SONGFABLE · 1980

Going Underground

THE JAM · 1980 · LONDON, UK

TL;DR: Di balik judul yang terdengar seperti soal kereta bawah tanah, ini sebenarnya adalah kepalan tangan seorang pemuda 21 tahun yang menolak dunia yang gila senjata nuklir dan gila materi — sebuah deklarasi untuk "menyingkir ke bawah tanah" dari nilai-nilai masyarakat yang ia benci.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Sebuah lagu nomor satu yang lahir dari kemarahan

Bayangkan sebuah lagu yang begitu dinanti sampai langsung melompat ke posisi nomor satu tangga lagu Inggris di minggu pertamanya rilis — sesuatu yang sangat jarang terjadi pada masa itu. Itulah "Going Underground". Ketika The Jam merilisnya pada Maret 1980, lagu ini bertengger di puncak UK Singles Chart selama tiga minggu penuh. Tetapi yang membuatnya istimewa bukan sekadar angka penjualan. Yang membuatnya abadi adalah bahwa di balik melodi punk-pop yang begitu catchy, begitu enak didengar, tersembunyi sebuah teriakan protes yang tajam dan penuh kemarahan.

Kebanyakan orang yang pertama kali mendengar judulnya mengira lagu ini bercerita tentang London Underground — sistem kereta bawah tanah yang legendaris di ibu kota Inggris. Padahal, "underground" di sini adalah metafora. Ini tentang keputusan untuk menarik diri, untuk "hidup di bawah tanah", menjauh dari sebuah masyarakat yang menurut si penulis lagu sudah kehilangan arah. Inilah salah satu keajaiban lagu ini: ia menyelundupkan sebuah pesan politik yang keras ke dalam kemasan yang begitu ceria sehingga jutaan orang menyanyikannya dengan riang tanpa menyadari betapa pahitnya isi hatinya.

Paul Weller, si pemuda marah dari Woking

Otak di balik "Going Underground" adalah Paul Weller, gitaris dan vokalis utama The Jam, yang saat itu baru berusia sekitar 21 tahun. Weller berasal dari Woking, sebuah kota kecil di pinggiran London, dan sejak awal ia dikenal sebagai sosok yang penuh energi, opini, dan ketidaksabaran terhadap ketidakadilan. Ia bukan tipe musisi yang menulis lagu cinta yang manis; ia adalah pengamat sosial yang gelisah, yang menuangkan pengamatannya tentang kelas pekerja Inggris, tekanan hidup, dan kemunafikan politik ke dalam lirik-liriknya.

Konon, "Going Underground" tidak lahir dalam sekejap. Weller sendiri pernah bercerita bahwa lagu ini tidak seperti karya yang tiba-tiba jadi utuh begitu ia masuk studio. Sebaliknya, The Jam banyak melakukan jam session — memainkannya berulang-ulang, mengutak-atiknya — sampai bentuknya matang. Proses itu terasa dalam hasil akhirnya: ada urgensi, ada dorongan, ada rasa bahwa lagu ini benar-benar hidup dan bergerak.

Latar waktunya sangat penting untuk dipahami. Tahun 1979-1980 adalah masa ketika Margaret Thatcher baru saja terpilih sebagai Perdana Menteri Inggris. Pemerintahan Konservatif-nya, kebijakan yang lebih memprioritaskan penambahan senjata nuklir, dan atmosfer Perang Dingin yang menegangkan membuat banyak anak muda merasa cemas akan masa depan. Weller termasuk salah satunya. Ia belakangan mengakui bahwa mungkin itu semacam "paranoia anak muda", tetapi pada saat itu ia sungguh merasa dunia sedang berada di ambang kehancuran, dengan negaranya menumpuk rudal nuklir.

Bagi pendengar musik di Indonesia, ada satu jembatan budaya yang menarik di sini. The Jam adalah salah satu pilar dari gerakan mod revival — kebangkitan subkultur "mod" Inggris dengan setelan jas rapi, scooter Vespa dan Lambretta, serta selera musik yang tajam. Subkultur scooter dan estetika mod ini punya penggemar setianya sendiri di berbagai kota di Indonesia, dari komunitas Vespa hingga anak-anak muda yang mencintai musik Inggris era 60-an dan 70-an. Jadi ketika Anda mendengar "Going Underground", Anda sebenarnya sedang menyentuh akar dari sebuah estetika yang, dalam bentuknya sendiri, juga hidup di jalanan Indonesia.

Membedah isi hatinya: menolak dunia yang salah

Inti dari "Going Underground" adalah sebuah pernyataan sikap. Weller pada dasarnya sedang mengontraskan dua hal: dirinya yang merasa cukup dan bahagia dengan hidupnya yang sederhana, melawan sebuah masyarakat yang terobsesi pada hal-hal materialistis dan pada kekuatan militer yang menakutkan.

Ia mengkritik bagaimana masyarakat memaksa orang untuk tunduk pada aturan, untuk mengejar hal-hal yang menurutnya kosong. Ia mengecam gagasan bahwa uang rakyat dihamburkan untuk membangun senjata pemusnah massal, sementara hal-hal yang benar-benar penting bagi kehidupan sehari-hari — seperti layanan kesehatan publik — justru terabaikan. Dalam bahasanya sendiri, ini adalah kritik terhadap kompleks industri-militer, terhadap para pemimpin yang membuat keputusan atas nama rakyat tanpa benar-benar mendengar rakyat.

Namun ada nuansa yang lebih dalam. "Going Underground" bukan hanya lagu protes yang menuding ke luar; ia juga sangat personal. Weller menegaskan bahwa ia lebih memilih kesetiaan pada nilai-nilainya sendiri daripada ikut arus. "Menyingkir ke bawah tanah" adalah caranya mengatakan bahwa ia siap membayar harga untuk tetap otentik — bahkan jika itu berarti menarik diri dari sistem yang ia anggap busuk. Ada rasa frustrasi terhadap apatisme para pemilih yang, menurutnya, membiarkan situasi ini terjadi. Ada juga rasa jijik terhadap tekanan untuk selalu menyesuaikan diri, untuk menjadi bagian dari mesin.

Yang brilian dari cara Weller menulis adalah ia membungkus semua kegetiran ini dalam sebuah lagu yang secara musikal terasa memberontak tetapi juga membangkitkan semangat. Alih-alih terdengar suram, "Going Underground" justru terasa seperti seruan untuk berkumpul — sebuah panggilan bagi semua orang muda yang muak dengan keadaan untuk berdiri bersama.

Konteks budaya dan warisan yang tertinggal

"Going Underground" menandai puncak kekuatan komersial The Jam. Fakta bahwa lagu ini langsung masuk di posisi nomor satu adalah bukti betapa besarnya basis penggemar mereka pada saat itu — sebuah pencapaian yang saat itu hanya dimiliki segelintir artis papan atas. Ini menempatkan The Jam sejajar dengan nama-nama besar Inggris dan mengukuhkan Weller sebagai salah satu penulis lagu paling penting dari generasinya.

Lagu ini juga menjadi semacam potret zaman. Ia menangkap kegelisahan generasi muda Inggris di awal era Thatcher dengan cara yang jarang bisa dilakukan lagu pop. Di era ketika punk mulai kehilangan gigitannya dan banyak band menjadi lebih lembut, The Jam justru menajamkan pesan mereka sambil tetap menulis lagu yang bisa dinyanyikan sejuta orang. Mereka membuktikan bahwa musik yang cerdas secara politis tidak harus terdengar berat atau tidak menyenangkan.

Warisan Paul Weller tidak berhenti di sini. Setelah The Jam bubar pada 1982 — sebuah keputusan yang diambil Weller justru di puncak kesuksesan mereka, sesuatu yang mengejutkan banyak orang — ia terus bereksplorasi, dari The Style Council hingga karier solonya yang panjang. Namun bagi banyak penggemar, "Going Underground" tetap menjadi salah satu momen paling murni dari kejeniusannya: seorang pemuda yang berani mengatakan apa yang ia rasakan tanpa kompromi, di panggung terbesar yang bisa ia dapatkan.

Mengapa lagu ini masih menggema hari ini

Ada alasan mengapa "Going Underground" tidak menua. Kemarahan yang ada di dalamnya — kemarahan terhadap sistem yang mengutamakan senjata di atas manusia, terhadap materialisme yang menelan jiwa, terhadap tekanan untuk menjadi sesuatu yang bukan diri kita — adalah kemarahan yang universal dan abadi. Setiap generasi punya momen ketika mereka merasa dunia sedang berjalan ke arah yang salah dan para pemimpin tidak mendengarkan. Setiap generasi punya kaum muda yang ingin "menyingkir ke bawah tanah" dari kepalsuan.

Bagi pendengar di Indonesia hari ini, tema-temanya terasa sangat relevan. Perdebatan tentang prioritas anggaran negara, tentang tekanan sosial untuk mengejar status dan kepemilikan barang, tentang keinginan anak muda untuk hidup sesuai nilai mereka sendiri di tengah arus yang menuntut konformitas — semua itu adalah percakapan yang masih hidup di ruang-ruang kita. "Going Underground" berbicara kepada siapa pun yang pernah merasa bahwa mempertahankan integritas diri itu lebih berharga daripada mengikuti keramaian.

Dan mungkin itulah rahasia paling besar dari lagu ini: ia terasa seperti pelampiasan, tetapi juga seperti pelukan. Weller memberi tahu kita bahwa oke untuk merasa marah, oke untuk menolak, oke untuk memilih jalan sendiri. Setelah lebih dari empat dekade, panggilan itu masih terasa segar — sebuah pengingat abadi bahwa musik pop yang paling hebat bisa membuat kita menari sekaligus membuat kita berpikir.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Larut dalam suaranya

Untuk benar-benar merasakan energi "Going Underground", tidak ada gantinya selain mendengarnya dalam kualitas terbaik. Kompilasi terbaik The Jam adalah titik masuk yang sempurna untuk memahami mengapa mereka begitu dipuja.

📚 Ikuti kisahnya

Kisah Paul Weller dan The Jam jauh lebih kaya daripada satu lagu. Buku-buku ini membuka lapisan sejarah, subkultur, dan pemikiran di balik musiknya.

🌍 Kunjungi tempatnya

The Jam adalah band yang sangat London, sangat Inggris. Merasakan tempat-tempatnya menambah dimensi baru pada lagu ini.

🎸 Rasakan sendiri

Cara terbaik memahami sebuah lagu adalah memainkannya. Semangat gitar Weller bisa Anda tangkap dengan alat yang tepat.


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih banyak
Tags
80s