SONGFABLE · 1979

Highway to Hell

AC/DC · 1979

Singkatnya: Highway to Hell BUKAN tentang Setanisme—itu adalah istilah AC/DC untuk kehidupan tur tanpa henti: tidur di bus, makan junk food, bermain konser malam demi malam di kota demi kota. Tragis, lagu ini dirilis 8 bulan sebelum vokalis Bon Scott meninggal pada usia 33—membuat judul sangat suram dalam retrospeksi. Anthem rock terakhir dari era Bon Scott AC/DC.

Lagu Ini BUKAN Tentang Setan

Selama puluhan tahun, kelompok religius konservatif Amerika menuduh Highway to Hell sebagai lagu Setanis. Sampul album—dengan Angus Young memakai tanduk dan Bon Scott mengenakan rantai—seakan mengkonfirmasi mereka.

Kebenarannya jauh lebih duniawi.

"Highway to Hell" adalah cara Bon Scott menggambarkan kehidupan band yang tur tanpa henti: bus tour yang berbahaya, jadwal tidur yang berantakan, makanan junk food, dan stres kronis dari konser yang tidak pernah berhenti. AC/DC sedang dalam tur dunia 18 bulan tanpa istirahat ketika mereka menulis lagu ini.

Bon Scott menjelaskan dalam wawancara tahun 1979: "Itu hanya lagu tentang tur. Itu tentang jalan raya yang kami tempuh. Tidak ada hal Satanis tentangnya. Saya tidak akan menyebutnya kalau saya tahu orang akan menjadi gila."

Tapi ironinya begitu sempurna sehingga gambaran "Setan" tetap melekat. Lagu tentang tur menjadi lagu tentang tinggal di neraka literal, dalam imajinasi pendengar.

Bon Scott: Vokalis yang Meninggal 8 Bulan Setelahnya

Inilah bagian gelap dari sejarah lagu ini: Bon Scott meninggal 19 Februari 1980, hanya 8 bulan setelah Highway to Hell dirilis.

Penyebab resmi: alkohol keracunan akut. Bon, setelah berpesta di London, ditemukan mati di mobil milik teman. Usia 33 tahun.

Dalam retrospeksi, judul lagu menjadi sangat suram. Bon menyanyikan dengan suara yang melekat di pita suara setiap fan rock—berteriak tentang "jalan raya ke neraka"—dan kemudian, di jalan raya literal, ia mati. Lagu itu menjadi epitafi yang ia tidak tahu sedang ia tulis.

Anggota band yang tersisa—Angus Young, Malcolm Young, Cliff Williams, Phil Rudd—hampir membubarkan AC/DC. Hanya tegasnya Malcolm Young mempertahankan band yang menyebabkan mereka melanjutkan dengan vokalis baru Brian Johnson. Album berikutnya, Back in Black, dirilis kurang dari setahun setelah kematian Bon dan menjadi salah satu album terlaris dalam sejarah—dedikasi yang tidak diucapkan untuk vokalis yang baru saja meninggal.

Riff Pembuka: Power Chords yang Sempurna

Highway to Hell dimulai dengan 5 power chord yang ditulis oleh Angus Young (gitar utama) dan Malcolm Young (gitar ritme), saudara yang membentuk inti AC/DC.

A5, D5/A, G5/B, D5/A. Tidak lebih, tidak kurang. Itulah yang dibutuhkan untuk menciptakan riff yang setiap gitaris rock di seluruh dunia akan kenali dalam 1 detik.

Saudara Young berasal dari Glasgow, Skotlandia, tapi pindah ke Sydney, Australia ketika anak-anak. Pendekatan mereka ke rock adalah minimalis berbahaya: gunakan chord paling sederhana, mainkan dengan power maksimal, jangan biarkan apa pun rumit menggangu groove.

Highway to Hell adalah pernyataan tertinggi dari filosofi tersebut. Tidak ada solo yang rumit. Tidak ada perubahan tempo yang aneh. Hanya groove yang membara dari awal sampai akhir 3 menit 28 detik.

Konteks untuk Pendengar Indonesia

Indonesia memiliki hubungan unik dengan AC/DC. Band ini berasal dari Australia—tetangga geografis Indonesia—dan estetika "blue collar working class rock" mereka sangat resonan dengan musik kelas pekerja Indonesia.

AC/DC tampil di Jakarta pada tahun 2010 di Stadium Carnaval Ancol—salah satu konser rock terakhir Brian Johnson sebelum kehilangan pendengaran. Untuk fans rock Indonesia berusia 40-an dan 50-an, konser itu adalah perwujudan dari mimpi yang dimulai dengan mendengar Highway to Hell pertama kali di radio Jakarta tahun 1979.

Lebih spesifik: band-band Indonesia seperti Boomerang, Power Slaves, dan Jamrud semua mengutip AC/DC sebagai pengaruh formatif. Gaya gitar Angus Young—dengan school uniform dan duck walk—menjadi template untuk banyak gitaris rock Indonesia. Performance band rock Indonesia di panggung Jakarta sering kali mengandung referensi langsung ke gerakan Angus: lari, melompat, berlutut.

Dan istilah "highway to hell" itu sendiri telah menjadi bagian dari kosakata rock Indonesia—digunakan untuk menggambarkan tur band lokal yang melelahkan, dari Jakarta ke Surabaya ke Bali dalam minggu yang sama, tidur di mobil van, dan tampil di setiap kota yang akan mengeluarkan uang untuk panggung. Bon Scott dipahami oleh setiap musisi Indonesia yang pernah melakukan tur lokal.

Tahun 1979—Konteksnya

Tahun 1979. Punk telah tiba dan pergi—Sex Pistols telah bubar tahun 1978. Disco sedang dalam puncaknya. Hard rock mulai dianggap "out of fashion" oleh kritikus.

Tetapi AC/DC tidak peduli dengan kritikus. Highway to Hell dirilis Juli 1979 dan menjadi album terobosan global mereka. Sebelum ini, mereka adalah band Australia yang dikenal dengan tur ketat dan beberapa hit lokal. Setelah Highway to Hell, mereka adalah salah satu band rock terbesar di dunia.

Dan kemudian, 8 bulan kemudian, tragedi. Yang membuat Highway to Hell bukan hanya album terobosan, tapi pintu masuk ke mitos.

Mengapa Lagu Ini Masih Didengar?

Highway to Hell memiliki lebih dari 2 miliar putaran di Spotify. Ia digunakan di film, iklan, video game—setiap kali budaya pop perlu lagu untuk "kekuatan eksis tanpa apologi", mereka beralih ke Highway to Hell.

Mengapa? Karena lagu ini adalah kebebasan tanpa filter. Tidak ada metafora rumit. Tidak ada pesan ambigu. Hanya: kami menjalani hidup di jalan raya, kami tahu di mana itu akan berakhir, kami akan menjalaninya tetap sama.

Untuk generasi muda yang merasa terjebak dalam ekspektasi keluarga, jenjang karir, atau norma sosial—Highway to Hell adalah pelepasan. Selama 3 menit 28 detik, semua aturan tidak berlaku.

Dan untuk Indonesia, ada makna tambahan: lagu ini mengingatkan pada saat ketika rock Indonesia masih liar, ketika band-band garasi di Jakarta bermimpi besar dan keras, ketika rock and roll masih merupakan revolusi. Bon Scott mati pada 1980. Tapi semangatnya hidup dalam setiap garage band Indonesia yang masih memainkan riff Highway to Hell, 45 tahun kemudian.


Cara Menyelami Lagu Ini Lebih Dalam

Dunia Highway to Hell—kehidupan tur tanpa henti, era Bon Scott AC/DC, hard rock kelas pekerja—dapat dijelajahi lebih jauh.

🎧 Menyelam dalam Musik

Album 'Highway to Hell' (AC/DC, 1979) Album yang memuat lagu utama. Berisi juga Girls Got Rhythm, Touch Too Much, If You Want Blood—album terobosan global mereka dan album terakhir Bon Scott. → Cari di Shopee

Album 'Back in Black' (1980) Album berikutnya, direkam setelah kematian Bon Scott dengan vokalis baru Brian Johnson. Salah satu album terlaris dalam sejarah (lebih dari 50 juta kopi), berisi You Shook Me All Night Long dan lagu judul. → Cari di Shopee

📚 Menelusuri Kisahnya

Buku 'Highway to Hell: The Life and Death of AC/DC Legend Bon Scott' (Clinton Walker) Biografi definitif Bon Scott. Dari Skotlandia ke Australia, dari band Australian Crawl yang kecil ke superstardom dengan AC/DC, dan kematian tragis di London. → Cari di Shopee

Autobiografi Brian Johnson 'The Lives of Brian' Memoar oleh vokalis yang menggantikan Bon Scott. Bagaimana ia bergabung dengan AC/DC, dan tantangan menggantikan legenda. → Cari di Shopee

Dokumenter 'Let There Be Rock' (1980) Konser film yang direkam di Paris Desember 1979—hanya 2 bulan sebelum Bon Scott meninggal. Rekaman live terakhir dari Bon dengan AC/DC dalam keadaan baik. Saksi sejarah untuk semua fans AC/DC. → Cari di Shopee

🌍 Mengunjungi Tempat-Tempat Bersejarah

Fremantle, Western Australia Kota tempat Bon Scott dibesarkan setelah keluarganya pindah dari Skotlandia. Patung perunggu Bon Scott berdiri di Fishing Boat Harbour, dan kuburannya di Pemakaman Fremantle adalah tempat ziarah utama untuk fans AC/DC dari seluruh dunia. → Panduan wisata Western Australia

Sydney, Australia Kota tempat AC/DC dibentuk tahun 1973. Sydney Harbour Bridge, Cremorne Point—lokasi-lokasi yang sering disebut dalam dokumentasi band. Sydney rock scene 70-an yang melahirkan AC/DC. → Panduan wisata Sydney

Carnaval Ancol Beach City, Jakarta (Indonesia) Tempat konser AC/DC Indonesia tahun 2010—dengan Brian Johnson, Angus Young, Malcolm Young, Cliff Williams, dan Phil Rudd. Salah satu konser rock asing terbesar dalam sejarah Indonesia. Untuk fans rock Indonesia, ini adalah lokasi ziarah—di mana generasi yang dibesarkan dengan Highway to Hell akhirnya mendengar lagu itu dimainkan oleh penciptanya. → Buku konser rock terkenal di Indonesia

🎸 Mencoba Sendiri

Gibson SG (Tipe Angus Young) Gitar yang Angus Young gunakan—Gibson SG Standard, sering dalam warna cherry red. Pilihan klasik untuk rock blues-based, dengan sound yang tajam dan kuat. → Cari di Shopee

Partitur & Tab Gitar AC/DC Riff dan solo dari setiap era AC/DC. Highway to Hell, Back in Black, dan klasik lainnya untuk pemain gitar yang ingin belajar inti hard rock. → Cari di Shopee

Marshall Amplifier (Untuk Sound AC/DC) AC/DC menggunakan Marshall amplifiers untuk semua album mereka. JCM800 adalah pilihan klasik untuk mereplikasi sound mereka. → Cari di Shopee


🎵 Dengarkan lagu ini (semua platform) · Cari di Shopee

🤖 Pertanyaan lanjutan:

Tags