SONGFABLE · 1974

Seasons in the Sun

TERRY JACKS · 1974

TL;DR: Lagu yang terdengar seperti balada perpisahan manis ini sebenarnya adalah surat wasiat seorang pria yang sedang sekarat — adaptasi dari chanson Prancis yang jauh lebih gelap dan sinis, yang oleh Terry Jacks diubah menjadi salah satu single terlaris dalam sejarah musik pop.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Lagu Ceria yang Ternyata Tentang Kematian

Coba ingat-ingat melodi "Seasons in the Sun". Riang, hangat, hampir seperti lagu anak-anak yang dinyanyikan di tepi pantai saat matahari terbenam. Banyak orang Indonesia yang tumbuh di era 70-an dan 80-an mengenal lagu ini dari radio, dari kaset kompilasi "Golden Memories", atau dari acara nostalgia di TVRI. Tapi di balik melodi yang ramah itu tersembunyi sebuah kenyataan yang mengejutkan: ini adalah lagu tentang seorang pria yang sedang menghitung hari-hari terakhirnya di dunia.

Sepanjang lagu, sang narator berpamitan satu per satu kepada orang-orang terpenting dalam hidupnya — sahabat masa kecilnya, ayahnya, dan seorang perempuan bernama Michelle. Ia mengenang masa-masa indah yang mereka lalui bersama, musim-musim penuh cahaya matahari, sambil mengakui bahwa waktunya sudah hampir habis. Kontras antara melodi yang cerah dan tema yang begitu kelam inilah yang membuat lagu ini begitu menghantui. Anda bisa mendengarnya seratus kali sebagai lagu nostalgia yang manis, lalu pada pendengaran ke seratus satu, tiba-tiba menyadari bahwa Anda sedang mendengarkan ucapan selamat tinggal terakhir seseorang.

Dan yang lebih mengejutkan lagi: versi aslinya jauh lebih gelap dari ini.

Dari Brussels ke Vancouver: Perjalanan Sebuah Lagu

Untuk memahami "Seasons in the Sun", kita harus mundur ke tahun 1961, ke dunia chanson Eropa. Lagu ini aslinya berjudul "Le Moribond" — secara harfiah berarti "Orang yang Sekarat" — karya Jacques Brel, penyanyi-penulis lagu legendaris asal Belgia yang dikenal dengan lirik-liriknya yang tajam, teatrikal, dan tanpa ampun. Dalam versi Brel, sang narator yang sekarat tidak hanya berpamitan dengan manis. Ia juga menyindir dengan pahit: salah satu orang yang ia pamiti adalah sahabatnya sendiri yang, menurut versi Brel, berselingkuh dengan istrinya. Ada kemarahan, ironi, dan kegetiran khas Brel di sana — kematian yang dihadapi dengan tawa sinis, bukan air mata.

Penyair Amerika Rod McKuen kemudian menerjemahkan lagu ini ke bahasa Inggris pada awal 1960-an, dan kelompok folk The Kingston Trio sempat merekamnya pada 1964. Tapi versi yang mengubah segalanya datang dari tempat yang tak terduga: Vancouver, Kanada.

Terry Jacks adalah musisi Kanada yang bersama istrinya saat itu, Susan Jacks, membentuk duo The Poppy Family — yang sempat mencetak hit "Which Way You Goin' Billy?" pada 1970. Terry mengenal "Le Moribond" dan menyimpan lagu itu di benaknya. Lalu terjadi sesuatu yang sangat personal: seorang sahabat dekatnya dikabarkan didiagnosis menderita leukemia dan meninggal tak lama kemudian. Pengalaman kehilangan inilah yang konon mendorong Terry untuk menghidupkan kembali lagu tersebut. Ia menulis ulang sebagian liriknya — menghaluskan sindiran pahit Brel tentang perselingkuhan, menggantinya dengan perpisahan yang lebih tulus dan sentimental — dan mengubah aransemennya menjadi pop yang cerah dengan sentuhan gitar yang ikonik.

Menariknya, Terry Jacks awalnya tidak berniat merilis lagu ini untuk dirinya sendiri. Ia dilaporkan sempat menawarkan dan mengerjakan lagu ini bersama The Beach Boys di studio — sesi yang akhirnya tidak pernah dirilis oleh band tersebut. Setelah proyek itu kandas, rekaman versi Terry sendiri tersimpan begitu saja. Konon, seorang anak laki-laki pengantar koran yang berteman dengan Terry mendengar lagu itu dan begitu menyukainya sehingga Terry akhirnya memberanikan diri merilisnya melalui label miliknya sendiri, Goldfish Records, pada akhir 1973.

Apa yang terjadi selanjutnya adalah sejarah. "Seasons in the Sun" meledak ke posisi nomor satu di tangga lagu Billboard Hot 100 Amerika pada awal 1974, bertahan di puncak selama tiga minggu, dan menguasai tangga lagu di Kanada, Inggris, dan berbagai negara lain. Lagu ini dilaporkan terjual lebih dari 10 juta kopi di seluruh dunia — menjadikannya salah satu single tersukses sepanjang dekade 1970-an, dan salah satu lagu Kanada terlaris sepanjang masa.

Bagi pendengar Indonesia, era ini punya resonansi tersendiri. Awal 70-an adalah masa keemasan musik pop melankolis di tanah air — era Koes Plus, Panbers, dan The Mercy's, ketika lagu-lagu sedih dengan melodi manis menjadi bahasa emosional bangsa. Tidak heran "Seasons in the Sun" menemukan rumah kedua di Indonesia: lagu ini masuk ke playlist radio, kaset-kaset kompilasi lagu Barat, dan kemudian menjadi lagu wajib di sesi karaoke dan acara perpisahan sekolah. Tema pamitan kepada sahabat dan keluarga terasa sangat dekat dengan budaya kita yang menjunjung tinggi ikatan persahabatan dan keluarga.

Membedah Makna: Tiga Perpisahan, Satu Kehidupan

Struktur lagu ini sebenarnya sangat sederhana dan justru di situlah kekuatannya. Sang narator, yang tahu ajalnya sudah dekat, berpamitan kepada tiga sosok — dan ketiganya mewakili tiga babak kehidupan manusia.

Perpisahan pertama ditujukan kepada sahabat karibnya sejak kecil. Sang narator mengenang bagaimana mereka tumbuh bersama: memanjat pohon dan bukit, belajar tentang cinta dan huruf, berbagi luka di lutut dan luka di hati. Ini adalah perpisahan dengan masa kanak-kanak itu sendiri — masa ketika dunia masih sederhana dan persahabatan adalah segalanya. Ada satu momen yang menyentuh: ia meminta sahabatnya untuk mengingatnya setiap kali melihat gadis-gadis yang dulu mereka kagumi bersama.

Perpisahan kedua ditujukan kepada sang ayah. Di sinilah lagu ini menjadi lebih kompleks. Sang narator mengakui bahwa ia bukanlah anak yang baik — ia sering membangkang, pulang larut, hidup terlalu liar. Ia berterima kasih kepada ayahnya yang mencoba mengajarinya tentang benar dan salah, sambil tersirat mengakui bahwa pelajaran itu mungkin datang terlambat. Ini adalah perpisahan yang penuh penyesalan, rekonsiliasi yang baru terjadi di ambang kematian — sesuatu yang universal dan menyakitkan, karena berapa banyak dari kita yang baru bisa berdamai dengan orang tua ketika waktu hampir habis?

Perpisahan ketiga ditujukan kepada Michelle. Dalam versi Terry Jacks, Michelle digambarkan sebagai sosok yang memberinya cinta dan membantunya menemukan matahari — kekasih atau mungkin, menurut sebagian penafsiran, sosok yang lebih ambigu. Di versi asli Brel, bagian ini jauh lebih pedas: ditujukan kepada istri yang tidak setia dan sahabat yang mengkhianatinya. Terry sengaja membuang racun itu dan menggantinya dengan kelembutan. Pilihan ini sering dikritik para puritan Brel sebagai "penjinakan", tapi justru pilihan inilah yang membuat lagu ini bisa diterima jutaan pendengar: ia menjadi lagu perpisahan yang murni, tanpa dendam.

Lalu ada refrain yang terkenal itu — pengakuan bahwa hidup ini penuh kegembiraan dan musim-musim di bawah matahari, tapi semua bukit dan musim semi yang pernah didaki dan dinikmati kini berada di luar jangkauan. Bait penutupnya bahkan menggunakan citra anggur dan lagu yang sudah melewati musimnya — metafora tentang hidup yang manis namun fana. Pesannya jelas tanpa perlu dieja: nikmati musimmu selagi matahari masih bersinar, karena tidak ada musim yang abadi.

Mengenai penyebab "kematian" sang narator, lagu versi Jacks sengaja dibiarkan ambigu. Versi Brel lebih eksplisit dalam nuansa sinisnya, sementara versi Jacks bisa dibaca sebagai sakit parah — yang cocok dengan kisah sahabat Terry yang menderita leukemia. Ambiguitas ini justru memperluas daya jangkau lagu: setiap pendengar bisa memproyeksikan kehilangannya sendiri.

Warisan: Dicintai, Diejek, dan Tetap Abadi

Nasib "Seasons in the Sun" dalam sejarah musik cukup unik: ia dicintai publik secara masif sekaligus kerap diejek para kritikus. Beberapa daftar "lagu terburuk sepanjang masa" versi media Barat memasukkan lagu ini — biasanya dengan alasan sentimentalitasnya yang dianggap berlebihan. Tapi penjualan lebih dari 10 juta kopi adalah jawaban yang sulit dibantah: lagu ini menyentuh sesuatu yang nyata dalam diri pendengarnya.

Ironisnya, kesuksesan raksasa ini justru membuat Terry Jacks mundur dari sorotan. Ia dilaporkan kewalahan dengan ketenaran mendadak dan kemudian memilih hidup yang lebih tenang di British Columbia, mendedikasikan dirinya pada aktivisme lingkungan — memperjuangkan kelestarian perairan pantai Kanada dari pencemaran industri. Seorang pria yang menyanyikan lagu tentang menghargai musim-musim kehidupan, lalu benar-benar memilih menjalani musim hidupnya jauh dari hiruk pikuk industri musik. Ada keselarasan yang puitis di sana.

Lagu ini juga terus hidup melalui berbagai versi daur ulang. Yang paling terkenal adalah versi boyband Irlandia Westlife pada 1999, yang menjadi hit nomor satu di Inggris — dan inilah pintu masuk generasi milenial Indonesia ke lagu ini. Di akhir 90-an dan awal 2000-an, Westlife adalah raja di Indonesia; kaset dan CD mereka ada di hampir setiap rumah yang punya tape deck. Banyak anak muda Indonesia mengenal "Seasons in the Sun" lewat suara Westlife dulu, baru kemudian menemukan versi Terry Jacks — dan lebih jauh lagi, versi Brel yang asli. Ada juga versi punk dari Nirvana — ya, band Kurt Cobain — yang merekamnya secara informal di studio pada awal 90-an; rekaman itu dirilis setelah kematian Cobain, dan konteks tersebut memberikan lapisan kepedihan baru pada lagu ini, karena dikabarkan lagu ini adalah salah satu favorit masa kecil Cobain.

Di Indonesia sendiri, lagu ini menempati ruang budaya yang khas: lagu perpisahan. Dimainkan di acara pelepasan siswa, dinyanyikan saat teman pindah kota, diputar di radio setiap kali ada momen kehilangan kolektif. Melodi yang mudah dinyanyikan dan tema perpisahan yang universal membuatnya menyatu dengan tradisi kita yang memang gemar mengantar kepergian dengan lagu — dari "Gelang Sipaku Gelang" sampai "Kemesraan". "Seasons in the Sun" adalah versi Barat dari ritual yang sama.

Mengapa Lagu Ini Masih Menggetarkan Hati

Lima puluh tahun lebih setelah dirilis, mengapa lagu ini masih bertahan? Jawabannya sederhana: karena ia berbicara tentang satu-satunya kepastian dalam hidup dengan cara yang bisa kita telan.

Kebanyakan budaya — termasuk budaya kita — tidak punya banyak ruang untuk membicarakan kematian secara terbuka. "Seasons in the Sun" menyelundupkan percakapan itu melalui melodi yang ramah. Ia mengajarkan sesuatu yang sangat selaras dengan kearifan Timur: bahwa hidup itu seperti musim, ada masa berbunga dan ada masa gugur, dan kebijaksanaan tertinggi adalah mensyukuri musim yang sedang kita jalani. Dalam bahasa anak sekarang: lagu ini adalah memento mori yang bisa di-singalong.

Di era media sosial, ketika kita terobsesi mendokumentasikan setiap momen tapi jarang benar-benar menghayatinya, pesan lagu ini terasa makin relevan. Sang narator tidak menyesali hidupnya yang akan berakhir — ia mensyukuri musim-musim matahari yang pernah ia miliki. Bukan kebetulan jika lagu ini terus diputar di pemakaman, acara perpisahan, dan momen-momen ketika kata-kata biasa terasa tidak cukup.

Dan mungkin di situlah letak keajaibannya: sebuah lagu Belgia yang sinis, diterjemahkan penyair Amerika, dijinakkan musisi Kanada yang sedang berduka, lalu dinyanyikan di ruang-ruang karaoke Jakarta dan acara perpisahan SMA di Surabaya. Kematian dan perpisahan ternyata adalah bahasa yang paling universal — dan "Seasons in the Sun" menemukan cara membuatnya bisa dinyanyikan bersama-sama, sambil tersenyum, sambil menahan air mata.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

📚 Ikuti kisahnya

🌍 Kunjungi tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut:

Tags
70s