SONGFABLE · 1995

Scream

MICHAEL JACKSON · 1995

TL;DR: "Scream" bukan sekadar lagu dansa berenergi tinggi — ini adalah jeritan kemarahan paling personal Michael Jackson, ditujukan langsung kepada media yang menghancurkan reputasinya, dan satu-satunya kali ia menulis serta menyanyikan lagu berdua dengan adiknya, Janet Jackson, sebagai bentuk perlawanan bersama.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Sebuah jeritan yang lahir dari luka, bukan dari dansa

Kalau kamu pertama kali mendengar "Scream", mungkin yang menempel di telinga adalah beat industrial yang keras, sintetiser yang menusuk, dan dua suara Jackson yang saling melempar baris dengan tempo cepat. Terdengar seperti lagu klub yang dirancang untuk membuat lantai dansa bergetar. Tapi di balik permukaan yang berkilau itu, "Scream" sebenarnya adalah luka yang dibungkus menjadi musik.

Lagu ini dirilis pada Mei 1995 sebagai single pertama dari album HIStory: Past, Present and Future, Book I. Saat itu, Michael Jackson baru saja melewati salah satu periode tergelap dalam hidupnya. Pada 1993, ia dituduh melakukan pelecehan terhadap anak — tuduhan yang akhirnya diselesaikan di luar pengadilan tanpa adanya dakwaan kriminal, namun reputasinya sudah terlanjur babak belur di mata publik dan media. Tabloid mengejarnya tanpa ampun. Setiap gerakannya dibedah, setiap rumor diperbesar. "Scream" adalah jawabannya. Bukan permintaan maaf, bukan pembelaan hukum yang sopan — melainkan teriakan frustrasi yang jujur dan mentah.

Yang membuat lagu ini istimewa: ini bukan jeritan seorang pria sendirian. Michael mengajak adiknya, Janet Jackson, yang saat itu sudah menjadi superstar pop dengan kekuatan komersialnya sendiri. Dua bersaudara yang sama-sama tumbuh di bawah sorotan sejak kecil, sama-sama paham rasanya hidup di akuarium kaca, bergabung untuk meneriakkan kemarahan yang sama.

Dua bersaudara, satu kemarahan, dan video termahal dalam sejarah

Untuk memahami "Scream", kamu perlu memahami konteks keluarga Jackson. Michael dan Janet adalah dua dari sembilan bersaudara yang dibesarkan di Gary, Indiana, sebuah kota industri di Amerika Serikat. Sejak usia sangat muda, mereka didorong masuk ke dunia hiburan oleh sang ayah, Joseph Jackson, yang dikenal disiplin keras. Michael melejit bersama The Jackson 5 lalu menjadi "Raja Pop" lewat album Thriller. Janet, yang jauh lebih muda, menempuh jalannya sendiri dan membuktikan diri bukan sekadar "adik Michael" lewat album Control dan Rhythm Nation 1814.

Ketika Michael memutuskan menulis lagu tentang tekanan media, masuk akal kalau ia memilih Janet sebagai mitra. Dialah satu-satunya orang di dunia yang benar-benar mengerti rasanya menjadi anggota keluarga Jackson yang terus-menerus diawasi. Konon, lagu ini dikerjakan bersama produser Jimmy Jam dan Terry Lewis — duo yang sudah lama menjadi arsitek suara Janet — bersama Michael sendiri. Hasilnya adalah perpaduan unik: agresivitas vokal Michael bertemu ketegasan ritmis khas produksi Janet.

Lalu ada video musiknya. Disutradarai oleh Mark Romanek, video "Scream" tercatat sebagai salah satu video musik termahal yang pernah dibuat, dengan biaya yang dilaporkan mencapai sekitar tujuh juta dolar. Konsepnya brilian dan sesuai tema: kedua bersaudara melarikan diri dari dunia ke sebuah pesawat luar angkasa berwarna hitam-putih yang serba steril. Di sana mereka bisa bebas — bermain video game, melihat lukisan, mendengarkan musik — jauh dari Bumi yang penuh kamera dan penghakiman. Visualnya futuristik, monokromatik, penuh sudut tajam. Pesannya jelas: satu-satunya tempat aman dari serbuan media adalah ruang yang benar-benar kosong dari manusia lain.

Bagi penggemar musik di Indonesia, ada koneksi menarik di sini. Era pertengahan 1990-an adalah masa keemasan MTV merambah Asia, dan video "Scream" termasuk salah satu tontonan wajib di televisi musik yang mulai masuk ke layar Indonesia. Bagi generasi yang tumbuh menonton MTV di awal era reformasi, estetika hitam-putih futuristik "Scream" menjadi salah satu kenangan visual paling kuat dari dekade itu — sebuah pengingat bahwa pop bisa terasa sangat artistik sekaligus sangat marah.

Apa yang sebenarnya diteriakkan Michael dan Janet

Di permukaan, "Scream" terdengar seperti ledakan emosi yang tidak terarah. Tapi kalau kamu dengarkan baik-baik isi pesannya, ada argumen yang sangat spesifik di dalamnya. Lagu ini pada dasarnya adalah keluhan terhadap ketidakadilan — perasaan bahwa dunia terus-menerus menghakimi seseorang berdasarkan kebohongan, sensasi, dan tekanan yang tak masuk akal.

Michael dan Janet bergantian menggambarkan rasa lelah menghadapi tuntutan yang tidak pernah berhenti. Ada penggambaran tentang betapa muaknya melihat berita yang penuh kebohongan, tentang sistem yang tampak korup, tentang rasa frustrasi melihat ketidakadilan dibiarkan terjadi. Inti emosionalnya adalah titik di mana seseorang sudah didorong terlalu jauh sampai ke ambang batas — dan satu-satunya respons yang tersisa adalah berteriak. Judul lagu ini, "Scream", bukan metafora yang dibuat-buat; itu adalah deskripsi harfiah dari apa yang dirasakan saat tekanan sudah tak tertahankan.

Yang membuat liriknya kuat adalah bagaimana kemarahan personal Michael diangkat menjadi sesuatu yang lebih universal. Ini bukan cuma soal seorang bintang pop yang diburu tabloid. Ini tentang perasaan tidak berdaya menghadapi institusi besar — media, sistem, opini publik — yang punya kekuatan untuk membentuk narasi tentang dirimu tanpa kamu bisa membalas. Janet menambahkan dimensi penting: suaranya memberi tahu kita bahwa rasa marah ini tidak harus ditanggung sendirian. Ada solidaritas dalam jeritan bersama.

Penting dicatat bahwa sepanjang lagu, tidak ada permintaan belas kasihan. Tidak ada nada memohon. Yang ada adalah penolakan keras untuk terus diam. Itulah yang membuat "Scream" terasa berbeda dari banyak lagu pop tentang kesedihan — lagu ini memilih amarah sebagai bentuk martabat.

Konteks budaya dan warisan yang ditinggalkan

"Scream" menempati posisi unik dalam sejarah musik pop. Lagu ini sukses secara komersial, masuk ke posisi tinggi di tangga lagu di banyak negara, dan memenangkan Grammy untuk kategori video musik terbaik. Konon, lagu ini juga pernah tercatat di Guinness World Records sebagai video musik termahal yang pernah diproduksi pada masanya — sebuah rekor yang seakan menggarisbawahi seberapa besar pertaruhan Michael saat itu.

Tapi nilai sejarahnya melampaui angka-angka penjualan. "Scream" adalah momen ketika dua dari musisi terbesar dalam sejarah keluarga Jackson — bahkan dalam sejarah pop secara keseluruhan — akhirnya berkolaborasi penuh dalam satu lagu. Sebelum ini, Michael dan Janet selalu menjaga jarak karier secara profesional, masing-masing membangun kerajaannya sendiri. "Scream" adalah satu-satunya kalinya mereka benar-benar berbagi panggung sebagai mitra setara, dan itu menjadikannya artefak langka.

Lagu ini juga menandai pergeseran sonik penting dalam karier Michael. Setelah era Thriller dan Bad yang penuh kilau pop yang halus, HIStory terdengar lebih gelap, lebih keras, lebih industrial. "Scream" memimpin perubahan itu dengan produksi yang mendekati genre industrial rock. Bagi Michael, ini adalah cara membuktikan bahwa ia bisa berevolusi, bahwa Raja Pop tidak terjebak dalam formula lama.

Dalam konteks yang lebih luas, "Scream" juga menjadi salah satu dokumen budaya paling tajam tentang hubungan toksik antara selebritas dan media tabloid pada 1990-an. Era itu adalah masa ledakan tabloid, paparazzi, dan budaya skandal. Michael, sebagai selebritas paling terkenal di planet ini saat itu, menjadi target utama. "Scream" mengabadikan rasa sakit dari pengalaman itu dengan cara yang masih relevan hingga sekarang.

Mengapa "Scream" masih menggema hari ini

Mungkin alasan terbesar lagu ini bertahan adalah karena temanya justru semakin relevan, bukan semakin usang. Pada 1995, Michael bicara tentang media tabloid dan paparazzi. Hari ini, kita hidup di dunia media sosial, di mana siapa pun — bukan hanya selebritas — bisa menjadi sasaran penghakiman massal dalam hitungan jam. Fenomena cancel culture, viralitas yang tak terkendali, komentar jahat yang menumpuk tanpa henti: semua itu adalah versi modern dari apa yang diteriakkan Michael dan Janet tiga dekade lalu.

Perasaan didorong sampai ke titik batas oleh tekanan dari luar — perasaan ingin berteriak ke dunia yang terus menghakimi tanpa benar-benar mengenalmu — adalah emosi yang sangat manusiawi dan tak lekang waktu. Generasi muda yang tumbuh dengan ponsel dan platform digital mungkin tidak pernah mengalami era tabloid cetak, tapi mereka memahami betul perasaan yang ada di inti lagu ini.

Ada juga daya tarik kekal dari kolaborasi dua bersaudara ini. Setelah Michael wafat pada 2009, "Scream" mendapat makna tambahan yang menyayat: ia menjadi salah satu bukti rekaman paling intim dari ikatan antara Michael dan Janet, dua jiwa yang sama-sama menanggung beban menjadi Jackson. Mendengarnya sekarang, kamu tidak hanya mendengar lagu protes — kamu mendengar dua saudara saling menjaga di tengah badai.

Dan tentu saja, ada elemen musiknya yang murni. Beat yang menggebrak, vokal yang penuh tenaga, produksi yang tetap terdengar tajam dan modern bahkan setelah puluhan tahun. "Scream" membuktikan bahwa kemarahan, kalau diolah dengan kecerdasan musikal, bisa menjadi seni yang abadi. Itulah sebabnya, bertahun-tahun kemudian, jeritan ini masih sanggup membuat bulu kuduk berdiri.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Menyelami suaranya

📚 Mengikuti kisahnya

🌍 Mengunjungi tempatnya

🎸 Mengalaminya sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih banyak:

Tags
90s