SONGFABLE · 2014

Style

TAYLOR SWIFT · 2014

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Style - Taylor Swift (2014)

TL;DR: Di balik kilau synth retro yang seksi, "Style" sebenarnya bercerita tentang dua orang yang sadar betul hubungan mereka tidak sehat, tapi tetap saja kembali lagi dan lagi karena daya tariknya terlalu kuat untuk dilawan. Ini lagu tentang kecanduan yang dibungkus jadi sesuatu yang terdengar abadi dan elegan.

Daya tarik yang membuatmu balik lagi

Bayangkan kamu tahu persis bahwa seseorang itu buruk untukmu. Kamu sudah pernah terluka. Temanmu sudah memperingatkan. Logikamu berkata "jangan." Tapi setiap kali orang itu muncul lagi, kamu menyerah. "Style" adalah lagu tentang momen menyerah itu, dan yang membuatnya brilian adalah Taylor Swift tidak menjadikannya sebagai tragedi yang menangis-nangis. Sebaliknya, ia membungkusnya dalam bunyi yang begitu mulus, dingin, dan glamor sehingga kamu hampir lupa bahwa ini sebenarnya cerita tentang sesuatu yang merusak.

Inilah ironi besar di jantung lagu ini. Judulnya "Style" memang ada makna gandanya. Di satu sisi, ia merujuk pada gaya abadi yang tidak pernah ketinggalan zaman, ide bahwa dua orang ini punya kimia yang klasik dan tak lekang oleh waktu. Tapi di sisi lain, "style" juga merupakan permainan kata yang sering dikaitkan dengan nama Harry Styles, mantan kekasih Taylor yang banyak diyakini menjadi inspirasi lagu ini. Lapisan-lapisan itulah yang membuat "Style" terasa jauh lebih cerdas daripada lagu pop biasa.

Lahir dari era ketika Taylor membakar peta lamanya

Untuk mengerti "Style," kamu harus memahami betapa beraninya album 1989 saat itu. Dirilis pada Oktober 2014, 1989 adalah momen Taylor Swift secara resmi membuang identitas country yang membesarkan namanya dan menyatakan dirinya sebagai bintang pop sepenuhnya. Album ini dinamai sesuai tahun kelahirannya, dan secara sengaja terinspirasi dari suara pop synth tahun 1980-an, era Madonna, Annie Lennox, dan musik yang berkilau di lantai dansa.

"Style" ditulis Taylor bersama tiga kolaborator: Max Martin, Shellback, dan Ali Payami. Max Martin sendiri adalah salah satu produser pop paling legendaris di dunia, otak di balik hit-hit raksasa dari Britney Spears hingga The Weeknd. Yang menarik, secara teknis "Style" hampir tidak masuk ke album. Konon lagu ini sempat dianggap kurang menonjol dibanding single utama seperti "Shake It Off" atau "Blank Space," tetapi seiring waktu justru menjadi salah satu lagu paling dipuja oleh penggemar maupun kritikus karena produksinya yang begitu matang.

Bunyi gitar yang berkilau di pembukaan lagu, bass synth yang berdenyut perlahan, dan suasana yang terasa seperti mengendarai mobil di malam hari dengan lampu kota yang berkelebat, semua itu menciptakan dunia tersendiri. Banyak yang membandingkan atmosfernya dengan film-film neon-noir tahun 80-an seperti Drive.

Buat pendengar di Indonesia, ada jembatan budaya yang manis di sini. Generasi yang tumbuh dengan radio dan playlist awal 2010-an di Jakarta, Surabaya, atau Bandung tahu betul bahwa era 1989 bertepatan dengan ledakan streaming musik dan media sosial. Ini adalah masa ketika lagu Barat tidak lagi hanya didengar lewat MTV atau CD bajakan, tetapi tersebar lewat YouTube, Spotify yang baru masuk, dan tweet. "Style," dengan vibe retro yang tidak pernah benar-benar terdengar tua, jadi semacam soundtrack tetap untuk perjalanan malam, nongkrong, dan playlist galau yang penuh kontradiksi, persis seperti suasana lagunya sendiri.

Membongkar makna: tahu ini salah, tapi tetap dijalani

Inti dari "Style" adalah dinamika tarik-ulur antara dua orang yang sama-sama bermasalah, sama-sama tidak setia, namun saling tertarik dengan cara yang tak bisa mereka kendalikan. Sang narator menggambarkan kekasihnya sebagai sosok yang punya pesona klasik tertentu, rambut yang disisir ke belakang, kaus putih sederhana, citra yang seperti dipotong dari ikon film lama. Sementara ia menggambarkan dirinya sendiri dengan estetika yang juga punya nuansa retro tersendiri. Intinya, keduanya merasa seperti pasangan yang "selalu cocok," seakan kecocokan mereka adalah sesuatu yang abadi dan tak pernah ketinggalan zaman.

Tapi di balik gambaran indah itu, ada kebenaran yang lebih kelam. Lagu ini secara terbuka mengakui bahwa keduanya pernah saling mengkhianati. Ada pengakuan bahwa sang pria pernah pergi ke pelukan orang lain, dan sang narator pun mengakui ia juga sempat bersama orang lain. Jadi ini bukan kisah cinta yang murni dan suci. Ini kisah tentang dua orang yang sama-sama tidak sempurna, yang berulang kali bertengkar, putus, lalu kembali lagi seolah ditarik gaya magnet.

Yang membuat liriknya begitu jujur adalah pengakuan bahwa mereka tahu siklus ini tidak sehat, namun memilih untuk tidak peduli. Ada nada pasrah yang nyaris romantis di dalamnya, seakan berkata: "Aku tahu ini akan berakhir buruk, tapi malam ini, aku tidak keberatan." Itulah sebabnya refrein lagu ini terasa begitu hipnotis. Pengulangan tentang sesuatu yang "tidak pernah ketinggalan zaman" sebenarnya adalah cara halus untuk mengatakan bahwa pola merusak ini akan terus terulang, tidak peduli berapa kali mereka mencoba pergi.

Inilah kejeniusan penulisan Taylor. Ia mengambil pengalaman yang sangat manusiawi dan tidak nyaman, yaitu kembali ke seseorang yang kamu tahu seharusnya kamu tinggalkan, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang terdengar mewah dan bahkan membanggakan. Ia tidak menghakimi dirinya sendiri. Ia hanya menceritakan apa adanya, dan justru kejujuran itulah yang membuat jutaan orang merasa lagu ini bicara langsung tentang hidup mereka.

Konteks budaya dan warisan lagu ini

Pada masa rilisnya, "Style" jadi bukti bahwa Taylor Swift bukan sekadar penulis lagu galau remaja. Lagu ini menunjukkan kematangan artistik, baik dari sisi lirik yang berani mengaku abu-abu secara moral, maupun dari produksi yang begitu rapi. Single ini akhirnya dirilis sebagai single keempat dari 1989 pada awal 2015 dan menjadi hit besar di berbagai negara.

Menariknya, "Style" mengalami semacam kehidupan kedua bertahun-tahun setelah rilis. Saat platform seperti TikTok mulai mendominasi, generasi yang bahkan masih kecil ketika lagu ini keluar menemukannya kembali, dan jutaan video dibuat dengan latar bunyi sintetisnya yang khas. Bagi banyak penggemar muda, "Style" justru terasa lebih segar dari banyak lagu yang dirilis hari ini, sebuah bukti nyata dari janji judulnya sendiri: gaya yang tak pernah ketinggalan zaman.

Lagu ini juga menjadi bagian penting dari narasi besar karier Taylor. Ketika ia memulai proyek perekaman ulang album-album lamanya, 1989 (Taylor's Version) yang dirilis pada 2023 membawa "Style" kembali ke puncak perbincangan. Rekaman ulang itu memungkinkan generasi baru mendengarnya dengan telinga segar, sementara penggemar lama bisa mendengar versi yang sepenuhnya dimiliki dan dikontrol oleh Taylor sendiri, sebuah pernyataan tentang kepemilikan dan kekuatan artistik.

Di Indonesia, popularitas Taylor Swift mencapai puncak baru dengan The Eras Tour. Meskipun tur itu tidak singgah langsung di Indonesia, ribuan Swifties Tanah Air rela terbang ke Singapura untuk menontonnya pada awal 2024, menjadikannya salah satu fenomena perjalanan konser terbesar di Asia Tenggara. "Style," dengan penampilan panggungnya yang penuh kostum berkilau dan koreografi sensual, menjadi salah satu momen paling dinanti dalam setlist segmen 1989.

Mengapa lagu ini masih nyambung sampai sekarang

Alasan "Style" terus relevan sangat sederhana: pengalaman yang diceritakannya tidak pernah usang. Selama manusia masih jatuh cinta pada orang yang salah, selama orang masih kembali ke mantan yang sebenarnya tidak baik untuk mereka, selama ada perasaan "aku tahu ini bodoh tapi aku tetap mau," lagu ini akan terus terdengar seperti cerita pribadi setiap pendengarnya.

Lebih dari itu, "Style" berhasil menangkap nuansa emosi yang jarang diakui secara terbuka dalam musik pop, yaitu kenikmatan yang bercampur rasa bersalah. Kebanyakan lagu cinta menggambarkan hubungan sebagai hal yang sepenuhnya indah atau sepenuhnya hancur. "Style" hidup di wilayah abu-abu yang jauh lebih realistis, di mana sesuatu bisa terasa luar biasa dan merusak pada saat yang bersamaan.

Produksinya pun seolah dirancang untuk tidak menua. Karena ia merujuk pada estetika 1980-an alih-alih mengejar tren tahun 2014, "Style" tidak pernah terdengar "ketinggalan." Setiap kali kamu memutarnya saat berkendara di malam hari di jalan tol yang sepi, dengan lampu-lampu kota berkilauan, lagu ini terasa seperti dibuat khusus untuk momen itu. Itulah keajaibannya, dan itulah mengapa, satu dekade kemudian, "Style" tetap jadi salah satu permata paling dicintai dari seluruh katalog Taylor Swift.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Larut dalam suaranya

📚 Ikuti kisahnya

🌍 Kunjungi tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanyakan lebih banyak:

Tags
10s