SONGFABLE · 1977

One Love

BOB MARLEY · 1977

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

One Love - Bob Marley (1977)

TL;DR: Lagu yang terdengar seperti himne damai universal ini sebenarnya berakar pada keyakinan religius Rastafari yang spesifik dan keras, lahir di tengah kekerasan politik Jamaika yang nyaris merenggut nyawa Bob Marley sendiri. "One Love" bukan sekadar ajakan berpelukan, melainkan doa untuk penyatuan umat manusia di bawah satu Tuhan.

Sebuah himne damai yang lahir dari peluru

Kalau kamu mendengar "One Love" hari ini, kemungkinan besar lagu ini muncul di iklan liburan ke Karibia, di playlist pernikahan, atau sebagai latar video kampanye persaudaraan global. Melodi reggae-nya yang ringan dan refrain yang mudah diikuti membuatnya terasa seperti lullaby untuk seluruh planet. Tapi inilah kejutan yang jarang disadari pendengar: lagu yang terdengar paling lembut dalam katalog Bob Marley ini ditulis dan disempurnakan oleh seorang pria yang hidupnya sedang diburu kekerasan politik, dan keyakinan damai di baliknya jauh lebih tajam serta spesifik daripada slogan "cinta untuk semua".

"One Love" bukan ajakan kosong agar semua orang bersikap baik. Ini adalah pernyataan spiritual. Marley sedang berbicara tentang gagasan bahwa seluruh umat manusia, di bawah segala perbedaan ras, kelas, dan bangsa, sesungguhnya satu keluarga di mata satu Pencipta. Pesannya begitu kuat sampai-sampai pada akhir abad ke-20, BBC menobatkan "One Love" sebagai lagu milenium. Bayangkan: dari sekian banyak lagu sepanjang seribu tahun, sebuah lagu reggae dari pulau kecil di Karibia yang dipilih untuk mewakili harapan kemanusiaan. Itu bukan kebetulan.

Dari Trench Town ke panggung dunia

Untuk memahami lagu ini, kamu perlu mengenal pria di baliknya. Robert Nesta Marley lahir tahun 1945 di sebuah desa pedesaan Jamaika, anak dari ibu kulit hitam Jamaika dan ayah kulit putih Inggris yang nyaris tak hadir dalam hidupnya. Sebagai anak berdarah campuran di masyarakat yang sangat sadar warna kulit, Marley tumbuh dengan merasakan langsung apa artinya tidak sepenuhnya diterima di mana pun — sebuah luka yang, menurut banyak penulis biografinya, ikut membentuk obsesinya pada gagasan persatuan.

Keluarganya pindah ke Trench Town, kawasan kumuh di Kingston yang keras dan penuh kemiskinan. Justru di sanalah musiknya tumbuh. Bersama Peter Tosh dan Bunny Wailer, Marley membentuk The Wailers. Versi awal "One Love" sebenarnya sudah muncul pada pertengahan 1960-an dalam gaya ska yang lebih cepat dan ceria. Tetapi lagu itu mengalami transformasi besar. Pada tahun 1977, Marley merekam ulang dan menggabungkannya dengan elemen lagu gospel klasik "People Get Ready" karya Curtis Mayfield, sehingga kredit penulisan akhirnya mencantumkan nama Mayfield juga. Hasilnya muncul di album legendaris Exodus, album yang dibuat saat Marley sedang dalam pengasingan di London.

Mengapa pengasingan? Inilah bagian yang sering dilewatkan. Pada Desember 1976, beberapa hari sebelum konser perdamaian "Smile Jamaica", orang-orang bersenjata menyerbu rumah Marley dan menembaknya. Ia, istrinya Rita, dan manajernya terluka. Kala itu Jamaika sedang terbelah oleh perang politik berdarah antara dua partai besar, dan Marley dianggap terlalu berpengaruh untuk dibiarkan netral. Ia tetap tampil di konser itu dengan luka di tubuhnya, lalu meninggalkan negaranya. Justru dalam pelarian itulah album Exodus dan versi definitif "One Love" lahir. Lagu tentang persatuan ditulis ulang oleh seseorang yang baru saja merasakan betapa rapuhnya hidup ketika manusia memilih kebencian.

Buat kamu yang mendengarkan dari Indonesia, ada benang merah yang menarik. Reggae mungkin lahir di Jamaika, tetapi sedikit negara di luar Karibia yang merangkulnya sehangat Indonesia. Dari Bali sampai panggung-panggung di Jawa, sosok seperti Tony Q Rastafara dan Steven & Coconut Treez membangun gelombang reggae lokal yang masif, dan wajah Bob Marley terpampang di mana-mana — di kaus, di warung kopi, di mural pantai. Ada kesamaan kultural yang dalam: semangat gotong royong, gagasan tentang satu komunitas yang saling menjaga, dan kerinduan akan kedamaian di tengah keberagaman. "One Love" terasa seperti lagu yang seolah-olah ditulis untuk telinga Indonesia, padahal lahir ribuan kilometer jauhnya.

Membongkar makna sebenarnya

Di permukaan, "One Love" mengajak orang berkumpul, melupakan perselisihan, dan merasa nyaman bersama. Tapi kalau kamu menyelami liriknya lebih dalam — tanpa mengutipnya — kamu akan menemukan sebuah teologi yang utuh.

Bagian inti lagu ini berputar pada satu seruan: agar manusia menyatukan hati mereka menjadi satu perasaan, lalu bersyukur dan memuji Tuhan. Ini bukan cinta romantis dan bukan pula sekadar persahabatan. "One love" yang dimaksud Marley adalah cinta ilahi, gagasan bahwa semua manusia berasal dari sumber yang sama. Marley adalah penganut Rastafari yang taat, sebuah gerakan spiritual Jamaika yang memandang Haile Selassie, mantan kaisar Ethiopia, sebagai figur ketuhanan, dan yang membaca sejarah penindasan kulit hitam melalui kacamata kitab suci. Ketika Marley menyanyikan tentang penyatuan, ia sedang berbicara dengan kosakata iman, bukan sekadar idealisme sekuler.

Lebih dari itu, lagu ini punya sisi yang lebih gelap dan jujur daripada kesan permukaannya. Di tengah ajakan damai, ada bait yang mempertanyakan apakah memang ada tempat bagi orang-orang yang putus asa dan berdosa, dan menyiratkan adanya hari perhitungan ketika mereka yang mempermainkan kemanusiaan akan menghadapi pertanggungjawaban. Jadi "One Love" bukan optimisme naif yang berpura-pura semua baik-baik saja. Marley mengakui adanya kejahatan, pengkhianatan, dan penderitaan — ia hanya memilih untuk percaya bahwa penyatuan di bawah Tuhan adalah jalan keluar dari semua itu. Inilah yang membuat lagu ini punya bobot: ia menawarkan damai bukan karena mengabaikan luka, melainkan justru karena menyadari betapa dalamnya luka itu.

Penggabungan dengan "People Get Ready" milik Curtis Mayfield juga bukan kebetulan. Lagu Mayfield itu adalah himne gerakan hak-hak sipil Amerika, tentang kereta menuju keselamatan yang membawa siapa saja yang siap. Dengan meminjam citra itu, Marley menautkan perjuangan kulit hitam Karibia dengan perjuangan kulit hitam Amerika, menjadikan "One Love" sebagai jembatan antarbenua untuk satu cita-cita pembebasan yang sama.

Ketika satu lagu menjadi bendera sebuah bangsa

Setelah Marley wafat karena kanker pada tahun 1981 di usia 36 tahun, "One Love" perlahan berubah fungsi. Ia bukan lagi sekadar lagu — ia menjadi semacam doa nasional bagi Jamaika dan duta budaya pulau itu ke seluruh dunia. Pada 1994, badan pariwisata Jamaika mengadopsinya untuk kampanye internasional, dan sejak itu "One Love" hampir tak terpisahkan dari citra Jamaika sebagai surga yang ramah dan penuh damai.

Lalu datang pengakuan-pengakuan besar. BBC menamai "One Love" sebagai lagu milenium pada akhir 1999, sebuah kehormatan yang luar biasa untuk genre yang dulu dipandang sebelah mata. Marley sendiri dianugerahi Grammy Lifetime Achievement Award secara anumerta, dan album Exodus dinobatkan oleh majalah Time sebagai album terbaik abad ke-20. Reggae, yang dulu hanya musik dari kawasan kumuh Kingston, kini diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda umat manusia. Banyak dari pengakuan itu, langsung atau tidak, berakar pada kekuatan moral lagu seperti "One Love".

Yang paling mengesankan adalah bagaimana lagu ini terus dipanggil di momen-momen genting dunia. Setiap kali ada tragedi, bencana, atau konflik yang memecah belah, "One Love" sering kali muncul kembali — dinyanyikan dalam konser amal, diputar dalam peringatan, dikutip dalam pidato. Pada tahun 2024, sebuah film biografi berjudul Bob Marley: One Love dirilis dan menarik jutaan penonton baru, membuktikan bahwa hampir setengah abad setelah ditulis, pesan lagu ini masih sangat dibutuhkan.

Mengapa lagu ini masih menggema hari ini

Ada alasan kenapa "One Love" tidak menua. Dunia tahun 1977 yang penuh perpecahan ideologis, ketimpangan, dan kekerasan ternyata tidak terlalu berbeda dengan dunia hari ini. Kita masih hidup di tengah polarisasi, perang, dan kebencian yang menyebar lewat layar gawai. Justru karena itu, ajakan sederhana namun mendalam untuk menyatukan hati terasa semakin relevan, bukan semakin usang.

Kekuatan lagu ini juga terletak pada kesederhanaannya yang menipu. Melodinya bisa dinyanyikan anak kecil, ritme reggae-nya mengundang tubuh untuk bergoyang santai, dan refrainnya melekat di kepala dalam sekali dengar. Tapi di balik kesederhanaan itu tersembunyi keyakinan yang dibayar Marley dengan harga mahal — dengan darah, pengasingan, dan akhirnya nyawanya yang singkat. Ketika seseorang menyanyikan tentang perdamaian setelah ditembak karena keyakinannya, kata-kata itu membawa otoritas yang tak bisa dipalsukan.

Bagi pendengar Indonesia, lagu ini menawarkan cermin yang akrab. Negeri dengan ratusan suku, bahasa, dan agama ini sehari-hari menjalankan gagasan yang persis sama: bahwa keberagaman tidak harus berarti perpecahan, bahwa "berbeda-beda tetapi tetap satu" adalah hal yang mungkin diwujudkan. Mungkin itulah sebabnya reggae dan sosok Marley begitu mengakar di sini. "One Love" bukan barang impor yang asing — ia adalah versi musikal dari sesuatu yang sudah lama dirasakan banyak orang Indonesia di dalam dada mereka. Dan selama manusia masih saling melukai, akan selalu ada ruang untuk lagu yang dengan lembut, namun tegas, mengingatkan bahwa pada akhirnya kita semua adalah satu.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

Mulailah dari album yang melahirkan versi definitif lagu ini. Exodus karya Bob Marley & The Wailers bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan dokumen pribadi seorang seniman dalam pengasingan, dan mendengarkannya secara utuh mengubah cara kamu memahami "One Love". Setelah itu, kompilasi terbaiknya akan memetakan seluruh perjalanan musiknya dalam satu sesi dengar.

📚 Mengikuti kisahnya

Untuk benar-benar memahami pria di balik melodi yang santai itu, biografi adalah pintunya. Buku-buku tentang hidup Marley mengungkap penembakan tahun 1976, keyakinan Rastafari-nya, dan perjuangan batin seorang anak berdarah campuran yang menemukan rumah di dalam musik. Membacanya membuat setiap not "One Love" terasa jauh lebih berat.

🌍 Mengunjungi tempatnya

Roh lagu ini hidup di Jamaika, dan banyak penggemar bermimpi menapaki Trench Town hingga rumah Marley di Kingston yang kini menjadi museum. Sebuah panduan perjalanan yang baik akan membantumu menjelajahi pulau itu dengan mata seorang pencinta musik, dari pantai Karibia sampai studio-studio bersejarah tempat reggae dilahirkan.

🎸 Merasakannya sendiri

Tak ada cara lebih baik memahami reggae selain memainkannya. Gitar akustik dan buku kunci lagu Bob Marley akan membuatmu merasakan langsung ritme upstroke yang menjadi ciri khas genre ini. Kalau ingin terjun lebih jauh, buku metode reggae mengajarkan pola groove yang terdengar sederhana namun butuh ketepatan untuk dikuasai.


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanyakan lebih lanjut:

Tags
70s