SONGFABLE · 1966

Scarborough Fair

SIMON & GARFUNKEL · 1966

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Scarborough Fair - Simon & Garfunkel (1966)

TL;DR: Yang terdengar seperti lagu cinta lembut nan damai sebenarnya adalah teka-teki kejam dari seorang kekasih yang patah hati — daftar tugas mustahil yang dirancang supaya tak akan pernah bisa diselesaikan, sekaligus, dalam versi Simon & Garfunkel, sebuah protes anti-perang yang disembunyikan di balik melodi tua berusia ratusan tahun.

Lagu cinta paling lembut yang sebenarnya berisi tuntutan mustahil

Coba dengarkan "Scarborough Fair" untuk pertama kali, dan kemungkinan besar Anda akan merasa diselimuti ketenangan. Gitar petik yang halus, harmoni vokal Paul Simon dan Art Garfunkel yang seperti melayang, suasana yang terasa kuno dan suci sekaligus. Banyak orang menjadikannya lagu pernikahan. Banyak juga yang memutarnya saat ingin menenangkan diri.

Tapi di balik kelembutan itu, sebenarnya ada sesuatu yang nyaris kejam. Sang penyanyi menitipkan pesan kepada seseorang yang akan pergi ke pasar di kota Scarborough — pesan untuk seseorang yang dulu pernah ia cintai. Dan permintaannya bukan "sampaikan salamku" atau "katakan aku merindukannya". Permintaannya adalah serangkaian tugas yang secara fisik tidak mungkin dilakukan: membuat kemeja tanpa jahitan, mencari sebidang tanah di antara air laut dan pantai, memanen hasil dengan alat yang sama sekali tidak masuk akal.

Inti dari teka-teki kuno ini begitu pahit: hanya jika kamu bisa melakukan hal yang mustahil, barulah kamu akan kembali menjadi cinta sejatiku. Dengan kata lain — tidak akan pernah. Inilah kepedihan yang dibungkus rapi dalam balutan melodi terindah. Dan itulah salah satu alasan mengapa lagu ini begitu menghantui: ia terdengar seperti pengampunan, padahal sebenarnya ia adalah pintu yang ditutup selamanya.

Dari balada rakyat berusia berabad-abad ke kamar tidur generasi 60-an

"Scarborough Fair" bukan ciptaan Simon & Garfunkel. Lagu ini adalah balada rakyat Inggris yang akarnya, konon, bisa ditelusuri hingga ke abad pertengahan — mungkin terkait dengan balada lama berjudul "The Elfin Knight", di mana seorang makhluk gaib menuntut tugas-tugas mustahil dari seorang gadis sebelum ia mau menikahinya. Sang gadis pun membalas dengan tuntutan yang sama mustahilnya. Jadi sejak awal, ini adalah lagu tentang pertarungan teka-teki antara dua hati yang tak mau kalah.

Scarborough sendiri adalah kota pelabuhan di pesisir timur laut Inggris yang dahulu terkenal dengan pasar dagang besarnya yang berlangsung berhari-hari. Ratusan tahun lalu, pasar itu menjadi tempat orang dari berbagai penjuru berkumpul, berdagang, dan tentu saja, berjumpa serta berpisah. Maka latar "pasar" dalam lagu ini bukan kebetulan — ia adalah simbol pertemuan dan perpisahan, tempat di mana titipan pesan untuk seorang mantan kekasih terasa masuk akal.

Lalu bagaimana lagu tua ini sampai ke telinga dunia modern? Ceritanya menarik. Paul Simon dikatakan mempelajari versi lagu ini dari seorang musisi folk Inggris bernama Martin Carthy saat Simon tinggal di Inggris pada pertengahan 1960-an. Carthy punya aransemen gitar yang indah, dan ia mengajarkannya secara terbuka, sebagaimana semangat komunitas folk saat itu. Belakangan sempat muncul ketegangan soal kredit penulisan, karena versi Simon & Garfunkel didaftarkan sebagai aransemen mereka — sebuah isu yang, menurut banyak cerita, baru benar-benar berdamai bertahun-tahun kemudian ketika Simon mengundang Carthy untuk tampil bersamanya di atas panggung. Bagi penggemar musik, kisah ini adalah pengingat bahwa lagu folk hidup dari tangan ke tangan, bukan dari satu pengarang tunggal.

Bagi pendengar di Indonesia, ada satu jembatan budaya yang menarik di sini. Generasi yang tumbuh dengan koleksi piringan hitam dan kaset musik Barat di Indonesia tahun 70-an dan 80-an sangat mungkin mengenal Simon & Garfunkel lewat lagu seperti "The Sound of Silence" atau "Bridge Over Troubled Water". "Scarborough Fair" adalah pintu masuk yang lebih halus ke dunia mereka — dan struktur "teka-teki mustahil dari sang kekasih" sebenarnya punya gema dengan tradisi pantun dan sastra lisan Nusantara, di mana cinta sering diuji lewat sayembara atau syarat yang sulit dipenuhi. Bagi telinga yang akrab dengan kisah putri yang hanya mau menerima pinangan jika sang pemuda menyanggupi tugas mustahil, lagu Inggris berusia ratusan tahun ini akan terasa anehnya familiar.

Membaca ulang sang teka-teki: bunga, perang, dan pesan yang disembunyikan

Mari kita bongkar makna yang sebenarnya, tanpa mengutip satu baris pun. Ada dua lapisan yang membuat versi ini begitu istimewa.

Lapisan pertama adalah teka-teki cinta yang sudah kita singgung. Sang penyanyi menitipkan permintaan-permintaan yang tak mungkin dipenuhi kepada mantan kekasihnya. Sepanjang lagu, ada satu rangkaian nama tumbuhan yang diulang-ulang — empat jenis herba dapur yang umum di Eropa. Banyak pendengar menganggapnya sekadar pemanis puitis, tapi ada tafsir lama yang menyebut bahwa keempat herba ini, dalam simbolisme rakyat, mewakili kualitas-kualitas yang diharapkan ada dalam hubungan yang sehat: kesetiaan, kelembutan, kekuatan, dan kesabaran. Jika tafsir ini benar, maka sang penyanyi sedang bergumam tentang segala hal yang seharusnya menyelamatkan hubungan mereka — tepat di saat ia menyadari bahwa hubungan itu sudah mustahil diperbaiki, sama mustahilnya dengan tugas-tugas yang ia mintakan.

Lapisan kedua inilah yang menjadi sentuhan khas Simon & Garfunkel, dan ini sering membuat pendengar terkejut. Dalam rekaman tahun 1966 di album Parsley, Sage, Rosemary and Thyme, mereka tidak hanya menyanyikan balada lama itu. Art Garfunkel menyusun apa yang disebut "Canticle" — sebuah lagu kedua yang dinyanyikan secara bersamaan, ditenun di sela-sela melodi utama. Lirik "Canticle" ini diambil dan diadaptasi dari karya Paul Simon sebelumnya, dan isinya adalah gambaran tentang perang: tentang seorang prajurit, tentang medan tempur, tentang perintah untuk membunuh yang sudah tak lagi dipertanyakan oleh siapa pun.

Maka yang terjadi di rekaman itu sungguh cerdik. Melodi cinta yang lembut dari masa lalu mengalir di permukaan, sementara di bawahnya, seperti arus gelap, mengalir sebuah ratapan tentang anak-anak muda yang mati di perang. Ini adalah pertengahan 1960-an, saat Amerika semakin dalam terseret ke Perang Vietnam. Tanpa pernah menyebut Vietnam secara langsung, lagu ini menempelkan keindahan masa lalu yang tenang dengan kengerian masa kini — dan kontras itu justru membuat pesan anti-perangnya jauh lebih menusuk daripada sebuah teriakan protes yang lantang.

Mengapa lagu ini menjelma menjadi ikon budaya

Titik balik popularitas global "Scarborough Fair" datang dari layar lebar. Pada 1967, film The Graduate yang dibintangi Dustin Hoffman menggunakan musik Simon & Garfunkel sebagai jiwa soundtrack-nya. Meski "Mrs. Robinson" yang paling diingat dari film itu, kehadiran musik duo ini membuat seluruh dunia mendengarkan mereka dengan cara baru, dan minat terhadap album Parsley, Sage, Rosemary and Thyme ikut melonjak. Lagu folk tua tiba-tiba menjadi suara sebuah generasi.

Sejak itu, "Scarborough Fair" sudah dinyanyikan ulang oleh tak terhitung banyaknya musisi lintas genre — dari penyanyi folk, vokalis klasik silang (crossover), sampai aransemen orkestra dan versi instrumental yang sering muncul di iklan dan film. Setiap generasi seakan menemukan kembali lagu ini dan menempelkan maknanya sendiri. Sebagian memutarnya sebagai lagu kerinduan murni, lupa atau tak tahu soal lapisan anti-perang di baliknya. Sebagian lainnya justru jatuh cinta justru karena tahu rahasia gelap itu.

Yang menarik, lagu ini juga menjadi semacam jembatan budaya. Karena melodinya begitu universal dan strukturnya begitu sederhana, ia sering menjadi lagu pertama yang dipelajari oleh banyak orang yang baru belajar fingerstyle pada gitar. Pola petikan ala Martin Carthy itu — yang diteruskan Paul Simon — adalah semacam ritus peralihan bagi gitaris pemula di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, di mana komunitas fingerstyle dan akustik tumbuh subur lewat YouTube dan kafe-kafe musik akustik.

Mengapa ia masih menggetarkan kita hari ini

Ada alasan mengapa lagu berusia lebih dari setengah abad — dan bermelodi berabad-abad — ini tak kunjung pudar.

Pertama, ia menangkap satu perasaan manusiawi yang abadi: rindu pada seseorang yang sudah tahu pasti tak akan kembali. Bukan amarah, bukan kebencian, melainkan kerinduan yang sudah berdamai dengan ketidakmungkinannya sendiri. Tuntutan-tuntutan mustahil dalam lagu ini sebenarnya adalah cara halus untuk berkata, "Aku tahu kita sudah selesai." Setiap orang yang pernah melepaskan seseorang dengan senyum getir akan mengenali perasaan ini.

Kedua, kontras antara keindahan dan kengerian dalam versi 1966 terasa makin relevan di dunia yang masih dipenuhi perang. Cara lagu ini menyelundupkan protes ke dalam keindahan — alih-alih meneriakkannya — adalah pelajaran seni yang masih ditiru banyak musisi hari ini. Pesan yang dibisikkan kadang menancap lebih dalam daripada yang diteriakkan.

Ketiga, di era streaming yang serba cepat dan bising, "Scarborough Fair" menawarkan keheningan yang langka. Ia mengajak pendengar untuk berhenti, bernapas, dan merasakan ruang di antara nada. Bagi pendengar muda di Indonesia yang menemukannya lewat playlist "lagu akustik menenangkan" atau lewat film, lagu ini sering menjadi pintu masuk ke seluruh dunia musik folk Barat era 60-an — dan begitu mereka tahu bahwa lagu damai ini menyimpan teka-teki kejam dan ratapan perang, ketertarikan mereka biasanya berubah menjadi obsesi kecil yang menyenangkan.

Itulah sihir "Scarborough Fair": ia menyambut Anda dengan kelembutan, lalu perlahan-lahan mengungkap bahwa di bawah permukaannya yang tenang, tersembunyi seluruh kedalaman kehilangan, kerinduan, dan kemarahan yang halus terhadap dunia yang penuh kekejaman.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Larut dalam suaranya

📚 Ikuti kisahnya

🌍 Kunjungi tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanyakan lebih banyak:

Tags
60s