SONGFABLE · 2012

Some Nights

FUN. · 2012

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Some Nights - fun. (2012)

TL;DR: Di balik hentakan drum megah ala marching band dan paduan suara yang terdengar penuh kemenangan, "Some Nights" sebenarnya adalah lagu tentang kebingungan total — seorang pria yang tidak tahu lagi siapa dirinya, apa yang ia perjuangkan, dan apakah semua perjuangannya itu ada gunanya.

Lagu paling meriah tentang krisis identitas

Coba putar "Some Nights" di pesta, lalu perhatikan: semua orang akan ikut bersorak pada bagian "oh-oh-oh"-nya, menggerakkan kepala mengikuti drum yang menggelegar, merasa seperti baru saja memenangkan sesuatu. Tapi inilah ironi terbesarnya. Lagu yang terdengar seperti himne kemenangan ini, kalau Anda perhatikan kata-katanya baik-baik, justru adalah pengakuan seorang manusia yang sedang hancur dari dalam — yang tidak yakin pada apa pun lagi.

Itulah trik jenius dari fun.. Mereka membungkus kegelisahan eksistensial dalam kemasan yang begitu megah sampai-sampai kita tidak sadar sedang menyanyikan tentang keraguan kita sendiri. Bayangkan seseorang berdiri di atas bukit, berteriak sekuat tenaga ke arah langit malam, tapi yang ia teriakkan bukanlah "Aku menang!" melainkan "Aku tidak tahu apa yang aku lakukan dengan hidupku." Megah, tapi getir. Dan justru kombinasi itulah yang membuat lagu ini begitu menempel di kepala jutaan orang.

Tiga musisi yang nyaris menyerah sebelum meledak

Untuk memahami "Some Nights", kita perlu mundur sebentar ke kisah band yang membuatnya. fun. dibentuk pada 2008 oleh Nate Ruess, vokalis yang sebelumnya memimpin band bernama The Format. Ketika The Format bubar, Ruess konon merasa sangat terpukul — band itu adalah hidupnya. Ia kemudian menggandeng Andrew Dost dan Jack Antonoff (nama terakhir ini, ngomong-ngomong, kelak menjadi produser super-terkenal yang menggarap album Taylor Swift, Lana Del Rey, hingga Lorde).

Album debut mereka, Aim and Ignite (2009), tidak begitu meledak. Pada titik itu, band ini berada di persimpangan: lanjut atau menyerah. Lalu datanglah keputusan berani. Untuk album kedua, mereka menggandeng produser Jeff Bhasker — orang yang dikenal lewat kerja sama dengan Kanye West. Bhasker membawa sensibilitas hip-hop dan produksi modern ke dalam musik indie-rock mereka. Hasilnya adalah album Some Nights (2012), sebuah perpaduan aneh yang mestinya tidak masuk akal: rock dramatis ala Queen, paduan suara megah, drum perkusif ala hip-hop, dan — yang paling kontroversial — vokal yang diolah dengan Auto-Tune secara sengaja dan artistik.

Lagu titel "Some Nights" lahir dari periode penuh keraguan ini. Konon Ruess menulisnya saat sedang merenungkan apa makna semua perjuangannya selama ini di dunia musik, apakah ia sudah mengkhianati dirinya sendiri, dan ke mana arah hidupnya. Wajar saja kalau kebingungan itu begitu terasa nyata di setiap kata.

Bagi pendengar Indonesia, ada sesuatu yang mungkin terasa familiar di sini. Generasi yang tumbuh dengan lagu-lagu band Indonesia awal 2010-an — era ketika musik mainstream mulai bercampur dengan elemen-elemen baru — pasti mengenali momen ketika sebuah band memutuskan "kita pertaruhkan segalanya untuk satu album ini." Banyak musisi tanah air punya cerita serupa: album terakhir sebelum menyerah, yang justru malah jadi titik balik karier. "Some Nights" adalah versi Amerika dari momen taruhan terakhir itu.

Membongkar makna: kemenangan yang sebenarnya kekalahan

Mari kita uraikan apa yang sebenarnya diceritakan lagu ini, tanpa mengutip satu baris pun.

Inti lagunya adalah serangkaian pertanyaan yang tidak terjawab. Sang penyanyi mengakui bahwa ada malam-malam ketika ia merasa yakin akan tujuan hidupnya, tapi ada malam-malam lain ketika ia sama sekali tidak tahu untuk apa ia berjuang. Ia mempertanyakan apakah dirinya yang sekarang masih sama dengan dirinya yang dulu. Ada perasaan bahwa ia telah menukar jati dirinya demi sesuatu — mungkin demi kesuksesan, mungkin demi pengakuan — dan kini ia tidak yakin pertukaran itu sepadan.

Ada momen yang sangat menyentuh ketika ia berbicara tentang keluarganya. Sang penyanyi menggambarkan bagaimana ibunya pernah berkata sesuatu tentang dirinya, dan ada nada penyesalan tentang apakah ia sudah membuat orang-orang yang ia cintai bangga atau justru mengecewakan mereka. Ada pula bayangan tentang kematian — pertanyaan tentang apa yang akan dikenang darinya, cerita seperti apa yang akan diceritakan orang ketika ia sudah tiada.

Yang paling memukul adalah momen tenang di tengah lagu, ketika instrumen mereda dan suara penyanyi terdengar telanjang. Di situ ia mengakui betapa lelahnya ia. Pertarungan terus-menerus untuk membuktikan diri telah menguras tenaganya. Ini bukan kelelahan fisik biasa, melainkan kelelahan jiwa — capek mempertanyakan segalanya, capek tidak punya jawaban.

Lalu, paradoksnya, lagu kembali meledak ke koor megah seolah-olah semua keraguan itu bisa ditenggelamkan oleh suara yang lebih keras. Dan mungkin itulah pesan terdalamnya: kadang kita merayakan dengan paling keras justru ketika kita paling tidak yakin. Kita bernyanyi keras-keras supaya tidak mendengar suara ragu di dalam kepala kita sendiri.

Penggunaan Auto-Tune di sini pun bukan sekadar gaya. Banyak yang menafsirkannya sebagai metafora: suara manusia yang "diperbaiki" oleh mesin, sama seperti sang penyanyi yang merasa dirinya telah diubah, dipoles, dan dijadikan sesuatu yang bukan dirinya yang asli demi diterima dunia.

Konteks budaya dan jejak yang ditinggalkan

"Some Nights" dirilis sebagai single dan menjadi hit besar, menembus tangga lagu di banyak negara. Tapi sebenarnya bukan lagu ini yang pertama meledakkan fun. ke puncak — melainkan single sebelumnya dari album yang sama, "We Are Young" (berkolaborasi dengan Janelle Monáe), yang sempat bertengger di puncak Billboard Hot 100. Setelah "We Are Young" membuka pintu, "Some Nights" datang dan memantapkan posisi mereka sebagai salah satu band paling diperbincangkan di awal 2010-an.

Album Some Nights akhirnya membawa fun. memenangkan Grammy. Mereka meraih Best New Artist pada 2013 — sebuah pengakuan ironis untuk band yang sebenarnya sudah bertahun-tahun berjuang dan nyaris bubar. "Bintang baru" yang sudah hampir menyerah sebelum dunia menemukan mereka.

Dari segi budaya, lagu ini menandai momen penting: era ketika batas antara indie-rock, pop arena, dan produksi ala hip-hop mulai mencair. Suara megah-dramatis "Some Nights" — dengan drum-nya yang menggelegar dan koor stadion — membuka jalan bagi gelombang lagu-lagu "indie megah" yang mendominasi radio dan playlist sepanjang dekade 2010-an. Anda bisa mendengar DNA-nya di banyak lagu band seperti Imagine Dragons dan sejenisnya yang datang setelahnya.

Lagu ini juga jadi langganan di acara olahraga, iklan, dan momen-momen "epik" di acara televisi — sebuah ironi yang manis, karena lagu tentang kebingungan eksistensial malah dipakai untuk membakar semangat penonton. Tapi mungkin justru itulah bukti kekuatannya: emosi mentahnya begitu universal sampai bisa dipakai untuk apa saja.

Menariknya, tak lama setelah puncak ini, fun. justru vakum. Para anggotanya menempuh jalan masing-masing — Nate Ruess merilis materi solo, sementara Jack Antonoff melesat menjadi salah satu produser paling berpengaruh di industri musik dunia lewat proyek Bleachers dan kolaborasinya dengan deretan bintang pop terbesar. Dalam arti tertentu, kebingungan "ke mana arah hidupku" yang diteriakkan di "Some Nights" itu seolah menjadi nubuat bagi nasib band itu sendiri.

Mengapa lagu ini masih nyangkut sampai sekarang

Lebih dari satu dekade berlalu, "Some Nights" tetap terasa relevan, dan alasannya cukup sederhana: pertanyaan-pertanyaan dalam lagu ini tidak punya tanggal kedaluwarsa.

"Untuk apa aku berjuang?" "Apakah aku masih jadi diriku yang dulu, atau aku sudah berubah jadi orang lain demi sesuatu?" "Apakah orang tuaku bangga padaku?" Ini adalah pertanyaan yang dihadapi setiap orang yang pernah merasa terjebak antara mimpi dan kenyataan, antara siapa diri kita dulu dan siapa yang kita jadi sekarang. Dan di era media sosial sekarang ini — ketika semua orang sibuk menampilkan versi paling gemerlap dari hidup mereka sambil diam-diam merasa kosong — kontras antara kemegahan suara dan kehampaan makna dalam "Some Nights" terasa makin tajam.

Bagi anak muda Indonesia yang sedang menavigasi tekanan untuk "sukses", lagu ini terasa seperti teman yang jujur. Ia tidak berpura-pura bahwa hidup itu mudah atau bahwa semua perjuangan pasti berarti. Ia justru mengakui: ada malam ketika kamu yakin, ada malam ketika kamu hancur, dan tidak apa-apa untuk tidak punya semua jawaban. Tapi kamu tetap bisa bernyanyi keras-keras bersama orang lain, dan untuk sesaat, kebingungan itu terasa sedikit lebih ringan.

Itulah keajaiban "Some Nights". Ia mengubah keraguan menjadi sesuatu yang bisa dirayakan bersama. Dan selama manusia masih punya malam-malam ketika mereka tidak tahu harus berbuat apa, lagu ini akan terus berkumandang.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

📚 Ikuti kisahnya

🌍 Kunjungi tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanyakan lebih lanjut:

Tags
10s