SONGFABLE · 2016

Starboy

THE WEEKND FT. DAFT PUNK · 2016

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Starboy - The Weeknd ft. Daft Punk (2016)

TL;DR: "Starboy" terdengar seperti lagu sombong tentang mobil mewah dan kesuksesan, padahal sebenarnya ini adalah lagu Abel Tesfaye membunuh versi lamanya sendiri — sosok misterius berambut gimbal yang membuatnya terkenal — supaya bisa lahir kembali sebagai bintang pop yang dingin dan penuh kontrol.

Sebuah pembunuhan yang disamarkan jadi pesta

Bayangkan kamu baru saja menjadi salah satu artis paling dibicarakan di dunia. Albummu meledak, jutaan orang menyanyikan lagumu, dan citra yang membawamu ke sana — rambut gimbal liar yang menjulang, aura gelap penuh misteri, persona "anak nakal dari pinggiran Toronto" — sudah menempel di benak semua orang. Apa yang kamu lakukan selanjutnya? Kebanyakan orang akan mempertahankannya, memerasnya sampai habis. The Weeknd memilih membunuhnya.

Itulah inti dari "Starboy". Di video klipnya, Abel Tesfaye yang baru — berambut pendek rapi, berpakaian elegan — secara harfiah mencekik dan membunuh versi dirinya yang lama, sosok berambut gimbal yang kita kenal dari era Trilogy dan Beauty Behind the Madness. Lalu ia menghancurkan semua piala dan penghargaan di rumahnya dengan sebuah salib bercahaya neon. Lagu yang di permukaan terdengar seperti perayaan kekayaan dan ketenaran, sebenarnya adalah ritual transformasi yang dingin: pengakuan bahwa untuk terus bertahan, ia harus terus-menerus membunuh siapa dirinya kemarin.

Itulah kenapa "Starboy" jauh lebih menarik daripada sekadar lagu pamer. Ini adalah lagu tentang harga yang dibayar untuk menjadi ikon — dan tentang seseorang yang cukup sadar diri untuk tahu bahwa ketenaran bisa menelanmu kalau kamu tidak yang pertama menelannya.

Dari basement Toronto ke kolaborasi dengan robot Prancis

Untuk mengerti betapa beraninya langkah ini, kita perlu mundur sebentar. Abel Tesfaye lahir di Scarborough, kawasan pinggiran Toronto, Kanada, dari keluarga imigran Ethiopia. Masa mudanya, menurut banyak cerita, penuh kegelapan — putus sekolah, sempat tinggal berpindah-pindah, akrab dengan obat-obatan dan kehidupan malam. Sekitar tahun 2010-2011 ia mulai mengunggah lagu-lagu misterius ke YouTube secara anonim, tanpa wajah, tanpa nama jelas. Suaranya yang melengking tinggi dan tema-temanya yang gelap — narkoba, seks tanpa cinta, kekosongan — langsung memikat. Drake, yang juga dari Toronto, ikut mempromosikannya, dan legenda The Weeknd pun dimulai dari kabut anonimitas itu.

Selama bertahun-tahun, rambut gimbal yang tumbuh ke segala arah itu menjadi tanda dagangnya. Ketika album Beauty Behind the Madness (2015) melahirkan hit raksasa seperti "Can't Feel My Face" dan "The Hills", ia sudah menjadi bintang sungguhan. Maka ketika tiba waktunya membuat album berikutnya, ia memutuskan untuk tidak mengulang.

Di sinilah Daft Punk masuk. Duo elektronik legendaris asal Prancis itu — dua musisi yang selalu menyembunyikan wajah di balik helm robot — adalah pahlawan masa kecil Abel. Konon, ia tumbuh mendengarkan album Discovery dan Random Access Memories. Reportedly, kolaborasi ini terjadi dengan cukup mulus: mereka bertemu, langsung klik, dan menggarap dua lagu untuk album Starboy, yaitu lagu utama "Starboy" dan "I Feel It Coming". Sentuhan Daft Punk terasa jelas — bunyi synth yang berkilau, ketukan yang ramping dan futuristik, nuansa retro-futurisme khas mereka. Ada simbolisme yang manis di sini: dua robot yang menyembunyikan identitas mereka, membantu seorang seniman yang sedang membongkar dan membangun ulang identitasnya sendiri.

Buat penggemar musik di Indonesia, ada satu sudut yang menarik untuk diingat. Daft Punk punya akar emosional yang dalam di kancah elektronik dan dance global, termasuk komunitas DJ dan klub di kota-kota besar Indonesia, di mana lagu seperti "One More Time" dan "Get Lucky" sudah lama jadi anthem. Ketika "Starboy" rilis pada akhir 2016, lagu ini langsung mendarat di playlist radio dan rotasi klub di Jakarta, Bandung, hingga Bali — bukan cuma sebagai lagu The Weeknd, tapi juga sebagai "lagu Daft Punk yang baru" bagi banyak orang yang sudah lama menanti karya mereka. Perpaduan ini membuat "Starboy" terasa akrab di telinga pendengar Indonesia yang besar dengan dua gelombang sekaligus: R&B gelap dan dance Prancis yang berkelas.

Membongkar makna: kemewahan sebagai topeng kekosongan

Kalau kamu hanya mendengar sekilas, "Starboy" terdengar seperti daftar belanjaan orang super kaya: mobil sport mahal, rumah besar, gaya hidup glamor, perempuan-perempuan yang datang silih berganti. Tapi cara Abel menyampaikannya adalah kuncinya. Ia tidak menyanyikannya dengan kegembiraan meledak-ledak. Ia menyanyikannya dengan nada datar, hampir bosan, seolah semua kemewahan itu sudah tak lagi memberi rasa apa-apa.

Inti pesan lagu ini adalah paradoks dari kesuksesan. Sang narator menggambarkan dirinya sebagai sosok yang telah mencapai segalanya — uang, status, pengaruh — dan justru karena itu ia merasa terasing dan dingin. Ia menyebut dirinya sebagai "starboy", sebuah julukan untuk seseorang yang bersinar terang seperti bintang, namun juga sendirian di angkasa yang luas dan gelap. Ada nada menantang di seluruh lagu: ia seperti berkata kepada para haters dan kepada masa lalunya, "Inilah aku sekarang, dan aku tidak butuh persetujuan siapa pun."

Yang paling kuat adalah lapisan transformasi dirinya. Abel menggambarkan proses membuang versi lama dirinya — gaya rambut, citra, bahkan cara orang melihatnya — dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih tajam dan lebih terkontrol. Ini bukan sekadar ganti gaya. Ini pernyataan bahwa ia menolak menjadi tahanan dari citra yang dulu membuatnya sukses. Banyak bintang terjebak menjadi karikatur diri sendiri; "Starboy" adalah penolakan keras terhadap nasib itu. Kemewahan yang ia sebut-sebut bukan tujuan, melainkan bukti — bukti bahwa ia menang dengan caranya sendiri, lalu membakar jembatan di belakangnya.

Di lapisan paling dalam, ada kesepian yang tak terucap. Seseorang yang harus terus membunuh versi dirinya untuk bertahan adalah seseorang yang tidak pernah benar-benar diam, tidak pernah benar-benar aman. Itulah ironi yang membuat lagu ini lengket: dibungkus dengan beat yang membuat orang ingin menyetir mobil dengan kaca terbuka, tapi isinya adalah meditasi dingin tentang harga menjadi ikon.

Konteks budaya dan warisannya

"Starboy" rilis pada November 2016 sebagai single utama dari album dengan nama yang sama, dan langsung melesat ke puncak tangga lagu Billboard Hot 100. Albumnya pun debut di posisi nomor satu di banyak negara. Lagu ini menjadi salah satu rekaman paling banyak diputar di era streaming — video klipnya menembus miliaran penonton di YouTube, dan lagunya menjadi salah satu lagu paling sering di-stream sepanjang masa di Spotify pada masanya.

Tapi angka bukan satu-satunya warisan lagu ini. "Starboy" menandai momen The Weeknd secara sengaja melangkah dari kegelapan alternatif R&B menuju pusat panggung pop dunia — tanpa kehilangan jati dirinya. Ia membuktikan bahwa kamu bisa menjadi bintang pop arus utama tanpa harus menjadi ceria atau ramah. Estetika dingin, gelap, dan sinematik yang ia bangun di sini menjadi cetak biru yang memengaruhi banyak artis sesudahnya.

Kolaborasi dengan Daft Punk juga punya bobot historis. Ini terjadi tidak lama sebelum Daft Punk membubarkan diri secara resmi pada 2021. Bagi banyak penggemar, dua lagu di album Starboy menjadi salah satu karya publik terakhir yang signifikan dari duo robot itu, membuat kolaborasi ini terasa seperti penyerahan tongkat estafet — dari ikon retro-futurisme Prancis kepada ikon baru pop gelap Amerika Utara.

Citra "membunuh versi lama diri sendiri" juga menjadi tema berulang dalam karier The Weeknd. Bertahun-tahun kemudian, di era album After Hours dan Dawn FM, ia kembali memakai narasi kematian, kebangkitan, dan penuaan paksa lewat riasan prostetik di video-videonya. "Starboy" adalah titik awal di mana ia mulai memperlakukan persona-nya sebagai karakter yang bisa dilahirkan dan dimatikan sesuka hati — sebuah pendekatan yang jarang dilakukan dengan sekonsisten itu di musik pop modern.

Kenapa lagu ini masih mengena sampai sekarang

Hampir satu dekade setelah rilis, "Starboy" masih sering terdengar — di klub, di playlist gym, di mobil, di iklan. Sebagian karena produksinya memang abadi: beat Daft Punk tidak menua, ia hanya terdengar makin keren. Tapi alasan yang lebih dalam adalah temanya yang terasa makin relevan di era media sosial.

Kita semua sekarang hidup di dunia di mana setiap orang sedikit banyak mengelola "citra" diri. Kita memilih foto, memoles persona online, dan kadang merasa terjebak menjadi versi diri yang sudah orang lain harapkan. "Starboy" berbicara langsung ke perasaan itu — dorongan untuk membakar habis versi lama dan memulai lagi, keinginan untuk membuktikan diri kepada orang-orang yang meragukan, sekaligus kesepian yang datang ketika kamu akhirnya berdiri di puncak dan sadar bahwa di sana sangat dingin.

Buat pendengar muda di Indonesia yang besar dengan budaya rebranding di Instagram dan TikTok, pesan ini mungkin terasa lebih familiar daripada yang mereka sadari. Lagu ini menangkap paradoks ambisi: kita mengejar pengakuan, lalu menemukan bahwa pengakuan tidak pernah cukup. Dan The Weeknd menyampaikannya bukan dengan khotbah, melainkan dengan beat yang membuatmu ingin merasa keren sambil diam-diam merenung. Itulah keajaiban "Starboy" — sebuah lagu yang bisa kamu nyanyikan untuk merayakan kemenangan, sekaligus sebuah cermin yang dengan dingin bertanya: setelah kamu menang, lalu apa?


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Larut dalam suaranya

📚 Ikuti kisahnya

🌍 Kunjungi tempatnya

🎸 Rasakan sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut:

Tags
10s