SONGFABLE · 1979

I Can't Help It

MICHAEL JACKSON · 1979

TL;DR: "I Can't Help It" adalah lagu tentang jatuh cinta yang terasa seperti kehilangan kendali atas diri sendiri, ditulis oleh Stevie Wonder dan dibawakan Michael Jackson dengan kelembutan jazz yang jarang ia tunjukkan. Di balik suasananya yang santai, lagu ini sebenarnya adalah pengakuan pasrah: cinta datang seperti gravitasi, dan tidak ada yang bisa melawannya.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Lagu paling "jazz" dari Michael Jackson yang jarang dibicarakan

Kalau kita menyebut nama Michael Jackson, yang langsung terlintas biasanya adalah gerakan moonwalk, jaket merah "Thriller", atau hentakan drum "Billie Jean". Energi, ledakan, dan tarian. Namun di tengah album "Off the Wall" yang penuh semangat disko, tersembunyi sebuah lagu yang bergerak dengan cara yang sama sekali berbeda. "I Can't Help It" tidak berteriak, tidak mengajak berdansa sampai berkeringat. Lagu ini melayang, berbisik, dan berputar-putar seperti asap rokok di klub jazz tengah malam.

Kejutan pertamanya: lagu ini bukan tulisan Michael sendiri. Penciptanya adalah Stevie Wonder, sang jenius Motown, bersama Susaye Greene, penyanyi yang sempat menjadi anggota formasi akhir The Supremes. Kejutan kedua: meskipun tidak pernah dirilis sebagai single utama di Amerika dan tidak pernah menjadi hit radio besar, lagu ini diam-diam menjadi salah satu lagu Michael yang paling dihormati oleh para musisi. Pemain jazz, produser hip-hop, dan penyanyi neo-soul generasi berikutnya terus kembali kepadanya, seperti kembali ke sumur rahasia yang airnya tidak pernah kering.

Dengan kata lain, "I Can't Help It" adalah lagu Michael Jackson untuk orang-orang yang mendengarkan musik dengan telinga paling tajam. Ini lagu untuk mereka yang lebih suka memperhatikan akor daripada koreografi.

Latar belakang: Michael yang sedang mencari dirinya sendiri

Untuk memahami lagu ini, kita perlu kembali ke akhir 1970-an. Michael saat itu berusia sekitar dua puluh tahun. Ia sudah bintang sejak kecil bersama The Jackson 5, tetapi dunia masih memandangnya sebagai "adik kecil" yang imut dari grup keluarga. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya adalah seniman dewasa yang berdiri sendiri. Pertemuannya dengan produser Quincy Jones di lokasi syuting film musikal "The Wiz" menjadi titik balik. Quincy, yang punya akar kuat di dunia jazz dan pernah bekerja dengan nama-nama besar seperti Frank Sinatra dan Count Basie, melihat sesuatu dalam diri Michael yang belum digali orang lain.

Album "Off the Wall", yang dirilis pada Agustus 1979, adalah hasil kolaborasi pertama mereka. Quincy mengumpulkan tim musisi studio papan atas, termasuk pemain keyboard Greg Phillinganes, bassis Louis Johnson, dan penulis lagu Rod Temperton. Album itu dikenal lewat lagu-lagu dansa seperti "Don't Stop 'Til You Get Enough" dan "Rock with You". Namun Quincy juga ingin menunjukkan sisi Michael yang lebih halus dan canggih secara musikal.

Di sinilah Stevie Wonder masuk. Menurut berbagai cerita, Stevie dan Susaye Greene sudah mengerjakan lagu ini sebelumnya, dan lagu tersebut kemudian diberikan kepada Michael. Ada kisah yang cukup sering diceritakan bahwa Stevie sebenarnya punya kedekatan pribadi dengan keluarga Jackson sejak era Motown, karena mereka sama-sama berada di bawah label yang sama selama bertahun-tahun. Stevie, yang lebih tua beberapa tahun, disebut-sebut menjadi semacam kakak dan panutan kreatif bagi Michael muda. Maka ketika Michael akhirnya menyanyikan lagu karya Stevie, rasanya seperti seorang murid yang akhirnya diberi kesempatan memainkan karya gurunya.

Ada juga sentuhan yang menarik bagi pendengar di Indonesia. Nuansa jazz-pop dan soul lembut seperti yang terdengar dalam "I Can't Help It" sangat akrab dengan telinga penikmat musik Tanah Air. Era akhir 1970-an dan 1980-an adalah masa ketika musisi Indonesia banyak menyerap pengaruh jazz fusion dan soul Amerika, yang kemudian melahirkan warna pop kota yang kini sering dirayakan kembali oleh generasi muda sebagai bagian dari gelombang nostalgia "city pop". Lalu ada Java Jazz Festival di Jakarta, salah satu festival jazz terbesar di dunia, yang selama bertahun-tahun menghadirkan musisi internasional dengan selera seperti ini. Salah satu penyanyi yang kelak membawakan ulang "I Can't Help It", Esperanza Spalding, kabarnya pernah tampil di panggung festival tersebut. Jadi, meskipun lagu ini lahir di studio Los Angeles, benang merahnya ternyata menjulur sampai ke kota-kota kita.

Makna inti: cinta sebagai sesuatu yang tidak bisa dilawan

Judul lagu ini sudah menjadi kunci utamanya. Secara sederhana, sang narator mengaku bahwa ia tidak berdaya menghadapi perasaannya. Ia bertemu seseorang, dan sejak saat itu seluruh pikirannya seperti ditarik ke satu arah. Ia tidak memilih untuk jatuh cinta; ia hanya menyadari bahwa dirinya sudah terjatuh.

Yang membuat lagu ini istimewa adalah cara perasaan itu digambarkan. Liriknya penuh dengan citra alam dan kelembutan. Sang narator menggambarkan dirinya seolah terhanyut, terbawa oleh sesuatu yang lebih besar dari kehendaknya, seperti daun yang dibawa arus. Ada kesan kekaguman yang hampir religius terhadap orang yang ia cintai, seakan-akan kehadiran orang itu mengubah cara ia melihat segala sesuatu di sekitarnya. Ia tidak sedang merayu dengan percaya diri; ia justru terdengar sedikit bingung, sedikit malu, tetapi juga bahagia karena kebingungan itu.

Inilah bedanya dengan banyak lagu cinta pop lain pada masanya. Banyak lagu disko berbicara tentang godaan, pesta, dan malam yang panas. "I Can't Help It" justru berbicara tentang kerentanan. Sang narator mengakui kelemahannya secara terbuka. Ia seperti berkata bahwa ia sudah mencoba bersikap wajar, sudah mencoba menahan diri, tetapi perasaannya tetap saja tumpah.

Musiknya sendiri menguatkan makna ini dengan cara yang cerdas. Akor-akornya terus bergeser, tidak pernah benar-benar "mendarat" di tempat yang nyaman dan mudah ditebak. Harmoni khas Stevie Wonder ini memberi kesan melayang, seperti pikiran orang yang sedang kasmaran dan tidak bisa berkonsentrasi. Bassline Louis Johnson bergerak lincah namun tidak mendominasi, sementara lapisan keyboard Greg Phillinganes menciptakan suasana hangat seperti lampu remang-remang. Semua elemen itu membuat pendengar ikut merasakan sensasi "tidak bisa menahan diri" yang digambarkan liriknya.

Lalu ada vokal Michael. Di lagu ini, ia tidak memamerkan teriakan khas atau cegukan vokalnya yang terkenal. Ia bernyanyi dengan napas lembut, hampir berbisik di beberapa bagian, dengan falsetto yang sangat terkendali. Konon Quincy Jones sengaja mendorong Michael untuk bernyanyi di wilayah suara yang lebih rendah dan lebih intim di beberapa bagian album, agar kedewasaannya terdengar. Hasilnya, "I Can't Help It" terdengar seperti pengakuan pribadi yang dibisikkan di telinga, bukan pengumuman dari atas panggung.

Konteks budaya dan warisan: sumur yang terus ditimba

Ketika "Off the Wall" dirilis, album itu menjadi fenomena. Album ini disebut-sebut sebagai album pertama seorang artis solo yang menghasilkan empat single Top 10 di tangga lagu Billboard Hot 100. "I Can't Help It" bukan salah satunya. Lagu ini tetap menjadi lagu album, semacam permata yang hanya ditemukan oleh mereka yang mendengarkan piringan hitam dari awal sampai akhir.

Namun justru karena statusnya sebagai "lagu tersembunyi", ia memperoleh kehidupan kedua yang panjang. Di dunia hip-hop, grup legendaris De La Soul mengambil sampel lagu ini untuk lagu mereka "Breakadawn" pada awal 1990-an. Sampel tersebut memperkenalkan harmoni lembut "I Can't Help It" kepada generasi baru pendengar yang mungkin belum pernah memutar "Off the Wall". Bagi banyak penggemar hip-hop, momen itulah pertama kali mereka menyadari betapa canggihnya musik Michael di luar lagu-lagu hit besarnya.

Di dunia jazz, lagu ini menjadi semacam standar modern. Esperanza Spalding, bassis dan penyanyi yang kemudian meraih Grammy sebagai Artis Pendatang Baru Terbaik, merekam versinya sendiri pada album tahun 2008. Versinya membuktikan bahwa struktur harmoni Stevie Wonder cukup kaya untuk diperlakukan seperti lagu-lagu jazz klasik: bisa diimprovisasi, diperlambat, dan ditafsir ulang. Banyak musisi jazz lain juga kabarnya memainkan lagu ini di klub dan konser, karena lagu ini menawarkan tantangan harmonis yang menyenangkan.

Dalam dunia neo-soul, pengaruh "I Can't Help It" terasa kuat meskipun tidak selalu disebut secara langsung. Nuansa hangat, akor yang melayang, dan vokal yang intim adalah bahan dasar gaya musik yang kemudian dikembangkan oleh generasi seperti D'Angelo, Erykah Badu, dan kemudian artis-artis R&B alternatif di era streaming. Beberapa kritikus bahkan menyebut lagu ini sebagai salah satu "cetak biru" awal bagi suara soul modern yang lembut dan sofistikatif.

Menariknya, lagu ini juga sering muncul dalam diskusi tentang "sisi lain" Michael Jackson. Ketika orang ingin membuktikan bahwa Michael bukan sekadar penghibur, tetapi seorang musisi dengan kepekaan tinggi, mereka sering menunjuk "I Can't Help It". Lagu ini menunjukkan bahwa ia mampu menyelami materi yang rumit secara harmonis tanpa kehilangan kehangatan emosionalnya.

Mengapa lagu ini masih terasa hidup hari ini

Ada beberapa alasan mengapa "I Can't Help It" tidak pernah terdengar usang.

Pertama, perasaan yang diceritakannya bersifat universal. Siapa pun yang pernah jatuh cinta tahu rasanya tidak bisa berhenti memikirkan seseorang. Rasa tidak berdaya itu, campuran antara malu dan bahagia, adalah pengalaman manusia yang tidak mengenal zaman. Lagu ini tidak berbicara tentang teknologi, tren, atau gaya hidup tertentu. Ia berbicara tentang detak jantung yang tiba-tiba berubah irama.

Kedua, produksinya sangat bersih dan tidak berlebihan. Banyak lagu dari akhir 1970-an terdengar "terjebak" di zamannya karena efek suara atau gaya aransemen yang kini terasa kuno. "I Can't Help It" justru menggunakan instrumen dengan hemat dan penuh selera. Karena itu, lagu ini bisa diputar di kafe modern di Jakarta, Bandung, atau Yogyakarta hari ini tanpa terdengar janggal sedikit pun. Justru ia cocok sekali dengan suasana sore yang santai sambil menyeruput kopi.

Ketiga, lagu ini cocok dengan kebiasaan mendengarkan generasi sekarang. Di era playlist "chill", "late night vibes", dan "lo-fi", lagu dengan suasana lembut dan melayang seperti ini mendapat tempat yang istimewa. Banyak pendengar muda menemukan lagu ini bukan dari radio, melainkan dari rekomendasi algoritma atau dari sampel dalam lagu hip-hop yang mereka sukai. Setelah mengenalnya, mereka sering terkejut: "Ini Michael Jackson? Kok beda banget?"

Keempat, lagu ini menawarkan potret Michael yang lebih manusiawi. Di tengah segala kontroversi dan mitos yang mengelilingi hidupnya di kemudian hari, "I Can't Help It" menangkap momen ketika ia masih muda, penuh harapan, dan sedang menemukan suara dewasanya. Mendengarkannya terasa seperti melihat foto lama seseorang yang sedang tersenyum tulus, sebelum dunia menjadi rumit.

Terakhir, lagu ini adalah pertemuan dua jenius. Stevie Wonder dengan kecerdasan harmoninya, dan Michael Jackson dengan kepekaan vokalnya, bertemu di bawah arahan Quincy Jones. Kombinasi seperti ini sangat langka. Setiap kali kita memutar lagu ini, kita sebenarnya sedang mendengarkan percakapan musikal antara beberapa pikiran paling kreatif dalam sejarah musik populer.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

📚 Mengikuti ceritanya

🌍 Mengunjungi tempat-tempatnya

🎸 Merasakannya sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
70s