SONGFABLE · 1970

Let It Be

THE BEATLES · 1970

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Let It Be - The Beatles (1970)

TL;DR: Lagu yang terdengar seperti himne rohani ini sebenarnya lahir dari mimpi Paul McCartney tentang ibunya yang sudah meninggal. "Mother Mary" yang menenangkannya bukan Bunda Maria dalam agama, melainkan Mary McCartney, ibu kandung Paul yang wafat saat ia masih remaja.

Sebuah doa yang sebenarnya bukan doa

Selama puluhan tahun, banyak orang menyanyikan "Let It Be" di gereja, di pemakaman, di malam-malam penuh kesedihan, dan menganggapnya sebagai lagu rohani Kristen yang menyebut Bunda Maria. Padahal kebenarannya jauh lebih personal dan, justru karena itu, jauh lebih menyentuh.

Paul McCartney menceritakan bahwa di tengah salah satu periode paling kacau dalam hidupnya, ketika The Beatles perlahan terpecah dan tekanan menumpuk dari segala arah, ia bermimpi bertemu ibunya. Ibu Paul, Mary McCartney, meninggal karena kanker saat Paul baru berusia 14 tahun. Dalam mimpi itu, sang ibu datang menenangkannya, mengatakan agar ia tidak terlalu khawatir, bahwa segala sesuatu pada akhirnya akan baik-baik saja. Kalimat penghiburan "biarkan saja" itulah yang kemudian menjadi inti lagu ini.

Jadi "Mother Mary" yang muncul dalam lagu bukanlah figur religius, melainkan sosok ibu yang sangat dirindukan. Kebetulan namanya Mary membuat lagu ini punya dua wajah: bagi pendengar religius ia terdengar seperti doa, sementara bagi Paul ia adalah surat cinta untuk ibunya. Keindahan "Let It Be" justru terletak pada celah tafsir ini, sebuah lagu yang membiarkan setiap orang menemukan penghiburannya sendiri.

Lahir di tengah perpecahan band paling legendaris di dunia

Untuk memahami beratnya lagu ini, kita perlu membayangkan situasi The Beatles di penghujung 1968 hingga 1969. Band yang pernah mengguncang dunia ini sedang retak dari dalam. Ketegangan kreatif antara John Lennon dan Paul McCartney semakin tajam, urusan bisnis lewat perusahaan mereka Apple Corps berantakan, dan masing-masing personel mulai menarik diri ke arah yang berbeda. Sesi rekaman yang seharusnya menjadi proyek "kembali ke akar" malah dipenuhi friksi, perdebatan, dan suasana muram yang banyak terekam dalam dokumentasi film mereka.

Di tengah badai inilah Paul menulis "Let It Be". Lagu ini menjadi semacam pelampung emosional, sebuah cara untuk berdamai dengan kenyataan bahwa dongeng besar bernama The Beatles sedang menuju akhir. Tidak mengherankan jika nuansa lagu terasa seperti seseorang yang lelah namun mencoba menerima keadaan dengan lapang dada.

Lagu ini dirilis sebagai single pada awal Maret 1970, lalu menjadi judul album terakhir mereka yang dirilis Mei 1970, beberapa pekan setelah Paul secara resmi mengumumkan keluar dari band. Karena itulah "Let It Be" selamanya melekat sebagai lagu perpisahan The Beatles, meski secara kronologi rekaman album Abbey Road sebenarnya digarap belakangan. Bagi publik, "Let It Be" terasa seperti kata-kata terakhir yang diucapkan dengan tenang sebelum lampu panggung dimatikan.

Ada satu detail yang menarik bagi pendengar di Indonesia. Generasi penikmat musik Barat di tanah air mengenal The Beatles lewat berbagai gelombang, dari piringan hitam yang diputar di radio era 1970-an, kaset bajakan yang beredar di pasar-pasar pada dekade berikutnya, hingga playlist digital masa kini. "Let It Be" termasuk salah satu lagu Beatles yang paling sering dimainkan ulang di acara-acara musik kampus, kafe akustik di Jakarta dan Bandung, sampai panggung musik gereja. Banyak musisi lokal menjadikan lagu ini sebagai materi wajib saat belajar gitar atau piano, karena melodinya sederhana namun emosinya dalam. Bisa dibilang, "Let It Be" adalah salah satu pintu masuk bagi banyak orang Indonesia ke dunia The Beatles sebelum mereka menyelami katalog band ini lebih jauh.

Membaca pesan di balik kata "biarkan saja"

Inti lagu ini sebenarnya sederhana namun kuat: ketika kita berada di tengah kegelapan, dalam kesulitan, dalam kebingungan yang membuat dada sesak, ada kebijaksanaan dalam tidak memaksakan segala hal. Pesan utamanya bukan menyerah secara pasrah, melainkan melepaskan kendali atas hal-hal yang memang berada di luar kuasa kita.

Paul menggambarkan momen-momen ketika seseorang merasa terjebak, ketika beban terasa terlalu berat, dan di saat itulah datang suara penenang yang mengingatkan bahwa tidak semua hal harus dipecahkan dengan paksa. Kadang jawaban datang dengan sendirinya jika kita berhenti panik dan memberi ruang bagi waktu untuk bekerja. Ada gambaran tentang orang-orang yang sedang patah hati namun masih ada kesempatan untuk menemukan jalan keluar, dan ada nuansa bahwa bahkan di malam yang paling gelap pun, selalu ada secercah cahaya yang menuntun hingga pagi tiba.

Yang membuat lagu ini begitu universal adalah cara Paul tidak pernah menjelaskan secara spesifik masalah apa yang dimaksud. Ia membiarkan ruang kosong itu untuk diisi oleh pendengar. Seorang yang baru kehilangan pekerjaan, seseorang yang berduka, sepasang kekasih yang berpisah, atau bahkan satu bangsa yang sedang dilanda krisis, semuanya bisa menempelkan kisah mereka sendiri pada melodi ini. "Biarkan saja" menjadi mantra yang fleksibel, sebuah cara untuk bernapas lega ketika hidup terasa terlalu rumit.

Penting dicatat bahwa filosofi melepaskan ini punya gema di banyak tradisi spiritual dan budaya. Di Indonesia, semangatnya tidak jauh dari nilai-nilai seperti pasrah, ikhlas, dan tawakal yang dikenal luas. Mungkin itu salah satu alasan kenapa lagu ini terasa begitu akrab di telinga pendengar tanah air, bahkan bagi mereka yang sebenarnya tidak terlalu fasih berbahasa Inggris. Emosi penerimaan dan kepasrahan yang tenang itu melintasi batas bahasa.

Warisan budaya yang melampaui zamannya

Setelah lebih dari setengah abad, "Let It Be" telah berubah menjadi sesuatu yang lebih besar dari sekadar lagu. Ia menjadi semacam frasa penghiburan global. Saat dunia menghadapi masa-masa sulit, dari bencana hingga krisis kesehatan global, lagu ini berulang kali muncul kembali, dimainkan dalam konser amal, dinyanyikan bersama secara virtual, dan dijadikan simbol harapan kolektif.

Versi-versi cover lagu ini tak terhitung jumlahnya. Aretha Franklin merekamnya dengan sentuhan soul yang penuh jiwa, bahkan dilaporkan sebelum versi The Beatles sendiri dirilis ke publik. Banyak penyanyi lintas genre, dari penyanyi gospel hingga musisi rock, ikut menafsirkan ulang lagu ini. Setiap versi menambahkan lapisan makna baru, namun inti penghiburannya selalu bertahan.

Bagian instrumental lagu ini juga punya cerita tersendiri. Solo gitar yang dimainkan George Harrison dianggap sebagai salah satu solo paling ikonik dalam katalog The Beatles, sebuah momen singkat namun begitu ekspresif. Sementara permainan piano Paul yang menjadi fondasi lagu telah menjadi materi latihan yang dikenal hampir setiap pemula. Aransemen yang relatif sederhana ini justru menjadi kekuatannya, membuat lagu ini mudah dimainkan ulang di mana saja, dari panggung megah sampai kamar tidur.

Menariknya, ada dua versi resmi dari lagu ini yang beredar, yaitu versi single dan versi album, dengan perbedaan pada mixing dan terutama pada bagian solo gitar. Para penggemar berat sering memperdebatkan versi mana yang lebih superior, sebuah perdebatan kecil yang menunjukkan betapa dalam orang menghargai setiap detail karya ini. Versi album yang diproduseri Phil Spector dengan sentuhan orkestra yang lebih megah memberi nuansa yang sedikit berbeda dibanding versi single yang lebih ramping.

Kenapa lagu ini masih menyentuh sampai hari ini

Di era ketika musik diproduksi serba cepat dan tren berganti dalam hitungan minggu, kekuatan "Let It Be" justru terletak pada kesabarannya. Lagu ini tidak berteriak, tidak memaksa, tidak mencoba mengesankan siapa pun dengan kemegahan. Ia hanya duduk di samping pendengarnya dan berkata dengan lembut bahwa tidak apa-apa untuk berhenti berjuang sejenak.

Bagi generasi muda Indonesia yang hidup dalam tekanan tak henti, dari ekspektasi karier, media sosial yang membandingkan hidup tanpa ampun, hingga kecemasan tentang masa depan, pesan untuk melepaskan beban yang tak bisa dikendalikan terasa semakin relevan. Lagu yang ditulis pada 1969 ini berbicara kepada anak muda 2026 seakan ia tahu persis betapa lelahnya mereka.

Ada juga aspek kerinduan yang membuat lagu ini abadi. Inti emosinya, yaitu seorang anak yang merindukan ibunya dan menemukan penghiburan dalam kenangan akan sosok itu, adalah perasaan yang dipahami siapa saja yang pernah kehilangan orang tercinta. Di Indonesia, di mana ikatan keluarga begitu kuat dan sosok ibu menempati tempat yang sangat istimewa, lapisan makna ini terasa sangat dekat. Mengetahui bahwa "Mother Mary" sebenarnya adalah ibu Paul mengubah cara kita mendengarkan lagu ini selamanya, dari himne yang anggun menjadi pelukan hangat dari masa lalu.

Pada akhirnya, "Let It Be" bertahan karena ia jujur. Ia tidak menjanjikan bahwa semua masalah akan hilang. Ia hanya mengingatkan bahwa kita tidak harus memikul semuanya sendirian, dan bahwa kebijaksanaan terbesar kadang adalah keberanian untuk membiarkan sesuatu mengalir. Itulah pesan yang tak pernah kedaluwarsa, dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Larut dalam suaranya

📚 Telusuri kisahnya

🌍 Kunjungi tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut:

Tags
70s