SONGFABLE · 1969

Space Oddity

DAVID BOWIE · 1969

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Space Oddity - David Bowie (1969)

Dirilis lima hari sebelum Apollo 11 mendarat di bulan, "Space Oddity" tampak seperti soundtrack sempurna untuk euforia luar angkasa — padahal sebenarnya sebuah lagu yang dingin, sunyi, dan tentang seorang astronot yang memilih untuk tidak pulang. Di balik fasad cerita fiksi ilmiah, Bowie menyelundupkan meditasi tentang keterasingan, ketenaran, dan kebebasan yang berbentuk seperti kehilangan.

Hook

Ada paradoks yang aneh dalam sejarah lagu ini: dirilis pada 11 Juli 1969, hanya beberapa hari sebelum Neil Armstrong menapakkan kaki di permukaan bulan, "Space Oddity" sering disalahpahami sebagai perayaan optimisme antariksa. BBC bahkan memutarnya sebagai latar belakang siaran pendaratan Apollo 11 — sebuah pilihan yang, jika benar-benar didengarkan liriknya, hampir menjadi lelucon kelam. Karena lagu ini bukan tentang kemenangan teknologi. Lagu ini tentang seorang manusia yang terapung di dalam kaleng logam, jauh di atas dunia, dan menyadari bahwa ia tidak ingin kembali.

Bowie saat itu berusia 22 tahun, masih sebuah nama pinggiran di London, dengan satu album yang nyaris dilupakan dan sebuah obsesi terhadap film Stanley Kubrick "2001: A Space Odyssey" yang baru saja ditontonnya dalam keadaan, oleh pengakuannya sendiri, sedikit mabuk. Dari kejutan visual Kubrick — keheningan kosmis, monolit hitam, astronot Dave Bowman yang melayang ke ketidakterhinggaan — Bowie meminjam suasana hati dan menamai protagonisnya Major Tom. Sebuah karakter yang akan ia kunjungi kembali sepanjang kariernya: di "Ashes to Ashes" (1980) sebagai pecandu yang hancur, di "Hallo Spaceboy" (1995) sebagai gema, dan di "Blackstar" (2016) sebagai kerangka berhias permata di permukaan planet asing. Major Tom adalah cermin Bowie sendiri: simbol seseorang yang melayang terlalu jauh dari pusat gravitasi kemanusiaan untuk bisa pulang dengan utuh.

Background

Untuk memahami "Space Oddity", kita perlu memahami London akhir 1960-an dan posisi Bowie di dalamnya: marginal, lapar, dan masih mencari suara. Ia telah merilis album debut self-titled pada 1967 yang gagal total secara komersial. Ia bereksperimen dengan mime di bawah arahan Lindsay Kemp, mempelajari Buddhisme Tibet, tinggal sebentar di sebuah komune seni di Beckenham, dan pada satu titik serius mempertimbangkan untuk meninggalkan musik sepenuhnya.

Lagu ini ditulis di flat kecil di Foxgrove Road, Beckenham, di atas Stylophone — sebuah mainan elektronik portabel yang menghasilkan suara nasal khas yang mendrone di seluruh rekaman. Bowie sengaja memilih instrumen yang terdengar artifisial, hampir seperti suara komputer pesawat ruang angkasa. Bersama produser Gus Dudgeon (yang kemudian akan memproduseri sebagian besar album Elton John di era keemasannya), ia membangun arsitektur sonik yang mendekati teater radio: hitungan mundur, suara kontrol misi, gitar akustik yang bergetar seperti detak jantung yang gugup, dan akhirnya — gelombang Mellotron dan dawai yang mengembang seperti vakum hampa.

Yang sering dilupakan: Bowie pada dasarnya menjiplak (atau, lebih sopan, "menjawab") lagu Bee Gees "New York Mining Disaster 1941" untuk struktur naratifnya. Keduanya adalah lagu folk-pop dengan narator dalam situasi terjebak, berbicara seolah-olah dari dalam kapsul yang akan menjadi makamnya. Pengaruh lain yang lebih jarang disebut: musik kamar Inggris, Anthony Newley (yang afektasi vokalnya jelas terdengar dalam frasa awal Bowie), dan tradisi balada cerita yang panjang dalam musik folk Britania.

Yang ironis, lagu ini gagal di rilis pertamanya di AS — Philips Records di Amerika menolak merilisnya karena khawatir akan dianggap tidak hormat jika sesuatu terjadi pada astronot Apollo. Baru pada 1973, setelah Bowie meledak sebagai Ziggy Stardust, "Space Oddity" dirilis ulang dan akhirnya mencapai posisi puncak di tangga lagu Inggris pada 1975 — enam tahun setelah perilisan aslinya.

Real meaning

Permukaan lagu ini sederhana: seorang astronot bernama Major Tom diluncurkan ke luar angkasa, sempat menjadi pahlawan media yang melayang-layang di kotak logamnya, lalu mengalami kerusakan teknis dan terputus dari kontak ground control selamanya. Pada akhirnya, ia melayang, sendirian, tanpa cara untuk kembali. Sebuah tragedi ruang angkasa yang rapi.

Tetapi pembacaan yang lebih dekat — dan riwayat penulisan lagu ini — menunjukkan sesuatu yang jauh lebih mengganggu. Major Tom tidak hanya kehilangan kontak; ada kemungkinan ia memilih untuk hilang. Pada momen kritis, ketika sistem masih bisa diperbaiki, ia justru berbicara tentang istrinya dengan nada yang menyerah, menyampaikan pesan terakhir, dan kemudian — diam. Ia menjadi pengamat pasif terhadap kehilangannya sendiri. Bintang-bintang, katanya, terlihat sangat berbeda hari ini. Itu bukan keluhan teknis. Itu epifani.

Bowie sendiri, dalam wawancara bertahun-tahun kemudian, mengakui bahwa lagu ini sebagian besar adalah tentang keterasingan dan keinginan untuk melarikan diri yang ia rasakan saat itu. Beberapa kritikus membaca subtext narkotika di dalamnya — terutama setelah "Ashes to Ashes" mengonfirmasi bahwa Major Tom akhirnya menjadi "junkie" yang melayang di ketinggian palsu. Pembacaan ini menjadikan kapsul ruang angkasa sebagai metafora untuk kondisi mental yang terdisosiasi: terisolasi, mengambang, terputus dari sinyal yang menarik orang kembali ke kehidupan biasa.

Ada juga pembacaan yang lebih luas: Major Tom sebagai metafora bagi setiap orang yang pernah merasakan tarikan magnetis dari menghilang. Selebriti yang menjadi terlalu terkenal untuk dirinya sendiri. Pekerja yang dipromosikan ke posisi yang membuatnya kesepian. Anak muda yang pergi merantau dan mendapati bahwa ia sudah tidak punya rumah untuk dipulangi. Lagu ini, secara genial, mengkodekan emosi yang sangat manusiawi — keinginan untuk tidak dijemput pulang — ke dalam bahasa fiksi ilmiah yang dapat diterima budaya populer.

Itulah jenius Bowie yang akan ia perlihatkan berulang kali sepanjang karier: kemampuan menjadikan keterasingan terdengar glamor, kemampuan menyusun ulang rasa malu eksistensial menjadi mitologi pribadi. Major Tom bukanlah korban kecelakaan. Ia adalah Bowie yang melepaskan ikatan, sebuah self-portrait yang menyamar sebagai berita kriminal antariksa.

Konteks budaya untuk pembaca Indonesia

Bagi telinga Indonesia, "Space Oddity" mungkin terdengar asing — sebuah artefak Inggris yang sangat spesifik dari era yang jauh. Tapi ia memiliki gema yang mengejutkan dalam lanskap musik kita sendiri, terutama jika kita menelusuri tradisi rock Indonesia yang gemar bercerita tentang manusia yang terasing dari dunianya.

Ambil God Bless, misalnya. Album-album awal mereka pada akhir 1970-an dan awal 1980-an — terutama "Cermin" (1980) — penuh dengan eksplorasi tematik yang serupa: manusia kecil di hadapan kosmos yang dingin, pertanyaan eksistensial yang dibungkus dalam progressive rock yang ambisius. Achmad Albar dan Ian Antono, dalam beberapa hal, adalah generasi Indonesia yang menyerap Bowie, Genesis, dan Pink Floyd, lalu menerjemahkannya ke dalam idiom yang dapat berbicara kepada pemuda urban Jakarta. Jika Anda pernah mendengarkan "Kehidupan" oleh God Bless, Anda akan merasakan kerabat jauh dari Major Tom: seseorang yang merefleksikan eksistensinya dari ketinggian yang membingungkan.

Iwan Fals mengambil tradisi balada cerita yang berbeda — lebih membumi, lebih politis — tetapi prinsip yang sama berlaku: lagu sebagai mode narasi, sebagai cara menempatkan pendengar dalam kepala karakter. "Bento" atau "Bongkar" bukan lagu cinta; mereka adalah potret. Bowie melakukan hal yang sama, hanya saja karakternya adalah seorang astronot yang melayang ke ketidakterhinggaan, bukan seorang taipan korup atau buruh yang ditindas. Tradisi songwriting-sebagai-jurnalisme yang Iwan Fals personifikasikan secara mendalam berkerabat dengan apa yang dilakukan Bowie di "Space Oddity".

Slank dan Dewa 19, dalam fase eksperimentalnya, juga sering menyentuh tema-tema kosmis dan eksistensial. "Bintang Lima" dari Dewa 19 — meski secara musikal sangat berbeda — mengambil metafora bintang/luar angkasa untuk membicarakan ambisi dan keterasingan yang sangat manusiawi. Ada genealogi yang dapat ditarik dari Bowie ke generasi musisi Indonesia yang tumbuh dengan kaset-kaset rock impor yang dibajak di Glodok dan diputar berulang-ulang sampai pita-nya hampir putus.

Sheila on 7, meskipun jauh lebih pop, mewarisi sesuatu yang mendasar dari Bowie: kemampuan untuk menulis lagu tentang kesedihan ringan yang terdengar seperti pop yang menyenangkan. "Sephia" atau "Dan" memiliki struktur emosional yang sama: melodi yang mudah dinyanyikan, lirik yang membawa beban yang lebih berat daripada yang langsung terlihat. Itu adalah pelajaran Bowie — bahwa Anda bisa menyelundupkan kepedihan ke dalam lagu yang akan dinyanyikan orang di karaoke tanpa pernah benar-benar mendengarkan kata-katanya.

Untuk mengalami warisan ini secara langsung, Java Jazz Festival sering kali menjadi tempat di mana tribute terhadap legenda seperti Bowie muncul — entah sebagai cover oleh artis Indonesia, atau sebagai pengaruh yang terdengar dalam aransemen artis internasional yang tampil. Bowie sendiri tidak pernah tampil di Indonesia, tetapi pengaruhnya merembes melalui festival-festival semacam ini.

Dan untuk yang ingin memegang artefak fisik dari era ini, Pasar Tanah Abang dan bursa vinyl di Blok M Square serta Pasar Santa di Jakarta Selatan masih menyimpan piringan-piringan vinyl Bowie dari berbagai era. Cover album "Space Oddity" (kadang dirilis ulang sebagai "David Bowie" karena alasan kontraktual yang membingungkan) dengan foto Bowie yang mengambang di latar belakang bintik-bintik biru adalah salah satu sampul paling ikonik dari era tersebut — sebuah objek yang nilainya bukan hanya musikal, tetapi juga visual dan historis.

Mengapa lagu ini masih bergema hari ini

Lebih dari lima dekade setelah perilisannya, "Space Oddity" masih merasa relevan dengan cara yang hampir tidak adil. Sebagian dari ini adalah karena Bowie sendiri terus mengaktualisasi ulang Major Tom — dalam "Ashes to Ashes", dalam "Blackstar", dalam wawancara — sehingga karakter tersebut tidak pernah benar-benar membeku menjadi nostalgia.

Tetapi alasan yang lebih dalam adalah: kita sekarang hidup dalam dunia yang dipenuhi oleh Major Tom. Generasi yang tumbuh dengan media sosial mengenal dengan baik sensasi melayang di kotak logam — layar ponsel — sambil berbicara dengan ground control yang semakin redup. Kita memposting pesan terakhir kepada istri dan suami metaforis kita setiap hari, lalu memilih untuk hilang sebentar dalam scroll yang tak berujung. Kita memilih kapsul, berulang kali.

Pandemi memperkuat resonansi ini. Selama 2020-2021, jutaan orang mengalami versi mereka sendiri dari isolasi Major Tom — terkurung di apartemen, terhubung secara digital tetapi terputus secara fisik, mengamati dunia melalui jendela kaca. "Space Oddity" mengantisipasi kondisi itu setengah abad sebelumnya. Itu adalah lagu yang sudah menunggu kita.

Dan dalam konteks Indonesia kontemporer, di mana urbanisasi yang cepat telah memindahkan jutaan orang dari kampung halaman ke megacity yang anonim, di mana pekerja migran melayang antara Indonesia dan Hong Kong, Singapura, atau Timur Tengah, lagu ini mungkin terdengar lebih dekat daripada yang dibayangkan banyak orang. Setiap orang yang pernah merasakan sinyal dari rumah memudar — orangtua yang menua di desa sementara Anda mengejar karier di kota — memahami Major Tom dengan caranya sendiri.

Itu sebabnya lagu ini bertahan. Bukan karena teknologi luar angkasa atau nostalgia 1960-an, tetapi karena ia adalah salah satu peta paling akurat yang pernah dibuat tentang bagaimana rasanya melayang, dengan sukarela atau tidak, dari kehidupan yang seharusnya menjadi milik Anda.

Cara menyelami lebih dalam

🎧 Dengarkan

The Rise and Fall of Ziggy Stardust and the Spiders from Mars (David Bowie) Album 1972 ini adalah kelanjutan langsung dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan "Space Oddity". Bowie menciptakan alter-ego rockstar alien yang akhirnya hancur oleh ketenarannya sendiri — sebuah meditasi penuh tentang persona, performa, dan harga dari melayang terlalu jauh. → Cari

Cermin (God Bless) Rilisan 1980 dari band rock Indonesia yang sering disebut sebagai "Bowie/Genesis-nya Jakarta". Eksplorasi tematik yang serupa tentang eksistensi, alienasi, dan kosmos — diterjemahkan ke dalam idiom rock progresif Indonesia. → Cari

📚 Baca

Bowie: A Biography (Marc Spitz) Biografi yang ditulis dengan baik dan menyelami fase Beckenham di mana "Space Oddity" lahir. Spitz menempatkan lagu ini dalam konteks krisis identitas Bowie yang lebih luas dan obsesinya terhadap Kubrick. → Cari

Musik Indonesia 1997-2001 (Theodore KS) Sebuah dokumentasi penting tentang lanskap musik Indonesia dari kritikus musik veteran. Memberikan konteks bagaimana pengaruh seperti Bowie diserap dan diterjemahkan oleh musisi lokal selama dekade-dekade kunci. → Cari

🌍 Kunjungi

Pasar Santa, Jakarta Selatan Lantai atas pasar ini telah menjadi pusat tidak resmi untuk kolektor vinyl di Jakarta. Beberapa toko menyimpan piringan Bowie dari berbagai era — tempat sempurna untuk berburu cetakan asli "Space Oddity". → Cari

Java Jazz Festival, JIExpo Kemayoran Festival musik internasional terbesar di Asia Tenggara, di mana cover dan tribute terhadap ikon seperti Bowie sering muncul dalam lineup. Diselenggarakan setiap tahun di awal Maret. → Cari

🎸 Coba sendiri

Stylophone Pocket Synthesizer Instrumen mainan yang Bowie gunakan untuk menulis "Space Oddity". Masih diproduksi sampai sekarang — eksperimen kecil yang bisa menghasilkan suara nasal khas yang menggetarkan seluruh lagu. → Cari

Buku Akord Gitar Lagu-lagu Klasik Rock Cobalah memainkan progresi akord "Space Oddity" — dari E mayor ke E minor, perpindahan kunci yang menjadi tulang punggung emosional lagu. Buku-buku akord rock klasik tersedia luas dan merupakan cara paling cepat untuk merasakan arsitektur lagu ini dari dalam. → Cari


🎵 Listen on all platforms

🤖 Pertanyaan lanjutan:

  1. Bagaimana karakter Major Tom berkembang sepanjang karier Bowie, dari "Space Oddity" hingga "Blackstar"?
  2. Siapa saja musisi Indonesia yang secara eksplisit mengakui pengaruh David Bowie dalam karya mereka?
  3. Mengapa lagu-lagu tentang astronot dan ruang angkasa menjadi metafora yang begitu kuat dalam musik populer abad ke-20?
Tags
60s