SONGFABLE · 1977

Problems

SEX PISTOLS · 1977 · LONDON, UK

TL;DR: Di balik judulnya yang terdengar seperti keluhan remaja biasa, "Problems" sebenarnya adalah deklarasi kemerdekaan: Johnny Rotten memutarbalikkan kalimat "kaulah masalahnya" menjadi tantangan tajam — bahwa masalah sebenarnya bukan ada pada dirinya, melainkan pada masyarakat yang ingin mencetak semua orang jadi seragam.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Sebuah lagu yang menolak untuk minta maaf

Bayangkan kamu masuk ke sebuah ruangan, lalu semua orang menatapmu dan berkata, "Kamu ini masalah." Kebanyakan orang akan menunduk, malu, mungkin minta maaf. Tapi Johnny Rotten — vokalis Sex Pistols — melakukan hal sebaliknya. Ia mengambil kata itu, membaliknya, dan melemparkannya kembali ke wajah orang yang mengucapkannya.

Itulah inti dari "Problems". Lagu ini bukan tentang seseorang yang punya banyak masalah dan merasa kalah. Justru sebaliknya. Ini tentang seseorang yang menyadari bahwa "masalah" yang dituduhkan padanya sebenarnya adalah harga dari menolak untuk patuh. Dunia memandangnya sebagai problem, dan ia memilih untuk tidak peduli — bahkan menikmatinya.

Yang membuat lagu ini begitu kuat adalah keberaniannya untuk tidak mencari simpati. Tidak ada bagian di mana penyanyinya berkata "tolong mengerti aku" atau "aku hanya butuh cinta". Sebaliknya, ada nada mengejek, hampir tertawa, terhadap siapa pun yang berpikir mereka punya hak untuk memperbaiki atau menertibkannya. Bagi pendengar Indonesia yang tumbuh dengan tekanan "harus jadi anak baik", "harus ikut aturan", "jangan bikin malu keluarga" — semangat menantang dalam "Problems" terasa sangat dekat, sangat akrab, meski dibungkus aksen Inggris dan distorsi gitar yang kasar.

Latar belakang: London 1977 dan ledakan bernama punk

Untuk memahami "Problems", kamu harus membayangkan Inggris pada pertengahan 1970-an. Negara itu sedang babak belur secara ekonomi. Tingkat pengangguran tinggi, inflasi merajalela, ada pemogokan buruh di mana-mana, dan generasi muda kelas pekerja merasa tidak punya masa depan. Sementara itu, panggung musik dikuasai oleh band-band rock megah yang memainkan lagu sepuluh menit dengan solo gitar mewah — musik yang terasa jauh dan tak tersentuh bagi anak muda yang bahkan tidak punya uang untuk membeli tiket konsernya.

Ke dalam suasana muram itulah Sex Pistols meledak. Band ini dibentuk sekitar 1975, sebagian besar atas dorongan Malcolm McLaren, seorang manajer dan pemilik butik pakaian di King's Road, London, yang punya bakat luar biasa dalam menciptakan kehebohan. Personelnya adalah Johnny Rotten (nama asli John Lydon) di vokal, Steve Jones di gitar, Paul Cook di drum, dan Glen Matlock di bass — yang kemudian, pada masa rilis "Problems", digantikan oleh Sid Vicious yang lebih terkenal karena gaya hidup daripada kemampuan bermainnya.

"Problems" muncul di album studio mereka satu-satunya, Never Mind the Bollocks, Here's the Sex Pistols, yang dirilis pada Oktober 1977. Album ini, meski hanya satu, menjadi salah satu rekaman paling berpengaruh dalam sejarah musik. Menariknya, banyak materi musik dasar untuk lagu-lagu di album itu — termasuk struktur melodi dan bass — kabarnya banyak disusun oleh Glen Matlock sebelum ia keluar dari band, meski Sid Vicious-lah yang muncul namanya. Jadi ada ironi tersendiri: lagu tentang menolak diatur orang lain ternyata lahir dari band yang penuh konflik internal dan campur tangan manajer.

Ada benang merah kultural yang menarik untuk pendengar Indonesia di sini. Punk tidak berhenti di London. Pada akhir 1980-an dan 1990-an, semangat ini menyeberang ke Indonesia dan tumbuh subur, terutama di Bandung dan Jakarta. Komunitas punk Indonesia — dengan band-band seperti yang lahir dari skena underground Ujungberung dan studio-studio kecil — mengambil energi yang sama: musik cepat, lirik marah, dan penolakan terhadap kemapanan. Banyak anak muda Indonesia pertama kali mendengar Sex Pistols lewat kaset bajakan yang beredar dari tangan ke tangan, dan "Problems" adalah salah satu lagu yang memperkenalkan rasa "boleh kok marah pada sistem" itu. Jadi ketika kamu mendengar lagu ini, kamu sebenarnya sedang menyentuh akar dari sesuatu yang ikut membentuk skena musik independen Indonesia.

Membongkar makna: ketika "masalah" jadi tameng, bukan luka

Mari kita selami apa yang sebenarnya dinyanyikan, tanpa mengutip satu baris pun.

Lagu ini dibuka dengan pengakuan yang seolah-olah menyerah — si penyanyi mengakui bahwa ya, ada masalah. Tapi cara ia mengucapkannya sama sekali tidak terdengar seperti pengakuan dosa. Nadanya lebih seperti orang yang mengangkat bahu sambil tersenyum sinis. Ia tahu orang-orang di sekelilingnya menganggapnya bermasalah, dan alih-alih membantah, ia justru memeluk label itu.

Inti pesannya berkembang ketika ia mulai menunjuk balik. Tema sentral lagu ini adalah penolakan untuk menjadi seperti yang diharapkan orang lain. Penyanyinya menolak gagasan bahwa ada satu cara "benar" untuk hidup, satu cetakan yang harus diikuti semua orang. Ia menyatakan bahwa kalau dunia menganggap dirinya bermasalah hanya karena ia tidak mau ikut antrean kepatuhan, maka masalah sesungguhnya ada pada dunia, bukan pada dirinya.

Bagian paling kuat dari lagu ini — yang diulang-ulang dengan penuh tenaga — adalah pembalikan tuduhan. Daripada menerima bahwa dirinyalah masalahnya, ia justru menuding: kamulah, masyarakat, sistem, orang-orang yang ingin menyeragamkan semua orang, yang sebenarnya jadi sumber masalah. Ada rasa pembebasan yang luar biasa dalam pembalikan ini. Ini bukan keluhan korban; ini serangan balik.

Yang juga terasa kuat adalah sikap acuh tak acuh yang disengaja. Penyanyinya berkali-kali menegaskan bahwa ia tidak ingin diperbaiki, tidak butuh persetujuan, dan tidak peduli apakah orang lain menyukainya atau tidak. Dalam konteks Inggris 1977, ini adalah pernyataan politik sekaligus pribadi. Generasi muda yang merasa dikhianati oleh janji-janji masa depan memilih untuk berhenti berpura-pura sopan. "Problems" adalah suara dari kemarahan yang menolak dibungkam dengan kata-kata manis.

Cara Johnny Rotten menyampaikannya pun bagian dari pesannya. Ia tidak bernyanyi merdu; ia mencibir, menggeram, dan menyeret kata-katanya dengan nada mengejek. Suaranya sendiri adalah penolakan terhadap gagasan "musik yang indah". Dengan begitu, bentuk dan isi lagu menyatu: kasar karena memang ingin kasar, mentah karena kemapanan terlalu rapi.

Konteks budaya dan warisan: lebih dari sekadar tiga akor

Penting untuk memahami bahwa Sex Pistols bukan band yang bertahan lama. Mereka bubar pada awal 1978, hanya beberapa bulan setelah album mereka rilis, di tengah tur Amerika yang berantakan. Sid Vicious meninggal pada 1979 dalam usia sangat muda. Secara umur, band ini nyaris cuma sekejap. Tapi pengaruhnya tak terukur.

"Problems" dan album induknya menjadi semacam manifesto bagi seluruh gerakan punk. Pesannya sederhana namun radikal: kamu tidak butuh kemampuan teknis sempurna untuk membuat musik yang berarti; kamu tidak butuh izin dari industri besar; dan kamu boleh marah pada keadaan yang menindasmu. Filosofi "do it yourself" (DIY) — bikin sendiri, rilis sendiri, urus sendiri — yang menyebar dari punk ini akhirnya menjadi fondasi bagi musik independen di seluruh dunia.

Di Inggris sendiri, Sex Pistols sempat dilarang tampil di banyak tempat, lagu mereka diboikot radio, dan nama mereka jadi momok bagi orang tua konservatif. Tapi justru pelarangan itu memperkuat mitos mereka. Mereka membuktikan bahwa musik bisa berbahaya, bisa mengguncang, bisa membuat orang-orang berkuasa gelisah.

Di Indonesia, warisan ini terasa lewat gelombang punk dan hardcore yang muncul di era 1990-an dan terus hidup sampai sekarang. Semangat "Problems" — menolak diseragamkan, menolak minta maaf karena berbeda — menemukan gemanya di kalangan anak muda yang merasa tertekan oleh ekspektasi sosial yang kaku. Skena punk Bandung yang legendaris, distro-distro yang menjual kaset dan kaos band lokal, fanzine yang dicetak fotokopian — semua itu adalah turunan dari etos yang sebagian dipopulerkan Sex Pistols. Bahkan kalau kamu tidak pernah mendengarkan lagu mereka secara langsung, kamu mungkin sudah menghirup pengaruhnya lewat band-band Indonesia yang kamu suka.

Mengapa "Problems" masih relevan hari ini

Hampir lima dekade berlalu, tapi inti dari "Problems" justru terasa makin nyambung di zaman sekarang. Kita hidup di dunia di mana tekanan untuk "tampil sempurna" lebih besar dari sebelumnya — media sosial menuntut kita untuk selalu rapi, sukses, dan disukai. Setiap kali kamu merasa bahwa ada cetakan yang harus kamu ikuti agar diterima, di situlah "Problems" berbicara.

Lagu ini mengingatkan bahwa kadang label "kamu bermasalah" yang ditempelkan orang lain padamu lebih banyak bercerita tentang ketakutan mereka daripada tentang kekuranganmu. Anak muda yang dianggap "tidak nurut" karena memilih jalan karier yang tidak biasa, yang menolak tradisi yang dipaksakan, yang tidak mau diam saat melihat ketidakadilan — mereka semua bisa menemukan sekutu dalam lagu ini.

Tentu, ada juga sisi yang patut dikritisi. Sex Pistols sendiri tidak sepenuhnya "murni"; mereka adalah produk dari manajemen yang cerdik dan strategi pemasaran yang jenius. Kemarahan mereka, dalam beberapa hal, dijual sebagai komoditas. Tapi anehnya, ini justru menambah relevansi lagu di era kapitalisme digital, di mana pemberontakan pun sering dikemas dan dijual. "Problems" mengajak kita bertanya: apakah penolakan kita sungguh-sungguh, atau sekadar gaya yang dijual ke kita?

Pada akhirnya, daya tarik abadi "Problems" terletak pada energi murninya. Hanya sekitar dua menit lebih, cepat, keras, dan tanpa basa-basi. Tidak ada kemewahan, tidak ada permintaan maaf. Dalam dunia yang sering menuntut kita untuk menjelaskan dan membenarkan diri terus-menerus, ada kelegaan tersendiri saat mendengar seseorang berteriak, dengan penuh keyakinan, bahwa ia tidak akan berubah hanya untuk membuatmu nyaman. Itu sebabnya, sampai hari ini, lagu ini masih membuat orang ingin mengepalkan tangan dan ikut berteriak.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Menyelami suaranya

📚 Mengikuti kisahnya

🌍 Mengunjungi tempatnya

🎸 Mengalaminya sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih banyak:

Tags
70s