SONGFABLE · 2021

Butter

BTS · 2021

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Butter - BTS (2021)

TL;DR: Di balik kemasan lagu disko-pop yang ceria, "Butter" sebenarnya adalah eksperimen strategis BTS untuk menaklukkan tangga lagu Amerika dengan formula paling ringan dan paling mudah dicerna — sebuah "senjata" yang sengaja dibuat tanpa beban, lahir dari masa pandemi ketika dunia butuh sesuatu yang terasa hangat dan menyenangkan.

Sebuah lagu yang sengaja dibuat "tanpa beban"

Ada hal yang menarik soal "Butter" yang sering luput dari perhatian: lagu ini hampir tidak punya kedalaman makna yang rumit — dan itu justru disengaja. Setelah "Dynamite" meledak di tahun 2020 dan membuktikan bahwa BTS bisa merajai pasar Barat dengan lagu berbahasa Inggris penuh, tim mereka tidak mencoba bermain aman dengan mengulang formula yang sama persis. Sebaliknya, mereka melangkah lebih jauh ke arah yang lebih berani dalam kesederhanaannya.

"Butter" dirancang sebagai apa yang bisa kita sebut sebagai lagu musim panas yang sempurna: ringan, lengket di kepala, dan mudah ditiru oleh siapa pun di mana pun. Judulnya saja sudah memberi tahu kita banyak hal. Mentega yang meleleh di atas wajan panas — itulah metafora utama lagu ini. Si penyanyi membandingkan pesonanya dengan cara mentega meleleh dengan mulus dan menggoda, mengklaim bahwa dia bisa membuat hati pendengarnya luluh semudah mentega meleleh di musim panas.

Kalau kamu penggemar musik Barat, kamu mungkin langsung merasa ada yang familier di sini. Dan memang benar — "Butter" dengan sengaja meminjam DNA dari era pop yang sudah teruji.

Lahir di tengah pandemi, dibuat untuk menyembuhkan

Untuk benar-benar memahami "Butter", kita harus ingat kapan lagu ini dirilis: Mei 2021, di tengah-tengah pandemi global yang masih belum reda. Dunia masih lelah. Konser dibatalkan, orang-orang terkurung di rumah, dan kelelahan emosional terasa di mana-mana. BTS sendiri tidak bisa menggelar tur dunia seperti biasanya, dan ARMY — sebutan untuk basis penggemar mereka yang masif — merindukan energi panggung yang nyata.

Dalam konteks itulah "Butter" menjadi masuk akal. Ini bukan lagu yang ingin mengajakmu merenung tentang kehidupan atau menyentuh luka batin, seperti banyak karya BTS sebelumnya yang justru terkenal karena kedalaman liriknya soal kesehatan mental, tekanan sosial, dan pencarian jati diri. "Butter" adalah obat penawar jenis lain — ia ingin membuatmu bergoyang, tersenyum, dan melupakan sejenak betapa beratnya tahun-tahun itu.

Lagu ini ditulis oleh tim penulis lagu internasional, termasuk nama-nama yang juga terlibat di "Dynamite", dengan kontribusi lirik dari RM dan beberapa member. Konon proses pembuatannya menekankan satu hal: kesederhanaan yang catchy. Tidak ada usaha untuk terlihat pintar; yang ada adalah usaha untuk terdengar tak tertahankan.

Bagi penggemar musik di Indonesia, ada sudut menarik yang patut diperhatikan. Indonesia adalah salah satu pasar K-pop terbesar di dunia, dan ARMY Indonesia termasuk yang paling vokal dan aktif di media sosial. Ketika "Butter" dirilis, tagar-tagar terkait lagu ini sempat menguasai trending Twitter di Indonesia berkali-kali. Fenomena streaming kolektif yang terorganisir rapi — di mana penggemar bergiliran memutar lagu untuk mendongkrak angka — menjadi semacam ritual budaya tersendiri di kalangan anak muda Indonesia. "Butter" bukan sekadar lagu impor; ia menjadi bagian dari percakapan sehari-hari, dari status WhatsApp sampai cover dance di pusat perbelanjaan Jakarta dan Surabaya.

Membongkar makna: pesona sebagai senjata

Kalau kita telusuri isi lagunya tanpa mengutip baris demi baris, "Butter" pada dasarnya adalah deklarasi kepercayaan diri yang dibungkus humor dan kegenitan. Si penyanyi memposisikan dirinya sebagai sosok yang begitu memikat sehingga membuat lawan bicaranya tak berdaya. Perbandingan dengan mentega meleleh adalah inti dari seluruh lagu — pesona yang mengalir mulus, tak terbendung, dan menggoda.

Yang menarik, lirik lagu ini menyelipkan banyak referensi budaya pop Barat dengan cerdik. Ada penghormatan kepada musisi legendaris yang gaya dan groove-nya jelas terasa di sepanjang lagu. Salah satu yang paling kentara adalah nuansa Michael Jackson — raja pop — yang seakan menjadi roh tak terlihat di balik beat dan sikap lagu ini. Lagu ini juga menyinggung secara halus soal bagaimana si penyanyi bergerak di lantai dansa dengan gaya yang khas, sebuah bentuk penghormatan kepada warisan funk dan disko Amerika tahun 1980-an.

Ada pula momen di mana lagu ini secara terang-terangan menyapa para penggemar — sebuah pesan tersembunyi yang ditujukan kepada ARMY, mengingatkan mereka bahwa hubungan antara grup dan basis penggemarnya adalah pondasi dari semua yang mereka lakukan. Inilah lapisan tipis kehangatan yang membuat "Butter" tidak terasa kosong meski temanya ringan. Di balik kepercayaan diri yang main-main, ada pesan loyalitas dan kebersamaan.

Jadi kalau ada yang bilang "Butter" itu dangkal, jawabannya adalah: ya, dan itu poinnya. Tapi kedangkalan itu dikerjakan dengan presisi seorang ahli. Setiap elemen — dari bass line yang menonjol sampai pengulangan judul yang adiktif — dirancang untuk menempel di otak dalam sekali dengar.

Konteks budaya: bukti bahwa BTS menulis ulang aturan main

"Butter" bukan sekadar lagu hit; ia adalah pernyataan industri. Lagu ini debut di posisi nomor satu Billboard Hot 100 dan bertahan di puncak selama berminggu-minggu — pencapaian yang luar biasa untuk grup yang berakar dari Korea Selatan, menyanyi dalam bahasa Inggris, dan bersaing di pasar yang secara historis didominasi oleh artis Barat.

Yang lebih penting, "Butter" memecahkan beberapa rekor streaming global. Lagu ini dilaporkan memecahkan rekor jumlah pemutaran di Spotify dalam 24 jam pertama dan rekor penayangan video musik di YouTube saat dirilis. Angka-angka ini bukan kebetulan; mereka adalah hasil dari mesin penggemar global yang terkoordinasi, di mana ARMY dari Indonesia, Filipina, Brasil, Meksiko, sampai Amerika bergerak serempak.

Fenomena ini menandai pergeseran kekuatan dalam industri musik global. Selama puluhan tahun, jalur menuju ketenaran dunia harus melewati gerbang industri Amerika dan Inggris. BTS — dan "Butter" secara khusus — membuktikan bahwa basis penggemar global yang loyal dan terorganisir bisa mendorong sebuah lagu ke puncak tanpa harus tunduk sepenuhnya pada formula lama. Mereka tidak menunggu izin dari industri Barat; mereka mendatangi industri itu dengan kekuatan mereka sendiri.

Bagi banyak negara non-Barat, termasuk Indonesia, hal ini punya makna simbolis yang dalam. Ini adalah cerita tentang artis Asia yang menaklukkan panggung paling kompetitif di dunia bukan dengan meniru, tapi dengan memadukan kualitas produksi kelas dunia dengan identitas dan kerja keras mereka sendiri. Buat anak muda yang tumbuh dengan musik Barat sebagai standar, melihat BTS duduk di puncak yang sama terasa seperti pembuktian bahwa batas-batas geografis dan bahasa bisa ditembus.

Mengapa "Butter" masih terasa relevan hari ini

Beberapa tahun setelah rilis, "Butter" tetap menjadi salah satu lagu yang paling sering diputar saat orang ingin merasa baik. Dan menurut saya, alasannya justru karena kesederhanaan yang tadi kita bahas. Lagu yang dibuat untuk satu tujuan jelas — membuat orang senang — cenderung punya umur panjang, karena emosi yang ia panggil bersifat universal dan tak lekang waktu.

"Butter" juga menjadi semacam jembatan. Bagi pendengar yang mungkin awalnya skeptis terhadap K-pop atau merasa terasing karena halangan bahasa, lagu ini berbahasa Inggris penuh dan terdengar seperti lagu pop Barat klasik — sehingga menjadi pintu masuk yang ramah. Banyak pendengar yang akhirnya menjelajahi katalog BTS yang lebih dalam dan kompleks justru berawal dari lagu-lagu "mudah" seperti ini.

Ada juga aspek nostalgia yang menarik. Karena "Butter" begitu lekat dengan masa pandemi, lagu ini kini membawa lapisan kenangan tambahan bagi mereka yang melaluinya. Ia mengingatkan pada momen ketika dunia mencari hal-hal kecil yang bisa membuat hari terasa lebih ringan — sebuah artefak emosional dari masa yang sulit.

Dan akhirnya, "Butter" bertahan karena ia adalah bukti penguasaan kerajinan. Membuat lagu yang terasa mudah itu justru sangat sulit. Di balik kesederhanaannya tersimpan keputusan-keputusan produksi yang cermat, pemahaman mendalam tentang sejarah pop, dan tim yang tahu persis bagaimana membuat tiga menit musik yang membuatmu ingin mengulanginya. Itulah sebabnya, bertahun-tahun kemudian, mentega ini masih tetap meleleh.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Larut dalam suaranya

Untuk benar-benar merasakan "Butter", dengarkan lagu ini berdampingan dengan akar musik yang menginspirasinya. Beat funk dan groove disko tahun 1980-an mengalir kuat di lagu ini, jadi membandingkannya dengan sumber aslinya akan membuka telingamu terhadap detail yang sebelumnya terlewat.

📚 Ikuti kisahnya

Cerita di balik bangkitnya BTS dari grup kecil sampai menaklukkan dunia lebih dramatis daripada yang dibayangkan banyak orang. Membaca tentang perjalanan mereka membuat lagu seperti "Butter" terasa jauh lebih bermakna.

🌍 Kunjungi tempatnya

Dunia BTS berakar di Seoul, Korea Selatan — sebuah kota yang kini menjadi tujuan ziarah bagi penggemar dari seluruh penjuru dunia, termasuk banyak dari Indonesia.

🎸 Rasakan sendiri

Cara terbaik memahami daya tarik "Butter" adalah dengan ikut bergerak — entah menari, menyanyi, atau memutar lagunya keras-keras di sistem suara yang layak.


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut:

Tags
20s