SONGFABLE · 2001

Butterflies

MICHAEL JACKSON · 2001

TL;DR: "Butterflies" adalah lagu di mana penghibur paling terkenal di planet ini mengaku gugup. Tidak ada koreografi, tidak ada orkestra, tidak ada pesan penyelamatan dunia, cuma seorang pria yang kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri karena seseorang berjalan melewatinya. Dan yang paling mengejutkan, lagu itu bukan tulisan Michael, melainkan demo dari penyanyi Inggris yang waktu itu belum dikenal siapa pun.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Hook: ketika Michael Jackson berhenti menjadi Michael Jackson

Coba bayangkan daftar hal yang biasanya kamu harapkan dari sebuah lagu Michael Jackson.

Beat yang bisa langsung dikenali dari satu bar. Bass line yang menusuk. Cegukan vokal khas yang jadi tanda tangannya. Video klip berbiaya film layar lebar. Pesan besar tentang dunia, tentang anak-anak, tentang cermin dan perubahan. Tarian yang membuat orang berhenti mengunyah di depan televisi.

Sekarang dengarkan "Butterflies". Hampir tidak ada satu pun dari daftar itu.

Yang ada hanya groove pelan yang nyaris malas, chord keyboard yang hangat dan teduh, bass yang bergerak seperti orang berjalan santai, dan suara Michael di registrasi tinggi yang ditahan sedemikian rupa sampai terdengar seperti dia takut mengganggu orang di ruangan sebelah. Tidak ada klimaks. Tidak ada momen di mana dia melepaskan seluruh tenaganya. Lagunya masuk, berputar, lalu keluar tanpa pernah meninggikan suaranya.

Untuk seorang penyanyi yang seluruh kariernya dibangun di atas kemampuan menguasai stadion berisi tujuh puluh ribu orang, memilih untuk berbisik adalah keputusan yang jauh lebih berani daripada berteriak.

Dan ada ironi yang lebih dalam lagi. Ini salah satu lagu terakhir dari album studio terakhir berisi materi baru yang sempat dia rilis semasa hidup. Lagu yang seharusnya menjadi bukti bahwa dia masih relevan di abad baru, ternyata malah menjadi bukti sesuatu yang lain: bahwa dia masih bisa terdengar seperti manusia biasa yang sedang jatuh cinta, dan bahwa itu justru yang paling jarang kita dengar darinya selama dua puluh tahun terakhir kariernya.

Background: demo dari Liverpool yang mendarat di meja raja pop

Cerita asal-usul "Butterflies" adalah salah satu kisah paling menyenangkan dalam sejarah R&B awal 2000-an, justru karena tidak ada satu pun bagian darinya yang masuk akal.

Lagu ini ditulis oleh Marsha Ambrosius bersama produser Andre Harris. Marsha adalah penyanyi dan penulis lagu asal Liverpool, Inggris, yang waktu itu baru memulai karier sebagai separuh dari duo Floetry bersama Natalie Stewart. Mereka belum punya album besar. Belum punya hit. Mereka masih berada di fase paling rawan dalam hidup seorang musisi: punya lagu bagus, tapi tidak punya siapa-siapa yang mau mendengarkannya.

Demo itu akhirnya sampai ke tangan Michael Jackson. Versi cerita yang paling sering dikutip menyebutkan bahwa Marsha mendapat telepon langsung dari Michael, sebuah panggilan yang awalnya kabarnya dia kira lelucon dari teman. Detail persisnya berbeda-beda tergantung wawancara mana yang kamu baca, dan beberapa bagiannya sudah berubah bentuk setelah diceritakan ulang berkali-kali selama dua dekade. Tapi intinya konsisten di semua versi: seorang penyanyi yang belum dikenal siapa pun tiba-tiba mendengar suaranya sendiri dinyanyikan ulang oleh orang paling terkenal di dunia.

Yang menarik, Michael tidak mengubah karakter dasar lagunya. Dia bisa saja membesarkannya, menambahkan lapisan produksi raksasa, mengubahnya jadi nomor pembuka panggung. Dia tidak melakukannya. Dia menjaga skala kecilnya dan justru menyempurnakan bagian yang paling dia kuasai: susunan vokal latar. Michael dikenal sebagai salah satu penata harmoni vokal paling teliti di industri musik, terbiasa merekam lapisan demi lapisan suaranya sendiri sampai terdengar seperti paduan suara kecil. Di "Butterflies", lapisan-lapisan itu tidak dipakai untuk pamer, tapi untuk menciptakan semacam bantal empuk di belakang melodi utama. Kamu baru sadar betapa padatnya kalau mendengarkan pakai headphone.

Album induknya, Invincible, rilis pada akhir Oktober 2001. Album itu digarap bertahun-tahun dengan biaya yang dilaporkan sangat besar, sering disebut sebagai salah satu album termahal yang pernah dibuat. Michael memasukkan produser-produser paling panas saat itu, termasuk Rodney Jerkins, dan berusaha keras menyesuaikan dirinya dengan bunyi R&B modern tanpa kehilangan identitasnya sendiri.

Buat pendengar Indonesia, ada satu titik sambung yang membuat lagu ini terasa lebih dekat daripada yang kamu kira. Michael Jackson bukan nama asing di sini; dia kabarnya sempat menggelar konser di Jakarta pada pertengahan 1990-an dalam rangkaian tur dunianya, dan tiket-tiket itu masih disimpan sebagian orang sampai sekarang sebagai relik keluarga. Tapi sambungan yang lebih kuat justru terjadi di radio. Awal 2000-an adalah masa keemasan slow jam di Indonesia: acara request malam hari, kaset dan CD kompilasi R&B yang dijual di mal, karaoke keluarga, dan gelombang penyanyi soul lokal seperti Glenn Fredly, Rio Febrian, dan kemudian Tompi serta Andien yang mengubah selera pendengar muda dari pop manis ke sesuatu yang lebih beraroma jazz dan groove. "Butterflies" mendarat tepat di tengah ekosistem itu. Dia bukan lagu Michael yang dipakai orang untuk menari, tapi lagu Michael yang dipakai orang untuk duduk diam di kamar dengan lampu dimatikan.

Makna inti: kupu-kupu sebagai pengakuan bahwa kamu kalah

Judulnya memakai ungkapan yang ada di hampir semua bahasa dalam bentuk berbeda-beda. Dalam bahasa Inggris, "butterflies in the stomach" berarti perasaan berkibar dan gugup di perut, sensasi yang muncul sebelum ujian, sebelum naik panggung, atau saat berhadapan dengan orang yang kamu sukai. Dalam bahasa Indonesia kita punya padanan rasa yang mirip, dari deg-degan sampai perut mules karena gugup.

Yang dilakukan lagu ini adalah mengambil ungkapan sehari-hari itu dan memperlakukannya secara serius, hampir secara klinis.

Isi lagunya adalah laporan langsung dari tubuh seseorang yang sedang tidak berfungsi normal. Dia menggambarkan bagaimana kehadiran satu orang mengacaukan kemampuannya berpikir, berbicara, dan bersikap wajar. Ada rasa hangat yang datang tiba-tiba. Ada kegugupan yang membuat kata-kata tidak keluar dengan benar. Ada kesadaran bahwa dia sedang diamati dan tidak bisa menyembunyikan apa pun. Semua itu dipaparkan tanpa bumbu heroik, tanpa rayuan yang percaya diri, tanpa satu pun kalimat yang menempatkan si penyanyi sebagai pihak yang mengendalikan situasi.

Di sinilah letak pembalikannya. Sebagian besar lagu R&B romantis ditulis dari posisi kuat: aku bisa memberimu ini, aku akan menjagamu, malam ini milik kita. "Butterflies" ditulis dari posisi kalah. Si penyanyi mengaku bahwa dia tidak memegang kendali, dan bahwa orang di depannya punya kuasa penuh atas kondisi fisiknya. Itu pengakuan yang jarang, apalagi dari suara laki-laki di genre yang saat itu sedang sangat sibuk memamerkan kemewahan dan keperkasaan.

Konteks siapa yang menyanyikannya membuat pengakuan itu berlipat ganda bobotnya. Michael Jackson hidup hampir seluruh hidupnya di balik lapisan perlindungan: pengawal, tembok, kacamata hitam, karakter panggung, mitos yang dia bangun dan yang dibangun media tentang dirinya. Publik terbiasa mendengarnya menyanyikan hal-hal besar, atau menyanyikan kemarahan terhadap pers dan dunia. Sangat jarang dia terdengar sekecil ini, setelanjang ini secara emosional, tanpa ada musuh yang dilawan dan tanpa ada pesan yang perlu disampaikan ke umat manusia.

Cara dia menyanyikannya memperkuat semuanya. Michael tidak pernah benar-benar melepas suaranya di lagu ini. Dia bertahan di wilayah lembut dan tinggi, sering nyaris berbisik, dengan frasa-frasa yang menggantung dan tidak diselesaikan dengan tegas. Untuk penyanyi yang bisa membuat satu nada berdiri tegak di tengah stadion, pilihan untuk menahan diri sepanjang empat menit adalah keputusan artistik yang disengaja. Efeknya persis seperti maksud lagunya: seseorang yang kehilangan suaranya sendiri karena gugup.

Konteks budaya: album yang tenggelam di waktu yang salah

Untuk memahami nasib "Butterflies", kamu harus melihat kondisi sekitarnya, karena hampir semua hal yang bisa salah memang terjadi.

Invincible rilis beberapa minggu setelah serangan 11 September 2001. Amerika sedang tidak dalam suasana merayakan apa pun, industri hiburan kacau, dan jadwal promosi besar-besaran yang direncanakan bertahun-tahun mendadak kehilangan pijakan. Beberapa pekan sebelumnya Michael sempat menggelar dua konser perayaan tiga puluh tahun kariernya di Madison Square Garden, New York, dan kemudian ikut menggerakkan konser amal bersama untuk korban serangan itu. Semua energi publik tersedot ke sana.

Di belakang layar, hubungannya dengan label rekaman sedang memburuk parah. Perselisihan terbuka antara Michael dan pimpinan Sony Music waktu itu menjadi berita besar, dan Michael secara terbuka menuduh labelnya tidak mendukung albumnya dengan semestinya. Salah satu akibat paling konkret dari kebuntuan itu adalah "Butterflies" tidak pernah dirilis sebagai singel komersial di Amerika. Lagunya hanya beredar ke radio.

Dan justru di situ letak pencapaian yang sering dilupakan orang. Tanpa penjualan singel, tanpa video klip resmi, tanpa kampanye besar, "Butterflies" tetap menanjak tinggi di tangga R&B Amerika dan menembus papan atas tangga lagu utama semata-mata karena diputar terus-menerus di radio. Itu bukan hasil mesin promosi. Itu hasil orang menelepon stasiun radio dan memintanya lagi.

Secara musikal, lagu ini juga menempatkan Michael di tengah gelombang yang sedang naik. Awal 2000-an adalah era neo-soul: D'Angelo, Erykah Badu, Jill Scott, Musiq Soulchild, Bilal. Genre itu menolak kilap produksi radio dan kembali ke groove organik, ke ruang, ke kehangatan. "Butterflies" adalah satu-satunya titik di katalog Michael yang benar-benar duduk nyaman di dalam gelombang itu. Menariknya, dia tidak masuk ke sana dengan cara menirunya; dia masuk lewat pintu yang paling jujur, yaitu dengan menyanyikan lagu yang memang ditulis oleh musisi dari dalam gelombang tersebut.

Marsha Ambrosius sendiri akhirnya membawakan versinya bersama Floetry, dan bertahun-tahun kemudian dia tampil membawakan lagu ini dalam suasana penghormatan setelah Michael meninggal pada 2009. Lingkarannya tertutup dengan cara yang getir sekaligus indah: lagu yang dimulai sebagai demo seorang penyanyi tak dikenal, kembali ke tangan penulisnya sebagai warisan.

Ada juga versi remix yang melibatkan rapper Eve, yang memperluas jangkauannya ke pendengar hip-hop pada masa itu, dan di banyak negara justru versi inilah yang lebih sering terdengar di kompilasi.

Kenapa masih terasa dekat sampai sekarang

Lebih dari dua dekade berlalu, dan "Butterflies" mengalami hal yang jarang terjadi pada lagu yang gagal dipromosikan: reputasinya naik, bukan turun.

Alasan pertama adalah soal bentuk. Karena lagu ini tidak mengejar bunyi tren 2001, dia juga tidak ikut usang bersama tren itu. Groove pelan, chord hangat, vokal dekat. Tiga hal yang sudah bekerja sejak era soul 1970-an dan masih bekerja di playlist tidur orang sekarang.

Alasan kedua adalah soal tema. Kita punya jutaan lagu tentang cinta yang berhasil dan jutaan lagu tentang cinta yang hancur, tapi sangat sedikit lagu tentang fase paling awal dan paling canggung: ketika kamu belum berani bicara, belum tahu apakah perasaanmu dibalas, dan tubuhmu mempermalukanmu duluan. Fase itu pendek dalam hidup nyata, tapi semua orang pernah melewatinya, dan hampir tidak ada yang menyanyikannya dengan sejujur ini.

Alasan ketiga lebih halus. Lagu ini memberi izin untuk terlihat lemah. Michael Jackson, dengan segala kompleksitas dan kontroversi yang mengelilingi namanya, di sini tampil sebagai seseorang yang tidak punya pertahanan sama sekali. Tidak ada ironi, tidak ada jarak aman, tidak ada karakter panggung. Buat pendengar muda, terutama yang tumbuh dengan gagasan bahwa kegugupan itu memalukan, lagu ini berfungsi seperti contoh: begini caranya mengakui bahwa kamu goyah tanpa kehilangan martabat.

Dan mungkin itulah warisan sebenarnya dari "Butterflies". Ini bukan lagu yang menyelamatkan album, karena Invincible memang tidak terselamatkan. Ini lagu yang membuktikan sesuatu yang lebih kecil sekaligus lebih penting: bahwa di balik semua mitos, kostum, kontroversi, dan angka penjualan yang tidak masuk akal, masih ada seseorang yang bisa duduk di depan mikrofon dan mengaku bahwa dia gugup. Dan justru rekaman itulah, yang paling pelan dan paling sepi dari seluruh diskografinya, yang bertahan paling lembut di telinga orang.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

📚 Menelusuri kisahnya

🌍 Mengunjungi tempatnya

🎸 Mencoba sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
00s