SONGFABLE · 2017

Rockstar

POST MALONE · 2017

TL;DR: Meski judulnya "Rockstar", lagu ini sebenarnya bukan perayaan gaya hidup rock klasik, melainkan potret gelap dan melankolis tentang bagaimana kesuksesan hip-hop modern membeli kemewahan sekaligus kehampaan, kecanduan, dan paranoia yang datang bersamanya.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Kesuksesan yang Terdengar Seperti Kesedihan

Coba dengarkan "Rockstar" sekali lagi tanpa memperhatikan liriknya, hanya nada dan suasananya. Yang muncul bukanlah energi meledak-ledak khas panggung rock, melainkan sesuatu yang justru terasa lambat, kabur, dan sedikit hampa. Di situlah letak trik cerdas dari lagu ini. Post Malone dan 21 Savage mengambil semua simbol kejayaan, uang, obat-obatan, senjata, wanita, ketenaran, lalu membungkusnya dalam produksi yang terdengar seperti seseorang yang mabuk sendirian di kamar hotel mewah pada pukul empat pagi.

Banyak pendengar pertama kali mengira ini adalah lagu perayaan. Padahal jika kita menyimak lebih dalam, "Rockstar" justru terasa seperti pengakuan yang lelah. Sang penyanyi tidak sedang berpesta dengan gembira, ia sedang mendaftar apa saja yang sudah ia miliki, dengan nada yang nyaris tanpa emosi. Kemewahan disebut satu per satu bukan sebagai kebanggaan, tetapi hampir seperti daftar barang yang sudah kehilangan maknanya. Inilah yang membuat lagu ini terasa modern dan sekaligus resah: gaya hidup rockstar di era ini bukan lagi soal kebebasan liar, melainkan soal kekosongan yang dibungkus emas.

Dari Pinggiran Texas ke Puncak Dunia

Untuk memahami "Rockstar", kita perlu mengenal sosok di baliknya. Austin Richard Post, yang dikenal sebagai Post Malone, lahir di Syracuse, New York, pada 1995, lalu pindah ke Grapevine, Texas, saat masih kecil. Ayahnya bekerja sebagai manajer konsesi untuk tim football Dallas Cowboys, yang membuat Austin muda tumbuh dikelilingi berbagai jenis musik, mulai dari country, rock klasik, hingga hip-hop. Ia bahkan sempat bermain gitar dan menyukai band-band rock keras sebelum akhirnya menemukan dunia rap dan produksi digital.

Latar belakang campuran inilah yang membuat musik Post Malone sulit dikotakkan. Ia bukan rapper murni, bukan penyanyi pop murni, bukan pula musisi rock. Ia adalah perpaduan dari semuanya, dan "Rockstar" adalah manifestasi paling jelas dari identitas hibrida itu. Lagu ini dirilis pada September 2017 sebagai singel utama dari album keduanya, "beerbongs & bentleys", dan langsung meledak. Konon lagu ini bertahan di posisi puncak tangga lagu Billboard Hot 100 Amerika selama delapan minggu berturut-turut, sebuah pencapaian besar untuk seorang artis yang saat itu masih dianggap pendatang baru.

Bagi penggemar musik di Indonesia, ada satu benang merah yang menarik. Era 2017 adalah masa ketika layanan streaming seperti Spotify dan platform seperti YouTube benar-benar mengubah cara anak muda Indonesia mendengarkan musik Barat. "Rockstar" menjadi salah satu lagu yang paling sering diputar di playlist, dinyanyikan di kafe, dan diputar ulang di ponsel banyak remaja Jakarta hingga Surabaya. Post Malone, dengan penampilannya yang penuh tato dan gayanya yang santai, terasa dekat dan tidak jauh dari citra bintang yang sombong. Ia menjadi semacam bintang generasi streaming, dan Indonesia, sebagai salah satu pasar streaming terbesar di Asia Tenggara, ikut menobatkannya. Kolaborasinya dengan 21 Savage, rapper kelahiran Inggris yang besar di Atlanta, menambah bobot jalanan yang membuat lagu ini terasa autentik sekaligus dingin.

Membedah Makna: Kemewahan yang Kehilangan Rasa

Inti dari "Rockstar" bisa dipahami sebagai perbandingan antara gaya hidup musisi masa kini dengan mitos rockstar zaman dahulu. Sang narator menyamakan dirinya dengan legenda rock, tetapi konteksnya sudah bergeser sepenuhnya. Jika bintang rock era 1970-an dikenang karena kegilaan panggung dan pemberontakan, versi Post Malone justru berbicara tentang kekayaan yang berlebihan, obat-obatan sebagai pelarian, dan bahaya yang selalu mengintai di sekitar orang terkenal.

Sepanjang lagu, sang penyanyi menggambarkan bagaimana ketenaran mengubah segalanya. Ada nada bangga saat menyebut kemewahan, tetapi selalu ada bayang-bayang gelap yang menyertai. Ia menyinggung soal kehidupan yang penuh risiko, tentang orang-orang di sekitarnya yang membawa senjata, tentang wanita yang datang dan pergi, dan tentang penggunaan obat penenang yang membuat hari-hari terasa kabur. Yang penting untuk dipahami, semua ini tidak digambarkan sebagai kesenangan murni. Ada rasa waspada dan letih yang terus mengalir di bawah permukaan.

Bagian yang dinyanyikan 21 Savage menambahkan dimensi lebih keras dan lebih nyata. Ia berbicara dari sudut pandang seseorang yang tumbuh di lingkungan berbahaya, di mana kekerasan bukan sekadar citra melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Kontras antara suara Post Malone yang melodius dan mengambang dengan gaya rap 21 Savage yang datar dan mengancam menciptakan ketegangan yang justru menjadi kekuatan lagu ini. Seolah-olah kita mendengar dua sisi dari mimpi yang sama: satu sisi yang melayang dalam kemewahan, satu sisi lagi yang tetap membumi dalam bahaya.

Jika diringkas dalam satu gagasan, "Rockstar" adalah tentang harga dari kesuksesan. Ia menunjukkan bahwa mencapai puncak tidak selalu membawa kebahagiaan. Kadang yang datang justru adalah isolasi, paranoia, dan ketergantungan pada hal-hal yang membuat mati rasa. Inilah yang membedakan lagu ini dari sekadar lagu pesta biasa. Di balik kilau permukaannya, ada pesan yang jauh lebih murung.

Konteks Budaya dan Warisannya

"Rockstar" muncul pada momen penting dalam sejarah musik populer. Tahun 2017 adalah puncak dari apa yang sering disebut era "melodic rap" atau "mumble rap", ketika batas antara menyanyi dan merap menjadi kabur, dan ketika suasana atau vibe sebuah lagu sering kali lebih penting daripada kejelasan liriknya. Post Malone menjadi salah satu wajah paling menonjol dari gerakan ini. Ia menunjukkan bahwa seorang artis bisa sukses besar tanpa harus terikat pada satu genre.

Lagu ini juga menandai pergeseran dalam bagaimana kita mendefinisikan "rockstar" itu sendiri. Dulu gelar itu milik para gitaris dan vokalis band. Kini, di era hip-hop yang mendominasi budaya pop global, seorang rapper bisa menyandang gelar yang sama, bahkan mungkin lebih layak. Post Malone secara sadar mengambil kata itu dan mendefinisikan ulang maknanya untuk generasinya. Ia seakan berkata bahwa rockstar sejati abad ke-21 adalah mereka yang menguasai tangga lagu digital, bukan panggung stadion penuh amplifier.

Dampak "Rockstar" juga terasa dalam angka. Lagu ini menjadi salah satu singel paling banyak diputar sepanjang masa di platform streaming, dan konon meraih sertifikasi diamond di Amerika, menandakan penjualan dan streaming yang setara dengan puluhan juta kopi. Ia membantu mengukuhkan Post Malone sebagai salah satu artis paling komersial di dekade itu. Bagi banyak pendengar muda, "Rockstar" adalah pintu masuk pertama mereka ke dunia hip-hop yang lebih melankolis dan reflektif, sebuah jembatan antara pop yang mudah dicerna dan rap yang lebih dalam.

Menariknya, lagu ini juga memicu perdebatan. Sebagian kritikus mempertanyakan apakah seorang artis kulit putih dari pinggiran Texas layak menyandang mahkota dalam genre yang berakar pada budaya kulit hitam Amerika. Diskusi semacam ini menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan Post Malone dan mencerminkan pertanyaan-pertanyaan lebih besar tentang identitas, apropriasi, dan siapa yang berhak atas mimpi rockstar itu sendiri.

Mengapa Lagu Ini Masih Relevan Hari Ini

Bertahun-tahun setelah dirilis, "Rockstar" tetap terdengar segar dan relevan. Salah satu alasannya adalah tema universal yang diangkatnya. Setiap generasi memiliki mimpinya sendiri tentang kesuksesan, dan setiap generasi pada akhirnya harus berhadapan dengan pertanyaan apakah kesuksesan itu benar-benar membawa kebahagiaan. Lagu ini menangkap ambivalensi itu dengan sempurna: kegembiraan mencapai puncak yang bercampur dengan kekosongan yang menyertainya.

Di era media sosial, ketika begitu banyak orang muda memamerkan gaya hidup ideal di layar sambil diam-diam bergulat dengan kecemasan dan tekanan, pesan "Rockstar" terasa semakin tajam. Lagu ini seolah menjadi soundtrack bagi generasi yang tumbuh dengan tekanan untuk selalu tampil sukses, namun sering kali merasa hampa di baliknya. Kesenjangan antara citra yang dipamerkan dan kenyataan yang dirasakan adalah tema yang tidak pernah ketinggalan zaman.

Bagi pendengar di Indonesia, di mana budaya pamer kesuksesan di media sosial juga sangat kuat dan di mana tekanan untuk berhasil begitu nyata di kalangan anak muda urban, resonansi ini terasa dekat. "Rockstar" mengingatkan kita bahwa di balik setiap kilau kemewahan, selalu ada cerita manusia yang lebih rumit. Dan mungkin justru kejujuran yang murung itulah yang membuat lagu ini terus diputar, dinyanyikan, dan dirasakan hingga hari ini, jauh melampaui tren sesaat yang melahirkannya.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Selami suaranya

Cara terbaik memahami "Rockstar" adalah mendengarkannya dalam konteks album penuhnya. Album "beerbongs & bentleys" memperlihatkan seluruh spektrum emosi Post Malone, dari pesta hingga kesedihan mendalam.

📚 Ikuti kisahnya

Untuk mengerti dari mana lagu ini datang, ada baiknya menyelami sejarah dan budaya hip-hop modern yang melahirkannya.

🌍 Kunjungi tempatnya

Kisah Post Malone berakar di Amerika, dari Texas hingga panggung-panggung besar dunia. Menyelami budaya musik Amerika bisa memperdalam apresiasi.

🎸 Rasakan sendiri

Post Malone bermula sebagai pemain gitar sebelum menjadi bintang. Mencoba membuat musik sendiri adalah cara paling langsung untuk terhubung dengan semangatnya.


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
10s