SONGFABLE · 1977

We Will Rock You

QUEEN · 1977

TL;DR "We Will Rock You" lahir di Bingley Hall, Stafford, musim gugur 1977. Brian May menulisnya sebagai jawaban atas pertanyaan sederhana: bagaimana caranya supaya penonton bisa ikut bermain musik bersama band, bukan cuma menonton? Hasilnya — dua tepukan kaki, satu tepukan tangan, dan satu suara yang menantang. Tidak ada drum sungguhan, tidak ada bass. Hanya tubuh manusia yang menjadi instrumen. Lagu ini bukan tentang kemenangan, tapi tentang tiga babak kehidupan seorang laki-laki — bocah, pemuda, kakek — yang semuanya, pada akhirnya, dijatuhkan dan dipaksa berdiri lagi. Itulah kenapa lagu pendek dua menit ini masih bisa membuat 80.000 orang di Senayan menghentakkan kaki bersama, tanpa perlu diberi instruksi.

Hook

Coba bayangkan ini sebentar.

Anda sedang berdiri di tengah lautan manusia. Mungkin di Gelora Bung Karno, mungkin di lapangan kecil di Bandung waktu ada festival indie. Lampu mati. Lalu terdengar suara — bukan gitar, bukan drum. Cuma kaki. Dua kali. Lalu tangan. Sekali. Boom-boom-tak. Boom-boom-tak.

Anda tahu, saya selalu berpikir lagu ini agak aneh kalau dipikir-pikir baik-baik. Tidak ada melodi yang rumit. Tidak ada solo gitar — yah, ada sedikit di akhir, tapi pendek sekali. Tidak ada bass. Bahkan Roger Taylor, drummer Queen yang luar biasa itu, tidak memainkan drum-nya sendiri. Yang ada hanya tubuh manusia dan satu suara yang berkata: kalian akan kami goyangkan.

Dan toh, 47 tahun setelah lagu ini direkam di sebuah gereja tua di Inggris, Anda tetap tidak bisa mendengarnya tanpa kaki Anda ikut bergerak. Mungkin Anda tidak sadar. Tapi kaki Anda tahu.

Pertanyaan saya — apakah Anda pernah memikirkan kenapa?

Background — Bingley Hall, 1977

Kisahnya begini.

Tahun 1977, Queen sedang tur di Inggris. Mereka manggung di Bingley Hall, Stafford. Konser hampir selesai. Lalu sesuatu yang tidak biasa terjadi — penonton mulai bernyanyi. Bukan lagu Queen. Mereka menyanyikan "You'll Never Walk Alone," lagu lama dari musikal Carousel yang sudah jadi himne sepak bola di Inggris.

Brian May berdiri di panggung, melihat ke kerumunan, dan tiba-tiba sesuatu klik di kepalanya. Penonton ingin ikut serta. Mereka tidak mau hanya menonton — mereka mau jadi bagian dari musik itu.

Malam itu Brian pulang ke rumah dan tidak bisa tidur. Esok paginya dia datang ke studio dengan ide: kita harus menulis lagu yang bisa dimainkan oleh penonton itu sendiri. Bukan lagu yang diiringi tepukan tangan — lagu yang adalah tepukan tangan.

Pada saat yang sama, di ruangan lain, Freddie Mercury sedang memikirkan hal yang serupa. Dia menulis "We Are the Champions." Kedua lagu itu kemudian menjadi pasangan abadi — dua sisi mata uang yang sama.

Yang menarik, mereka merekamnya di Wessex Sound Studios, di sebuah bangunan yang dulunya gereja di London Utara. Brian May minta setiap anggota band menghentakkan kaki dan bertepuk tangan, lalu suaranya direkam berkali-kali dengan delay yang berbeda-beda — sekitar 24 lapisan, kalau saya tidak salah ingat. Itulah kenapa "drum" di lagu ini terdengar begitu besar, begitu kosong, seperti seluruh stadion menghentakkan kaki di ruangan gema. Padahal cuma empat orang.

Detail kecil ini penting, saya pikir. Karena di sinilah letak jeniusnya Brian May — dia adalah seorang astrofisikawan (ya, betulan, dia punya PhD), tapi yang dia ciptakan bukan sesuatu yang rumit. Justru sebaliknya. Dia menciptakan sesuatu yang sangat primitif. Sederhana seperti detak jantung.

Makna sesungguhnya — bukan lagu kemenangan

Banyak orang mengira "We Will Rock You" adalah lagu kemenangan. Lagu untuk stadion sepak bola. Lagu yang dimainkan setelah tim Anda menang.

Tapi kalau Anda dengarkan baik-baik liriknya — saya tidak akan kutip langsung di sini, Anda bisa baca sendiri — sebetulnya lagunya agak gelap.

Brian May menulis tiga babak. Babak pertama: seorang anak kecil bermain di jalanan, wajahnya kotor karena lumpur, dia akan jadi orang besar suatu hari nanti. Babak kedua: pemuda itu sudah tumbuh, dia keras kepala, dia berkelahi di jalanan, ada darah di wajahnya, dunia akan dia goncang. Babak ketiga: kakek tua, lemah, miskin, mata kelelahan, masih mencoba meraih kedamaian — tapi suatu hari dia akan pulang ke kampung halamannya sebagai pahlawan.

Tiga gambar. Tiga babak kehidupan satu laki-laki. Atau mungkin tiga laki-laki yang berbeda. Tidak jelas, dan saya rasa itu disengaja.

Dan di setiap babak, refrain yang sama: kami akan menggoncang kalian.

Siapa "kami"? Siapa "kalian"?

Brian May sendiri pernah bilang dalam wawancara — lagu ini bukan tentang menyerang siapa-siapa. Justru sebaliknya. "Kami" itu adalah penonton. Penonton yang akan menggoncang dunia. Penonton yang selama ini cuma diam, sekarang berdiri dan menghentakkan kaki bersama-sama.

Itulah inti lagu ini, saya pikir. Bukan tentang kemenangan. Tentang ketahanan. Tentang manusia kecil — anak kecil yang main lumpur, pemuda yang berdarah, kakek yang lelah — yang tetap berdiri. Yang tetap mengatakan: kami akan menggoncang dunia.

Itu sebabnya lagu ini tidak pernah terdengar sombong. Karena memang bukan lagu sombong.

Kenapa lagu ini terasa dekat untuk telinga Indonesia

Saya rasa, untuk telinga Indonesia, "We Will Rock You" punya resonansi yang khusus.

Anda tahu, kalau saya pikirkan musik Indonesia yang punya kekuatan kolektif seperti ini, yang pertama terlintas adalah Iwan Fals. Ketika Iwan menyanyikan "Bento" atau "Bongkar" di lapangan, ada momen yang sama — penonton bukan lagi penonton. Mereka jadi bagian dari lagu itu. Suara mereka melebihi suara Iwan. Itulah yang Brian May mencari di Bingley Hall tahun 1977.

Atau Slank. Coba dengarkan rekaman live Slank di awal 90-an, ketika Slankers belum jadi fenomena nasional, masih sekumpulan anak muda Potlot. Ada hentakan yang sama. Komunal. Tidak rapi. Tapi hidup.

God Bless, kalau Anda ingat mereka — band rock pertama Indonesia yang betul-betul besar — juga punya nuansa itu di lagu-lagu seperti "Kehidupan." Achmad Albar dan kawan-kawan paham bahwa rock di Indonesia tidak pernah cuma tentang teknik gitar. Selalu tentang sesuatu yang lebih besar.

Dan Koes Plus, kalau kita mau mundur lebih jauh lagi. Mereka memang tidak rock dalam arti yang sama, tapi spirit kolektifnya — "Manis dan Sayang," "Kembali ke Jakarta" — penonton ikut bernyanyi sampai habis, suara mereka jadi instrumen kesepuluh dalam aransemen.

Saya pikir di Indonesia, musik selalu punya unsur komunal yang sangat kuat. Dari kenduri sampai dangdut di kondangan, dari Slank-fans yang menyebut diri Slankers sampai Sheilagank-nya Sheila on 7. Musik bukan sesuatu yang Anda dengar sendirian — musik adalah sesuatu yang Anda bagikan dengan ratusan, ribuan orang.

"We Will Rock You" pas masuk ke dalam tradisi itu. Tanpa terjemahan apa-apa.

Saya juga ingat — dan ini mungkin Anda lebih tahu daripada saya — bahwa di stadion-stadion sepak bola Indonesia, hentakan dua-tepuk-satu itu sudah jadi bahasa universal. The Jakmania, Bonek, Aremania, Viking Persib — mereka semua memakai ritme itu, kadang dengan lirik lokal, kadang dengan teriakan tanpa kata. Mereka mungkin tidak tahu lagunya dari mana asalnya. Tapi tubuh mereka tahu.

Itulah kekuatan lagu yang sebenarnya, menurut saya. Ketika lagu itu lepas dari penciptanya dan jadi milik dunia.

Kenapa masih relevan hari ini

Kita hidup di zaman yang aneh, Anda tahu.

Algoritma yang memilih lagu untuk Anda. Lagu-lagu yang dibuat khusus supaya viral di TikTok selama 15 detik. AI yang bisa menulis lagu dalam tiga menit. Streaming yang membayar musisi dengan recehan.

Di tengah semua itu, lagu yang direkam dengan menghentakkan kaki di gereja tua tahun 1977 masih jadi salah satu lagu paling banyak diputar di stadion di seluruh dunia. Setiap akhir pekan. Setiap final piala. Setiap konser besar.

Kenapa?

Saya rasa karena lagu ini mengingatkan kita pada sesuatu yang sangat tua. Lebih tua dari rock. Lebih tua dari musik rekaman. Sesuatu yang sudah ada sejak manusia pertama kali duduk melingkar di sekitar api dan menghentakkan kaki bersama-sama.

Ritme komunal. Detak jantung kelompok.

Di zaman ketika kita semua semakin sendirian — masing-masing dengan layar sendiri, dengan playlist sendiri, dengan algoritma sendiri — kebutuhan untuk merasa "kita" ini justru semakin besar. Dan "We Will Rock You" memberikan kita itu, hanya dalam dua menit dua detik.

Itu sebabnya saya rasa lagu ini tidak akan pernah hilang. Selama masih ada manusia yang mau berkumpul di satu tempat dan menghentakkan kaki bersama-sama, lagu ini akan ada.

Dan ngomong-ngomong — tahukah Anda lagu ini sebetulnya hanya hit no.4 di Inggris waktu pertama dirilis? Tidak nomor satu. Tidak juga. Butuh waktu puluhan tahun untuk lagu ini menjadi seperti yang kita kenal sekarang. Pelan-pelan. Stadion demi stadion. Generasi demi generasi.

Lagu-lagu terbaik memang seperti itu, saya pikir. Mereka tidak meledak. Mereka mengakar.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Listen

📚 Read

🌍 Visit

🎸 Experience


🤖 Dengarkan "We Will Rock You" lewat song.link

Tiga pertanyaan untuk Anda renungkan:

  1. Kalau Anda harus memilih satu lagu Indonesia yang punya kekuatan komunal seperti "We Will Rock You" — bukan lagu solo, tapi lagu yang butuh dinyanyikan ramai-ramai — Anda pilih yang mana, dan kenapa?
  2. Brian May berkata lagu ini tentang "kita" yang akan menggoncang dunia. Di hidup Anda sekarang, siapa "kita"-nya? Komunitas mana yang membuat Anda merasa bukan sendirian?
  3. Kalau Anda harus merekam lagu hanya dengan suara tubuh — hentakan kaki, tepukan tangan, suara — tanpa instrumen sama sekali, lagu apa yang akan Anda buat? Tentang apa?
Tags