SONGFABLE · 2005

Chicago

SUFJAN STEVENS · 2005 · CHICAGO, USA

TL;DR: "Chicago" terdengar seperti lagu perjalanan yang riang, padahal intinya adalah pengakuan seorang anak muda yang kabur ke kota besar untuk mencari dirinya sendiri, lalu sadar bahwa ia sudah membuat banyak kesalahan. Ini lagu tentang pertobatan yang dibungkus terompet, paduan suara, dan harapan.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Lagu Perjalanan yang Diam-Diam Adalah Sebuah Pengakuan

Banyak orang pertama kali mendengar "Chicago" dalam keadaan bergerak. Di mobil, di kereta, di bus malam antarkota, atau lewat adegan film tentang keluarga aneh yang menumpang mobil van kuning yang mogok-mogok. Lagu ini memang punya jiwa sebuah perjalanan: tempo yang terus melaju, gesekan biola yang berputar seperti roda, dan paduan suara yang terdengar seperti sekumpulan teman yang bernyanyi di kursi belakang.

Tapi kalau kita berhenti sejenak dan benar-benar mendengarkan, ada sesuatu yang jauh lebih rapuh di balik semua kemegahan itu. Narator lagu ini bukan pahlawan petualang. Ia adalah seseorang yang kabur, entah dari rumah, dari rasa bersalah, atau dari versi dirinya yang lama. Di sepanjang lagu, ia berulang kali mengakui bahwa ia telah berbuat banyak salah, dan justru pengakuan itulah yang menjadi jantung lagu. Kejutan terbesar "Chicago" adalah ini: di balik aransemen yang terdengar seperti pesta kemenangan, tersimpan sebuah doa pertobatan yang sangat pribadi.

Sufjan Stevens memang ahli dalam hal semacam ini. Ia senang menaruh luka di dalam musik yang terdengar cerah, sehingga pendengar baru menyadari betapa sedihnya lagu itu setelah mereka sudah jatuh cinta pada melodinya.

Latar Belakang: Seorang Anak Detroit dan Proyek Lima Puluh Negara Bagian

Sufjan Stevens lahir di Detroit, Michigan, pada tahun 1975. Namanya yang tidak biasa, konon diberikan oleh sebuah komunitas spiritual yang diikuti orang tuanya saat itu, berasal dari bahasa Persia. Masa kecilnya disebut-sebut tidak mudah: keluarganya berpindah-pindah, dan hubungannya dengan sang ibu, Carrie, penuh jarak dan luka. Kisah itu kelak ia tuangkan secara terbuka dalam album yang sangat menyayat, Carrie & Lowell (2015).

Pada awal 2000-an, Sufjan mengumumkan sebuah rencana yang terdengar gila sekaligus menawan: ia ingin membuat satu album untuk setiap negara bagian Amerika Serikat. Lima puluh album. Album pertama dari proyek ini adalah Michigan (2003), yang berisi lagu-lagu tentang kota-kota industri yang lesu, danau-danau besar, dan orang-orang biasa. Dua tahun kemudian, lahirlah Illinois (sering juga ditulis Sufjan Stevens Invites You To: Come On Feel the Illinoise), dirilis lewat label independen Asthmatic Kitty pada tahun 2005.

Belakangan, Sufjan sendiri mengakui bahwa proyek lima puluh negara bagian itu lebih mirip lelucon promosi daripada janji yang serius. Namun Illinois menjadi bukti bahwa ide besar itu melahirkan sesuatu yang luar biasa. Album ini penuh dengan sejarah, tokoh, dan legenda lokal: dari pembunuh berantai John Wayne Gacy, penampakan UFO, Pameran Dunia Chicago, sampai kisah Superman yang konon "berasal" dari sebuah kota kecil di Illinois. Di tengah semua riset sejarah itu, "Chicago" berdiri sebagai lagu yang paling pribadi. Ia bukan tentang tokoh sejarah, melainkan tentang seseorang yang sedang tumbuh dewasa.

Proses rekamannya pun terkenal sangat "rumahan". Sufjan disebut memainkan sendiri sebagian besar instrumen, mulai dari banjo, piano, gitar, glockenspiel, hingga alat tiup, lalu menambahkan lapisan paduan suara dan string dengan bantuan sejumlah musisi. Hasilnya adalah suara yang terdengar seperti orkestra kecil milik sebuah paroki, hangat, sedikit tidak sempurna, tapi penuh jiwa.

Bagi pendengar Indonesia, ada kedekatan rasa yang menarik di sini. Gelombang folk indie yang sempat membanjiri kafe-kafe dan panggung kampus di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta sejak awal 2010-an banyak dipengaruhi oleh estetika seperti ini: lirik yang puitis, instrumen akustik, dan keberanian untuk terdengar rapuh. Penggemar yang tumbuh bersama band-band folk lokal, atau yang pernah menghabiskan malam di sebuah acara musik akustik kecil dengan lampu temaram, kemungkinan besar akan merasa "pulang" ketika mendengar Sufjan. Ia sering disebut sebagai salah satu sosok yang ikut membentuk selera generasi indie di berbagai belahan dunia, termasuk di sini.

Makna Inti: Kabur ke Kota, Menemukan Diri, Mengakui Kesalahan

Secara sederhana, "Chicago" bercerita tentang perjalanan darat. Narator pergi ke Chicago dengan mobil van bersama teman-temannya, kemudian melanjutkan perjalanan ke New York. Di sepanjang jalan mereka tidur di tempat seadanya, menjalani hari tanpa rencana yang jelas, dan merasakan kebebasan yang khas usia muda. Di beberapa bagian, narator menggambarkan dirinya jatuh cinta, entah pada seseorang, entah pada kota itu, entah pada perasaan hidup yang baru saja ia temukan. Sufjan sengaja membuatnya samar.

Tapi di balik kisah perjalanan itu, ada lapisan kedua yang lebih dalam. Narator berkali-kali mengakui bahwa ia telah melakukan banyak kesalahan. Pengakuan itu tidak disampaikan dengan dramatis, justru diulang-ulang seperti mantra, seperti orang yang berdoa sambil menatap jalan raya. Ia tidak menjelaskan kesalahan apa yang ia maksud. Kekosongan itu membuat setiap pendengar bisa mengisinya dengan kesalahannya sendiri.

Ada juga nuansa bahwa perjalanan ini adalah upaya untuk pergi dari sesuatu. Narator seolah ingin melarikan diri untuk menemukan tempat di mana ia bisa menjadi orang yang lebih baik, atau setidaknya orang yang berbeda. Di sinilah Chicago berubah dari sekadar nama kota menjadi simbol: kota besar sebagai tempat pelarian, sebagai janji awal yang baru, sebagai "tanah perjanjian" bagi anak muda yang lelah dengan dirinya sendiri.

Latar belakang spiritual Sufjan juga penting untuk dipahami. Ia dikenal sebagai musisi yang terbuka tentang iman Kristennya, meskipun ia tidak pernah menulis lagu rohani dalam arti konvensional. Banyak pengamat membaca pengakuan kesalahan dalam "Chicago" sebagai semacam pengakuan dosa, bukan di bilik gereja, melainkan di kursi penumpang sebuah van. Paduan suara yang membumbung di bagian akhir lagu terasa seperti jawaban dari langit: bukan hukuman, melainkan pelukan. Kesalahan diakui, lalu hidup berjalan terus.

Yang membuat lagu ini begitu kuat adalah keseimbangannya. Ia tidak tenggelam dalam penyesalan, tetapi juga tidak berpura-pura semuanya baik-baik saja. Ia berdiri tepat di antara keduanya, di tempat di mana kebanyakan dari kita hidup: sadar sudah salah langkah, tapi tetap memilih untuk melaju.

Aransemen: Ketika Musik Menceritakan Apa yang Tidak Diucapkan Kata-Kata

Kalau liriknya adalah pengakuan, maka musiknya adalah harapan. Lagu dibuka dengan denting piano dan gesekan string yang bergerak cepat, seperti pemandangan yang berlarian di jendela mobil. Perlahan, lapisan demi lapisan ditambahkan: terompet, trombon, paduan suara, glockenspiel. Semakin lama, lagu terasa semakin besar, seolah perjalanan itu membawa narator ke tempat yang lebih luas daripada yang pernah ia bayangkan.

Pola ini sangat khas Sufjan. Ia sering membangun lagu seperti gereja yang sedang dibangun, bata demi bata, sampai tiba-tiba kita berdiri di bawah kubah yang tinggi. Menurut banyak kritikus, pengaruh komposer minimalis seperti Steve Reich dan Philip Glass terasa di pola-pola berulang dalam aransemennya, sementara semangat marching band dan musik gereja Amerika memberinya kehangatan.

Menariknya, Sufjan sendiri tampaknya tidak pernah benar-benar "selesai" dengan lagu ini. Pada tahun 2006, ia merilis The Avalanche, kumpulan lagu sisa dan versi alternatif dari sesi Illinois. Di sana terdapat beberapa versi lain dari "Chicago", masing-masing dengan nama yang jenaka, termasuk versi yang lebih santai dan versi yang terdengar lebih kacau. Seakan-akan ia ingin menunjukkan bahwa satu cerita yang sama bisa diceritakan dengan banyak suasana hati.

Konteks Budaya dan Warisan

Album Illinois langsung menjadi fenomena di kalangan pencinta musik independen. Majalah dan situs musik besar menempatkannya di jajaran album terbaik tahun 2005, dan belakangan juga di daftar album terbaik dekade 2000-an. Bagi banyak orang, album inilah yang mengubah Sufjan dari musisi indie yang dikenal di lingkaran kecil menjadi salah satu penulis lagu paling dihormati di generasinya.

"Chicago" kemudian mendapat dorongan besar dari layar lebar. Lagu ini dipakai dalam film Little Miss Sunshine (2006), sebuah film komedi drama tentang keluarga yang kacau-balau yang melakukan perjalanan darat dengan van kuning tua demi mengantar putri kecil mereka ke kontes kecantikan. Pilihan itu terasa sangat tepat: film tentang orang-orang yang merasa gagal, tapi tetap saling mendorong mobil yang mogok, bertemu dengan lagu tentang anak muda yang mengakui kesalahannya sambil terus melaju. Banyak penonton di seluruh dunia, termasuk di Indonesia lewat DVD dan pemutaran televisi kabel, mengenal Sufjan untuk pertama kalinya dari film ini.

Seiring waktu, "Chicago" menjadi semacam lagu kebangsaan tidak resmi bagi generasi yang tumbuh di era blog musik. Lagu ini sering muncul di video perjalanan, montase kelulusan, dan playlist "road trip" di layanan streaming. Di Chicago sendiri, lagu ini kerap disebut sebagai salah satu lagu modern yang paling sering diasosiasikan dengan kota itu, walau ironisnya lagu ini sebenarnya tidak banyak bercerita tentang landmark kota. Chicago dalam lagu ini adalah keadaan batin, bukan peta.

Pada tahun 2017, nama Sufjan kembali melambung lewat lagu-lagunya untuk film Call Me by Your Name, termasuk "Mystery of Love" yang mendapat nominasi Oscar. Momen itu membuat banyak pendengar baru menelusuri katalog lamanya, dan "Chicago" kembali ditemukan oleh generasi yang lebih muda. Pada 2015, Illinois merayakan ulang tahun kesepuluhnya, dan belakangan album ini bahkan diadaptasi menjadi pertunjukan tari dan teater yang sempat dipentaskan di New York, lagi-lagi membuktikan bahwa lagu-lagunya punya kehidupan panjang di luar piringan hitam.

Mengapa Lagu Ini Masih Relevan Hari Ini

Ada alasan mengapa "Chicago" terus diputar hampir dua dekade setelah dirilis. Lagu ini menangkap satu perasaan universal yang tidak pernah usang: keinginan untuk pergi jauh dan memulai lagi. Setiap generasi punya versi "Chicago"-nya sendiri. Bagi sebagian anak muda Indonesia, mungkin itu adalah merantau ke Jakarta, Surabaya, atau ke luar negeri untuk kuliah. Bagi yang lain, itu adalah perjalanan motor bersama teman-teman ke pantai selatan saat libur semester, atau naik kereta ekonomi malam ke kota yang belum pernah dikunjungi.

Budaya merantau yang begitu kuat di Indonesia membuat lagu ini terasa sangat akrab. Pergi dari kampung halaman bukan hanya soal mencari pekerjaan atau pendidikan, tetapi juga soal mencari siapa diri kita sebenarnya ketika tidak lagi dikelilingi harapan keluarga dan tetangga. Narator "Chicago" melakukan hal yang sama. Ia pergi, ia tersesat, ia jatuh cinta, dan ia menyadari kesalahannya. Tapi ia tidak berbalik pulang dengan kepala tertunduk; ia terus berjalan.

Lagu ini juga relevan di era media sosial, di mana tekanan untuk selalu terlihat sukses begitu besar. "Chicago" menawarkan alternatif: sebuah lagu yang megah dan indah, tapi isinya justru pengakuan jujur tentang kegagalan. Ia mengingatkan bahwa mengakui kesalahan bukanlah kelemahan, dan bahwa perjalanan hidup tetap layak dirayakan meskipun kita tidak sempurna.

Dan terakhir, ada sesuatu yang menenangkan dalam cara Sufjan menyanyikan semua itu. Suaranya lembut, hampir berbisik, tidak pernah berteriak. Di dunia yang serba bising, lagu ini seperti teman yang duduk di sebelah kita dalam perjalanan panjang, tidak menghakimi, hanya menemani sampai kota berikutnya.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

📚 Ikuti kisahnya

🌍 Kunjungi tempat-tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
00s