SONGFABLE · 1983

Wanna Be Startin' Somethin'

MICHAEL JACKSON · 1983

TL;DR: Di balik groove disko-funk yang bikin kaki bergoyang, "Wanna Be Startin' Somethin'" sebenarnya adalah luapan kemarahan Michael Jackson terhadap gosip, mulut usil, dan orang-orang yang gemar mengompori masalah — sebuah lagu protes tentang kelelahan menjadi bahan pembicaraan dunia.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Lagu pesta yang sebenarnya marah

Coba dengar lagu ini di pesta mana pun, dan kamu akan melihat lantai dansa langsung penuh. Bass-nya menghentak, perkusinya berlapis-lapis, dan ada koor yang terdengar seperti nyanyian suku dari kejauhan. Semua orang berjoget. Tapi inilah kejutannya: lagu yang terasa begitu meriah ini sebenarnya ditulis dari posisi seseorang yang sedang jengkel setengah mati.

"Wanna Be Startin' Somethin'" adalah lagu pembuka album Thriller (1982), album terlaris sepanjang sejarah musik. Dan Michael Jackson memilih untuk membuka mahakaryanya bukan dengan lagu cinta atau lagu yang menyenangkan secara polos, melainkan dengan teriakan frustrasi terhadap orang-orang yang suka bikin onar — yang mengompori, menyebarkan rumor, dan menikmati melihat orang lain susah. Judulnya saja sudah seperti tantangan: kira-kira artinya "Kamu mau mulai masalah, ya?" — kalimat yang biasa dilontarkan sebelum perkelahian pecah di jalanan.

Inilah salah satu keajaiban Michael Jackson sebagai seniman: ia bisa membungkus emosi yang gelap dan personal dalam kemasan yang begitu mudah dinikmati, sampai-sampai jutaan orang menyanyikannya tanpa benar-benar sadar apa yang sedang mereka nyanyikan.

Dari kamar tidur Encino sampai puncak dunia

Untuk memahami lagu ini, kita perlu mundur ke akhir 1970-an. Michael Jackson saat itu masih dalam transisi: ia sudah bukan lagi bocah ajaib dari The Jackson 5, tapi belum sepenuhnya menjadi "King of Pop" yang kita kenal. Konon, "Wanna Be Startin' Somethin'" sudah ditulis jauh sebelum album Thriller, kabarnya pada masa pembuatan album Off the Wall (1979). Lagu ini baru menemukan rumahnya beberapa tahun kemudian.

Yang menarik, Michael menulis sebagian besar lagu ini sendiri — sesuatu yang penting baginya karena ia ingin membuktikan bahwa ia bukan sekadar penyanyi yang menyanyikan ciptaan orang lain, melainkan seorang penulis lagu sejati. Ia mengerjakannya bersama produser legendaris Quincy Jones, duo yang juga melahirkan "Billie Jean" dan "Beat It".

Pada era ini, Michael hidup dalam tekanan luar biasa. Ketenaran yang ia raih sejak kanak-kanak membuat hidupnya terus-menerus jadi konsumsi publik. Tabloid mengintai, rumor beredar, dan setiap gerak-geriknya dibedah. Tidak heran jika tema "orang-orang yang suka membicarakanmu di belakang" begitu kuat di lagu ini — itu adalah pengalaman sehari-harinya.

Buat pendengar di Indonesia, ada satu detail yang mungkin terasa dekat. Bagian penutup lagu ini — koor yang berulang "ma ma se, ma ma sa, ma ma coo sa" — berakar pada budaya Afrika. Frasa itu diadaptasi dari lagu "Soul Makossa" karya musisi Kamerun, Manu Dibango, yang melahirkan irama makossa. Artinya, jantung dari salah satu lagu pop Barat paling terkenal sebenarnya berdenyut dengan ritme Afrika — sebuah pengingat bahwa musik selalu bersifat lintas benua, sama seperti bagaimana musik dangdut pun lahir dari percampuran banyak pengaruh dari berbagai penjuru dunia. Belakangan Manu Dibango sempat menempuh jalur hukum terkait penggunaan frasa khasnya itu, dan persoalan tersebut dikabarkan diselesaikan di luar pengadilan.

Membongkar makna: lelah jadi bahan gunjingan

Kalau kita telusuri isi liriknya tanpa mengutipnya langsung, gambaran besarnya cukup jelas. Sang penyanyi sedang berbicara kepada — atau tentang — seseorang yang gemar memulai keributan. Orang ini suka mengompori, suka mencari masalah, suka menyebarkan cerita yang menyakiti orang lain. Michael menumpahkan kekesalannya: ia muak dengan orang-orang yang energinya habis hanya untuk mengganggu hidup orang lain.

Ada bagian yang membicarakan tekanan menjadi sasaran omongan — perasaan seperti seekor sayuran yang dibiarkan, dianggap remeh, ditelanjangi di hadapan publik. Michael menggambarkan betapa kata-kata bisa melukai, bagaimana gosip bisa menjatuhkan seseorang seolah-olah ia tak berdaya. Ini bukan keluhan ringan; ini suara seseorang yang benar-benar merasa diserang.

Lalu ada bagian lain yang sering terlewat oleh pendengar kasual: lirik yang menyinggung seorang ibu muda dengan tanggung jawab berat, sebuah potret tentang bayi yang lapar dan kemiskinan. Di sini Michael memperluas tema lagu dari sekadar urusan gosip pribadi menjadi komentar sosial — tentang bagaimana hidup bisa terasa keras dan tidak adil, dan bagaimana lingkaran masalah terus berputar. Lagu ini, dengan kata lain, jauh lebih berlapis daripada kesan pertama yang ditangkap kaki kita di lantai dansa.

Bagian akhir, koor yang penuh energi itu, berfungsi sebagai semacam pelepasan. Setelah semua frustrasi dituangkan, lagu ini meledak menjadi perayaan kolektif — seolah-olah cara terbaik melawan kenegatifan orang lain adalah dengan berkumpul, berirama, dan menari bersama. Ada pesan tersirat: jangan biarkan mulut-mulut usil itu menghentikan musikmu.

Konteks budaya dan warisan abadi

Sebagai pembuka album Thriller, lagu ini punya tugas berat. Quincy Jones dan Michael Jackson tahu bahwa lagu pertama harus langsung menangkap pendengar. Dan mereka memilih sebuah track berdurasi lebih dari enam menit yang membangun energi lapis demi lapis. Keputusan itu terbukti jitu — lagu ini menjadi salah satu fondasi mengapa Thriller terdengar berbeda dari apa pun yang ada di pasaran saat itu.

Pengaruhnya merembet ke mana-mana. Bertahun-tahun kemudian, penyanyi Kolombia Shakira mengangkat kembali koor "ma ma se, ma ma sa, ma ma coo sa" dalam lagu Piala Dunia 2010, "Waka Waka (This Time for Africa)". Karena lagu itu menjadi anthem resmi turnamen sepak bola terbesar di planet ini, jutaan orang yang bahkan belum pernah mendengar versi asli Michael Jackson tetap mengenal melodi tersebut. Buat penggemar bola di Indonesia, ini koneksi yang lucu: kamu mungkin sudah pernah menyanyikan warisan lagu ini di depan layar saat menonton Piala Dunia, tanpa sadar bahwa akarnya tertanam di album dari tahun 1982 — dan lebih jauh lagi, di Afrika tahun 1972.

Lagu ini juga rutin tampil sebagai pembuka konser-konser besar Michael Jackson, termasuk rencana tur "This Is It" yang tidak pernah terlaksana karena ia meninggal pada 2009. Bagi banyak penggemar, intro lagu ini identik dengan momen lampu sorot menyala dan jantung berdegup menanti sang bintang muncul di panggung.

Kenapa masih terasa relevan hari ini

Tema lagu ini justru terasa makin tajam di era media sosial. Michael Jackson menulis tentang gosip dan orang-orang yang gemar mengompori masalah di masa ketika rumor masih menyebar lewat tabloid kertas dan obrolan dari mulut ke mulut. Bayangkan jika ia hidup di zaman sekarang — saat satu komentar bisa viral dalam hitungan menit, saat siapa pun bisa "memulai sesuatu" hanya dengan satu unggahan.

Perasaan kewalahan menjadi bahan pembicaraan, dilukai oleh kata-kata orang yang tidak benar-benar mengenalmu, ketakutan bahwa reputasimu bisa dijatuhkan oleh segelintir orang iseng — semua itu adalah pengalaman yang sangat akrab bagi generasi yang tumbuh dengan layar di telapak tangan. Lagu ini, dengan cara aneh dan profetis, terasa seperti ditulis untuk dunia internet yang belum lahir saat itu.

Tapi ada juga sisi yang menyembuhkan. Pesan akhir lagu ini bukanlah keputusasaan, melainkan ketahanan. Hadapi para pengompor, akui rasa sakitmu, lalu menarilah. Ubah frustrasi menjadi gerakan, menjadi irama, menjadi sesuatu yang membuatmu tetap hidup. Itulah sebabnya, lebih dari empat dekade kemudian, lagu ini masih bisa membuat satu ruangan penuh orang asing tersenyum dan bergerak bersama — sambil, tanpa sadar, menyanyikan sebuah lagu tentang melawan kegelapan dengan tarian.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

Cara terbaik memahami kejeniusan lagu ini adalah mendengarkan keseluruhan album yang dibukanya. Mulailah dari sumber utamanya, lalu telusuri akar Afrika yang menjadi jantung koornya — kamu akan terkejut betapa dalam jejaknya.

📚 Mengikuti kisahnya

Kehidupan Michael Jackson sama dramatisnya dengan musiknya. Untuk memahami dari mana kemarahan dalam lagu ini berasal, ada baiknya menyelami biografinya dan proses kreatif di balik Thriller.

🌍 Mengunjungi tempat-tempatnya

Lagu ini lahir dari dua dunia: California tempat Michael berkarya, dan Afrika yang menjadi denyut ritmenya. Keduanya layak dijelajahi.

🎸 Mengalaminya sendiri

Lagu ini adalah pelajaran tentang groove dan perkusi. Jika kamu ingin merasakan denyutnya dari dalam, mulailah dengan menggerakkan kaki dan tangan sendiri.


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih banyak:

Tags
80s