SONGFABLE · 1977

One Love

BOB MARLEY & THE WAILERS · 1977

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

One Love - Bob Marley & The Wailers (1977)

TL;DR: Lagu yang terdengar seperti pesta pantai penuh sukacita ini sebenarnya adalah seruan teologis yang serius tentang keselamatan, hari penghakiman, dan apakah umat manusia layak diampuni. Di balik melodi yang bikin senyum, "One Love" diam-diam bertanya: bisakah kita benar-benar bersatu sebelum semuanya terlambat?

Sebuah pesta yang sebenarnya adalah doa

Coba dengarkan "One Love" sekali lagi, tapi kali ini abaikan dulu betapa enaknya melodinya. Yang Anda dengar sebenarnya bukan sekadar ajakan bergandengan tangan di tepi pantai. Lagu ini, yang sering dipakai untuk iklan pariwisata dan kompilasi "lagu bahagia sepanjang masa", sebetulnya berbicara tentang hal yang jauh lebih berat: tentang menghadap Sang Pencipta, tentang siapa yang akan diampuni dan siapa yang tidak, tentang harapan bahwa cinta bisa menyelamatkan kita dari kehancuran yang kita ciptakan sendiri.

Inilah paradoks besar Bob Marley. Ia membungkus pesan-pesan paling serius — soal penindasan, spiritualitas, kematian, keselamatan — dalam musik yang begitu hangat sehingga seluruh dunia ikut bergoyang tanpa selalu menyadari apa yang sedang mereka nyanyikan. "One Love" adalah contoh paling sempurna dari trik agung ini. Sebuah himne yang menyamar sebagai lagu liburan.

Bob Marley, Trenchtown, dan jalan panjang menuju 1977

Untuk mengerti lagu ini, kita perlu kembali ke Jamaika, ke sebuah lingkungan kumuh bernama Trenchtown di Kingston. Di sanalah Bob Marley tumbuh — anak dari ibu Jamaika kulit hitam dan ayah Inggris kulit putih yang nyaris tidak pernah hadir. Status "anak campuran" ini membuatnya sering merasa tidak sepenuhnya diterima di kedua dunia, dan banyak yang mengatakan pengalaman itulah yang menanamkan kerinduan mendalam akan persatuan dalam dirinya.

Versi awal "One Love" sebenarnya sudah ada sejak pertengahan 1960-an, direkam oleh The Wailers ketika mereka masih grup vokal muda yang terpengaruh gaya soul Amerika dan ritme ska Jamaika. Tapi versi yang kita kenal di seluruh dunia hari ini muncul di album Exodus tahun 1977 — album yang kelak dinobatkan majalah Time sebagai "Album Terbaik Abad ke-20".

Yang membuat album itu lahir justru sebuah tragedi. Pada Desember 1976, beberapa hari menjelang konser perdamaian "Smile Jamaica", orang-orang bersenjata menyerbu rumah Marley dan menembaknya. Ia, istrinya Rita, dan manajernya terluka, tapi semua selamat. Marley tetap tampil di konser itu dengan tubuh yang masih terluka, lalu memilih pergi mengasingkan diri ke London. Di pengasingan itulah Exodus — termasuk "One Love" dalam bentuk finalnya — dirampungkan. Bayangkan: seorang pria yang baru saja nyaris dibunuh karena keyakinannya akan perdamaian, justru menulis ulang lagu tentang cinta dan persatuan. Itu bukan naif. Itu keberanian.

Ada satu detail menarik yang sering luput: bagian melodi dan sebagian semangat "One Love" terinspirasi dari lagu soul Amerika "People Get Ready" karya Curtis Mayfield dan The Impressions. Karena itu, dalam banyak rilis, nama Curtis Mayfield ikut tercantum sebagai penulis. Jadi lagu paling "Jamaika" ini sesungguhnya juga punya akar di gereja-gereja kulit hitam Amerika — sebuah pertemuan dua tradisi spiritual.

Buat pendengar Indonesia, ada jembatan kultural yang sangat nyata di sini. Reggae bukan musik asing di tanah air kita. Dari Bali hingga Jakarta, dari Tony Q Rastafara hingde Steven & Coconut Treez dan Ras Muhamad, semangat Marley sudah lama meresap ke dalam budaya musik kita. Bahkan di banyak warung kopi, kedai surfing di pantai Kuta, atau acara komunitas, "One Love" sering jadi lagu yang otomatis mengundang semua orang ikut bersenandung. Bisa dibilang, di Indonesia, Bob Marley bukan sekadar musisi luar — ia sudah menjadi semacam ikon spiritual santai yang akrab di telinga lintas generasi.

Membongkar makna: dari pesta menuju ruang penghakiman

Kalau Anda mendengarkan baik-baik, "One Love" sebetulnya bergerak dalam dua arah sekaligus, dan di situlah letak kejeniusannya.

Di lapisan pertama, lagu ini terasa seperti undangan terbuka. Ada ajakan agar semua orang berkumpul, merasakan kebersamaan, dan membiarkan satu cinta serta satu hati menyatukan mereka. Nadanya inklusif, hangat, seolah merangkul siapa saja yang mau ikut. Inilah lapisan yang dikenal dunia — lapisan yang membuat lagu ini cocok untuk pernikahan, festival, dan iklan.

Tapi ada lapisan kedua yang lebih gelap dan lebih dalam. Di tengah lagu, suasananya berubah. Marley mulai bertanya-tanya tentang mereka yang bermain dengan kejahatan, tentang orang-orang yang menyebarkan keputusasaan dan tidak punya belas kasih. Ia merenungkan apa yang akan terjadi pada mereka ketika tiba saatnya berhadapan dengan Sang Pencipta. Ada bayangan tentang hari ketika setiap orang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya — sebuah gambaran yang sangat dekat dengan konsep penghakiman dalam tradisi keagamaan.

Inilah inti yang sering terlewat: "One Love" bukan sekadar berkata "ayo semua saling mencintai". Lagu ini mengandung permohonan. Sebuah doa agar Tuhan memberi kekuatan, dan harapan agar umat manusia — meski penuh dosa dan kekejaman — masih bisa diampuni dan disatukan. Persatuan yang dimaksud Marley bukan persatuan yang murah dan mudah. Itu adalah persatuan yang harus diperjuangkan, yang punya konsekuensi spiritual, yang menjadi syarat keselamatan.

Dan semua ini berakar pada keyakinan Rastafari yang dianut Marley. Bagi penganut Rastafari, "one love" bukan slogan kosong, melainkan ungkapan bahwa seluruh umat manusia berasal dari satu sumber ilahi yang sama. Memecah belah manusia berarti mengkhianati kehendak Sang Pencipta. Karena itu, ketika Marley menyanyikan tentang satu cinta, ia sebenarnya sedang menyatakan sebuah teologi: bahwa perpecahan adalah dosa, dan persatuan adalah jalan pulang menuju Tuhan.

Konteks budaya dan warisan yang melampaui musik

Sulit melebih-lebihkan betapa besar dampak lagu ini. Pada tahun 1999, BBC menobatkan "One Love" sebagai "Lagu Abad Ini". Bayangkan — di antara ribuan karya dari seluruh dunia sepanjang seratus tahun, sebuah lagu reggae dari lingkungan kumuh Kingston yang dipilih.

Lagu ini juga menjadi semacam lagu kebangsaan tidak resmi bagi gerakan-gerakan perdamaian dan persatuan di seluruh dunia. Ia dikumandangkan dalam konteks perjuangan anti-apartheid, dipakai sebagai simbol rekonsiliasi pasca-konflik, dan dijadikan jingle pariwisata Jamaika yang legendaris. Namun di balik penggunaan komersialnya yang masif, pesan aslinya tidak pernah benar-benar hilang — ia tetap mengintai, menunggu pendengar yang cukup penasaran untuk menyimak liriknya dengan serius.

Bob Marley sendiri meninggal terlalu muda, pada usia 36 tahun di tahun 1981, akibat kanker yang berawal dari sebuah luka di jari kakinya. Tapi justru karena kepergiannya yang dini, ia membeku menjadi ikon abadi — wajahnya menghiasi kaos, dinding kamar, dan poster di seluruh dunia, dari kamar mahasiswa di Eropa hingga warung di pinggir pantai Indonesia. Album greatest hits-nya, Legend, menjadi salah satu album terlaris sepanjang masa, dan "One Love" selalu menjadi salah satu mahkotanya.

Yang menarik, di tahun 2024 dirilis film biografi berjudul Bob Marley: One Love, yang mengambil judulnya dari lagu ini dan berfokus pada periode dramatis seputar penembakan dan pembuatan album Exodus. Fakta bahwa nama lagu ini dipilih sebagai judul film tentang seluruh hidupnya menunjukkan betapa lagu ini dianggap sebagai inti dari segala yang diperjuangkan Marley.

Mengapa lagu ini masih menggetarkan hari ini

Hampir lima puluh tahun setelah dirilis, "One Love" terasa lebih relevan, bukan lebih usang. Kita hidup di zaman yang terasa terus-menerus terbelah — oleh politik, oleh agama, oleh algoritma media sosial yang justru dirancang untuk memperkeras perbedaan kita. Di tengah dunia yang semakin pintar memecah belah, sebuah lagu yang dengan tulus dan tanpa rasa malu menyerukan persatuan terasa hampir radikal.

Dan justru di sinilah kekuatan lagu ini yang sebenarnya. Marley tidak menawarkan persatuan yang mengabaikan masalah. Ia tidak berkata "lupakan kejahatan, ayo kita berpesta saja". Sebaliknya, ia mengakui adanya kejahatan, mengakui adanya orang-orang yang menyebarkan keputusasaan, dan tetap memilih untuk percaya pada kemungkinan pengampunan dan persatuan. Itu adalah optimisme yang sudah melewati api — bukan optimisme yang naif, melainkan optimisme yang lahir dari seseorang yang tubuhnya pernah ditembus peluru karena keyakinannya.

Buat kita di Indonesia, sebuah negeri yang dibangun di atas semboyan Bhinneka Tunggal Ika — berbeda-beda tetapi tetap satu — pesan "One Love" terasa begitu akrab. Marley, dengan caranya sendiri dari Trenchtown yang jauh, sedang menyanyikan sesuatu yang sangat mirip dengan cita-cita yang kita pegang sendiri: bahwa keberagaman tidak harus berarti perpecahan, dan bahwa cinta — satu cinta — bisa menjadi benang yang menyatukan kita semua. Mungkin itulah sebabnya lagu ini terasa seperti milik kita juga, bukan sekadar lagu impor dari pulau di seberang lautan.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

📚 Mengikuti kisahnya

🌍 Mengunjungi tempatnya

🎸 Mengalaminya sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut:

Tags
70s