Highway to Hell
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Hook
Ada sesuatu yang aneh tentang riff pembuka "Highway to Hell". Secara teknis, ia tidak rumit — seorang anak yang baru belajar gitar selama tiga bulan dapat memainkannya. Tetapi ketika Angus Young memainkannya pada rekaman tahun 1979, dengan distorsi Marshall yang sedikit terlalu panas dan tone Gibson SG yang menggigit, riff itu memperoleh kualitas yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ia terdengar seperti tantangan. Atau mungkin seperti undangan.
Produser Robert John "Mutt" Lange, yang baru saja direkrut oleh Atlantic Records untuk membantu AC/DC menembus pasar Amerika, memahami sesuatu yang penting tentang band ini: kekuatan mereka bukan terletak pada kompleksitas, melainkan pada ruang. Pada apa yang tidak dimainkan. Pada jeda antara setiap pukulan snare drum Phil Rudd yang seakan-akan dipalu langsung dari Newcastle. Lange menghabiskan berbulan-bulan di studio Roundhouse di London, mengasah setiap detail hingga lagu ini terdengar seolah-olah ia selalu ada — seperti sebuah fakta geologis, bukan sebuah komposisi.
Dan kemudian ada Bon Scott. Vokalis Skotlandia-Australia yang akan meninggal hanya tujuh bulan setelah album ini dirilis, pada Februari 1980, karena keracunan alkohol di sebuah mobil di London Timur. Suaranya pada lagu pembuka ini — parau, sarkastik, dan sekaligus jenaka — adalah suara seseorang yang tahu persis di mana ia berada dalam hidupnya, dan memilih untuk menertawakannya alih-alih menyesalinya. Itulah yang membuat lagu ini bertahan selama empat dekade lebih: ia bukan tentang neraka. Ia tentang sikap menghadapi neraka.
Background
Untuk memahami "Highway to Hell", seseorang harus memahami konteks AC/DC pada musim panas 1979. Band asal Sydney ini telah merilis lima album sebelumnya — High Voltage, T.N.T., Dirty Deeds Done Dirt Cheap, Let There Be Rock, dan Powerage — dan meskipun mereka memiliki basis penggemar yang fanatik di Australia dan Eropa, pasar Amerika tetap sulit ditembus. Atlantic Records, label mereka di AS, mulai kehilangan kesabaran. Album sebelumnya, Powerage (1978), yang diproduksi oleh Harry Vanda dan George Young — saudara dari Angus dan Malcolm — dianggap terlalu kasar untuk radio Amerika.
Maka label menugaskan Mutt Lange, produser kelahiran Zambia yang sebelumnya bekerja dengan Boomtown Rats dan akan kemudian memproduseri Def Leppard dan Shania Twain. Lange membawa pendekatan yang lebih sinematik ke dalam suara AC/DC. Ia memaksa band untuk merekam ulang bagian-bagian berulang kali, sesuatu yang awalnya membuat frustrasi Malcolm Young — yang dikenal sebagai arsitek riff sebenarnya di balik AC/DC. Tetapi hasilnya tidak bisa dibantah. Setiap nada terdengar terisolasi, terdefinisi, dan vital.
Judul album itu sendiri muncul dari komentar Bon Scott. Selama tur sebelumnya yang melelahkan, ia menggambarkan kehidupan di jalan sebagai "jalan raya menuju neraka" — bukan dalam arti spiritual, tetapi sebagai ungkapan kelelahan tentang siklus tanpa akhir dari hotel-hotel buruk, bis tur yang berbau, dan venue-venue yang berbeda setiap malam. Ada juga referensi yang lebih spesifik: Canning Highway di Perth, jalan yang dulu Scott lewati untuk pergi ke pub Raffles, sebuah perjalanan yang dikenal di kalangan musisi lokal sebagai berbahaya karena banyaknya kecelakaan fatal.
Album direkam antara Maret dan April 1979. Sampul album, yang dirancang oleh Bob Defrin dengan fotografi Jim Houghton, menampilkan anggota band dengan Angus Young mengenakan tanduk setan dan ekor — sebuah gestur teatrikal yang akan menjadi bahan bakar bagi panik moral yang segera menyusul. Album dirilis pada 27 Juli 1979 dan dengan cepat menjadi album terlaris AC/DC hingga saat itu, mencapai posisi 17 di Billboard 200 — pencapaian yang sebelumnya tampak mustahil bagi band hard rock Australia.
Real meaning
Inilah inti dari salah paham budaya yang terus berlanjut hingga kini: "Highway to Hell" bukanlah lagu tentang penyembahan setan, bukan tentang okultisme, dan jelas bukan ajakan untuk berbuat dosa. Pada akhir 1970-an dan awal 1980-an, kelompok Christian Right di Amerika, termasuk organisasi seperti Parents Music Resource Center yang didirikan kemudian oleh Tipper Gore, menuduh AC/DC sebagai akronim dari "Anti-Christ/Devil's Child" atau "After Christ, Devil Comes". Pendeta televangelis menggunakan lagu ini sebagai contoh utama kerusakan moral remaja Amerika. Kasus pembunuhan Richard Ramirez, "Night Stalker", yang diduga terobsesi dengan AC/DC, semakin memperkuat narasi panik moral ini pada pertengahan 1980-an.
Tetapi liriknya, jika dibaca dengan jujur, menceritakan sesuatu yang jauh lebih membumi. Bon Scott menulis tentang kehidupan musisi yang dipaksa oleh industri untuk terus bergerak — dari kota ke kota, dari panggung ke panggung — tanpa istirahat yang nyata, tanpa kepulangan yang sebenarnya. "Jalan raya menuju neraka" adalah metafora untuk eksploitasi tenaga kerja kreatif, untuk hilangnya keseimbangan hidup, untuk transaksi Faustian antara ambisi artistik dan kewarasan personal. Ironisnya, lagu ini menjadi nubuat bagi nasib Scott sendiri.
Ada juga dimensi kelas sosial yang sering diabaikan dalam analisis lagu ini. Bon Scott lahir di Forfar, Skotlandia, dari keluarga kelas pekerja yang beremigrasi ke Australia ketika ia masih anak-anak. Angus dan Malcolm Young juga berasal dari latar belakang kelas pekerja Glasgow yang pindah ke Sydney. Etos musik mereka — tanpa pretensi, tanpa solo gitar yang menyombongkan diri, tanpa lirik puitis yang berbunga-bunga — adalah refleksi langsung dari budaya pub Australia akhir 1970-an. "Highway to Hell" adalah lagu kelas pekerja tentang bekerja sampai mati. Setan dalam lagu itu bukanlah Lucifer dari teologi Kristen; ia adalah industri musik itu sendiri, atau lebih luas lagi, kapitalisme akhir yang menuntut segalanya sebagai imbalan atas kesuksesan.
Aspek lain yang menarik adalah humor gelap yang menjalar di seluruh lagu. Bon Scott tidak pernah meratapi nasibnya — ia merangkulnya dengan senyum miring. Tidak ada permintaan maaf, tidak ada penyesalan. Hanya pengakuan bahwa jika seseorang akan terlempar ke jurang, lebih baik melakukannya dengan teman-teman yang baik dan musik yang keras. Ini adalah filosofi rock and roll dalam bentuk paling murninya: bukan sebagai jalan menuju kemuliaan, tetapi sebagai cara bermartabat untuk menghadapi kehancuran yang tak terhindarkan.
Cultural context untuk Indonesia
Bagi pendengar Indonesia, "Highway to Hell" memiliki resonansi khusus yang melampaui sekadar nostalgia rock klasik. Lagu ini, bersama dengan album yang menyertainya, masuk ke Indonesia pada era ketika musik rock Barat masih beredar terutama melalui kaset bajakan yang dijual di Glodok dan pasar-pasar musik di Jalan Surabaya, Jakarta. Generasi musisi Indonesia yang tumbuh di akhir 1970-an dan awal 1980-an — generasi yang akan mendefinisikan rock Indonesia — banyak yang mengidentifikasi AC/DC sebagai salah satu pintu masuk ke dunia hard rock.
God Bless, band rock legendaris yang dibentuk pada 1973 di Jakarta dengan Achmad Albar sebagai vokalis, menunjukkan jejak pengaruh estetika rock Anglo-Saxon era ini. Meskipun God Bless lebih dekat secara musikal dengan Deep Purple dan Black Sabbath, sikap panggung mereka dan komitmen pada riff sederhana namun kuat mencerminkan pelajaran yang sama yang diajarkan AC/DC: bahwa rock tidak perlu rumit untuk menjadi kuat. Album Cermin (1980) God Bless dirilis hanya setahun setelah Highway to Hell, dan dengarkan baik-baik — Anda akan menemukan DNA yang sama.
Iwan Fals, meskipun jauh lebih dekat dengan tradisi balada dan musik country, berbagi dengan Bon Scott sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pengaruh musikal: kemampuan untuk berbicara sebagai suara kelas pekerja tanpa pernah terdengar berpura-pura. Lagu-lagu Iwan Fals seperti "Bento" dan "Bongkar" memiliki energi konfrontatif yang sama dengan AC/DC, meskipun disampaikan melalui idiom yang sangat berbeda. Keduanya menolak romantisme dan memilih kejujuran getir.
Slank, yang dibentuk pada 1983 oleh Bimbim, kemudian akan mewarisi tradisi rock kelas pekerja ini dengan cara yang lebih eksplisit. Album-album awal Slank, terutama Suit-Suit He He (1990), menunjukkan kecintaan band ini terhadap groove sederhana, lirik tanpa basa-basi, dan etos kolektif yang sangat AC/DC. Kaka, vokalis Slank, sering disebut sebagai salah satu vokalis Indonesia yang paling dekat secara timbral dengan tradisi vokalis rock Anglo-Saxon, dan pengaruh Bon Scott — bersama dengan Brian Johnson yang menggantikannya — dapat didengar dalam frase vokalnya.
Dewa 19, meskipun lebih dekat dengan rock progresif dan pop rock, juga menunjukkan kesadaran yang dalam terhadap warisan AC/DC dalam beberapa lagu mereka yang lebih keras. Ahmad Dhani, sebagai produser dan komposer, sering mengutip pentingnya riff sederhana sebagai fondasi lagu pop — sebuah pelajaran yang langsung bisa ditelusuri kembali ke Malcolm Young.
Java Jazz Festival, meskipun namanya menunjukkan fokus pada jazz, telah menjadi platform di mana berbagai aliran musik bertemu di Indonesia, dan generasi musisi muda yang tampil di festival ini sering kali mengakui hutang mereka pada arsitektur lagu yang dipelopori oleh band-band seperti AC/DC: pentingnya hook, pentingnya pengulangan, pentingnya groove yang bisa dirasakan secara fisik. Bahkan di kalangan jazz fusion Indonesia, prinsip "kurang adalah lebih" yang dianut AC/DC tetap relevan.
Lebih luas lagi, "Highway to Hell" beresonansi dengan budaya Indonesia kontemporer dalam cara yang mungkin tidak diduga. Jakarta, dengan kemacetannya yang legendaris, dengan jam-jam panjang yang dihabiskan di Tol Cikampek atau Inner Ring Road, memberikan dimensi literal pada metafora Scott. "Jalan raya menuju neraka" bukan lagi sekadar metafora bagi banyak pekerja Indonesia yang menghabiskan tiga hingga empat jam sehari di jalan, terjebak antara rumah dan kantor, dalam siklus yang terasa tanpa akhir.
Why it resonates today
Pada 2026, hampir lima dekade setelah perilisannya, "Highway to Hell" terus memainkan peran yang aneh dalam budaya populer global. Lagu ini telah menjadi musik latar untuk segala sesuatu, dari pertandingan olahraga hingga iklan asuransi, dari adegan film hingga kompilasi pelatihan kebugaran. Sebagian dari pengakuan abadi ini berasal dari kualitas formal lagu itu sendiri — komposisi yang begitu efisien sehingga tampaknya tidak menua. Tetapi ada juga sesuatu yang lebih dalam yang sedang terjadi.
Generasi muda yang menemukan AC/DC melalui TikTok atau Spotify pada 2020-an mungkin tidak memahami konteks panik moral 1980-an, tetapi mereka memahami sentimen inti lagu ini dengan cara yang segar. Pada era di mana hustle culture telah menjadi tema dominan, di mana batas antara pekerjaan dan kehidupan telah hilang, di mana "selalu terhubung" adalah norma — keluhan Bon Scott tentang siklus tur yang menggerogoti jiwa terdengar sangat kontemporer. Ia menulis tentang gig economy sebelum istilah itu ada.
Ada juga dimensi anti-otoritarian dari lagu ini yang terus relevan. Sikapnya yang menolak untuk meminta maaf, menolak untuk mengkalibrasi diri sesuai harapan institusi — keluarga, gereja, negara — adalah sikap yang masih dicari oleh setiap generasi remaja baru. Dalam konteks Indonesia, di mana norma-norma sosial sering kali konservatif dan di mana ekspektasi keluarga dapat terasa berat, energi pembebasan dari "Highway to Hell" terus menemukan pendengar baru.
Yang menarik adalah bagaimana ironi yang dibangun ke dalam lagu ini telah berkembang seiring waktu. Bon Scott, yang meninggal pada usia 33 tahun karena gaya hidup yang ia rayakan dalam lagunya, telah menjadi semacam santo pelindung bagi musisi yang memilih intensitas atas umur panjang. Lagu ini tidak lagi hanya tentang sikap; ia menjadi epitafnya. Setiap kali seseorang memutarnya, ada lapisan tambahan makna — kesadaran bahwa pembicara dalam lagu itu memang akhirnya sampai ke tujuan yang ia nyanyikan.
Untuk pendengar Indonesia kontemporer, di tengah debat tentang keseimbangan kerja-kehidupan, di tengah pertanyaan tentang apa artinya hidup dengan baik di abad ke-21, "Highway to Hell" menawarkan pertanyaan yang masih membakar: bukan apakah kita semua sedang menuju ke jurang, tetapi bagaimana kita memilih untuk melakukan perjalanan itu. Dengan keluhan, atau dengan tawa? Sendirian, atau bersama-sama? Dalam diam, atau dengan riff gitar yang terus berputar?
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Dengarkan
Back in Black (AC/DC) Album yang dirilis pada Juli 1980, hanya lima bulan setelah kematian Bon Scott, dengan Brian Johnson sebagai vokalis baru. Sebuah dokumen luar biasa tentang duka, ketahanan, dan kelanjutan visi musikal — salah satu album terlaris sepanjang masa. → Search
Cermin (God Bless) Rilisan 1980 dari band rock legendaris Indonesia yang menunjukkan bagaimana estetika hard rock era ini diterjemahkan ke dalam idiom Indonesia, dengan keseimbangan antara intensitas instrumental dan lirik berbahasa Indonesia yang puitis. → Search
📚 Baca
Highway to Hell: The Life and Death of AC/DC Legend Bon Scott (Clinton Walker) Biografi definitif tentang Bon Scott yang ditulis oleh jurnalis musik Australia Clinton Walker. Buku ini menelusuri perjalanan Scott dari Skotlandia ke Australia hingga kematiannya di London, dengan kedalaman yang langka. → Search
Musik Indonesia 1997-2001: Kelahiran Generasi Indie (Wendi Putranto) Sebuah kronik penting tentang evolusi musik rock dan alternatif Indonesia yang membantu mengkontekstualisasikan bagaimana pengaruh band-band seperti AC/DC mengalir ke dalam skena lokal. → Search
🌍 Kunjungi
M Bloc Space, Jakarta Ruang musik live dan kreatif di Jakarta Selatan yang sering menampilkan band rock klasik dan tribute, serta menjadi tempat berkumpulnya komunitas musik rock Indonesia. Tempat untuk merasakan bagaimana warisan rock klasik tetap hidup di Indonesia. → Search
Perth, Australia (situs Bon Scott) Bagi peziarah musik yang serius, kota Perth di Australia Barat — tempat keluarga Scott menetap setelah beremigrasi — memiliki patung Bon Scott di Fremantle dan makamnya, yang menjadi situs ziarah bagi penggemar AC/DC dari seluruh dunia. → Search
🎸 Coba sendiri
Gitar listrik tipe SG (replika Gibson) Gitar pilihan Angus Young, dengan double cutaway dan dua pickup humbucker, menghasilkan tone khas yang menjadi ciri AC/DC. Versi replika yang terjangkau tersedia luas dan ideal untuk mempelajari riff klasik. → Search
Amplifier kombo Marshall tipe DSL Untuk mendekati tone AC/DC yang ikonik, amplifier tabung Marshall dengan crunch sedang adalah kuncinya. Versi kombo ukuran kecil memungkinkan pengalaman tone yang otentik tanpa membutuhkan ruang besar. → Search
-
Bagaimana kematian Bon Scott hanya tujuh bulan setelah perilisan "Highway to Hell" mengubah cara album ini diterima oleh publik dan kritik?
Kematian Scott pada Februari 1980 mengubah album ini dari sekadar terobosan komersial menjadi semacam peninggalan terakhir yang dibebani makna tragis. Banyak pendengar dan kritikus kemudian membaca lagunya seolah-olah sebagai nubuat atas nasibnya sendiri, sehingga humor gelap dan sikap merangkul kehancuran terasa jauh lebih getir. Ironi ini juga membantu mengangkat statusnya menjadi karya klasik abadi, bukan hanya album hard rock biasa. -
Mengapa estetika "kurang adalah lebih" yang dianut AC/DC begitu sulit untuk ditiru, meskipun secara teknis sederhana?
Kesulitannya justru terletak pada kesederhanaannya: ketika hampir tidak ada yang disembunyikan di balik kerumitan, setiap nuansa timing, tone, dan ruang antar-ketukan menjadi terekspos sepenuhnya. Kekuatan AC/DC dilaporkan bergantung pada groove yang sangat disiplin dari Malcolm Young dan Phil Rudd serta tone yang spesifik, hal-hal yang sulit direplikasi sekadar dengan memainkan nada yang sama. Dengan kata lain, yang dijual band ini bukan kompleksitas, melainkan rasa — dan rasa jauh lebih sulit dipalsukan. -
Bagaimana band rock Indonesia kontemporer seperti Seringai atau The SIGIT menerjemahkan warisan hard rock seperti AC/DC ke dalam konteks lokal abad ke-21?
Band-band seperti Seringai dan The SIGIT tampak mewarisi semangat riff-driven yang lugas dan energi panggung tanpa basa-basi yang menjadi ciri hard rock klasik, namun mengemasnya dengan sensibilitas dan idiom yang lebih modern. The SIGIT sering dikaitkan dengan tradisi rock garasi dan blues-rock yang kasar, sementara Seringai dikenal dengan agresi metal-rock dan lirik berbahasa Indonesia yang konfrontatif. Keduanya menunjukkan bahwa pelajaran inti dari AC/DC — bahwa rock tidak perlu rumit untuk terasa kuat — tetap relevan bagi generasi pendengar Indonesia hari ini.