti lagu cinta yang manis dan riang, tapi sebenarnya lahir dari tahun-tahun penolakan, kehilangan, dan kemiskinan dua musisi yang nyaris menyerah—teriakan "ho!" dan "hey!" itu lebih mirip seruan supaya tetap bertahan daripada rayuan asmara.

Yang Tidak Banyak Orang Tahu

Coba bayangkan dua pria duduk di apartemen sempit di Brooklyn, New York, sekitar akhir 2000-an. Mereka tidak punya uang, tidak punya kontrak rekaman, dan tidak punya tanda-tanda bahwa hidup mereka akan membaik. Suara musik mereka dipantulkan dinding apartemen tetangga yang tipis, jadi mereka harus menyanyi pelan dan menghentakkan kaki untuk membuat ritme. Dari kondisi itulah, beberapa tahun kemudian, lahir salah satu lagu yang paling banyak diputar di seluruh dunia pada awal 2010-an: "Ho Hey".

Banyak orang mendengar lagu ini sebagai anthem cinta yang ceria—cocok untuk pernikahan, iklan, dan playlist musim panas. Tetapi kalau Anda mendengarkan lebih dekat, ada nada keras kepala yang nyaris putus asa di dalamnya. Teriakan "ho!" dan "hey!" yang menjadi ciri khas lagu ini bukan basa-basi ceria. Itu seperti seruan kerja keras orang-orang yang menarik beban berat bersama-sama, sebuah cara untuk saling menyemangati agar tidak runtuh. Itulah ironi yang membuat "Ho Hey" begitu kuat: ia membungkus pengalaman gagal dan terpinggirkan dalam balutan melodi yang terdengar gembira.

Dua Orang yang Hampir Menyerah

The Lumineers berpusat pada dua sosok: Wesley Schultz (vokal dan gitar) dan Jeremiah Fraites (drum dan perkusi). Persahabatan mereka berakar pada tragedi. Konon, Jeremiah punya kakak bernama Josh yang merupakan sahabat dekat Wesley. Josh meninggal dunia karena overdosis pada usia sangat muda, dan kehilangan itu mempertemukan Wesley dan Jeremiah dalam duka yang sama. Musik menjadi cara mereka bertahan—mereka mulai menulis lagu bersama sebagai pelarian sekaligus penyembuhan.

Selama bertahun-tahun mereka mencoba peruntungan di kancah musik New York City, tempat yang penuh dengan ribuan band lain yang juga bermimpi. Hasilnya nyaris nol. Sewa apartemen di New York mencekik, dan dikabarkan mereka berkali-kali tampil di panggung kecil dengan penonton yang bisa dihitung jari. Pada satu titik, mereka mengambil keputusan yang terdengar seperti menyerah tapi sebenarnya menyelamatkan karier mereka: pindah ke Denver, Colorado, demi biaya hidup yang lebih murah dan suasana yang lebih tenang.

Di Denver, mereka memasang iklan mencari pemain cello dan bertemu Neyla Pekarek, yang kemudian melengkapi suara akustik khas band ini. Mereka mulai tampil di open mic, bar kecil, dan acara komunitas. Pendekatan mereka sangat sederhana dan organik—instrumen akustik, nyanyian bersama, hentakan kaki, dan tepuk tangan yang mengajak penonton ikut serta. Estetika inilah yang nantinya disebut banyak orang sebagai gelombang "folk revival" awal 2010-an, bersanding dengan band seperti Mumford & Sons dan Of Monsters and Men.

Album debut self-titled mereka rilis pada 2012, dan "Ho Hey" menjadi singel yang meledak. Lagu yang ditulis dalam masa-masa frustrasi itu justru menjadi tiket keluar dari kemiskinan. Ada keindahan tersendiri di situ: lagu tentang bertahan hidup yang akhirnya benar-benar menyelamatkan hidup pembuatnya.

Bagi pendengar musik di Indonesia, ada satu jembatan budaya yang menarik di sini. Estetika "Ho Hey"—akustik mentah, nyanyian bareng, hentakan kaki, dan suasana hangat ala kumpul-kumpul—sangat dekat dengan budaya musik akustik yang tumbuh subur di kafe-kafe Bandung, Jogja, dan Jakarta pada periode yang hampir sama. Era 2010-an di Indonesia adalah masa di mana banyak musisi independen memilih jalur akustik yang jujur dan apa adanya, jauh dari kemewahan produksi studio. Penggemar Payung Teduh atau Banda Neira mungkin langsung merasakan getaran yang akrab: musik yang dibuat dari keterbatasan, justru karena keterbatasan itu, terasa lebih tulus.

Apa yang Sebenarnya Diceritakan

Tanpa mengutip liriknya, inti dari "Ho Hey" sebenarnya cukup mudah ditangkap kalau kita mendengarkan dengan hati. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang merasa tersisih, tidak istimewa, hanya satu di antara jutaan orang biasa di dunia ini. Ada nada rendah diri di awal—pengakuan bahwa si tokoh bukan siapa-siapa, dan bahwa ia merasa tidak dianggap atau ditinggalkan.

Tetapi di tengah perasaan kecil itu, muncul satu pengikat yang menyelamatkan: keinginan untuk menjadi milik seseorang, dan keyakinan bahwa seseorang itu adalah miliknya. Lagu ini menggambarkan seseorang yang sudah lelah dengan kekacauan dan kesepian kota besar, lalu menemukan satu hubungan yang membuatnya merasa punya tempat di dunia. Ada juga lapisan kepahitan—gambaran tentang cinta yang hilang, tentang seseorang yang seharusnya bersamanya tapi malah memilih jalan lain, bahkan dengan orang lain.

Yang membuat lirik ini terasa universal adalah keberaniannya untuk jujur soal keraguan diri. "Ho Hey" tidak berpura-pura bahwa tokohnya kuat dan percaya diri. Justru sebaliknya: ia mengakui rasa takut, rasa tidak cukup, dan kerinduan untuk dimiliki. Teriakan "ho" dan "hey" yang menyela di antara baris-baris itu berfungsi seperti palu yang menancapkan tekad—seolah berkata, "Aku tahu aku rapuh, tapi aku akan tetap memperjuangkan ini." Ada interpretasi yang mengatakan bahwa lagu ini juga berbicara tentang menemukan kembali tujuan hidup setelah masa-masa gelap, dan mengingat versi diri yang lebih murni sebelum dunia membuatnya keras.

Kombinasi antara kerendahan hati dan keteguhan inilah yang membuat lagu sederhana ini menancap begitu dalam. Ia tidak menjanjikan kemenangan besar. Ia hanya menawarkan satu hal: kalau kau punya seseorang untuk dipegang, kau tidak perlu menjadi istimewa untuk bertahan.

Gelombang Folk yang Mengubah Selera Dunia

Awal 2010-an adalah momen unik dalam sejarah musik populer. Setelah satu dekade didominasi pop yang dipoles habis-habisan dan musik dansa elektronik yang menggelegar, tiba-tiba publik global haus akan sesuatu yang terasa lebih manusiawi. Instrumen akustik, harmoni vokal, dan produksi yang sengaja dibiarkan kasar kembali naik daun. The Lumineers, bersama Mumford & Sons dan beberapa band lain, menjadi wajah dari gelombang yang sering disebut "indie folk" atau "stomp and holler" itu.

"Ho Hey" naik tinggi di tangga lagu Billboard Hot 100 di Amerika Serikat dan menembus tangga lagu di banyak negara lain. Lagu ini dengan cepat menjadi favorit untuk soundtrack film, serial televisi, dan—yang paling tak terhindarkan—iklan. Begitu seringnya lagu ini diputar di mana-mana sampai sebagian orang sempat merasa "kelelahan" mendengarnya. Tapi over-exposure semacam itu justru bukti betapa kuat daya tariknya: lagu yang lahir dari apartemen sempit di Brooklyn akhirnya bergema di mal, kafe, dan ruang tamu di seluruh dunia.

Bagi The Lumineers, kesuksesan ini membuka jalan untuk karier panjang. Mereka melanjutkannya dengan album-album berikutnya seperti "Cleopatra" (2016) dan "III" (2019), yang justru semakin berani secara tematik—berani menggali soal kecanduan, trauma keluarga, dan beban masa lalu. Tapi "Ho Hey" tetap menjadi lagu yang paling dikenang, pintu masuk bagi jutaan orang ke dalam dunia mereka.

Dampak budaya dari estetika ini juga terasa luas. Setelah "Ho Hey", banyak musisi dan produser yang menyadari bahwa kesederhanaan bisa menjual. Suara hentakan kaki, tepuk tangan, dan nyanyian "oh-oh" bersama menjadi formula yang ditiru di banyak lagu pop sesudahnya. Bisa dibilang lagu ini ikut membentuk DNA musik pop selama beberapa tahun setelah rilisnya.

Kenapa Masih Mengena Sampai Sekarang

Lebih dari satu dekade setelah rilis, "Ho Hey" tetap terasa hangat dan relevan. Salah satu alasannya adalah karena emosi intinya tidak akan pernah usang. Selama masih ada orang yang merasa kecil, merasa tidak dianggap, dan merindukan satu hubungan yang membuat mereka merasa punya tempat—lagu ini akan terus berbicara.

Ada juga kekuatan dalam kesederhanaannya. "Ho Hey" adalah lagu yang bisa dinyanyikan siapa saja, di mana saja, tanpa perlu alat musik mahal. Cukup gitar, suara, dan beberapa teman. Di era ketika musik semakin diproduksi dengan teknologi canggih, ada kerinduan kolektif akan momen-momen jujur seperti ini—momen di mana sekelompok orang bernyanyi bersama dan merasa terhubung. Inilah yang membuat lagu ini sering muncul di pernikahan, reuni, dan acara kumpul-kumpul: ia adalah lagu komunal, lagu yang mengundang kebersamaan.

Untuk pendengar Indonesia khususnya, daya tariknya terasa akrab. Budaya menyanyi bersama, ngumpul sambil main gitar, dan menemukan penghiburan dalam musik akustik sederhana adalah sesuatu yang sangat dekat dengan keseharian banyak orang di sini—entah di teras rumah, di pinggir pantai, atau di acara kemah. "Ho Hey" terasa seperti lagu yang bisa muncul di salah satu sesi seperti itu, lengkap dengan semua orang ikut meneriakkan "ho!" dan "hey!" di bagian yang tepat.

Yang paling indah dari semuanya adalah kisah di baliknya. Setiap kali lagu ini diputar, ia membawa pesan diam-diam: bahwa hal-hal yang lahir dari masa-masa tersulit kadang justru menjadi yang paling berharga. Dua musisi yang nyaris menyerah, yang menciptakan lagu dari keterbatasan dan duka, akhirnya menyentuh hati jutaan orang. Itu bukan hanya cerita tentang sebuah lagu—itu cerita tentang bertahan, dan tentang bagaimana sesuatu yang sederhana bisa berarti segalanya kalau dibangun dengan kejujuran.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Larut dalam suaranya

Cara terbaik memahami The Lumineers adalah mendengarkan album debut mereka secara utuh, bukan hanya singelnya. Di situ Anda bisa merasakan estetika akustik mentah yang menjadi ciri khas mereka, dari awal sampai akhir.

📚 Telusuri kisahnya

Memahami latar belakang Wesley Schultz dan Jeremiah Fraites membuat lagu ini terasa jauh lebih dalam. Kisah duka dan ketekunan mereka adalah bagian penting dari musiknya.

🌍 Kunjungi tempatnya

Geografi punya peran besar dalam cerita lagu ini—dari Brooklyn tempat ia ditulis, sampai Denver tempat band ini akhirnya tumbuh.

🎸 Rasakan sendiri

"Ho Hey" adalah lagu yang dibuat untuk dimainkan bersama-sama. Cara terbaik mengapresiasinya adalah dengan ikut memainkannya sendiri.


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanyakan lebih lanjut:

Tags
10s