SONGFABLE · 2022

TV

BILLIE EILISH · 2022

TL;DR: "TV" bukan lagu cinta biasa, melainkan potret jujur tentang mematikan otak di depan layar televisi saat dunia terasa terlalu berat — sebuah lagu tentang disosiasi, kesepian pascaputus, dan rasa kecil di tengah berita raksasa yang tak henti mengalir.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Sebuah lagu yang lahir dari kelelahan, bukan patah hati

Kebanyakan orang mengira lagu bertempo lambat dengan gitar akustik pasti bercerita soal cinta yang kandas. "TV" memang punya aroma itu di permukaan, tetapi rahasianya jauh lebih menusuk: ini adalah lagu tentang apa yang kita lakukan ketika kita sudah tak sanggup merasakan apa-apa lagi. Kita menyalakan televisi. Kita menonton apa saja. Kita membiarkan cahaya biru layar mengisi ruangan supaya kita tak perlu mendengar pikiran sendiri.

Billie Eilish menulis lagu ini bersama kakaknya, Finneas O'Connell, dan merilisnya pada Juli 2022 dalam sebuah paket kejutan berjudul Guitar Songs — hanya dua lagu, "TV" dan "The 30th", tanpa album besar, tanpa gebrakan promosi raksasa. Keputusan itu sendiri sudah menjadi pernyataan. Alih-alih menunggu momen sempurna, Billie melempar dua lagu mentah yang terasa seperti halaman buku harian yang dibaca dengan suara pelan. "TV" adalah salah satu karyanya yang paling telanjang secara emosional, dan justru karena itu ia begitu menghantam.

Latar: gadis yang tumbuh besar di depan kamera, dan penonton di Indonesia yang mengerti rasa itu

Untuk memahami "TV", kita perlu ingat siapa Billie Eilish pada 2022. Ia baru berusia dua puluh tahun, sudah memenangi lemari penuh Grammy sejak remaja, dan hidupnya diamati jutaan pasang mata sejak ia masih belasan. Bayangkan tumbuh dewasa sementara setiap ekspresi wajahmu dibedah publik. Di titik itu, gagasan "kabur ke depan televisi" bukan sekadar kemalasan — ia adalah bentuk pelarian dari kenyataan yang terus-menerus menuntut.

Konon lagu ini pertama kali dibawakan secara langsung di panggung Manchester pada Juni 2022, jauh sebelum rilis resmi, dan reaksi penonton begitu kuat sehingga Billie dan Finneas memutuskan merilisnya cepat-cepat. Ada sesuatu yang jujur di situ: lagu ini terlalu relevan untuk ditahan.

Dan di sinilah pendengar Indonesia, khususnya generasi muda, punya sambungan yang genuine dengan "TV". Kita hidup di negara dengan salah satu populasi pengguna media sosial paling aktif di dunia. Kebiasaan binge-watching serial di layanan streaming, kebiasaan doomscrolling linimasa sampai larut malam, kebiasaan menonton drama apa pun sekadar agar kepala tidak diisi kecemasan sendiri — semua itu terasa sangat akrab bagi anak muda di Jakarta, Bandung, atau Surabaya. Percakapan tentang kesehatan mental yang belakangan makin terbuka di kalangan Gen Z Indonesia membuat "TV" terdengar seperti lagu yang menyebut sesuatu yang selama ini kita rasakan tapi jarang kita ucapkan dengan lantang. Billie tidak sedang menceramahi; ia sekadar mengaku, dan pengakuan itu terasa seperti izin bagi kita untuk mengakui hal yang sama.

Membedah maknanya: menonton demi tidak merasakan

Inti "TV" berputar di sekitar satu kebiasaan yang sangat manusiawi — memakai televisi sebagai obat bius. Dalam lagu ini, sang tokoh menggambarkan dirinya duduk berjam-jam di depan layar, menonton hal yang sama berulang-ulang, bukan karena tayangannya bagus, melainkan karena keheningan tanpa layar terasa terlalu menyakitkan. Ada rasa kesepian yang tebal: hubungan yang retak, teman-teman yang menjauh, perasaan ditinggalkan sendirian dengan pikiran yang tak bisa dimatikan.

Yang membuat lagu ini istimewa adalah caranya menyandingkan drama pribadi yang kecil dengan peristiwa dunia yang raksasa. Sang tokoh mengeluh soal masalah cintanya sendiri, lalu di saat bersamaan menyadari betapa remeh masalah itu ketika dibandingkan dengan berita besar yang sedang menggemparkan dunia. Ada rujukan yang cukup jelas ke suasana pertengahan 2022 — momen ketika perhatian publik tersedot ke sebuah persidangan selebriti yang sangat ramai diberitakan, dan momen ketika sebuah keputusan hukum besar di Amerika Serikat soal hak perempuan mengguncang banyak orang. Billie menyentuh betapa absurdnya masyarakat bisa begitu terpaku pada tontonan sensasional sementara hal-hal yang benar-benar penting berlalu begitu saja.

Di sinilah letak kecerdasan lagu ini. "TV" bukan sekadar keluhan pribadi; ia menangkap perasaan disosiasi kolektif — rasa mati rasa yang muncul ketika arus berita, tragedi, dan hiburan bercampur menjadi satu bubur tak berbentuk di layar kita. Ketika segalanya terjadi sekaligus dan terus-menerus, otak akhirnya menyerah dan memilih menonton apa saja demi bertahan. Tanpa pernah mengutip satu barisnya pun, kita bisa merasakan pesan lagu ini: kadang menyalakan televisi bukan tanda kita bahagia, melainkan tanda kita sedang berusaha keras untuk tidak hancur.

Aransemennya memperkuat semua itu. Gitar akustik yang nyaris kosong, suara Billie yang berbisik dan rapuh, lalu di bagian akhir muncul lapisan paduan suara yang membangun rasa lega sekaligus rasa terjebak. Di beberapa penampilan langsung, penonton ikut menyanyikan bagian penutup itu bersama-sama, dan momen kolektif tersebut mengubah lagu tentang kesendirian menjadi pengakuan bersama ribuan orang. Ironi yang indah: lagu tentang menonton sendirian justru menjadi paling bermakna ketika dinyanyikan beramai-ramai.

Konteks budaya dan warisannya

"TV" muncul di momen yang tepat. Tahun 2022 adalah masa ketika istilah seperti doomscrolling dan burnout menjadi kosakata sehari-hari, terutama di kalangan generasi muda yang tumbuh dengan ponsel di tangan. Dunia baru saja melewati tahun-tahun pandemi yang mengurung banyak orang di rumah, membuat layar menjadi jendela utama ke dunia luar sekaligus tembok yang mengurung. Ketika Billie merilis lagu tentang bersembunyi di depan televisi, ia sedang menamai sesuatu yang jutaan orang alami tanpa punya katanya.

Keputusan merilisnya sebagai bagian dari Guitar Songs — tanpa album, tanpa video musik megah — juga penting secara budaya. Ini menempatkan Billie dalam tradisi penulis lagu yang percaya bahwa kejujuran mentah lebih berharga daripada produksi mewah. Dibandingkan album Happier Than Ever (2021) yang lebih tertata, dua lagu ini terasa seperti coretan tangan yang belum dihapus. Banyak penggemar justru menganggapnya sebagai puncak kedekatan mereka dengan Billie: seperti mendengar teman dekat mencurahkan isi hati lewat panggilan telepon tengah malam.

Warisan "TV" tampak dari bagaimana lagu ini terus muncul dalam percakapan tentang kesehatan mental dan konsumsi media. Ia dipuji karena keberaniannya menyebut peristiwa dunia nyata secara langsung — hal yang jarang dilakukan bintang pop sebesar Billie tanpa terdengar menggurui. Lagu ini menunjukkan bahwa musik pop bisa menjadi cermin zaman tanpa kehilangan sisi intimnya.

Mengapa lagu ini masih relevan hari ini

Bertahun-tahun setelah rilis, "TV" justru terasa makin relevan, bukan makin usang. Arus informasi tidak melambat; ia makin deras. Kebiasaan mematikan otak di depan layar — entah televisi, entah ponsel — bukannya hilang, melainkan makin menjadi bagian dari cara kita bertahan hidup. Bagi pendengar Indonesia yang setiap hari berhadapan dengan linimasa tanpa ujung, notifikasi tanpa henti, dan tekanan untuk selalu peduli pada segala hal sekaligus, pesan lagu ini terasa seperti dituliskan kemarin.

Yang membuat "TV" abadi adalah kejujurannya yang tidak menghakimi. Billie tidak menyuruh kita berhenti menonton atau merasa bersalah karena menyerah pada layar. Ia hanya duduk bersama kita dalam kelelahan itu dan berkata, secara tidak langsung, bahwa kita tidak sendirian dalam mencoba melarikan diri. Ada penghiburan yang aneh namun nyata dalam mendengar seseorang mengakui bahwa mereka pun kadang terlalu lelah untuk merasakan apa pun.

Pada akhirnya, "TV" adalah lagu tentang menjadi manusia di zaman yang menuntut kita merasakan segalanya sepanjang waktu. Ia mengingatkan bahwa kadang tindakan paling manusiawi bukanlah bereaksi, melainkan sekadar bertahan — bahkan jika bertahan itu berarti duduk di sofa, menyalakan layar, dan membiarkan malam berlalu. Dan justru dalam pengakuan sederhana itulah lagu ini menemukan kekuatannya yang paling besar.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Meresapi suaranya

Mulailah dengan mendengarkan seluruh dwi-lagu Guitar Songs untuk merasakan bagaimana "TV" dan "The 30th" saling berbicara. Untuk memahami evolusi Billie, dengarkan juga album penuhnya yang lebih tertata. Kualitas rekamannya yang intim benar-benar terasa lewat perangkat audio yang layak.

📚 Menyusuri kisahnya

Perjalanan Billie dari kamar tidur di Los Angeles hingga panggung dunia sudah didokumentasikan dalam buku foto resmi dan sejumlah biografi. Membaca kisah keluarganya — terutama hubungan kreatifnya dengan Finneas — membantu memahami dari mana kejujuran lagu seperti "TV" berasal.

🌍 Mengunjungi tempatnya

"TV" pertama kali dibawakan langsung di Manchester, Inggris, saat tur Eropa Billie, dan kota itu punya sejarah musik yang kaya. Bagi yang ingin merasakan atmosfer panggung tempat lagu ini lahir, panduan perjalanan Inggris dan Manchester bisa jadi titik awal.

🎸 Merasakannya sendiri

"TV" dibangun di atas petikan gitar akustik yang sederhana, sehingga menjadi lagu yang bagus untuk dipelajari pemula. Ambil gitar akustik, buku akor, dan mungkin capo untuk menyesuaikan nada dengan suaramu, lalu coba mainkan sendiri di malam yang sepi.


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
20s