Someone Like You
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Someone Like You - Adele (2011)
Lagu balada piano sederhana yang menjadi monumen tentang bagaimana manusia berdamai dengan kehilangan. "Someone Like You" bukan sekadar lagu putus cinta; ia adalah peta emosional tentang cara mengucapkan selamat tinggal dengan kepala tegak, sambil tetap mengakui bahwa hati masih retak. Lebih dari satu dekade setelah dirilis, ia masih menjadi rujukan ketika orang ingin merasakan kesedihan yang jujur tanpa harus malu padanya.
Hook
Ada momen tertentu di setiap dekade pop ketika satu lagu memaksa seluruh industri untuk mengambil napas. Pada akhir 2010 hingga 2011, momen itu adalah ketika seorang perempuan Inggris berusia 23 tahun duduk di depan piano, ditemani oleh pianis Dan Wilson, dan menyanyikan sebuah lagu tanpa drum, tanpa string, tanpa apapun selain suara dan kunci-kunci tuts. Tidak ada produksi yang berlebihan, tidak ada Auto-Tune yang menonjol, tidak ada featuring rapper untuk mengejar radio. Hanya napas, getaran pita suara, dan progresi akor yang sebenarnya sangat umum—A-major, C#-minor, F#-minor, D-major—sebuah rangkaian yang sudah dipakai ribuan kali sejak Pachelbel menulis Canon-nya pada abad ke-17.
Namun "Someone Like You" berhasil menjadi sesuatu yang lebih besar dari jumlah komponennya. Ia menjadi nomor satu di lebih dari dua puluh negara, memenangi dua Grammy, dan secara permanen mengubah cara industri musik memandang apa yang "boleh" menjadi hit utama. Lagu ini membuktikan bahwa di era ketika algoritma mulai mendikte selera, sebuah balada minimalis yang dinyanyikan dengan kejujuran emosional yang nyaris brutal masih bisa menggetarkan jutaan orang dari Jakarta sampai Johannesburg.
Background
Adele Laurie Blue Adkins menulis "Someone Like You" bersama Dan Wilson—mantan personel band Semisonic yang dikenal lewat hit 1998 "Closing Time"—di Los Angeles pada awal 2010. Saat itu Adele baru saja keluar dari sebuah hubungan panjang yang juga menjadi sumber inspirasi seluruh album keduanya, "21". Hubungan itu, dengan seorang pria yang identitasnya tidak pernah ia konfirmasi secara terbuka, telah menjadi katalisator untuk seluruh metamorfosis artistiknya: dari album debut "19" yang masih bernuansa folk-pop ringan, menjadi "21" yang gelap, mature, dan sarat luka.
Cerita di balik lagu ini cukup spesifik. Adele mendengar bahwa sang mantan telah bertunangan dengan perempuan lain. Reaksinya bukan kemarahan, melainkan semacam keterkejutan yang lambat—pengakuan bahwa episode itu benar-benar sudah usai, dan bahwa ia kini harus belajar hidup dengan kenyataan itu. Wilson menceritakan dalam berbagai wawancara bahwa Adele datang ke sesi penulisan dengan ide dan emosi yang sudah penuh; tugas mereka hanya merangkai struktur dan mencari kata-kata yang tepat.
Yang menarik, lagu ini hampir tidak dimasukkan ke dalam album. Producer Rick Rubin, yang menangani sebagian besar "21", awalnya merekam versi dengan band lengkap. Tapi Adele bersikeras bahwa yang berfungsi adalah versi piano-vokal mentah yang ia rekam dengan Wilson di studio kecil. Keputusan ini terbukti tepat: justru ketelanjangan itulah yang membuat lagu ini terasa seperti seseorang sedang berbicara langsung kepadamu di ruang tamu yang sepi.
Penampilan Adele di BRIT Awards Februari 2011, ketika ia menyanyikan lagu ini solo dengan piano, menjadi titik balik. Penonton diam total. Beberapa kamera menangkap selebriti yang menangis di kursi mereka. Setelah penampilan itu, "Someone Like You" naik ke posisi nomor satu di Inggris dalam hitungan hari, sesuatu yang sangat langka untuk sebuah balada yang sudah dirilis berbulan-bulan sebelumnya.
Real meaning
Pada level permukaan, "Someone Like You" adalah lagu tentang mengunjungi—atau setidaknya membayangkan mengunjungi—seseorang yang dulu kita cintai, hanya untuk menemukan bahwa ia telah melanjutkan hidupnya. Tapi membacanya sebagai "lagu putus cinta" saja akan meleset dari intinya.
Yang sebenarnya digambarkan Adele adalah sebuah ritual psikologis yang sangat spesifik: tahap penerimaan dalam proses berduka, sebagaimana dijelaskan psikiater Elisabeth Kübler-Ross dalam model lima tahap dukanya. Penerimaan bukan berarti bahagia; ia bukan berarti telah melupakan. Penerimaan adalah ketika seseorang akhirnya bisa mengatakan, "Ini terjadi. Aku tidak bisa mengubahnya. Aku masih sakit, tapi aku akan tetap hidup."
Frasa kunci dalam lagu ini—yang tidak akan dikutip langsung di sini—adalah harapan agar yang ditinggalkan bisa menemukan seseorang seperti dirinya sang mantan. Ini adalah pernyataan yang lapisannya berlapis. Di satu sisi, ia terdengar dewasa dan mulia: aku menginginkan kebahagiaanmu meskipun aku tidak ada di sana. Di sisi lain, ia mengandung ironi tajam: "seperti" tidak sama dengan "sama". Ada pengakuan diam-diam bahwa apa yang mereka miliki adalah unik, tak tergantikan, dan bahwa siapa pun yang datang berikutnya hanya akan menjadi perkiraan kasar.
Inilah yang membuat lagu ini jauh lebih kompleks daripada balada putus cinta biasa. Ia bukan tentang menginginkan kembali, juga bukan tentang membenci. Ia berada di ruang ketiga yang jarang diakui musik pop: ruang di mana seseorang bisa secara bersamaan merasa lega, hancur, bangga, dan kalah. Filsuf Prancis Roland Barthes, dalam "A Lover's Discourse: Fragments" (1977), menyebut keadaan ini sebagai "ketidakhadiran yang hadir"—ketika orang yang pergi justru menjadi lebih nyata karena kepergiannya.
Secara musikal, struktur lagu ini menguatkan tema penerimaan. Akor-akornya berulang dalam pola yang nyaris hipnotis, tanpa modulasi dramatis, tanpa key change yang biasa dipakai produser pop untuk "mengangkat" emosi. Klimaks lagu ini bukan teknis; ia adalah klimaks emosional yang dibangun melalui pengulangan dan akumulasi. Penyanyi tidak berteriak lebih tinggi; ia hanya bernyanyi lebih jujur. Ini adalah strategi yang dipinjam dari tradisi gospel dan soul, di mana kekuatan datang bukan dari pyrotechnics vokal, melainkan dari kerentanan yang dikontrol.
Ada juga dimensi gender yang menarik. Selama puluhan tahun, lagu putus cinta pop arus utama yang dinyanyikan perempuan cenderung jatuh ke dalam dua kubu: balada korban yang menangisi nasib, atau anthem pemberdayaan yang menyatakan "aku lebih baik tanpamu". "Someone Like You" menolak keduanya. Adele tidak menjadi korban, tapi juga tidak berpura-pura bahwa ia sudah selesai. Ia mengizinkan dirinya untuk sedih tanpa menjadi pasif, dan untuk bermartabat tanpa menjadi dingin. Bagi banyak pendengar perempuan, ini adalah cara baru untuk bersuara.
Konteks kultural untuk pembaca Indonesia
Untuk memahami mengapa "Someone Like You" mendarat sangat kuat di Indonesia, ada baiknya melihat ekosistem musik lokal yang menerimanya pada 2011.
Pada periode itu, lanskap musik populer Indonesia sebenarnya sedang ramai. Slank masih menjadi referensi rock yang berakar pada perlawanan dan persaudaraan, dengan basis fans yang lintas generasi. Iwan Fals, sang penyanyi-penulis lagu yang sudah mengabadikan keresahan sosial sejak era Orde Baru, tetap menjadi suara hati nurani—terutama bagi mereka yang mencari musik dengan substansi liris. Dewa 19, meski sudah melewati puncak popularitasnya, masih meninggalkan jejak besar lewat balada-balada filosofis Dhani yang sering meminjam istilah-istilah sufistik. Sheila on 7 dari Yogyakarta mungkin menjadi pembanding paling dekat secara emosional: lagu-lagu mereka tentang patah hati, kerinduan, dan persahabatan ditulis dengan kesederhanaan yang sebenarnya tidak jauh dari etos "Someone Like You". Sementara God Bless, sang veteran rock progresif, mengingatkan bahwa musik Indonesia memiliki tradisi panjang dalam balada serius yang tidak takut menjadi panjang dan kontemplatif.
Adele memasuki ekosistem ini bukan sebagai kejutan, melainkan sebagai konfirmasi. Pendengar Indonesia, terutama generasi yang besar dengan radio Prambors, Hard Rock FM, dan Mustang, sudah terbiasa dengan balada Barat dari Whitney Houston, Mariah Carey, hingga Celine Dion. Tapi Adele menawarkan sesuatu yang berbeda: ia menghilangkan kemewahan produksi dan tinggal di kerentanan. Ini cocok dengan estetika "jujur" yang lama diapresiasi dalam musik Indonesia—dari Ebiet G. Ade hingga Glenn Fredly.
Java Jazz Festival, yang sejak 2005 menjadi salah satu festival musik terbesar di Asia Tenggara, mungkin menjadi ruang fisik di mana sensibilitas musikal seperti milik Adele paling diapresiasi. Meskipun Adele sendiri tidak pernah tampil di sana, festival itu telah menormalkan ide bahwa musik berbasis vokal dewasa—jazz, soul, R&B, balada—memiliki audiens loyal di Indonesia. Penampilan artis seperti Joss Stone, Corinne Bailey Rae, atau Lalah Hathaway di Java Jazz menunjukkan bahwa pasar untuk "soul putih dan hitam" berkualitas selalu ada.
Lalu ada Pasar Tanah Abang dan ekosistem vinyl Jakarta yang kembali bangkit sejak pertengahan 2010-an. Bagi kolektor, "21" milik Adele menjadi salah satu rilisan baru paling dicari, sering muncul berdampingan dengan album klasik Dewa 19 atau Sheila on 7 di rak pedagang. Vinyl, dengan rituak fisiknya, mengembalikan musik ke pengalaman yang lebih lambat dan kontemplatif—justru jenis pengalaman yang dibutuhkan "Someone Like You" untuk dinikmati sepenuhnya.
Yang juga perlu disebut adalah karaoke. Di Indonesia, di mana karaoke keluarga dari NAV hingga Inul Vizta menjadi ruang sosial yang sangat penting, "Someone Like You" menjadi semacam ujian. Lagu ini tampak sederhana di kertas—jangkauan vokalnya tidak ekstrem, melodinya mudah diingat—tapi menyanyikannya dengan benar membutuhkan kontrol napas dan kejujuran emosional yang sulit dipalsukan. Ia menjadi favorit untuk dibawakan, sekaligus jebakan: banyak yang mencoba, sedikit yang sukses.
Konteks lain yang menarik: pada awal 2010-an, Indonesia sedang berada di tengah pergeseran demografis dan kultural besar. Generasi yang lahir di akhir 80-an dan awal 90-an mulai memasuki usia 20-an—usia di mana pengalaman patah hati pertama yang sungguh-sungguh sering terjadi. Mereka tumbuh dengan ponsel, BlackBerry Messenger, dan kemudian smartphone. Mereka mengalami romansa dan kehilangan dengan jejak digital—chat yang bisa di-scroll ulang, foto yang tetap tersimpan, mantan yang tetap "ada" di linimasa Facebook. Dalam lanskap baru ini, lagu seperti "Someone Like You" memberikan kosakata emosional yang sebelumnya belum tersedia: cara untuk mengakui bahwa kita masih membayangkan mantan kita, sekaligus mengakui bahwa kita tidak akan menghubungi mereka lagi.
Why it resonates today
Lebih dari satu dekade setelah dirilis, "Someone Like You" terus muncul di playlist, di reels media sosial, dan di ruang-ruang karaoke. Kenapa lagu yang dibuat dalam kondisi sangat personal ini terus berbicara kepada generasi baru?
Jawabannya, sebagian, ada pada perubahan struktur hubungan manusia di era digital. Pasca-2020, dengan pandemi yang memutus banyak hubungan secara mendadak, dan dengan aplikasi kencan yang membuat siklus mulai-akhir menjadi lebih cepat dan dangkal, manusia modern mengalami lebih banyak "kepergian kecil"—orang yang menghilang, mantan yang muncul di feed dengan pasangan baru, teman yang perlahan menjauh tanpa konfrontasi. Dalam lanskap ini, "Someone Like You" berfungsi seperti ritual: ia memberi izin untuk merasakan kehilangan tanpa harus melakukan adegan dramatis.
Ada juga fenomena yang oleh budaya pop disebut "sad girl music"—gelombang musik dari Lana Del Rey, Phoebe Bridgers, hingga Mitski dan Olivia Rodrigo yang menjadikan kesedihan sebagai estetika yang valid. Adele adalah salah satu pionir gelombang ini, meskipun ia jarang dimasukkan ke dalam kategori itu karena pendekatannya yang lebih tradisional. Tanpa "Someone Like You", sulit membayangkan ruang kultural di mana lagu-lagu seperti "drivers license" milik Rodrigo bisa menjadi nomor satu di tahun 2021.
Untuk pendengar Indonesia khususnya, ada dimensi tambahan: lagu ini menjadi jembatan antar-generasi. Orang tua yang awalnya skeptis terhadap musik Barat sering tertarik karena melodinya yang klasik dan absennya elemen-elemen "berisik". Anak-anak yang lebih muda menemukannya kembali lewat TikTok, di mana cuplikan tertentu menjadi soundtrack untuk video tentang nostalgia, perpisahan, dan refleksi. Lagu ini, dengan kata lain, telah menjadi standar—dalam pengertian jazz lama—sebuah karya yang dimiliki bersama oleh banyak orang dan terus ditafsirkan ulang.
Akhirnya, "Someone Like You" bertahan karena ia jujur tentang sesuatu yang jarang diakui budaya populer: bahwa pemulihan dari kehilangan tidak linier. Tidak ada momen di mana seseorang "selesai" berduka. Yang ada hanyalah momen-momen di mana ia bisa berfungsi, momen-momen di mana ia bisa tersenyum, momen-momen di mana ia bisa mendoakan kebahagiaan orang lain meski hatinya masih retak. Lagu ini memberi nama pada momen-momen itu, dan dengan demikian, membuat mereka lebih mudah dilalui.
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Dengarkan
21 (Adele) Album penuh tempat "Someone Like You" berasal. Mendengarnya secara utuh memperlihatkan arc emosional dari kemarahan ("Rolling in the Deep") menuju penerimaan ("Someone Like You"). → Search
Pencarian Hati (Sheila on 7) Album yang menangkap sensibilitas balada Indonesia awal 2000-an dengan kejujuran lirik yang setara—pasangan ideal untuk memahami estetika "patah hati yang bermartabat" dalam konteks lokal. → Search
📚 Baca
A Lover's Discourse: Fragments (Roland Barthes) Buku filsuf Prancis ini menganalisis bahasa cinta dan kehilangan dalam fragmen-fragmen pendek. Ia memberikan kerangka intelektual untuk memahami mengapa lagu seperti "Someone Like You" terasa begitu menusuk. → Search
Cantik Itu Luka (Eka Kurniawan) Novel Indonesia yang juga berurusan dengan kehilangan, kenangan, dan bagaimana masa lalu terus menghantui masa kini. Pasangan literer yang tak terduga untuk balada Adele. → Search
🌍 Kunjungi
Java Jazz Festival, Jakarta Festival musik tahunan yang menormalkan apresiasi terhadap balada dewasa, soul, dan R&B di Indonesia. Tempat fisik di mana sensibilitas musikal seperti Adele paling diapresiasi. → Search
Pasar Tanah Abang & toko vinyl Jakarta Untuk pengalaman mendengarkan yang lebih lambat dan ritual, kunjungi toko-toko vinyl yang tersebar di Jakarta. Cari edisi "21" original press untuk pengalaman audio yang paling penuh. → Search
🎸 Coba sendiri
Piano keyboard untuk pemula Lagu ini hanya menggunakan empat akor utama. Membelajari memainkannya di piano adalah cara terbaik untuk memahami mengapa struktur sederhana bisa menghasilkan dampak emosional besar. → Search
Kelas vokal atau home recording Mencoba menyanyikan lagu ini, baik di kamar dengan mikrofon sederhana atau dengan guru vokal, akan mengajarkan banyak tentang kontrol napas dan kejujuran emosional dalam bernyanyi. → Search
🤖 Pertanyaan lanjutan:
- Bagaimana proses kreatif Adele berubah antara album "21" dan album-album berikutnya seperti "25" dan "30"?
- Mengapa balada minimalis seperti ini bisa lebih efektif secara emosional dibandingkan produksi pop yang lebih kompleks?
- Lagu Indonesia mana yang menurutmu memiliki "DNA emosional" paling dekat dengan "Someone Like You", dan kenapa?