SONGFABLE · 1982

Come On Eileen

DEXYS MIDNIGHT RUNNERS · 1982

TL;DR: Di balik biola ceria dan overall denim lusuh itu, "Come On Eileen" sebenarnya adalah kisah dua remaja Katolik kelas pekerja yang ingin kabur dari nasib orang tua mereka — sebuah lagu tentang rasa bersalah, hasrat, dan keinginan membara untuk menjadi lebih dari sekadar takdir yang diwariskan.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Lagu Pesta yang Sebenarnya Bukan Lagu Pesta

Coba tanyakan kepada siapa pun yang pernah datang ke pesta pernikahan di Inggris, Amerika, atau bahkan acara nostalgia 80-an di Jakarta: begitu intro biola "Come On Eileen" berbunyi, lantai dansa langsung penuh. Lagu ini sudah puluhan tahun menjadi semacam tombol ajaib untuk membuat orang bergoyang. Tapi inilah ironinya yang jarang disadari: lagu yang dianggap "lagu senang-senang" paling ikonik dari era 80-an ini sebenarnya lahir dari kegelisahan yang sangat dalam.

Kevin Rowland, sang vokalis dan otak di balik Dexys Midnight Runners, tidak sedang menulis lagu tentang pesta. Ia menulis tentang masa remajanya sebagai anak imigran Irlandia di Inggris — tentang gadis yang ia kenal sejak kecil, tentang ajaran agama yang membuat hasrat terasa seperti dosa, dan tentang ketakutan terbesar generasinya: tumbuh dewasa menjadi persis seperti orang tua mereka, lelah, pasrah, dan terjebak. Di balik melodi yang melompat-lompat riang itu tersimpan teriakan seorang anak muda: kita harus keluar dari sini, sekarang, sebelum terlambat.

Kontras inilah yang membuat lagu ini abadi. Telinga kita mendengar perayaan, tapi hati lagu ini sebenarnya sedang memberontak.

Birmingham, Anak Imigran Irlandia, dan Band yang Keras Kepala

Untuk memahami "Come On Eileen", kita perlu mundur ke Birmingham, kota industri di Inggris tengah, pada akhir 1970-an. Kevin Rowland lahir dari keluarga imigran Irlandia yang taat Katolik. Masa kecilnya berpindah-pindah antara Inggris dan Irlandia, dan identitas ganda ini — bukan sepenuhnya Inggris, bukan sepenuhnya Irlandia — menjadi bahan bakar kreatifnya seumur hidup.

Dexys Midnight Runners (nama mereka konon diambil dari Dexedrine, pil stimulan yang populer di kalangan penggemar Northern Soul agar kuat berdansa semalaman) bukan band biasa. Rowland menjalankan band ini hampir seperti sekte: anggota diwajibkan latihan lari pagi bersama, dilarang minum alkohol sebelum manggung, dan harus mengikuti konsep visual yang ia tentukan. Banyak musisi keluar-masuk karena tidak tahan dengan disiplinnya yang nyaris militer. Tapi justru obsesi inilah yang menghasilkan musik dengan intensitas yang sulit ditiru.

Album pertama mereka, Searching for the Young Soul Rebels (1980), bergaya soul dengan brass section ala Stax, dan menghasilkan hit besar "Geno" di Inggris. Tapi Rowland bosan dengan kesuksesan formula itu. Untuk album kedua, Too-Rye-Ay (1982), ia membuang citra lama, merekrut trio biola yang dijuluki The Emerald Express, dan menciptakan genre baru yang ia sebut "Celtic soul" — perpaduan musik soul Amerika dengan musik rakyat Irlandia. Penampilan band pun berubah total: overall denim, bandana, kaos lusuh — terinspirasi gaya pekerja dan musisi jalanan, seolah mereka baru pulang dari ladang.

Bagi pendengar Indonesia, ada satu jembatan budaya yang menarik di sini. Apa yang dilakukan Rowland — mengawinkan musik pop modern dengan musik akar tradisi leluhurnya — adalah resep yang sangat akrab di telinga kita. Itu semangat yang sama dengan yang dilakukan Rhoma Irama ketika memadukan rock dengan melodi Melayu menjadi dangdut modern, atau yang belakangan dilakukan musisi seperti via campursari-nya Didi Kempot yang merangkul anak muda urban. "Come On Eileen" pada dasarnya adalah "musik kampung halaman" yang dibuat keren untuk anak kota — fenomena yang orang Indonesia pahami secara naluriah.

Proses penulisannya sendiri tidak instan. Rowland menulisnya bersama Jim Paterson dan Billy Adams, dan konon mereka mengutak-atik struktur lagu ini berbulan-bulan. Bagian tengah lagu yang melambat lalu naik perlahan-lahan hingga meledak — bagian yang selalu membuat penonton konser ikut jongkok lalu melompat — adalah hasil rancangan yang sangat sadar, bukan kebetulan. Rowland dilaporkan terobsesi dengan detail sekecil apa pun, sampai-sampai proses rekaman album ini dikenang para anggota band sebagai pengalaman yang melelahkan secara emosional.

Siapa Eileen, dan Apa yang Sebenarnya Ia Wakili

Jadi siapa Eileen? Rowland pernah mengatakan dalam berbagai wawancara bahwa Eileen terinspirasi dari gadis nyata yang ia kenal di masa remajanya — teman masa kecil dari komunitas Katolik Irlandia yang sama. Mereka tumbuh bersama sebagai teman main, lalu pubertas datang dan mengubah segalanya. Persahabatan yang polos tiba-tiba diwarnai ketertarikan fisik, dan di situlah konflik batinnya dimulai.

Bayangkan konteksnya: dua remaja yang dibesarkan dengan ajaran bahwa hasrat tubuh adalah sesuatu yang kotor dan memalukan. Lagu ini menggambarkan momen ketika sang narator membujuk Eileen untuk melepaskan diri dari rasa bersalah itu — untuk mengakui bahwa apa yang mereka rasakan adalah hal yang wajar dan manusiawi, bukan dosa. Ada kegugupan, ada rayuan, ada keberanian yang dipaksakan. Ini bukan lagu rayuan murahan; ini potret canggung dan jujur tentang dua anak muda yang mencoba menavigasi hasrat pertama mereka di bawah bayang-bayang gereja.

Tapi lapisan yang lebih dalam — dan menurut banyak pengamat justru inti lagu ini — adalah soal kelas sosial. Di salah satu bagian, narator mengamati orang-orang tua di sekitarnya: dulu mereka muda dan punya mimpi, kini mereka berjalan dengan punggung membungkuk, menyanyikan lagu-lagu sedih yang sama, pasrah pada hidup yang itu-itu saja. Lalu datang sumpah yang menjadi jantung emosional lagu ini: kita tidak akan berakhir seperti mereka. Apa pun yang terjadi, kita akan jadi sesuatu yang lebih.

Bahkan referensi musik di dalamnya pun bermakna. Lagu ini menyebut Johnnie Ray, penyanyi Amerika 1950-an yang terkenal karena menangis di panggung — idola generasi orang tua sang narator. Bagi ibu-ibu mereka dulu, Johnnie Ray adalah simbol gairah masa muda. Kini para ibu itu sudah tua dan letih. Pesannya halus tapi tajam: masa muda itu singkat, gairah itu bisa padam, dan kalau kau tidak melompat sekarang, kau akan jadi foto pudar di dinding seperti mereka.

Maka ajakan kepada Eileen sebenarnya berlapis tiga: ajakan romantis seorang remaja yang jatuh cinta, pemberontakan terhadap rasa bersalah yang ditanamkan agama, dan — yang paling besar — ajakan untuk kabur bersama dari takdir kelas pekerja yang sudah menunggu mereka. Tiga lapisan kerinduan itu dipadatkan ke dalam satu nama perempuan. Itulah kenapa lagu ini terasa begitu mendesak, begitu penuh energi: karena taruhannya, bagi sang narator, adalah seluruh hidupnya.

Dari Puncak Tangga Lagu ke Memori Kolektif Dunia

Secara komersial, "Come On Eileen" adalah monster. Lagu ini bertengger di puncak tangga lagu Inggris selama beberapa pekan pada musim panas 1982 dan dilaporkan menjadi single terlaris tahun itu di Inggris. Yang lebih mengejutkan, pada April 1983 lagu ini mencapai nomor satu di Billboard Hot 100 Amerika — dan trivia yang sering dikutip: lagu inilah yang menyela dominasi Michael Jackson, menempati posisi puncak di antara "Billie Jean" dan "Beat It". Sebuah band dari Birmingham dengan biola dan overall petani berhasil menyelip di tengah era Thriller. Pada 1983, lagu ini juga memenangkan BRIT Award untuk single terbaik Inggris.

Video klipnya, yang diambil di kawasan Brixton, London, ikut membentuk citra lagu ini selamanya: band bermain musik di sudut jalan dengan pakaian lusuh, terlihat seperti pengamen jenius yang tiba-tiba ditemukan dunia. Di era awal MTV, visual yang khas adalah segalanya, dan Dexys tampil sangat berbeda dari band-band synth-pop berdandan rapi yang mendominasi layar saat itu.

Tapi di sinilah tragedi kecilnya. Bagi pasar Amerika, Dexys Midnight Runners selamanya tercatat sebagai one-hit wonder — band satu lagu. Padahal di Inggris mereka punya katalog yang dihormati kritikus dan satu nomor satu lain sebelumnya. Rowland sendiri konon punya hubungan cinta-benci dengan lagu ini: ia bangga akan pencapaiannya, tapi frustrasi karena karya-karyanya yang lain tenggelam di bawah bayang-bayangnya. Album berikutnya, Don't Stand Me Down (1985), kini dianggap sebagian kritikus sebagai mahakarya yang disalahpahami, tapi saat dirilis gagal secara komersial — sebagian karena Rowland menolak merilis single dari album itu. Band bubar tak lama kemudian, dan Rowland melewati tahun-tahun yang sulit, termasuk perjuangan melawan kecanduan, sebelum kembali ke musik.

Sementara itu, lagunya sendiri hidup terus tanpa penciptanya. Ia muncul di film-film Hollywood, serial televisi, iklan, dan playlist pesta pernikahan di seluruh dunia. Band ska-punk Amerika Save Ferris membuat versi cover yang populer pada akhir 90-an. Di Indonesia, lagu ini akrab di telinga generasi yang tumbuh dengan siaran radio 80-an dan MTV era awal, dan hingga kini masih rutin terdengar di acara-acara bertema retro maupun playlist nostalgia di layanan streaming. Banyak pendengar muda mengenalnya tanpa tahu judul atau nama bandnya — cukup intro biolanya saja, dan semua orang langsung tahu lagu yang mana.

Kenapa Lagu Ini Masih Menggetarkan Hati Hari Ini

Empat dekade lebih telah berlalu, dan "Come On Eileen" tetap bekerja dengan cara yang hampir misterius. Sebagian jawabannya teknis: struktur lagunya dirancang seperti roller coaster, dengan perubahan tempo yang memanipulasi energi pendengar secara fisik. Bagian yang melambat lalu mengakselerasi perlahan itu adalah salah satu trik build-up paling efektif dalam sejarah musik pop — jauh sebelum musik elektronik menjadikan "the drop" sebagai formula baku, Dexys sudah melakukannya dengan biola dan banjo.

Tapi jawaban yang lebih dalam ada di tema universalnya. Setiap generasi, di setiap negara, punya versi mereka sendiri dari momen yang digambarkan lagu ini: usia sembilan belas tahun, kota kecil atau kampung yang terasa sempit, orang tua yang hidupnya tampak seperti peringatan dan bukan teladan, dan satu orang yang membuatmu berani bermimpi untuk pergi. Bagi anak muda Indonesia yang merantau dari kota kecil ke Jakarta, Surabaya, atau ke luar negeri demi hidup yang berbeda dari orang tuanya, narasi ini bukan cerita asing — ini cerita sendiri. Lagu ini pada hakikatnya adalah lagu perantau sebelum berangkat: campuran cinta, nekat, dan janji bahwa kita tidak akan menyerah pada keadaan.

Ada juga kejujuran emosional yang makin langka. Rowland menyanyikannya dengan suara yang nyaris pecah, melompat antara rayuan, keputusasaan, dan euforia, kadang dalam satu tarikan napas. Tidak ada jarak ironis, tidak ada sikap dingin yang keren. Di era ketika banyak musik pop dilapisi sinisme, mendengar seseorang menginginkan sesuatu dengan begitu telanjang terasa menyegarkan — bahkan membebaskan.

Dan mungkin itulah warisan terbesarnya: "Come On Eileen" mengingatkan kita bahwa lagu paling riang sekalipun bisa menyimpan luka, dan bahwa keinginan untuk lari dari nasib bukanlah pengkhianatan terhadap asal-usul, melainkan bentuk cinta yang paling berani terhadap hidup itu sendiri. Lain kali lagu ini berbunyi di sebuah pesta dan semua orang bernyanyi serempak di bagian refrein, dengarkan sekali lagi dengan telinga baru. Di balik sorak-sorai itu, ada dua remaja dari keluarga imigran yang sedang bersumpah: kita akan jadi sesuatu. Dan selama masih ada anak muda yang bermimpi keluar dari keterbatasannya, lagu ini akan terus menemukan pemiliknya yang baru.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Menyelami suaranya

📚 Mengikuti kisahnya

🌍 Mengunjungi tempatnya

🎸 Merasakannya sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 [Tanya lebih lanjut]:

Tags
80s