SONGFABLE · 2014

No Role Modelz

J. COLE · 2014 · FAYETTEVILLE, NORTH CAROLINA, USA

TL;DR: Di balik hook-nya yang catchy dan sindiran soal perempuan matre, "No Role Modelz" sebenarnya adalah pengakuan getir seorang anak yang tumbuh tanpa figur panutan sejati — dan sebuah renungan tentang kenapa dia belajar untuk tidak percaya pada siapa pun dengan mudah.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Lagu yang Kelihatannya Songong, Tapi Sebenarnya Rapuh

Kalau kamu pertama kali dengar "No Role Modelz", kemungkinan besar yang tertangkap telinga cuma satu: bunyi hook yang gampang nempel di kepala dan lirik yang seolah cuma sinis soal cewek-cewek pemburu status. Banyak pendengar kasual menaruh lagu ini di kategori "lagu cowok sombong yang lagi flexing". Tapi justru di situ letak jebakannya. J. Cole itu tipe penulis yang suka membungkus luka dengan lelucon, dan "No Role Modelz" adalah contoh paling jelas dari triknya itu.

Judulnya saja sudah membocorkan intinya: "tidak ada panutan". Ini bukan lagu tentang menghina orang lain, melainkan tentang seorang laki-laki yang menyadari bahwa dia besar tanpa sosok yang benar-benar bisa dia contoh — dan bagaimana kekosongan itu membentuk cara dia memandang cinta, kepercayaan, dan kesuksesan. Yang tampak seperti kesombongan sebetulnya adalah tembok pertahanan. Begitu kamu tahu itu, seluruh lagu berubah warna.

Anak Fayetteville yang Menolak Menjadi Selebriti

Untuk mengerti kenapa lagu ini terasa begitu personal, kamu perlu tahu dari mana J. Cole berasal. Nama aslinya Jermaine Lamarr Cole, lahir di sebuah pangkalan militer di Jerman, lalu dibesarkan oleh ibunya di Fayetteville, North Carolina — kota kecil di Amerika Selatan yang jauh dari gemerlap industri musik. Ayahnya, yang berkulit hitam dan berkarier militer, konon pergi saat Cole masih sangat kecil. Ibunya, seorang perempuan kulit putih yang bekerja sebagai pegawai pos, membesarkan Cole dan kakaknya seorang diri dengan penghasilan pas-pasan.

Detail keluarga ini penting, karena "No Role Modelz" bukan hanya metafora. Cole benar-benar tumbuh tanpa figur ayah yang hadir, di lingkungan di mana panutan laki-laki yang stabil memang langka. Ia sering bercerita bahwa banyak "role model" di sekitarnya justru adalah orang-orang yang salah — sosok yang secara materi terlihat sukses tapi secara moral berantakan.

Cole membangun kariernya dengan cara yang sangat berbeda dari kebanyakan rapper generasinya. Ia menempuh kuliah di St. John's University di New York, lulus dengan nilai bagus, lalu berjuang bertahun-tahun sebelum akhirnya menjadi artis pertama yang diteken langsung oleh Jay-Z ke label Roc Nation. Album 2014 Forest Hills Drive — tempat "No Role Modelz" berada — dinamai persis dari alamat rumah masa kecilnya di Fayetteville. Album itu dirilis tanpa fitur artis tamu satu pun, sebuah keputusan yang seolah berkata: aku ingin kamu mendengar suaraku, tanpa gangguan.

Buat pendengar Indonesia, ada satu benang merah yang mungkin terasa akrab. Tema "besar tanpa sosok ayah", "berjuang dari kota kecil ke kota besar", dan "sukses tapi tetap curiga sama orang yang tiba-tiba mendekat" itu sangat resonan dengan banyak kisah anak muda di sini — mereka yang merantau dari daerah, yang harus jadi tulang punggung keluarga, yang belajar sendiri soal hidup karena tidak ada yang menuntun. J. Cole, dengan gaya yang tidak flexy dan justru sering terdengar seperti curhat, kerap disebut sebagai rapper yang "manusiawi". Itulah kenapa penggemar hip-hop Tanah Air banyak yang menempatkannya sebagai favorit personal, bukan sekadar bintang chart.

Membedah Makna: Kesombongan yang Sebenarnya Kesepian

Secara struktur, "No Role Modelz" bergerak di dua lapis. Lapis permukaan adalah keluhan tajam Cole soal jenis perempuan tertentu yang ia temui setelah terkenal — mereka yang, menurut penuturannya, tertarik pada uang, ketenaran, dan status, bukan pada dirinya sebagai manusia. Ia menggambarkan pertemuan-pertemuan dangkal, hubungan yang transaksional, dan rasa lelah karena merasa terus-menerus diincar bukan karena siapa dirinya, melainkan apa yang bisa ia berikan.

Tapi kalau berhenti di situ, kamu melewatkan seluruh maksudnya. Cole tidak sedang menyalahkan perempuan-perempuan itu secara sepihak. Ia sedang bertanya pada dirinya sendiri: kenapa aku terus tertarik pada orang-orang yang salah? Dan jawabannya kembali ke judul. Kalau kamu tidak pernah melihat contoh hubungan yang sehat, tidak pernah punya panutan tentang bagaimana laki-laki memperlakukan pasangan, bagaimana cinta yang tulus itu terlihat — maka wajar kalau kamu berulang kali terjebak dalam pola yang rusak. Cole seolah mengakui bahwa masalahnya bukan cuma pada perempuan yang ia temui, tapi pada dirinya yang tidak pernah diajari standar yang benar.

Di bagian yang paling sering dikutip orang, ia mengubah sebuah kalimat motivasi klasik dari budaya pop Amerika — soal belajar dari kesalahan — menjadi mantra pribadi tentang tekad untuk tidak jatuh ke lubang yang sama dua kali. Bagian ini terdengar seperti afirmasi penyemangat, dan memang sering dipakai orang sebagai kutipan motivasi. Tapi dalam konteks lagunya, ada nada getir: ini bukan pelajaran yang ia terima dari mentor bijak, melainkan pelajaran yang harus ia gali sendiri, dengan susah payah, dari luka-lukanya sendiri.

Ada juga referensi ke figur-figur yang, menurut Cole, sempat dianggap panutan oleh masyarakat tapi kemudian jatuh dari pedestal karena skandal atau kontroversi. Poinnya jelas: budaya kita gemar mengangkat orang menjadi "role model", lalu kecewa ketika mereka ternyata cuma manusia biasa. Cole menolak permainan itu. Ia sepertinya berkata bahwa lebih sehat untuk tidak menuhankan siapa pun, termasuk dirinya sendiri.

Konteks Budaya: Lagu yang Jadi Anthem Sekaligus Bahan Renungan

Ketika 2014 Forest Hills Drive rilis di penghujung 2014, banyak orang meragukan strategi Cole yang nekat merilis album tanpa satu pun single besar dan tanpa artis tamu. Tapi album itu justru meledak secara komersial dan bertahan lama di tangga lagu — dikenal luas sebagai album yang, dalam istilah penggemar hip-hop, "going platinum with no features" (menembus penjualan platinum tanpa fitur artis lain). Klaim itu menjadi semacam lelucon internal komunitas rap yang terus melekat pada nama Cole selama bertahun-tahun.

"No Role Modelz" sendiri menjadi salah satu lagu paling sukses dalam karier Cole secara streaming, bahkan jauh setelah rilis. Ironisnya, hook-nya yang catchy membuat lagu ini viral justru sebagai lagu pesta dan bahan lip-sync, sementara pesan sebenarnya sering terlewat. Ini menciptakan fenomena menarik: sebuah lagu tentang bahaya menuhankan citra permukaan, malah dikonsumsi banyak orang hanya di permukaan.

Di komunitas hip-hop, lagu ini juga memicu diskusi panjang. Sebagian mengkritik Cole karena dianggap menyalahkan perempuan. Sebagian lain membelanya, dengan berargumen bahwa Cole justru sedang mengkritik dirinya sendiri dan pola pikir laki-laki yang belum dewasa secara emosional. Perdebatan ini justru membuktikan kekuatan lagunya — karya yang cukup jujur untuk membuat orang tidak nyaman, cukup ambigu untuk memancing tafsir yang bertabrakan.

Kenapa Lagu Ini Masih Nyambung Sampai Sekarang

Lebih dari satu dekade setelah rilis, "No Role Modelz" tetap relevan, dan alasannya justru makin kuat di era media sosial. Kita hidup di zaman di mana "role model" diproduksi massal setiap hari — influencer, selebgram, tokoh publik yang citranya dipoles sempurna di layar. Dan hampir setiap minggu, ada saja panutan yang runtuh karena skandal, kebohongan, atau kepura-puraan yang terbongkar. Pesan Cole soal bahaya menaruh harapan berlebihan pada figur permukaan terasa seperti ditulis untuk generasi hari ini.

Ada juga sisi yang lebih lembut. Bagi banyak orang muda yang tumbuh tanpa panutan sejati — entah karena keluarga yang tidak utuh, lingkungan yang keras, atau sekadar merasa sendirian dalam menghadapi hidup — lagu ini terasa seperti pengakuan yang menenangkan. Cole tidak berpura-pura punya semua jawaban. Ia mengakui bahwa ia pun masih meraba-raba, masih belajar membedakan mana cinta yang tulus dan mana yang palsu, masih berjuang untuk tidak jatuh ke pola lama. Kejujuran itulah yang membuat pendengar merasa ditemani.

Dan mungkin di situlah letak twist terakhirnya. Lagu berjudul "No Role Modelz", tentang seorang laki-laki yang tidak punya panutan, ironisnya justru menjadikan Cole sendiri sebagai panutan bagi jutaan pendengarnya — bukan karena ia sempurna, tapi justru karena ia jujur soal ketidaksempurnaannya. Ia menjadi contoh dengan cara menolak berpura-pura menjadi contoh.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Rasakan langsung suaranya

Cara terbaik memahami "No Role Modelz" adalah mendengarnya dalam konteks album penuhnya, karena setiap lagu di 2014 Forest Hills Drive saling menyambung seperti bab dalam sebuah memoar. Dengarkan bagaimana Cole bergerak dari nostalgia masa kecil ke pergulatan soal ketenaran.

📚 Ikuti kisahnya

Untuk mengerti kenapa Cole menulis dari sudut pandang yang begitu personal, ada baiknya menyelami sejarah hip-hop dan bagaimana rapper generasi barunya menjadikan kejujuran emosional sebagai senjata. Buku-buku tentang budaya rap membantu menempatkan Cole dalam garis panjang penulis lirik yang menjadikan pengalaman pribadi sebagai bahan baku.

🌍 Kunjungi tempatnya

Fayetteville, North Carolina — kota kecil yang alamat rumah masa kecil Cole menjadi judul albumnya — adalah jantung emosional dari lagu ini. Menjelajahi kawasan Amerika Selatan memberi konteks tentang lingkungan yang membentuk cara pandang Cole soal kesuksesan dan kesetiaan.

🎸 Coba sendiri

Kalau lagu ini membuatmu ingin lebih dari sekadar mendengar, kamu bisa mulai mengeksplorasi bagaimana beat dan lirik hip-hop dibuat. Banyak penggemar Cole yang terinspirasi mencoba menulis rima atau membuat beat sendiri sebagai bentuk katarsis, persis seperti yang dilakukan Cole di kamarnya dulu.


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
10s