Hallelujah
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Hallelujah - Leonard Cohen (1984)
TL;DR: "Hallelujah" bukan lagu rohani yang khusyuk seperti yang sering dikira orang saat dinyanyikan di gereja atau acara pemakaman. Ini adalah lagu tentang patah hati, hasrat tubuh, dan iman yang retak — sebuah "haleluya yang patah dan dingin", pujian yang tetap diucapkan justru ketika segalanya sudah hancur.
Lagu Natal favorit yang sebenarnya bicara soal seks dan kekecewaan
Coba perhatikan: setiap musim Natal, di mal-mal, di gereja, di acara penghargaan, bahkan di pemakaman, "Hallelujah" terdengar mengalun dengan begitu agung sampai semua orang mengangguk khusyuk. Banyak yang menganggapnya himne pujian kepada Tuhan. Tapi kalau Anda benar-benar mengikuti baris demi barisnya, lagu ini justru bicara soal cinta yang berantakan, gairah fisik yang membakar sekaligus menghancurkan, dan keraguan terhadap iman itu sendiri.
Itulah lelucon getir yang Leonard Cohen tinggalkan untuk dunia. Ia menulis sebuah lagu yang kata kuncinya — "hallelujah", kata pujian paling suci dalam tradisi Yahudi-Kristen — diletakkan persis di tengah cerita tentang seorang lelaki yang dikhianati, yang hasratnya dipatahkan, yang berdiri di hadapan sesuatu yang ia sebut "Tuhan dari lagu" tanpa benar-benar tahu apakah Tuhan itu ada. Kata yang sama bisa berarti syukur, bisa berarti pasrah, bisa berarti teriakan dalam pelukan kekasih. Cohen tahu persis apa yang ia lakukan.
Dan justru karena ambiguitas inilah lagu ini menjadi abadi. Setiap orang bisa menempelkan maknanya sendiri ke dalam kata "hallelujah" itu — dan hampir semua orang melakukannya tanpa sadar bahwa lagu aslinya jauh lebih kotor, lebih manusiawi, dan lebih jujur daripada versi suci yang mereka bayangkan.
Lelaki yang menulis 80 bait dan hampir menyerah
Leonard Cohen adalah penyair dan novelis Kanada dari Montreal sebelum ia menjadi musisi. Lahir tahun 1934 dalam keluarga Yahudi yang taat, ia tumbuh dengan akar yang dalam pada kitab suci, mazmur, dan tradisi spiritual — sesuatu yang nantinya membuat lagu-lagunya terasa seperti doa yang ditulis oleh orang yang ragu. Ia baru benar-benar serius bermusik di usia tiga puluhan, dan sepanjang kariernya ia selalu lebih dekat ke dunia sastra daripada ke dunia pop.
"Hallelujah" lahir dari proses yang nyaris menyiksa. Konon Cohen menghabiskan bertahun-tahun mengerjakan lagu ini, dan kabarnya ia menulis sekitar delapan puluh bait sebelum akhirnya menyaringnya menjadi beberapa yang dipakai. Ada cerita terkenal — yang sering diceritakan Cohen sendiri — bahwa ia pernah duduk di lantai kamar hotel di New York, hanya mengenakan pakaian dalam, menjedukkan kepalanya ke lantai karena frustrasi tidak bisa menyelesaikannya. Ini bukan lagu yang turun begitu saja dari langit; ini hasil kerja keras seorang tukang kata yang keras kepala.
Yang lebih mengejutkan: ketika lagu ini akhirnya dirilis di album Various Positions tahun 1984, label rekamannya di Amerika, Columbia, dilaporkan menolak merilis album itu karena dianggap tidak komersial. Bos label saat itu kabarnya berkata pada Cohen bahwa lagu-lagunya bagus, tapi mereka tidak tahu apakah "itu cukup bagus". Album itu pun pertama kali keluar lewat jalur yang lebih kecil. Bayangkan — salah satu lagu paling banyak ditampilkan ulang dalam sejarah musik populer hampir tidak pernah sampai ke pendengar.
Untuk pendengar di Indonesia, ada satu jembatan budaya yang menarik di sini. Banyak orang Indonesia pertama kali mendengar "Hallelujah" bukan dari Cohen sama sekali, melainkan dari film animasi Shrek (2001), yang memakai versi cover, atau dari penyanyi-penyanyi ajang pencarian bakat seperti Indonesian Idol dan kontes-kontes serupa di seluruh dunia. Versi yang paling sering ditiru itu sebenarnya bukan versi asli Cohen, melainkan tafsir ulang yang dibuat oleh musisi lain — sebuah fakta yang akan kita bahas sebentar lagi, karena justru di situlah letak cerita yang paling seru.
Empat akor rahasia dan haleluya yang patah
Mari kita bongkar maknanya tanpa mengutip satu baris pun. Lagu ini dibuka dengan referensi ke Raja Daud dari Kitab Suci — sang raja-pemusik yang konon memainkan melodi yang menyenangkan hati Tuhan. Cohen seolah berkata pada lawan bicaranya: kamu sebenarnya tidak peduli pada musik, kan? Padahal ada rangkaian akor rahasia yang, kalau dimainkan dengan benar, bisa menyentuh sesuatu yang ilahi. Lalu ia, dengan nada setengah mengejek diri sendiri, menjelaskan susunan akor itu — sebuah trik cerdas, karena saat ia menyebut nada-nada itu, musiknya benar-benar memainkan nada yang sama. Lagu yang menjelaskan dirinya sendiri sambil dimainkan.
Tapi dari situ, Cohen membelokkan cerita ke arah yang sama sekali berbeda. Ia menarik dua kisah dari Perjanjian Lama — Daud yang jatuh cinta pada Batsyeba ketika melihatnya mandi di atap, dan Simson yang kehilangan kekuatan ketika Delila memotong rambutnya. Keduanya adalah cerita tentang lelaki perkasa yang dijatuhkan oleh hasrat pada perempuan. Cinta, dalam tafsir Cohen, bukanlah kemenangan yang gilang-gemilang; ia adalah sesuatu yang mengikatmu ke kursi dapur, mematahkan mahkotamu, dan memaksa keluar dari bibirmu sebuah "hallelujah" — bukan haleluya kemenangan, tapi haleluya kekalahan, pasrah, sekaligus ekstase.
Inilah inti yang sering luput. Cohen secara eksplisit membedakan antara haleluya yang "suci" dan haleluya yang "patah". Ada perbedaan, katanya dalam intinya, antara pujian yang naik dari altar yang bersinar dan rintihan yang keluar dari mulut seseorang yang baru saja kehilangan segalanya. Dan ia memilih yang kedua. Lagu ini menolak kemurnian yang dipoles. Ia merangkul keretakan. Pesan tersiratnya: bahkan ketika iman runtuh, ketika cinta gagal, ketika kamu berdiri di hadapan sesuatu yang lebih besar dengan tangan kosong dan hati hancur — kamu masih bisa, dan mungkin harus, mengucapkan "hallelujah". Bukan karena semua baik-baik saja, tapi justru karena tidak.
Di bait-bait lain yang ditulis Cohen kemudian — ia memang punya banyak versi — ia bicara tentang pernah mengenal seseorang secara intim, tentang nafsu yang dulu menggerakkan tubuh, tentang cinta yang bukanlah parade kemenangan melainkan sesuatu yang dingin dan patah. Lagu ini, pada akhirnya, adalah pengakuan dari orang yang sudah mencoba segala cara, gagal, dan tetap memilih untuk berdiri di hadapan kehidupan dengan sebuah kata pujian di bibir, betapapun gemetarnya.
Bagaimana sebuah lagu yang ditolak menjadi himne dunia
Cerita warisan "Hallelujah" mungkin lebih dramatis daripada lagunya sendiri. Versi Cohen tahun 1984 nyaris tidak diperhatikan. Yang mengubah segalanya adalah serangkaian tafsir ulang. Pada 1991, John Cale dari band Velvet Underground membuat versi piano yang lebih sederhana dan emosional — dan penting untuk diketahui, Cale memilih bait-bait yang berbeda dari versi rekaman asli Cohen, mencampur bagian yang religius dengan bagian yang sensual. Versi Cale inilah yang menjadi cetak biru bagi hampir semua cover yang kita dengar hari ini.
Lalu datang Jeff Buckley pada 1994. Penyanyi muda berbakat ini merekam versi gitar yang begitu rapuh dan intim sehingga banyak orang menganggapnya sebagai versi definitif — bahkan lebih terkenal daripada aslinya. Tragisnya, Buckley meninggal tenggelam pada 1997 di usia tiga puluh tahun, dan kematian dininya memberi versi tersebut aura yang menghantui. Banyak pendengar muda di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, mengenal "Hallelujah" lewat suara Buckley tanpa pernah tahu bahwa lagu itu sebenarnya milik penyair tua dari Montreal.
Sejak itu, lagu ini meledak. Konon ada ratusan versi cover resmi di berbagai bahasa. Ia muncul di Shrek, di acara penghormatan korban tragedi, di final-final kompetisi menyanyi, di gereja-gereja dan sinagoge, bahkan ironisnya di pemakaman dan pernikahan — dua momen yang maknanya bertolak belakang, tapi sama-sama merasa lagu ini cocok. Cohen sendiri pernah berkomentar dengan nada geli bahwa mungkin sudah cukup orang menyanyikan "Hallelujah" untuk sementara waktu, sebuah candaan halus tentang betapa lagu itu telah dikuras maknanya oleh penggunaan yang berlebihan.
Yang menakjubkan dari semua ini adalah bagaimana sebuah lagu bisa hidup terlepas dari penciptanya. Cohen menulisnya sebagai meditasi rumit tentang seks dan iman; dunia menerimanya sebagai apa pun yang mereka butuhkan saat itu — pujian, ratapan, penghiburan, kemenangan. Sangat sedikit lagu yang punya elastisitas makna seperti ini, dan justru keretakan yang Cohen sengaja bangun di dalamnya yang membuatnya bisa menampung begitu banyak emosi manusia.
Mengapa lagu yang berusia 40 tahun ini masih menyentuh
Di zaman ketika musik populer sering dirancang untuk langsung terasa "enak" dan habis dalam beberapa minggu, "Hallelujah" bertahan justru karena ia menolak menjadi mudah. Lagu ini memberi izin untuk merasakan dua hal sekaligus — syukur dan kehilangan, iman dan keraguan, cinta dan kehancuran — tanpa memaksa kita memilih salah satu. Dalam dunia yang gemar memberi label hitam-putih, kejujuran emosional semacam itu terasa langka dan menyembuhkan.
Bagi pendengar Indonesia yang akrab dengan musik Barat, ada sesuatu yang universal dalam lagu ini yang melampaui latar belakang agama tertentu. Anda tidak perlu tahu siapa Raja Daud atau Simson untuk merasakan inti pesannya: bahwa hidup akan mematahkanmu, bahwa cinta sering kali kalah, dan bahwa tetap ada keindahan, bahkan kekudusan, dalam mengakui kekalahan itu dengan lantang. Itu adalah pesan yang cocok untuk siapa saja yang pernah berdoa dengan hati yang ragu, atau pernah mencintai seseorang yang akhirnya pergi.
Leonard Cohen meninggal pada November 2016, di usia 82 tahun, hanya beberapa minggu setelah merilis album terakhirnya yang penuh perenungan tentang kematian. Ia pergi sebagai seorang lelaki yang sudah lama berdamai dengan keretakan-keretakan dalam hidup. Dan lagu paling terkenalnya tetap mengalun — di mal saat Natal, di televisi, di ponsel anak-anak muda yang baru menemukannya. "Hallelujah" adalah bukti bahwa karya seni yang paling jujur tentang kerapuhan manusia justru yang paling kuat bertahan. Cohen menyaring delapan puluh bait menjadi beberapa baris, dan beberapa baris itu kini menjadi milik seluruh dunia.
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Dengarkan lebih dalam suaranya
Mulailah dengan album asli Various Positions karya Leonard Cohen untuk mendengar versi yang sesungguhnya — lebih kering, lebih sinis, dengan paduan suara latar yang khas era 1980-an. Bandingkan dengan tafsir Jeff Buckley yang rapuh untuk merasakan betapa berbedanya jiwa lagu yang sama bisa terdengar.
📚 Ikuti kisahnya
Untuk memahami betapa berlikunya perjalanan lagu ini, ada buku khusus yang melacak sejarah "Hallelujah" dari kamar hotel Cohen hingga panggung dunia. Biografi lengkap Cohen juga akan menunjukkan bagaimana akar Yahudi dan pengembaraan spiritualnya membentuk hampir setiap liriknya.
🌍 Kunjungi tempatnya
Cohen sangat lekat dengan kota kelahirannya, Montreal, yang kini bahkan punya mural raksasa wajahnya. Buku panduan perjalanan ke Montreal dan Kanada bisa menjadi titik awal untuk menelusuri jejak sang penyair, dari kafe-kafe favoritnya hingga sinagoge keluarganya.
🎸 Rasakan sendiri
Inti dari "Hallelujah" justru terletak pada empat akor sederhana yang Cohen sebutkan dalam liriknya — sangat ramah bagi pemula. Dengan gitar akustik dan buku partitur, Anda bisa memainkannya sendiri dan merasakan langsung bagaimana melodi naik-turun itu membangun emosinya.
🤖 Tanyakan lebih lanjut:
- Mengapa versi Jeff Buckley lebih terkenal daripada versi asli Leonard Cohen?
- Bait-bait mana saja yang berbeda antara berbagai versi "Hallelujah" dan apa maknanya?
- Lagu Leonard Cohen lain apa yang sebaiknya saya dengar setelah ini?