SONGFABLE · 1977

In the City

THE JAM · 1977 · WOKING, UK

TL;DR: "In the City" bukan sekadar lagu punk yang berisik dan cepat — ini adalah pekik semangat seorang remaja pinggiran London yang percaya bahwa energi anak muda bisa mengubah kota, sekaligus tamparan halus terhadap kekerasan aparat dan kemapanan yang mati rasa.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Ledakan dua menit yang mengumumkan kelahiran sebuah band

Bayangkan sebuah lagu yang durasinya cuma sekitar dua menit setengah, tapi terasa seperti seseorang membuka pintu dan membiarkan seluruh isi kota membanjiri ruangan. Itulah "In the City". Ketika The Jam merilisnya sebagai singel debut mereka pada 29 April 1977, lewat label Polydor, lagu ini langsung terasa berbeda dari kebanyakan rilisan punk yang membanjiri Inggris saat itu. Ada kemarahan, ya, tapi ada juga sesuatu yang lebih jarang ditemui pada 1977: harapan.

Kejutan sesungguhnya dari lagu ini adalah nadanya yang optimis. Di tengah gelombang punk yang penuh nihilisme dan slogan "no future", tiga anak muda dari kota kecil Woking justru bernyanyi tentang keyakinan bahwa generasi muda punya sesuatu untuk dikatakan — dan bahwa kota besar, dengan segala keras dan bisingnya, adalah tempat di mana suara itu akhirnya bisa didengar. Paul Weller, sang penulis lagu, menyebut gagasan ini sebagai "young idea", sebuah kepercayaan hampir naif bahwa anak muda melihat dunia lebih jernih daripada orang-orang tua yang sudah menyerah pada kompromi.

Woking, mod, dan seorang remaja yang jatuh cinta pada The Who

Untuk memahami "In the City", kita harus mundur ke Woking, sebuah kota kecil di Surrey, sekitar 40 kilometer di barat daya London. Di sanalah The Jam terbentuk pada 1972, dengan formasi klasik trio: Paul Weller (gitar dan vokal), Bruce Foxton (bass), dan Rick Buckler (drum). Weller waktu itu masih remaja, dan seperti banyak anak muda kelas pekerja Inggris, ia tumbuh di lingkungan yang tidak menjanjikan banyak masa depan.

Titik baliknya, menurut berbagai catatan, datang sekitar akhir 1974 ketika Weller mendengar "My Generation" milik The Who. Lagu itu mengguncangnya, dan lewatnya ia jatuh ke dalam subkultur mod tahun 1960-an — sebuah gerakan anak muda Inggris yang obsesif terhadap gaya, musik soul dan R&B Amerika, serta skuter Italia. Weller pun mulai menunggangi Lambretta, menata rambutnya meniru Steve Marriott dari Small Faces, dan menenggelamkan diri dalam piringan hitam soul lama. Atas dorongannya, The Jam mengenakan setelan mohair yang rapi di atas panggung, dan Weller bersama Foxton beralih ke gitar Rickenbacker — instrumen ikonik yang bunyinya berdenting tajam dan menjadi ciri khas sound mereka.

Inilah yang membuat The Jam menarik dan agak paradoksal. Mereka muncul di gelombang punk 1977, berbagi panggung dan energi dengan band-band seperti Sex Pistols dan The Clash, tapi estetika mereka berakar pada nostalgia mod 1960-an. Mereka berpakaian rapi ketika yang lain sengaja berpakaian robek. Mereka memuja Motown dan The Who ketika yang lain menolak seluruh sejarah rock. The Jam pun akhirnya dikenal sebagai band paling berpengaruh dalam gerakan yang disebut mod revival di penghujung 1970-an hingga awal 1980-an.

Bagi pendengar Indonesia, ada satu jembatan budaya yang mungkin terasa akrab di sini. Subkultur mod — dengan skuter, jaket parka hijau, dan obsesi pada gaya berpakaian yang rapi — bukanlah sesuatu yang asing di tanah air. Di Bandung, Jakarta, dan sejumlah kota besar Indonesia, komunitas mod dan scooterist tumbuh subur sejak dekade-dekade lalu, kerap berpadu dengan skena musik indie dan ska lokal. Kalau kamu pernah melihat rombongan pengendara Vespa dengan jaket parka berkumpul di akhir pekan, mendengarkan lagu-lagu berdenting cepat, kamu sebenarnya sedang menyaksikan cabang jauh dari pohon yang sama yang ditanam Paul Weller lewat "In the City". The Jam adalah salah satu leluhur musikal dari semangat itu.

Membaca isi lagu: kota sebagai medan pertempuran anak muda

Lirik "In the City" — yang tidak akan saya kutip langsung di sini, tapi akan saya ceritakan maknanya — pada dasarnya adalah sebuah undangan sekaligus deklarasi. Weller menggambarkan kota besar sebagai tempat di mana ada ribuan anak muda seperti dirinya, masing-masing membawa gagasan dan energi yang selama ini diabaikan. Ada perasaan bahwa di kota, di tengah kerumunan orang asing, seseorang justru bisa menemukan kaumnya sendiri — orang-orang muda yang berbagi rasa gelisah dan keinginan untuk didengar.

Namun lagu ini bukan sekadar pujian romantis terhadap kehidupan urban. Di baliknya ada gigi yang tajam. Weller menyelipkan kritik terhadap kekerasan aparat kepolisian, sesuatu yang sangat relevan dengan pengalaman anak muda kelas pekerja Inggris pada era itu, yang kerap merasa dicurigai dan diperlakukan kasar hanya karena penampilan atau usia mereka. Ada nada menantang: seolah lagu ini berkata bahwa anak muda tidak akan tinggal diam terhadap kekuasaan yang menyalahgunakan wewenangnya. Perpaduan antara optimisme dan kemarahan inilah yang membuat "In the City" terasa jujur dan hidup — bukan sekadar hitam atau putih, melainkan potret utuh dari perasaan seorang remaja yang bersemangat sekaligus muak.

Yang membuatnya bertahan adalah keseimbangan itu. Banyak lagu punk seangkatan bertumpu penuh pada penolakan dan kehancuran. "In the City" memilih jalur yang lebih sulit: ia mengakui bahwa dunia rusak, tapi tetap bersikeras bahwa anak muda punya kuasa untuk memperbaikinya. Etos "young idea" ini menjadi benang merah yang membentang di sebagian besar karya awal The Jam.

Konteks budaya dan warisan yang terus mengalir

Ketika dirilis, "In the City" masuk ke Top 40 tangga lagu Inggris — pencapaian yang solid untuk sebuah singel debut, dan cukup untuk mengumumkan bahwa ada kekuatan baru yang datang. Lagu ini kemudian menjadi judul album debut mereka yang juga dirilis pada 1977, sebuah rekaman yang dibuat dengan tergesa-gesa namun penuh energi mentah, khas semangat zaman itu.

Dari titik ini, The Jam melesat. Mereka menjadi salah satu band paling sukses di Inggris sepanjang akhir 1970-an dan awal 1980-an, menelurkan sejumlah singel nomor satu dan mendapat pengakuan kritikus maupun komersial yang jarang bisa diraih bersamaan. Paul Weller pun tumbuh menjadi salah satu penulis lagu paling dihormati di Inggris, dijuluki "The Modfather" — bapak dari gerakan mod — sebuah gelar yang lahir langsung dari fondasi yang ia bangun lewat lagu seperti ini.

Warisan "In the City" melampaui The Jam sendiri. Ketika Weller membubarkan band pada 1982, di puncak kesuksesan mereka — sebuah keputusan yang mengejutkan banyak orang — ia meninggalkan cetak biru bagi generasi berikutnya. Britpop tahun 1990-an, dengan band-band seperti Oasis dan Blur, banyak berutang pada estetika dan semangat yang dipopulerkan The Jam: kebanggaan kelas pekerja, cinta pada melodi pop yang bagus, dan keyakinan bahwa musik Inggris punya identitasnya sendiri. Noel Gallagher dari Oasis, misalnya, secara terbuka memuja Weller sebagai salah satu pahlawannya.

Kenapa lagu ini masih menggema hari ini

Hampir lima dekade setelah dirilis, "In the City" tetap terasa segar karena inti pesannya tidak pernah kedaluwarsa. Setiap generasi anak muda menghadapi versi mereka sendiri dari kota yang dingin, kekuasaan yang tuli, dan rasa bahwa suara mereka tidak dianggap. Dan setiap generasi, pada gilirannya, menemukan keberanian untuk percaya bahwa mereka bisa mengubah keadaan. Itulah yang ditangkap Weller dalam dua menit setengah yang meledak-ledak ini.

Ada sesuatu yang universal tentang perpindahan ke kota besar — entah itu seorang remaja Woking yang menuju London, atau seorang anak muda Indonesia yang meninggalkan kampung halaman menuju Jakarta, Surabaya, atau Bandung demi mencari peluang dan menemukan komunitasnya. Perasaan tersesat sekaligus terbebaskan, kesepian di tengah keramaian, sekaligus harapan menemukan kaum sendiri — semua itu tetap relevan. "In the City" menyanyikan perasaan itu tanpa berpura-pura semuanya akan baik-baik saja, dan justru karena kejujurannya, lagu ini tetap terasa nyata.

Bagi pendengar musik Barat di Indonesia yang ingin memahami dari mana asal usul sound mod-punk Inggris, dan bagaimana punk bisa membawa harapan alih-alih hanya kehancuran, "In the City" adalah titik masuk yang sempurna. Ini bukan sekadar artefak sejarah — ini adalah percikan api yang masih bisa menyalakan sesuatu di dalam diri siapa pun yang pernah merasa muda, marah, dan penuh keyakinan.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Larut dalam suaranya

Cara terbaik memahami "In the City" adalah mendengarkannya dalam konteks album debut The Jam secara utuh, di mana energi mentah 1977 terasa dari awal sampai akhir. Kualitas denting gitar Rickenbacker dan garis bass Foxton yang melompat-lompat baru benar-benar terdengar lewat sistem audio yang layak.

📚 Ikuti kisahnya

Perjalanan Paul Weller dari remaja Woking menjadi "The Modfather" adalah salah satu kisah paling menarik dalam sejarah musik Inggris. Buku-buku biografi dan memoar seputar The Jam dan skena mod akan memperkaya pemahamanmu jauh melampaui satu lagu.

🌍 Kunjungi tempatnya

Woking dan London adalah dua kutub geografis dari lagu ini: kota kecil yang membentuk Weller, dan metropolis yang menjadi panggung impiannya. Menjelajahi London mod era 1960-70an, dari Carnaby Street hingga klub-klub soul, akan membuat lagu ini terasa lebih hidup.

🎸 Rasakan sendiri

Sound khas The Jam lahir dari perpaduan gitar Rickenbacker yang berdenting dan permainan yang bertenaga. Kalau kamu ingin mencoba menciptakan getaran yang sama, atau sekadar merayakan gaya mod, ada banyak cara untuk membawa semangat itu ke dunianya sendiri.


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
70s