SONGFABLE · 1976

Money, Money, Money

ABBA · 1976

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Money, Money, Money - ABBA (1976)

TL;DR: Lagu disko gemerlap yang terdengar seperti himne pemujaan uang ini sebenarnya adalah keluhan getir seorang perempuan kelas pekerja yang lelah banting tulang tapi tetap miskin — dan diam-diam berfantasi menikahi orang kaya supaya bisa lepas dari kerja keras yang tak ada habisnya.

Ironi yang tersembunyi di balik gemerlapnya

Coba dengarkan "Money, Money, Money" sekali lagi dengan telinga yang baru. Intronya yang dramatis, piano minor yang terdengar seperti dari panggung kabaret Eropa Timur, dan refrein yang menempel di kepala selama berhari-hari — semuanya membuat lagu ini terasa seperti perayaan kemewahan. Banyak orang menyangka ini lagu tentang betapa menyenangkannya punya banyak uang. Padahal yang sebenarnya terjadi justru sebaliknya.

Tokoh dalam lagu ini bukan orang kaya. Dia adalah perempuan yang bekerja siang dan malam, membayar setiap tagihan, dan di ujung bulan tetap saja kantongnya kosong. Dia tidak sedang memamerkan kekayaan — dia sedang mengeluh tentang ketiadaannya. Seluruh "kemewahan" dalam lagu ini hanyalah angan-angan: andai saja dia punya sedikit uang, betapa berbedanya hidupnya. Di situlah letak kejeniusan ABBA. Mereka membungkus sebuah kritik sosial tentang ketimpangan ekonomi ke dalam kemasan disko yang begitu menyenangkan sampai-sampai kita menari mengikuti penderitaan orang lain tanpa sadar.

Itulah yang membuat lagu ini bertahan selama hampir setengah abad. Di permukaan, ia adalah pesta. Di dalamnya, ia adalah cerita tentang lelah, tentang ketidakadilan, dan tentang mimpi pelarian yang sangat manusiawi.

Di balik kilau Swedia: ABBA di puncak kejayaan

Untuk memahami "Money, Money, Money," kita perlu mundur ke pertengahan 1970-an. ABBA — singkatan dari nama depan keempat anggotanya: Agnetha, Björn, Benny, dan Anni-Frid — sudah menjadi fenomena global sejak memenangi Kontes Lagu Eurovision pada 1974 lewat "Waterloo". Kelompok asal Swedia ini terdiri dari dua pasangan yang saat itu masih saling menikah, dan kombinasi suara dua perempuan yang berlapis dengan produksi megah dua pria di balik layar menjadi formula yang nyaris tak terkalahkan.

"Money, Money, Money" dirilis pada 1976 sebagai bagian dari album "Arrival". Konon Benny Andersson dan Björn Ulvaeus menulis lagu ini dengan sengaja mengusung nuansa teater musikal — banyak yang menyebut pengaruh kabaret Eropa dan gaya yang mengingatkan pada musikal "Cabaret". Aroma minor yang sedikit "gelap" dan dramatis itu memang tidak biasa untuk lagu pop kala itu, dan justru itulah yang membuatnya menonjol. Lagu ini menjadi hit besar di banyak negara, terutama di Australia, Jerman, dan beberapa negara Eropa, meski di Amerika Serikat ABBA butuh waktu lebih lama untuk benar-benar diterima.

Bagi pendengar Indonesia, ada satu benang merah yang mungkin terlewatkan: ABBA adalah salah satu band Barat yang paling lekat di telinga lintas generasi di Tanah Air. Sepanjang tahun 1970-an dan 1980-an, lagu-lagu ABBA berputar deras di radio-radio Indonesia, dari kaset bajakan yang dijual di emperan toko hingga kompilasi "the best of" yang nyaris ada di setiap rumah. Melodinya yang mudah diikuti membuat ABBA terasa akrab bahkan bagi mereka yang tidak fasih berbahasa Inggris. Ketika film dan pertunjukan musikal "Mamma Mia!" — yang seluruh ceritanya dirangkai dari lagu-lagu ABBA, termasuk "Money, Money, Money" — sampai ke Indonesia di era 2000-an, generasi baru pun ikut jatuh cinta. Jadi lagu ini bukan sekadar artefak Barat yang asing; ia bagian dari nostalgia kolektif banyak keluarga Indonesia.

Membongkar makna: keluhan yang menyamar jadi pesta

Mari kita uraikan apa yang sebenarnya diceritakan lagu ini, tanpa mengutip liriknya satu baris pun.

Bagian awal lagu memperkenalkan kita pada seorang perempuan yang menggambarkan rutinitas hidupnya: dia bekerja keras tanpa henti, sepanjang siang dan malam, demi membayar berbagai kewajiban hidup. Masalahnya, kerja keras itu tidak pernah membuahkan kelimpahan. Setiap kali ada sedikit uang tersisa, semuanya langsung habis tertelan biaya hidup. Ini adalah potret yang sangat akrab bagi siapa pun yang pernah merasa terjebak dalam siklus "gaji habis sebelum akhir bulan" — sebuah pengalaman yang melintasi batas negara dan zaman.

Lalu datang fantasi itu. Sang tokoh membayangkan betapa berbeda hidupnya seandainya dia punya sedikit kekayaan. Dia berkhayal tentang dunia di mana dia tidak perlu lagi membanting tulang, di mana dia bisa bersenang-senang dan menikmati hidup tanpa khawatir. Dalam khayalan itu terselip pula sebuah pikiran yang jujur sekaligus sedikit nakal: bahwa salah satu jalan keluar dari kemiskinannya adalah menemukan dan menikahi seorang pria kaya. Di sinilah lagu ini menyentuh nada yang kompleks. Ada keputusasaan, ada perhitungan dingin, tapi ada juga humor dan kejujuran getir tentang betapa terbatasnya pilihan yang dimiliki perempuan kelas pekerja pada masa itu.

Refrein yang ikonik — pengulangan kata yang menjadi judul lagu — terdengar seperti seruan kegembiraan, tapi sebenarnya adalah keluhan yang diulang-ulang. Ia menggambarkan dunia orang kaya sebagai sesuatu yang selalu cerah dan menyenangkan, sebuah tempat yang penuh dengan kemudahan. Dan di balik gambaran cemerlang itu, ada nada iri dan rindu dari seseorang yang berada di luar pagar, menatap ke dalam. Frasa terkenal yang menyebut bahwa di dunia orang kaya segala sesuatu selalu menguntungkan adalah inti dari sindiran ini: hidup memang tidak adil, dan uang membuat segalanya jauh lebih mudah bagi mereka yang sudah memilikinya.

Yang membuat penafsiran ini terasa tajam adalah cara penyampaiannya. Suara penyanyi utamanya, yang konon dinyanyikan oleh Anni-Frid, membawa beban emosi yang nyata — campuran lelah, kerinduan, dan tekad. Musik yang gelap dan teatrikal memperkuat kesan bahwa ini bukan sekadar lagu dansa, melainkan sebuah monolog kecil tentang perjuangan hidup yang dibungkus melodi.

Konteks budaya: cermin zaman dan warisan abadi

"Money, Money, Money" muncul pada masa ketika dunia Barat sedang bergulat dengan ketidakpastian ekonomi. Pertengahan 1970-an ditandai oleh krisis minyak, inflasi yang tinggi, dan kegelisahan finansial yang meluas. Dalam suasana seperti itu, sebuah lagu tentang keinginan akan uang dan frustrasi karena tidak memilikinya terasa sangat relevan, meski ABBA membungkusnya dalam kemasan yang ringan dan dapat dinikmati semua orang.

Menariknya, ABBA sendiri pada saat itu sedang menjadi salah satu entitas paling menguntungkan dalam sejarah musik. Mereka begitu sukses sampai-sampai konon menjadi salah satu ekspor terbesar Swedia. Ada ironi yang manis di sini: empat orang yang sedang menumpuk kekayaan menyanyikan lagu tentang perempuan yang tak punya uang. Tapi mungkin justru karena mereka pernah merintis dari bawah, mereka bisa menulis tentang kerinduan akan kemapanan dengan begitu meyakinkan.

Warisan lagu ini terus tumbuh seiring waktu. Selama beberapa dekade, "Money, Money, Money" menjadi salah satu lagu ABBA yang paling sering dipakai di film, iklan, dan acara televisi, terutama kapan pun ada adegan yang berkaitan dengan uang, kemewahan, atau kasino. Tapi lonjakan popularitas terbesarnya yang kedua datang lewat "Mamma Mia!". Pertunjukan panggung musikal yang dibuka pada akhir 1990-an itu, lalu filmnya pada 2008 yang dibintangi Meryl Streep, memperkenalkan lagu-lagu ABBA kepada generasi yang bahkan belum lahir saat lagu aslinya dirilis. Dalam konteks "Mamma Mia!", lagu ini dinyanyikan oleh seorang ibu pemilik vila kecil di pulau Yunani yang berjuang secara finansial — sebuah penempatan yang justru mengembalikan lagu ini ke makna aslinya tentang perjuangan ekonomi.

Bagi penggemar musik di Indonesia, "Mamma Mia!" menjadi pintu masuk yang luar biasa. Banyak orang yang awalnya hanya mengenal ABBA dari kaset orang tua kemudian menemukan kembali band ini lewat layar lebar, dan menyadari betapa kayanya katalog lagu mereka.

Mengapa lagu ini masih terasa relevan hari ini

Hampir lima puluh tahun setelah dirilis, "Money, Money, Money" sama sekali tidak kehilangan daya pukulnya. Justru sebaliknya — di dunia yang semakin sadar akan ketimpangan ekonomi, pesan tersembunyinya terasa makin tajam.

Pikirkan tentang generasi muda hari ini, di Indonesia maupun di seluruh dunia, yang bekerja keras tetapi merasa harga rumah, biaya hidup, dan impian kemapanan semakin menjauh. Perasaan bekerja tanpa henti dan tetap tidak punya cukup uang di akhir bulan adalah pengalaman yang sangat kontemporer. Diskusi tentang kesenjangan kaya-miskin, tentang betapa uang melahirkan lebih banyak uang, dan tentang betapa berbedanya hidup mereka yang sudah punya modal — semua itu adalah percakapan yang masih sangat hidup. Lagu ini, dengan cara yang ringan, sudah merangkum semuanya sejak 1976.

Ada juga lapisan emosional yang abadi: fantasi pelarian. Hampir setiap orang pernah, dalam momen lelah, membayangkan "andai saja aku menang lotre" atau "andai aku tidak perlu kerja lagi". Lagu ini memberi suara pada fantasi universal itu tanpa menghakimi. Ia mengakui bahwa keinginan untuk lepas dari himpitan finansial bukanlah sesuatu yang memalukan, melainkan sangat manusiawi.

Dan tentu saja, ada faktor musiknya. Melodi yang ditulis ABBA punya kualitas yang nyaris tak lekang oleh waktu. Produksi yang dramatis, harmoni vokal yang mewah, dan refrein yang langsung menempel membuat lagu ini tetap memikat bagi pendengar yang baru pertama kali mendengarnya hari ini. Inilah keajaiban ABBA: mereka bisa menyelundupkan tema yang serius ke dalam kemasan yang begitu menyenangkan sehingga kita terus memutarnya, dan baru bertahun-tahun kemudian menyadari betapa cerdasnya lagu itu sebenarnya.

Pada akhirnya, "Money, Money, Money" mengajarkan kita sesuatu tentang seni pop terbaik: bahwa kegembiraan dan kepedihan bisa hidup berdampingan dalam tiga menit yang sempurna, dan bahwa terkadang lagu yang paling membuat kita ingin menari adalah lagu yang punya cerita paling sedih.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Menyelami suaranya

Cara terbaik memahami "Money, Money, Money" adalah mendengarnya dalam konteks album penuh, di mana nuansa teatrikalnya bersanding dengan hit lain seperti "Dancing Queen".

📚 Mengikuti kisahnya

Sejarah ABBA jauh lebih menarik dan rumit daripada citra ceria mereka, dan banyak buku menggali sisi manusiawi di balik kesuksesan itu.

🌍 Mengunjungi tempatnya

ABBA berakar kuat di Stockholm, dan kota itu kini merayakan warisan mereka dengan cara yang bisa benar-benar dikunjungi.

🎸 Mengalaminya sendiri

Refrein "Money, Money, Money" begitu mudah dimainkan sehingga banyak pemula menjadikannya lagu latihan favorit.


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih banyak:

Tags
70s