SONGFABLE · 2010

Waka Waka (This Time for Africa)

SHAKIRA · 2010

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Waka Waka (This Time for Africa) - Shakira (2010)

TL;DR: Lagu Piala Dunia paling ikonik sepanjang masa ini sebenarnya dibangun di atas pinjaman: melodi utamanya berakar dari lagu tentara Afrika tahun 1980-an, dan liriknya bukan tentang sepak bola sama sekali, melainkan tentang bangkit setelah jatuh dan menjadi prajurit hidupmu sendiri.

Saat seluruh dunia menyanyikan kata yang tak mereka mengerti

Coba ingat-ingat: tahun 2010, di stadion-stadion Afrika Selatan, di kafe-kafe Jakarta yang menyalakan layar lebar tengah malam, jutaan orang menyanyikan "Waka Waka" dengan penuh keyakinan—padahal hampir tidak ada yang benar-benar tahu apa arti dua kata itu. Dan itulah keajaiban kecil dari lagu ini. Ia menjadi anthem global bukan karena orang memahami liriknya, tapi karena tubuh mereka langsung merespons ketukannya.

Yang mengejutkan adalah, "Waka Waka" sebenarnya bukan ciptaan murni Shakira yang turun dari langit. Ini adalah lagu yang dirakit dari potongan-potongan warisan Afrika, dipoles dengan sentuhan pop Kolombia, lalu dipersembahkan kembali ke benua tempat asal melodinya. Dan bagian "this time for Africa" bukan sekadar slogan turnamen—itu adalah pengakuan, semacam penghormatan, terhadap akar lagu itu sendiri.

Dari prajurit Kamerun ke panggung dunia: kisah di balik melodinya

Inti groove "Waka Waka" diambil dari lagu berjudul "Zangaléwa", yang dipopulerkan pada tahun 1986 oleh grup Kamerun bernama Golden Sounds (kemudian dikenal sebagai Zangaléwa). Lagu itu konon adalah lagu pawai para tentara—sebuah sindiran lucu sekaligus pedih tentang kehidupan militer di Afrika. Para anggota grup itu tampil mengenakan seragam tentara dengan bantalan dan kostum yang melebih-lebihkan bentuk tubuh, semacam parodi terhadap atasan-atasan kolonial yang gemuk. Lagu ini sudah jadi semacam lagu rakyat lintas generasi di banyak negara Afrika, dinyanyikan anak sekolah, pramuka, sampai tim olahraga, jauh sebelum Shakira menyentuhnya.

Ketika FIFA dan Sony mempersiapkan lagu resmi Piala Dunia 2010—turnamen pertama yang digelar di tanah Afrika—mereka menggandeng Shakira, penyanyi Kolombia keturunan Lebanon yang saat itu sudah menjadi salah satu bintang pop terbesar dunia berkat hits seperti "Hips Don't Lie" dan "Whenever, Wherever". Shakira menggarapnya bersama band Afrika Selatan Freshlyground, mencampurkan elemen soca, pop Latin, dan ritme Afrika. Penting dicatat: pihak Golden Sounds awalnya tidak mendapat pengakuan, dan setelah muncul keberatan, kesepakatan royalti dikabarkan dicapai—sebuah pengingat bahwa musik global sering kali dibangun di atas pundak seniman yang namanya tak tercetak besar.

Buat penggemar musik di Indonesia, ada simpul budaya yang menarik di sini. Indonesia adalah negara yang gila bola sekaligus gila musik dangdut—dan keduanya bertemu di "Waka Waka". Ketukan yang membuat orang ingin menggoyang pinggul, melodi yang menempel di kepala hanya dalam satu kali dengar, struktur "lagu pawai" yang mudah dinyanyikan beramai-ramai: semua itu adalah DNA yang sangat akrab di telinga pendengar Nusantara. Tidak heran "Waka Waka" begitu cepat diadopsi di sini, diputar di acara nobar, dijadikan backsound video sekolah, sampai dipakai joget di pesta pernikahan. Lagu ini terasa seperti sepupu jauh dangdut—energik, komunal, dan tanpa rasa malu untuk mengajak semua orang bergoyang.

Apa yang sebenarnya dinyanyikan Shakira

Inilah kejutan terbesarnya: kalau kamu duduk dan benar-benar mencerna liriknya, "Waka Waka" hampir tidak menyebut sepak bola secara harfiah. Tidak ada cerita tentang gol, tentang piala, tentang stadion. Yang ada justru sebuah pesan motivasi universal—dan justru itulah yang membuatnya bisa melampaui satu turnamen olahraga.

Lirik versi Inggrisnya berbicara tentang seseorang yang sudah sampai di sini, di titik ini, dan tidak akan mundur. Shakira menggambarkan momen ketika kamu merasa tertekan, ketika lawan terlihat lebih besar darimu, ketika rasanya kamu sudah terjatuh. Tapi pesannya adalah: bangun lagi. Saat kamu jatuh, kamu harus berdiri kembali dan terus maju. Ia melukiskan citra seorang prajurit—bukan tentara perang, melainkan prajurit kehidupan—yang memilih untuk menghadapi medan dengan dada terbuka. Ada perumpamaan tentang bagaimana tekanan dan kesulitan justru bisa menempa seseorang menjadi lebih kuat, seperti logam yang ditempa api.

Yang brilian adalah cara Shakira mengaitkan perjuangan pribadi ini dengan semangat kolektif sebuah benua. Frasa "this time for Africa" mengubah pesan individual menjadi pesan komunal: ini saatnya untuk bangkit, untuk diakui, untuk bersinar. Buat Afrika yang selama ini sering digambarkan media Barat lewat lensa kemiskinan dan konflik, Piala Dunia 2010 adalah momen untuk menunjukkan wajah lain—wajah perayaan, kebanggaan, dan kegembiraan. Lagu ini menjadi soundtrack dari pernyataan itu.

Bagian "waka waka eh eh" sendiri, yang dinyanyikan tanpa perlu diterjemahkan, berfungsi sebagai semacam mantra. Ada yang menafsirkannya sebagai dorongan untuk "lakukan saja" atau "ayo, bergeraklah". Justru karena maknanya cair dan tidak terikat satu bahasa, kalimat itu jadi milik semua orang—setiap pendengar di setiap negara bisa mengisinya dengan emosi mereka sendiri.

Konteks budaya dan warisan yang ditinggalkannya

"Waka Waka" menjadi salah satu lagu Piala Dunia tersukses sepanjang sejarah secara komersial. Video musiknya, yang menampilkan Shakira bergoyang di antara para pemain sepak bola dan menari bersama Freshlyground, menjadi salah satu video paling banyak ditonton di era awal YouTube—sebuah pencapaian yang nyaris tak terbayangkan untuk lagu non-Inggris penuh. Penampilan Shakira di upacara penutupan Piala Dunia 2010 di Soccer City, Johannesburg, tercatat sebagai salah satu momen panggung paling ikonik dekade itu.

Namun warisannya melampaui angka penjualan. "Waka Waka" mengukuhkan sebuah pola: bahwa lagu turnamen besar bisa menjadi jembatan budaya, bukan sekadar jingle pemasaran. Ia membuka jalan bagi perayaan musik dunia yang lebih beragam di panggung olahraga global. Dan dengan mengangkat melodi Afrika ke puncak tangga lagu dunia, lagu ini—meski lewat proses yang tidak sempurna soal pengakuan—turut menyalakan perhatian baru terhadap kekayaan musik benua itu.

Buat Shakira sendiri, lagu ini memperkuat posisinya sebagai salah satu artis Amerika Latin paling berpengaruh secara global, seseorang yang mampu menyeberangi sekat bahasa dan budaya dengan mulus. Ia bukan sekadar penyanyi pop; ia menjadi semacam duta budaya yang menari di persimpangan dunia Latin, Arab, dan Afrika—sebuah identitas campuran yang justru menjadi kekuatannya.

Ada juga catatan kontroversi yang jujur untuk diakui. Beberapa kritikus dan musisi Afrika sempat mempertanyakan mengapa lagu resmi Piala Dunia Afrika dinyanyikan oleh artis non-Afrika. Perdebatan ini sah dan penting—ia menyentuh pertanyaan besar tentang siapa yang boleh bercerita atas nama siapa. Tapi banyak juga yang melihatnya sebagai kolaborasi yang merayakan, terutama karena keterlibatan Freshlyground dan pengakuan akhir terhadap akar "Zangaléwa".

Kenapa lagu ini masih menggema sampai sekarang

Lebih dari satu dekade kemudian, "Waka Waka" tetap diputar—di acara olahraga, di kelas zumba, di playlist nostalgia, di video-video pendek media sosial. Daya tahannya bukan kebetulan. Lagu ini punya tiga lapisan yang masing-masing bekerja di tingkat berbeda.

Lapisan pertama adalah tubuh: ketukannya secara fisik membuat orang ingin bergerak, lintas usia dan lintas budaya. Lapisan kedua adalah memori: bagi siapa pun yang hidup di tahun 2010, lagu ini adalah kapsul waktu, langsung melempar mereka kembali ke musim panas penuh sorak-sorai vuvuzela. Lapisan ketiga, dan mungkin yang paling kuat, adalah pesannya yang abadi—bahwa kita semua, pada satu titik, perlu mendengar suara yang menyuruh kita bangun lagi setelah terjatuh.

Di Indonesia khususnya, lagu ini sudah jadi bagian dari memori kolektif penggemar bola. Ia melampaui status "lagu Barat" dan menjadi semacam milik bersama—sebuah ritme yang langsung dikenali dari nada pertama. Itulah tanda lagu yang benar-benar abadi: ketika ia berhenti menjadi milik satu artis atau satu negara, dan mulai menjadi milik semua orang yang pernah ikut bernyanyi.

Mungkin itulah pelajaran terindah dari "Waka Waka". Sebuah lagu pawai prajurit Kamerun dari tahun 1980-an, dirakit ulang oleh perempuan Kolombia keturunan Lebanon, dinyanyikan band Afrika Selatan, dipersembahkan ke seluruh dunia, lalu diadopsi dengan hangat oleh penggemar di Jakarta sampai Surabaya. Musik, pada akhirnya, memang tidak pernah benar-benar milik satu orang. Ia mengalir, dipinjam, ditempa, dan diberikan kembali—persis seperti pesan dalam liriknya sendiri.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Larut dalam suaranya

📚 Telusuri kisahnya

🌍 Kunjungi tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut:

Tags
10s