SONGFABLE · 2022

Because I Liked a Boy

SABRINA CARPENTER · 2022

TL;DR: Lagu ini bukan tentang patah hati, melainkan tentang harga yang harus dibayar seorang perempuan muda ketika jutaan orang asing memutuskan bahwa dia adalah penjahat dalam kisah cinta yang bahkan bukan miliknya. Sabrina Carpenter menuliskan luka dari sebuah "pengadilan internet" — di mana dia disebut perusak rumah tangga, sementara laki-laki yang terlibat nyaris tak tersentuh.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Satu kalimat yang mengubah hidupnya: "aku suka dia"

Bayangkan kamu berusia dua puluh satu tahun. Kamu menyukai seseorang. Itu saja. Tidak ada perselingkuhan yang terbukti, tidak ada pernikahan yang hancur, tidak ada kejahatan. Lalu suatu pagi kamu membuka ponsel dan menemukan dirimu menjadi tokoh antagonis dalam cerita yang ditulis oleh jutaan orang yang belum pernah bertemu denganmu.

Itulah titik berangkat "Because I Liked a Boy", salah satu lagu paling jujur — dan paling menyakitkan — dari album emails i can't send (2022). Yang membuat lagu ini istimewa bukan melodinya yang lembut, bukan pula produksinya yang minimalis. Yang membuatnya menancap adalah ketidakseimbangan yang dia potret dengan sangat presisi: satu pihak kehilangan rasa aman, nama baik, bahkan ketenangan tidur; pihak lain tetap melanjutkan karier tanpa banyak goresan.

Sabrina tidak menulisnya sebagai serangan balik. Dia menulisnya seperti seseorang yang akhirnya duduk sendirian di kamar setelah badai lewat, lalu bertanya pelan-pelan: kenapa aku yang harus membayar semahal ini?

Dari layar Disney ke email yang tak pernah dikirim

Sabrina Carpenter tumbuh di depan kamera. Lahir di Pennsylvania, Amerika Serikat, pada 1999, dia mulai dikenal lewat serial Disney Channel Girl Meets World, lalu merilis serangkaian album pop remaja yang manis dan aman. Selama bertahun-tahun, publik memperlakukannya sebagai "anak Disney" — kategori yang di industri musik Amerika sering berarti: menyenangkan, tidak berbahaya, dan tidak perlu dianggap terlalu serius.

Lalu datang awal 2021. Sebuah lagu balada dari penyanyi muda lain meledak menjadi fenomena global, dan internet — dengan kegemarannya menyusun teka-teki dari potongan gosip — memutuskan bahwa lagu itu bercerita tentang sebuah kisah cinta segitiga nyata di lingkaran mantan bintang remaja. Nama Sabrina diseret ke dalamnya sebagai "pihak ketiga". Dalam hitungan hari, kolom komentarnya berubah menjadi ruang penghakiman massal. Menurut berbagai pemberitaan saat itu, dia menerima gelombang hinaan hingga ancaman.

Respons pertamanya adalah sebuah lagu yang dirilis buru-buru pada Januari 2021, yang justru dibaca banyak orang sebagai pembelaan diri yang terlalu cepat — dan malah menambah bahan bakar. Butuh satu setengah tahun lebih sebelum dia kembali ke topik yang sama, kali ini tanpa perisai.

emails i can't send, dirilis Juli 2022 lewat Island Records, adalah album kelimanya dan sekaligus album pertamanya yang terasa benar-benar ditulis oleh manusia berusia dua puluhan, bukan oleh mesin pemasaran. Konsepnya sederhana dan brilian: kumpulan hal-hal yang ingin dia katakan kepada orang-orang tertentu, tetapi tidak pernah benar-benar dia kirim. Ayahnya, mantan kekasihnya, dirinya sendiri. Dan tentu saja, publik yang menghakiminya.

Di sinilah "Because I Liked a Boy" duduk sebagai jantung emosional album itu.

Bagi pendengar di Indonesia, ada satu hal yang mungkin langsung terasa akrab. Kita punya kosakata sendiri untuk fenomena ini — sebuah label pendek, tajam, dan hampir selalu ditujukan kepada perempuan, yang begitu melekat sehingga bisa menghancurkan reputasi seseorang tanpa perlu bukti apa pun. Label semacam itu bekerja seperti stempel: sekali menempel, semua penjelasan sesudahnya terdengar seperti alasan. Netizen Indonesia juga punya reputasi internasional sebagai salah satu komunitas online paling agresif — sebuah survei kesopanan digital yang cukup terkenal beberapa tahun lalu sempat menempatkan Indonesia di posisi yang tidak membanggakan untuk kawasan Asia Pasifik. Artinya, "Because I Liked a Boy" bukan cerita Amerika yang jauh. Ini cerita yang bisa terjadi — dan sering terjadi — di kolom komentar Instagram lokal, di grup WhatsApp keluarga, di thread X yang viral semalam.

Membongkar isinya: kronik sebuah penghakiman

Secara struktur, lagu ini bergerak seperti kesaksian di ruang sidang, hanya saja sidangnya sudah selesai dan vonisnya sudah dijatuhkan sejak lama.

Bagian pembuka melukiskan sesuatu yang nyaris membosankan dalam kesederhanaannya: dua orang muda saling menyukai, menghabiskan waktu bersama, melakukan hal-hal biasa yang dilakukan orang yang sedang tertarik satu sama lain. Tidak ada drama di sana. Itu poinnya. Sabrina sengaja memulai dari titik yang paling wajar, supaya kontras dengan apa yang datang setelahnya terasa absurd.

Lalu narasinya berbelok. Dari peristiwa personal yang kecil, tiba-tiba muncul konsekuensi yang raksasa: julukan-julukan kasar, tuduhan merusak hubungan orang, dan yang paling mengerikan — ancaman terhadap keselamatannya. Sabrina menuliskan bagian ini dengan nada yang hampir datar, dan justru itulah yang membuatnya menusuk. Dia tidak berteriak. Dia melaporkan.

Bagian paling kuat dari lagu ini adalah ketika dia mengarahkan perhatian ke ketidakadilan distribusinya. Seluruh cerita ini melibatkan setidaknya tiga orang, tetapi beban sosialnya hampir seluruhnya jatuh ke pundak satu orang. Laki-laki dalam kisah itu tidak digambarkan sebagai monster — dan ini penting. Sabrina tidak sedang membalas dendam kepada siapa pun. Dia sedang menunjuk sistemnya: bagaimana publik secara refleks memilih perempuan sebagai sasaran, sementara laki-laki dibiarkan berjalan pergi.

Ada juga lapisan yang lebih sunyi di dalamnya. Dia menyinggung bagaimana pengalaman itu mengubah caranya memandang dirinya sendiri, bagaimana keramaian yang membencinya masuk ke dalam kepalanya dan tinggal di sana. Kerusakan semacam ini tidak selesai ketika tagar berhenti trending. Itu menetap, dan diam-diam mengubah cara seseorang mempercayai orang lain.

Yang membuat lagu ini dewasa adalah absennya kemenangan di akhir. Tidak ada momen "aku sudah move on dan sekarang aku hebat". Yang tersisa hanyalah pertanyaan yang menggantung, dan pengakuan bahwa harga yang dia bayar sama sekali tidak sebanding dengan "kesalahan" yang dituduhkan.

Konteks budaya: mesin amarah yang butuh seorang perempuan

Untuk memahami kenapa lagu ini terasa penting, kita perlu melihat lanskap tempat ia lahir.

Awal 2020-an adalah puncak era di mana platform seperti TikTok dan X mengubah gosip selebritas menjadi olahraga partisipatif. Penggemar tidak lagi hanya mengonsumsi cerita — mereka menyusun teori, mencocokkan tanggal, membedah caption, dan mengorganisir serangan. Sebuah lagu putus cinta bisa berubah menjadi bukti persidangan. Sebuah unggahan lama bisa digali sebagai motif. Dan karena algoritma memberi imbalan kepada konten yang memancing kemarahan, cerita dengan "penjahat perempuan" selalu menyebar lebih cepat daripada cerita yang rumit dan tidak jelas siapa yang salah.

Pola ini sama sekali bukan hal baru dalam sejarah pop. Selama beberapa dekade, industri musik dan media hiburan berulang kali memproduksi figur "perempuan yang perlu dihukum" — dan biasanya hukumannya jauh lebih lama daripada hukuman untuk laki-laki dalam cerita yang sama. Yang baru di era media sosial adalah kecepatan dan skalanya: penghakiman yang dulu butuh berminggu-minggu melalui tabloid, kini selesai dalam enam jam.

"Because I Liked a Boy" menjadi salah satu dokumen paling jelas tentang pengalaman itu dari sisi orang yang mengalaminya, ditulis bukan oleh jurnalis atau akademisi, tetapi oleh orangnya sendiri. Dan dia melakukannya tanpa menyebut nama siapa pun, tanpa membalas serangan dengan serangan. Itu pilihan artistik yang berani — karena secara komersial, lagu balas dendam yang eksplisit hampir selalu lebih menguntungkan.

Efeknya tidak instan. Album emails i can't send awalnya diterima dengan hangat oleh kritikus tetapi bukan ledakan komersial. Baru ketika Sabrina meledak secara global beberapa tahun kemudian — lewat gelombang lagu-lagu yang jauh lebih ringan, genit, dan penuh percaya diri — jutaan pendengar baru menoleh ke belakang dan menemukan album ini. Banyak dari mereka terkejut. Penyanyi yang mereka kenal sebagai ratu pop yang jenaka ternyata pernah menulis salah satu lagu paling telanjang tentang pelecehan massal di internet.

Rasanya seperti menemukan buku harian di laci meja seseorang yang selalu tersenyum.

Kenapa lagu ini justru makin nyaring hari ini

Ada alasan kenapa "Because I Liked a Boy" terus ditemukan kembali oleh pendengar baru setiap tahun, terutama pendengar muda.

Pertama, karena situasinya tidak berubah. Setiap beberapa bulan, di Indonesia maupun di mana pun, muncul satu perempuan yang namanya tiba-tiba menjadi bahan olok-olok nasional karena sebuah hubungan yang detailnya tidak diketahui siapa pun kecuali orang-orang di dalamnya. Pola distribusi kemarahannya nyaris identik setiap kali: perempuan dibedah, laki-laki dimaklumi.

Kedua, karena lagu ini memberikan bahasa untuk sesuatu yang sulit dijelaskan. Banyak orang pernah mengalami versi kecil dari pengalaman ini — digosipkan di sekolah, dijadikan bahan pembicaraan di kantor, dihakimi di grup chat. Skalanya berbeda, tetapi rasanya sama: perasaan bahwa versi dirimu yang beredar di luar sana lebih nyata bagi orang lain daripada dirimu yang sebenarnya.

Ketiga, karena Sabrina tidak menyelesaikannya dengan rapi. Dia tidak berpura-pura bahwa waktu menyembuhkan segalanya. Untuk pendengar yang sedang berada di tengah lukanya sendiri, kejujuran semacam itu jauh lebih menenangkan daripada nasihat optimistis.

Dan mungkin yang paling penting: lagu ini mengingatkan bahwa di balik setiap nama yang sedang kita ketawai di timeline, ada seseorang yang malamnya harus tidur dengan ponsel yang bergetar terus-menerus. Itu pelajaran yang tidak pernah kedaluwarsa — dan sayangnya, tidak pernah cukup sering diingat.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Larut dalam suaranya

📚 Menelusuri kisahnya

🌍 Mengunjungi tempatnya

🎸 Mencobanya sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
20s