Life on Mars?
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Life on Mars? - David Bowie (1971)
Sebuah balada surealis dari album Hunky Dory yang menampilkan seorang gadis berambut pirang mouse-brown menatap layar bioskop, mencari pelarian dari kehidupan keluarganya yang membosankan. Di balik melodi piano yang megah dan crescendo orkestral karya Mick Ronson dan Rick Wakeman, lagu ini sebenarnya adalah parodi pahit terhadap Frank Sinatra, sebuah kritik terhadap budaya tontonan, dan sebuah seruan eksistensial tentang generasi yang kehilangan pijakan. Lima puluh empat tahun kemudian, pertanyaan retoris di judulnya terus menggema di era ketika manusia benar-benar berencana pergi ke Mars.
Hook
Ada momen tertentu dalam musik populer ketika sebuah lagu melampaui konteks asalnya dan menjadi semacam artefak budaya yang melayang di luar waktu. Life on Mars? adalah salah satu momen tersebut. Direkam pada Agustus 1971 di Trident Studios, London, dengan Rick Wakeman memainkan piano Bechstein yang sama yang digunakan untuk Hey Jude-nya The Beatles, lagu ini muncul dari periode kreatif paling subur David Bowie. Ia baru saja melepaskan diri dari kegagalan komersial album The Man Who Sold the World dan sedang merumuskan persona Ziggy Stardust yang akan mengubah lanskap musik dunia setahun kemudian.
Yang membuat Life on Mars? begitu memikat bukan hanya konstruksi musikalnya yang teatrikal — meskipun struktur akord yang naik secara kromatis pada bagian bridge dan ledakan orkestra yang dikoordinasikan Mick Ronson memang merupakan keajaiban arsitektural — melainkan caranya menyajikan kekosongan eksistensial sebagai tontonan yang glamor. Ini adalah lagu tentang seorang gadis kecil yang melarikan diri ke bioskop karena hidupnya membosankan, tetapi yang ia temukan di sana hanyalah lebih banyak kebisingan, lebih banyak kekerasan, lebih banyak performa kosong. Pertanyaan di judulnya — apakah ada kehidupan di Mars? — bukanlah pertanyaan ilmiah. Itu adalah jeritan diam dari seseorang yang menyadari bahwa bumi telah kehabisan keajaiban.
Untuk pendengar Indonesia yang tumbuh dengan tradisi musik yang sangat berbeda — dari ballada melankolis Iwan Fals hingga rock progresif God Bless — Life on Mars? mungkin terasa seperti dispatch dari planet asing. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Lagu ini berbicara tentang kondisi yang universal: perasaan bahwa realitas yang ditawarkan kepada kita tidak cukup, dan bahwa kita harus mencari tempat lain — entah itu di layar perak, di luar angkasa, atau di dalam diri kita sendiri.
Background
Untuk memahami Life on Mars? secara penuh, kita harus mundur ke tahun 1968. David Bowie, yang saat itu masih bernama David Jones dan masih mencari identitas artistiknya, ditugaskan oleh penerbit musiknya untuk menulis lirik bahasa Inggris untuk sebuah lagu chanson Prancis berjudul Comme d'habitude karya Claude François. Bowie menulis sebuah versi berjudul Even a Fool Learns to Love. Versinya tidak pernah dirilis. Sebagai gantinya, hak lagu tersebut diberikan kepada Paul Anka, yang menulis ulang liriknya menjadi sesuatu yang sangat berbeda — sebuah himne tentang ketegasan dan otonomi pribadi. Lagu itu diberikan kepada Frank Sinatra, yang merekamnya pada tahun 1969 dengan judul My Way. Lagu itu menjadi salah satu lagu paling ikonik dalam sejarah musik populer abad ke-20.
Bowie merasa terkhianati. Ia kehilangan apa yang seharusnya menjadi terobosan komersial pertamanya. Life on Mars? adalah balas dendamnya. Di lembar lirik asli yang ditulis tangan, Bowie menulis catatan: "Inspired by Frankie." Struktur akord lagunya dengan sengaja mengingatkan pada My Way, namun dibalik menjadi sesuatu yang gelap, ironis, dan sepenuhnya milik Bowie. Di mana Sinatra menyatakan kemenangan individualisme borjuis, Bowie menyajikan dunia di mana semua narasi besar — Hollywood, mimpi Amerika, kapitalisme tontonan — telah runtuh menjadi sirkus tanpa makna.
Sesi rekaman berlangsung di Trident Studios, sebuah ruangan bawah tanah kecil di Soho, London, yang juga menjadi tempat lahirnya banyak album klasik era itu. Rick Wakeman, yang belum lama kemudian akan bergabung dengan Yes, dibayar sembilan pound untuk memainkan bagian pianonya. Bertahun-tahun kemudian, Wakeman akan menyebut piano Trident sebagai "piano terbaik yang pernah saya mainkan dalam hidup saya." Permainannya pada Life on Mars? — naik dan turun seperti lift di gedung pencakar langit — memberikan lagu ini fondasi sinematiknya.
Mick Ronson, gitaris dan arranger Bowie yang sering kurang dihargai, menulis aransemen orkestra dengan tinta dan kertas di apartemennya di Beckenham. Ledakan string yang muncul setelah chorus kedua adalah salah satu momen paling dramatis dalam musik rock tahun 1970-an, sebuah sapuan dinamika yang lebih dekat dengan Mahler atau Strauss daripada apa pun yang sedang terjadi di radio pop. Ronson tidak pernah mendapat kredit penulisan, sebuah ketidakadilan yang menghantui karirnya hingga kematiannya pada 1993.
Album Hunky Dory dirilis pada Desember 1971. Awalnya, Life on Mars? hanyalah salah satu track di album yang relatif tidak dikenal. Baru pada 1973, setelah ledakan Ziggy Stardust, RCA merilisnya sebagai single. Lagu itu mencapai nomor tiga di tangga lagu Inggris. Sejak saat itu, ia tidak pernah benar-benar pergi.
Real meaning
Liriknya, jika dibaca dengan teliti, adalah sebuah kolase fragmen budaya pop yang berputar di sekitar gadis muda yang menjadi protagonisnya. Ia merasa dikecewakan oleh orang tuanya, berkelahi dengan teman-temannya, lalu berjalan melalui mimpi yang dijual ke bioskop. Apa yang ia lihat di sana? Sebuah parade gambar yang absurd: pelaut menari, polisi memukul orang yang salah, Mickey Mouse berubah menjadi sapi, John Lennon kembali dijual, manusia gua bertengkar. Ini adalah dunia di mana semua makna telah runtuh menjadi spektakel, di mana berita, fiksi, mitos, dan iklan berbaur menjadi satu aliran tanpa akhir.
Bowie kemudian menjelaskan dalam beberapa wawancara bahwa lagu itu adalah tentang "sensitivitas seorang gadis muda yang berhadapan dengan media massa." Tetapi ini terlalu sederhana. Yang sebenarnya sedang dijelajahi Bowie adalah kondisi pasca-modern sebelum istilah itu menjadi mode akademis. Ini adalah dunia di mana, seperti yang akan ditulis Jean Baudrillard satu dekade kemudian, simulasi telah menggantikan realitas. Gadis di dalam lagu mencari kehidupan yang lebih bermakna, dan satu-satunya tempat di mana ia bisa mencarinya adalah di layar — yang menawarkan tidak lebih dari pantulan dari kekosongan yang sama.
Pertanyaan retoris di refrain — apakah ada kehidupan di Mars? — bekerja pada beberapa tingkatan secara bersamaan. Pada permukaan, ini adalah referensi pada antusiasme luar angkasa awal 1970-an: misi Apollo masih berlangsung, pesawat Mariner sedang dalam perjalanan ke Mars, dan budaya pop dipenuhi dengan fiksi ilmiah. Tetapi pada level yang lebih dalam, pertanyaan itu adalah ekspresi kerinduan eksistensial. Jika kehidupan di bumi telah menjadi tontonan kosong, apakah mungkin ada sesuatu yang lebih baik di tempat lain? Mungkin di Mars? Mungkin di mana saja kecuali di sini?
Ini adalah lagu yang sangat sadar akan tradisi yang dimasukinya. Referensi pada Frank Sinatra, pada My Way, pada Lennon, pada Mickey Mouse — semua itu adalah cara Bowie memberi tahu kita bahwa ia sedang berbicara dalam bahasa budaya pop, dan bahwa budaya pop itu sendiri telah menjadi subjek lagu ini. Pada awal 1970-an, generasi baby boomer mulai menyadari bahwa janji-janji 1960-an — peace, love, revolution — tidak menjadi kenyataan. Apa yang tersisa? Layar bioskop, radio, koran-koran tabloid. Lagu Bowie adalah elegi untuk generasi yang telah dijual mimpi dan dibiarkan dengan tagihan.
Yang membuat lagu ini abadi adalah caranya menolak untuk memberikan jawaban. Bowie tidak mengatakan bahwa kehidupan modern itu buruk, atau bahwa kita harus kembali ke alam, atau bahwa revolusi politik akan menyelamatkan kita. Ia hanya menyajikan kondisi tersebut — gadis kecil di kursi bioskop yang gelap, dikelilingi oleh gambar-gambar yang tidak masuk akal, mencari sesuatu yang tidak ada di sana. Dan kemudian, dengan ledakan piano terakhir dari Wakeman, lagu itu berakhir tanpa resolusi, tanpa katarsis, tanpa keselamatan.
Ada juga lapisan otobiografi yang sering diabaikan. Bowie tumbuh di keluarga yang dibayangi penyakit mental — kakak tirinya, Terry Burns, menderita skizofrenia dan akhirnya bunuh diri pada tahun 1985. Beberapa kritikus telah membaca Life on Mars? sebagai upaya Bowie untuk masuk ke dalam kepala saudaranya, untuk menggambarkan dunia yang dilihat seseorang ketika realitas itu sendiri menjadi tidak dapat dipercaya. Gadis dalam lagu — terisolasi, hipersensitif, kewalahan oleh kebisingan budaya — mungkin adalah versi Bowie tentang Terry, atau dirinya sendiri, atau keduanya sekaligus.
Cultural context for Indonesia
Lagu seperti Life on Mars? menempati ruang yang menarik dalam imajinasi musik Indonesia. Tidak seperti lagu-lagu rock Inggris yang lebih bersifat sosial-politik langsung, atau lagu pop yang berbicara tentang cinta romantis, lagu Bowie ini bergerak di wilayah yang lebih kabur — wilayah eksistensial, filosofis, surealis. Ini adalah wilayah yang sebenarnya dijelajahi oleh sejumlah musisi Indonesia paling dihormati, meskipun dengan cara yang sangat berbeda.
Pertimbangkan Iwan Fals, sang penyair rock Indonesia yang karyanya pada 1980-an dan 1990-an menggambarkan ketidakadilan sosial, korupsi, dan keterasingan urban dengan ketajaman yang langka. Lagu-lagu seperti Bento atau Bongkar memiliki kemarahan yang serupa terhadap budaya tontonan dan kemunafikan yang kita dengar dalam Life on Mars? — meskipun Iwan Fals memilih konfrontasi langsung di mana Bowie memilih ironi surealis. Keduanya, dengan cara mereka masing-masing, adalah respons terhadap dunia di mana narasi resmi tidak lagi dapat dipercaya.
God Bless, salah satu band rock paling legendaris di Indonesia, menawarkan paralel yang lebih langsung. Album-album mereka pada 1970-an dan 1980-an — terutama Cermin (1980) — menjelajahi tema-tema eksistensial dengan ambisi musikal yang membuat mereka sering disebut sebagai "Indonesia's answer to Deep Purple" atau, lebih akurat, padanan lokal dari rock progresif yang juga menjadi konteks bagi karya Bowie. Achmad Albar, vokalis mereka, memiliki kepekaan teatrikal yang akan sangat memahami performa Bowie.
Dewa 19, terutama pada era Bintang Lima (2000) dan Cintailah Cinta (2002), membawa ambisi sinematik ke dalam pop rock Indonesia, dengan Ahmad Dhani menulis lagu-lagu yang berusaha menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar hiburan radio. Pengaruh art rock Inggris — termasuk Queen dan, ya, Bowie — terasa dalam aransemen mereka yang penuh teater. Roman Picisan dengan struktur dramatisnya berhutang sesuatu pada tradisi yang sama dengan Life on Mars?
Slank, di sisi lain, mewakili tradisi yang lebih membumi — rock blues yang berakar pada Rolling Stones daripada Bowie — tetapi etos anti-establishment mereka, kritik mereka terhadap budaya komersial, beresonansi dengan posisi Bowie sebagai outsider yang menggunakan bahasa pop untuk mengkritik pop itu sendiri.
Java Jazz Festival, yang telah menjadi institusi budaya sejak 2005, mewakili sesuatu yang berbeda lagi: ruang di mana musik dunia bertemu di Indonesia, di mana penonton Jakarta dapat menyaksikan artis-artis seperti Stevie Wonder, Diana Ross, dan banyak lainnya. Festival ini, dengan cita rasanya yang kosmopolitan dan ambisinya yang internasional, adalah jenis ruang budaya yang akan dihargai Bowie — tempat di mana batas-batas genre dan geografi runtuh.
Yang penting tentang konteks Indonesia ini adalah bahwa pendengar Indonesia memiliki kerangka acuan sendiri untuk memahami apa yang sedang dilakukan Bowie. Tradisi wayang — di mana realitas, mitos, dan komedi sosial berbaur — sebenarnya menawarkan paralel yang lebih dekat dengan lagu Bowie daripada banyak tradisi Eropa. Cara Life on Mars? menyajikan parade karakter dan situasi yang surealis tidak jauh dari cara dalang menyajikan dunia: sebagai pertunjukan yang sadar diri tentang dirinya sendiri sebagai pertunjukan.
Dan kemudian ada konteks politik. Indonesia pada awal 1970-an, ketika Life on Mars? dirilis, berada di tengah-tengah Orde Baru, ketika ekspresi politik langsung dibatasi dan banyak seniman mencari cara untuk berbicara tentang kondisi mereka melalui kiasan, simbol, dan ironi. Strategi Bowie dalam Life on Mars? — menggunakan surealisme untuk mengkritik kondisi sosial tanpa pernah menjadi propaganda — adalah strategi yang akan sangat familier bagi banyak seniman Indonesia era itu.
Hari ini, ketika musik streaming telah membuat seluruh katalog Bowie tersedia bagi pendengar Indonesia dengan satu tap di Spotify atau Apple Music, lagu seperti Life on Mars? dapat ditemukan kembali oleh generasi yang tumbuh dengan TikTok, Instagram, dan kebisingan media sosial yang konstan. Generasi yang, dalam banyak hal, mengalami versi yang lebih intens dari kondisi yang dijelaskan Bowie — banjir gambar yang konstan, perasaan bahwa realitas itu sendiri telah menjadi tontonan.
Why it resonates today
Pada 2026, pertanyaan "apakah ada kehidupan di Mars?" telah berhenti menjadi metafora. Elon Musk dan SpaceX terus mendorong rencana kolonisasi Mars dengan agresivitas yang akan membuat Bowie tertawa terbahak-bahak. NASA telah memetakan permukaan planet itu dengan detail yang lebih besar daripada beberapa wilayah Bumi. Misi-misi robotik telah menemukan bukti air, dan mungkin, kehidupan mikroba purba. Apa yang dimulai sebagai pertanyaan retoris dari seorang seniman pop yang sinis pada 1971 telah menjadi pertanyaan ilmiah yang aktif diteliti.
Namun ironi terbesar adalah bahwa kondisi yang dijelaskan Bowie — gadis kecil yang kewalahan oleh kebisingan tontonan, mencari makna di tempat di mana hanya ada permukaan — telah menjadi kondisi default eksistensi modern. Algoritma media sosial telah menggantikan layar bioskop. TikTok dan Reels telah menggantikan parade Hollywood. Berita yang melaporkan dengan kecepatan menit-demi-menit telah menggantikan koran-koran tabloid yang Bowie sindir. Dan generasi muda di seluruh dunia — termasuk di Jakarta, Surabaya, Bandung — tumbuh dengan jenis kelelahan eksistensial yang Bowie identifikasi lima dekade lalu.
Yang membuat lagu ini tetap relevan adalah caranya menolak untuk memberikan kenyamanan yang murah. Bowie tidak mengatakan bahwa media buruk, atau bahwa kita harus melepaskan diri dari layar kita, atau bahwa ada penyelamatan di alam atau dalam komunitas atau dalam agama. Ia hanya menyajikan kondisi tersebut — dengan keindahan musikal yang menakjubkan, dengan keterampilan teatrikal yang sempurna — dan membiarkan kita duduk dengannya. Ini adalah lagu yang menghormati kerumitan situasi kita.
Generasi yang lebih muda di Indonesia, yang menemukan Bowie melalui daftar putar Spotify atau penampilan film Inside Llewyn Davis atau adegan-adegan emosional dalam serial TV, sering menemukan dalam Life on Mars? sesuatu yang mereka rasakan tetapi tidak dapat ungkapkan: bahwa banjir informasi yang konstan ini, bahwa parade gambar yang tidak pernah berakhir ini, tidak benar-benar memberi mereka kehidupan yang bermakna. Bahwa di suatu tempat, ada Mars yang lebih baik daripada Bumi yang ditawarkan kepada mereka. Bahwa mungkin pertanyaan itu sendiri — apakah ada kehidupan di tempat lain? — adalah satu-satunya hal yang membuat hidup di sini dapat ditanggung.
Ada juga relevansi musikal yang terus berlanjut. Dalam era ketika sebagian besar musik populer dibuat dengan tujuan untuk muncul di algoritma — hooks dalam tiga detik pertama, struktur yang dapat diprediksi, durasi pendek — Life on Mars? berdiri sebagai pengingat bahwa lagu pop dapat menjadi karya seni yang ambisius. Lagu itu hampir empat menit panjangnya, dengan struktur yang naik secara dramatis selama durasinya, dengan aransemen orkestra yang membutuhkan puluhan musisi, dengan lirik yang merujuk pada lapisan budaya yang membutuhkan waktu untuk diurai. Ini adalah lagu yang menuntut perhatian, bukan menyerah padanya.
Ketika David Bowie meninggal pada Januari 2016, Life on Mars? adalah salah satu lagu yang paling banyak diputar di radio di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Ia menjadi semacam himne untuk seniman yang menolak untuk dikategorikan, untuk individu yang merasa berbeda, untuk siapa pun yang pernah duduk di kursi bioskop yang gelap (atau menatap layar ponsel) dan bertanya: apakah ini semuanya? Apakah ada lebih banyak? Apakah ada tempat lain?
Jawabannya, seperti yang selalu diketahui Bowie, tidak penting. Yang penting adalah keberanian untuk bertanya.
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Dengarkan
Hunky Dory (David Bowie) Album tahun 1971 yang berisi Life on Mars? serta klasik lainnya seperti Changes, Oh! You Pretty Things, dan Quicksand. Ini adalah momen ketika Bowie menemukan suaranya yang dewasa, sebelum lompatan ke Ziggy Stardust setahun kemudian. → Search
The Rise and Fall of Ziggy Stardust and the Spiders from Mars (David Bowie) Album berikutnya dari 1972 yang membawa eksplorasi Bowie tentang fiksi ilmiah dan persona panggung ke tingkat berikutnya. Mendengarkannya berturut-turut setelah Hunky Dory mengungkapkan bagaimana pertanyaan-pertanyaan dalam Life on Mars? berkembang menjadi mitologi yang lebih besar. → Search
📚 Baca
Bowie: A Biography (Marc Spitz) Biografi komprehensif yang menelusuri seluruh karir Bowie dengan akses ke kolaborator-kolaboratornya. Bab tentang era Hunky Dory memberikan konteks rinci tentang penciptaan Life on Mars? termasuk hubungannya dengan saga My Way. → Search
Strange Fascination: David Bowie - The Definitive Story (David Buckley) Studi mendalam tentang karya Bowie yang banyak dipuji kritikus, dengan analisis musikal dan budaya yang menyeluruh. Memberikan perhatian khusus pada periode awal 1970-an yang formatif. → Search
🌍 Kunjungi
Brixton, London Tempat kelahiran David Bowie pada 1947, di mana sebuah mural megah dirinya kini menghiasi dinding di Tunstall Road. Setelah kematiannya pada 2016, mural ini menjadi tempat ziarah informal bagi para penggemar dari seluruh dunia. → Search
Trident Studios, Soho, London Studio rekaman bersejarah di 17 St Anne's Court di mana Life on Mars? direkam, bersama dengan banyak rekaman ikonik lainnya dari Beatles, Queen, dan Elton John. Meskipun studio aslinya telah berubah, lokasinya tetap menjadi tujuan bagi pecinta musik. → Search
🎸 Coba sendiri
Piano Keyboard Yamaha P-45 Untuk mencoba memainkan bagian piano ikonik Rick Wakeman dari Life on Mars?, yang naik secara dramatis sepanjang lagu. Keyboard digital dengan 88 tuts terbobot ini adalah titik awal yang baik bagi siapa pun yang ingin belajar piano dengan serius. → Search
Buku Partitur Hunky Dory Lembar musik resmi yang berisi semua lagu dari album Hunky Dory, lengkap dengan akord, melodi vokal, dan bagian piano. Sempurna untuk mempelajari struktur akord brilian yang membuat lagu ini terus mempesona generasi musisi. → Search
🤖 Pertanyaan lanjutan:
- Bagaimana persona Ziggy Stardust yang dibuat Bowie setahun setelah Life on Mars? mengubah konsep identitas dalam musik rock?
- Mengapa kolaborasi Bowie dengan Mick Ronson sering disebut sebagai salah satu kemitraan kreatif paling penting dalam sejarah rock?
- Bagaimana tema keterasingan dan tontonan dalam Life on Mars? dapat dibandingkan dengan karya-karya Iwan Fals atau God Bless di Indonesia?