favorite crime
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Ketika korban dan pelaku ternyata orang yang sama
Ada sesuatu yang licik dalam cara "favorite crime" bekerja. Dari judulnya, kita mengira ini akan jadi kisah tentang pencurian, perampokan, atau drama kriminal ala film. Tapi begitu lagu ini mengalir — pelan, hanya dipeluk gitar akustik dan tumpukan harmoni vokal — kita sadar bahwa "kejahatan" yang dimaksud sama sekali bukan hal yang bisa dibawa ke pengadilan. Kejahatan itu adalah sebuah hubungan.
Inilah kejeniusan lagu ini. Olivia Rodrigo memakai bahasa hukum dan kriminal — soal alibi, kaki tangan, bukti, dan tempat kejadian perkara — untuk menggambarkan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan: perasaan bersalah karena ikut menghancurkan diri sendiri. Dalam narasi lagu ini, sang tokoh bukan sekadar korban yang disakiti. Ia adalah "kaki tangan" yang sukarela — orang yang menutupi kesalahan kekasihnya, memberikan alibi, membiarkan reputasinya sendiri hancur, semua demi cinta yang ternyata satu arah.
Yang membuat "favorite crime" begitu menusuk adalah kejujurannya. Alih-alih menunjuk jari sepenuhnya pada mantan, tokoh dalam lagu ini mengakui bahwa ia ikut membangun "kejahatan" itu. Ia tahu ia terlibat. Dan justru pengakuan itulah yang membuat banyak pendengar merasa lagu ini seperti membaca isi kepala mereka sendiri.
Gadis 18 tahun yang mengguncang dunia — dan akar Asia Tenggaranya
Untuk memahami lagu ini, kita perlu memahami momen di mana ia lahir. "favorite crime" adalah salah satu lagu penutup dari SOUR, album debut Olivia Rodrigo yang dirilis Mei 2021. Saat itu, Olivia baru berusia 18 tahun. Beberapa bulan sebelumnya, ia meledak secara global lewat single "drivers license" — sebuah balada patah hati yang memecahkan berbagai rekor streaming dan mendadak membuat namanya ada di mana-mana, dari radio sampai lini masa TikTok.
Olivia sebelumnya dikenal sebagai aktris Disney, terutama lewat peran Nina di serial High School Musical: The Musical: The Series. Tapi SOUR mengubah persepsi orang tentang dirinya secara total. Album itu bukan produk manufaktur pop remaja yang mengkilap; ia terasa mentah, marah, rapuh, dan sangat personal — perpaduan pop-punk, bedroom pop, dan balada folk yang jujur soal cemburu, insecurity, dan patah hati pertama.
Ada satu detail yang sering luput dan menarik khususnya bagi pendengar di Indonesia dan Asia Tenggara: Olivia Rodrigo memiliki darah Filipina dari sisi keluarga ayahnya. Kabarnya, kakek buyutnya berimigrasi dari Filipina ke Amerika Serikat. Artinya, salah satu bintang pop terbesar generasi ini punya akar Asia Tenggara — sesuatu yang membuat banyak penggemar di kawasan ini, termasuk Indonesia, merasa punya kedekatan khusus dengannya. Di tengah lanskap musik Barat yang selama ini didominasi wajah-wajah tertentu, kehadiran Olivia terasa seperti pengingat bahwa suara dari akar Asia bisa berdiri di panggung paling besar sekalipun.
Kedekatan itu bukan hanya soal darah. SOUR dan gaya "sad girl pop" Olivia sangat cocok dengan sensibilitas Gen Z Indonesia yang tumbuh besar bersama TikTok. Emosi yang tumpah, lirik yang terasa seperti caption story tengah malam, estetika melankolis yang justru terasa jujur — semua itu beresonansi kuat. Tak heran, potongan-potongan lagu dari album ini, termasuk "favorite crime", sempat ramai dijadikan latar video di media sosial anak muda Indonesia.
"favorite crime" sendiri konon ditulis Olivia bersama produser andalannya, Dan Nigro — sosok yang jadi kolaborator kunci di hampir seluruh SOUR. Lagu ini adalah salah satu track terpendek di album, hanya sekitar dua setengah menit. Tapi durasi pendek itu justru membuatnya terasa seperti sebuah pengakuan yang cepat, intens, lalu berlalu — seperti sesuatu yang terlalu menyakitkan untuk diucapkan terlalu lama.
Membedah makna: menjadi kaki tangan dalam kehancuranmu sendiri
Inti dari "favorite crime" bisa dipahami lewat satu metafora besar yang dijalankan Olivia secara konsisten dari awal sampai akhir: sebuah hubungan yang toksik digambarkan sebagai aksi kriminal, dan sang tokoh menempatkan dirinya sebagai kaki tangan sang kekasih.
Dalam kisah yang ia lukiskan, kekasihnya adalah "pelaku" — orang yang melakukan kerusakan, yang meninggalkan puing-puing. Tapi alih-alih menolak, sang tokoh justru ikut serta. Ia digambarkan sebagai orang yang bersedia berbohong untuk menutupi, yang menyediakan alibi, yang mempertaruhkan reputasinya sendiri demi melindungi orang yang sebenarnya menyakitinya. Ia tahu apa yang sedang terjadi, tapi tetap memilih tinggal, tetap memilih terlibat. Cinta membuatnya rela menjadi bagian dari kejahatan yang perlahan menghancurkan dirinya.
Yang paling memilukan adalah bagaimana ia membingkai seluruh pengalaman itu. Meskipun sadar bahwa hubungan itu meninggalkan kerusakan besar — reputasi yang rusak, harga diri yang tergerus, kepercayaan yang runtuh — ia tetap menyebut dirinya sebagai "kejahatan favorit" sang kekasih. Ada nada getir sekaligus pasrah di sana. Seolah ia berkata: aku tahu aku hanya salah satu "kasus" dalam daftar panjangmu, tapi aku juga tahu bahwa untuk sesaat, akulah yang paling kamu nikmati untuk dihancurkan.
Tanpa mengutip satu bait pun, kita bisa merasakan lapisan emosinya: ada penyesalan, ada tuduhan halus, tapi juga ada semacam kepemilikan atas kesalahannya sendiri. Ini bukan lagu tentang menjadi korban yang polos. Ini lagu tentang kesadaran yang datang terlambat — saat kita menoleh ke belakang dan menyadari bahwa kita ikut menandatangani "surat kesepakatan" untuk disakiti.
Dan lalu, ada momen sonik yang jadi ciri khas lagu ini: di bagian akhir, harmoni vokal Olivia bertumpuk-tumpuk, berlapis-lapis, menciptakan semacam paduan suara dari dirinya sendiri. Banyak yang menafsirkan bagian ini seperti gema — suara-suara penyesalan yang terus berdengung di kepala setelah semuanya berakhir. Efeknya membuat lagu yang tadinya intim tiba-tiba terasa megah dan menghantui, seolah satu orang berubah menjadi kerumunan kenangan.
Konteks budaya dan warisan: balada yang membuktikan Olivia bukan sekadar hits sesaat
Ketika SOUR dirilis, banyak orang menyoroti lagu-lagu yang lebih "meledak" seperti "good 4 u" atau "brutal" yang penuh energi pop-punk. Tapi seiring waktu, "favorite crime" justru berkembang menjadi salah satu lagu paling dicintai penggemar sejati Olivia — sebuah deep cut yang oleh banyak orang dianggap sebagai jantung emosional album.
Secara musikal, lagu ini kerap dibandingkan dengan gaya bercerita Taylor Swift di era-era awalnya, sekaligus kerapuhan indie folk ala Phoebe Bridgers. Olivia sendiri tidak pernah menyembunyikan bahwa penulis-penulis lagu seperti mereka sangat memengaruhinya. Tapi "favorite crime" membuktikan sesuatu yang penting: bahwa Olivia bukan hanya bisa berteriak marah, tapi juga bisa membangun sebuah metafora yang utuh dan menahannya dengan penuh kendali sepanjang lagu. Ini keterampilan menulis yang matang untuk seseorang yang saat itu masih remaja.
Warisan lagu ini terletak pada bagaimana ia mengubah cara banyak pendengar muda memahami patah hati. Alih-alih menyajikan narasi hitam-putih "aku baik, dia jahat", "favorite crime" memperkenalkan keabu-abuan: bagaimana kadang kita ikut bertanggung jawab atas luka kita sendiri, bagaimana cinta bisa membuat kita mengkhianati prinsip kita sendiri. Bagi banyak anak muda — termasuk di Indonesia — lagu ini jadi semacam cermin yang jujur, bukan penghibur yang menyanjung.
SOUR pada akhirnya membawa Olivia meraih pengakuan besar, termasuk beberapa penghargaan bergengsi, dan mengukuhkannya sebagai salah satu penulis lagu paling penting di generasinya. Dan di dalam album penuh sorotan itu, "favorite crime" tetap berdiri sebagai bukti diam-diam bahwa kekuatan sejati Olivia ada pada keintiman dan kejujurannya.
Kenapa lagu ini masih terasa relevan sampai sekarang
Bertahun-tahun setelah dirilis, "favorite crime" tetap menemukan pendengar baru. Alasannya sederhana: pengalaman yang ia gambarkan tidak pernah kedaluwarsa. Selama manusia masih jatuh cinta pada orang yang salah, selama kita masih rela mengorbankan sesuatu yang berharga demi seseorang yang tidak layak, lagu ini akan terus terasa seperti ditulis untuk kita.
Ada sesuatu yang sangat universal dalam tema "kaki tangan cinta" ini. Kita semua pernah, dalam bentuk apa pun, menutupi kesalahan seseorang, membela orang yang menyakiti kita, atau membiarkan diri kita mengecil demi menjaga sebuah hubungan tetap utuh. "favorite crime" tidak menghakimi perasaan itu. Ia hanya menamainya dengan jujur — dan justru itulah yang membuatnya melegakan.
Bagi pendengar di Indonesia, lagu ini juga cocok dengan cara Gen Z memproses emosi hari ini: terbuka, reflektif, dan tidak takut mengakui kerapuhan. Di era di mana anak muda semakin nyaman berbicara soal kesehatan mental dan pola hubungan yang tidak sehat, "favorite crime" terasa seperti percakapan tengah malam dengan sahabat yang benar-benar mengerti. Ia tidak menawarkan solusi murah. Ia hanya duduk bersamamu dalam penyesalan itu — dan kadang, itulah yang paling kita butuhkan.
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Menyelami suaranya
Untuk benar-benar merasakan lagu ini, dengarkan album SOUR secara utuh dari awal sampai akhir — hanya dengan begitu kamu paham posisi "favorite crime" sebagai klimaks emosional menjelang penutup. Perhatikan juga tumpukan harmoni vokal di bagian akhir yang menjadi ciri khasnya.
- Cari album SOUR Olivia Rodrigo (CD & Vinyl)
- Cari headphone untuk mendengar detail harmoni vokal
- Cari piringan hitam SOUR edisi khusus
Mendengarkan versi vinyl atau CD dengan headphone yang baik akan memunculkan lapisan-lapisan produksi Dan Nigro yang sering hilang saat kita mendengarkan sambil lalu lewat speaker ponsel. Detail kecil seperti gesekan senar gitar dan gema vokal adalah bagian dari cerita lagu ini.
📚 Menelusuri kisahnya
Kisah di balik SOUR dan perjalanan Olivia dari aktris Disney menjadi ikon pop layak ditelusuri lebih jauh. Ada banyak materi yang membantu kita memahami konteks penulisan album ini dan era patah hati remaja yang ia abadikan.
- Cari buku dan majalah tentang Olivia Rodrigo
- Cari buku tentang seni menulis lagu (songwriting)
- Cari buku tentang pop culture Gen Z
Memahami bagaimana penulis lagu membangun metafora yang konsisten — seperti metafora "kejahatan" dalam lagu ini — akan mengubah cara kamu mendengarkan musik selamanya. Buku-buku tentang songwriting membuka tirai di balik proses kreatif seperti itu.
🌍 Mengunjungi tempatnya
"favorite crime" tidak berlatar satu tempat spesifik, tapi dunia Olivia Rodrigo berakar di California Selatan, tempat ia dibesarkan sebelum menaklukkan Los Angeles. Menelusuri lanskap musik dan budaya pop Amerika bisa memperkaya cara kamu memaknai karyanya.
Los Angeles adalah pusat gravitasi tempat ribuan penulis lagu muda — termasuk Olivia — mengubah luka pribadi menjadi karya global. Membayangkan kota ini membantu kita memahami ekosistem yang melahirkan SOUR.
🎸 Mengalaminya sendiri
Cara terbaik memahami sebuah lagu adalah mencoba memainkannya. "favorite crime" dibangun di atas gitar akustik yang sederhana, menjadikannya lagu yang cocok untuk dipelajari pemula sekaligus dinikmati saat dimainkan sendiri di kamar.
Bereksperimen dengan tumpukan harmoni vokal seperti yang dilakukan Olivia di akhir lagu bisa jadi latihan yang mengasyikkan dengan mikrofon rumahan sederhana. Kamu akan langsung merasakan betapa banyak lapisan yang tersembunyi di balik kesan "sederhana" lagu ini.
-
Kenapa Olivia memakai metafora "kejahatan" untuk menggambarkan sebuah hubungan?
Metafora kriminal memungkinkannya menggambarkan dinamika kekuasaan dan rasa bersalah tanpa harus menudingnya secara langsung. Dengan menyebut dirinya "kaki tangan", ia mengakui bahwa ia ikut terlibat dalam kehancurannya sendiri — sebuah kejujuran yang jauh lebih menusuk daripada sekadar menyalahkan mantan. -
Kenapa bagian akhir lagu terdengar penuh tumpukan suara?
Di penghujung lagu, Olivia menumpuk banyak lapisan harmoni vokalnya sendiri, menciptakan efek seperti paduan suara. Banyak pendengar menafsirkannya sebagai gema penyesalan yang terus berdengung di kepala setelah hubungan berakhir, membuat lagu yang intim tiba-tiba terasa menghantui dan megah. -
Apa hubungan Olivia Rodrigo dengan Asia Tenggara?
Olivia memiliki darah Filipina dari sisi keluarga ayahnya, konon dari kakek buyutnya yang berimigrasi ke Amerika Serikat. Bagi banyak penggemar di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara, akar ini membuatnya terasa dekat — sebuah pengingat bahwa suara berakar Asia bisa berdiri di panggung pop paling besar sekalipun.