SONGFABLE · 1999

I Want It That Way

BACKSTREET BOYS · 1999

Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

I Want It That Way - Backstreet Boys (1999)

Sebuah lagu pop yang secara teknis tidak masuk akal secara gramatikal maupun naratif, namun justru karena kekosongan semantik itulah ia menjadi salah satu artefak budaya paling sempurna dari akhir abad ke-20. "I Want It That Way" adalah studi kasus tentang bagaimana ambiguitas, ketika dibalut harmoni vokal yang presisi dan produksi Swedia yang dingin, dapat menjelma menjadi katarsis universal. Di Indonesia, lagu ini menjadi soundtrack dari sebuah era ketika MTV, Reformasi, dan internet warnet bertabrakan dalam satu ruangan ber-AC.

Hook

Ada sebuah paradoks di jantung "I Want It That Way" yang, selama lebih dari dua dekade, telah mengundang ratusan esai, analisis akademis, dan perdebatan di kolom komentar YouTube. Liriknya — yang ditulis oleh Max Martin dan Andreas Carlsson, dua orang Swedia yang bahasa Inggrisnya pada saat itu masih dalam tahap pembentukan — secara harfiah saling bertentangan dari satu baris ke baris berikutnya. Penutur lirik mengaku mencintai, lalu menyangkalnya, lalu memintanya untuk tetap seperti itu, tanpa pernah menjelaskan apa "itu" yang dimaksud. Secara teknis, lagu ini gagal sebagai narasi.

Dan justru di sanalah letak keajaibannya.

Karena ketika Brian Littrell dan Nick Carter saling bersahutan di refrain, ketika harmoni lima suara itu naik seperti tirai katedral, tidak ada satu pendengar pun di seluruh dunia yang peduli pada inkoherensi semantiknya. Pada musim semi 1999, di kamar-kamar remaja Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan, lagu ini diputar berulang-ulang dari kaset bajakan Glodok, dari Walkman pinjaman, dari speaker tabung televisi yang menayangkan MTV Asia. Maknanya tidak penting. Yang penting adalah perasaannya — dan perasaan itu, anehnya, terasa seperti rindu pada sesuatu yang belum pernah dimiliki.

Background

Untuk memahami bagaimana lagu ini bisa terjadi, seseorang harus terlebih dahulu memahami sebuah kota kecil di Swedia bernama Stockholm, dan sebuah studio bernama Cheiron. Di pertengahan 1990-an, Cheiron Studios — yang didirikan oleh Denniz PoP (Dag Krister Volle) dan kemudian dikomandoi oleh Martin Sandberg, yang dunia kenal sebagai Max Martin — adalah pabrik rahasia yang mendefinisikan kembali tata bahasa pop global.

Filosofi Cheiron sederhana namun radikal: lagu pop tidak harus tentang sesuatu. Lagu pop harus terasa tentang sesuatu. Max Martin menyebut prinsipnya sebagai "melodic math" — matematika melodi. Setiap suku kata harus jatuh tepat pada beat yang menghasilkan ledakan dopamin maksimal di otak pendengar. Bahasa Inggris, bagi Martin, bukanlah alat komunikasi melainkan instrumen perkusi. Vokal adalah perkusi melodis. Kata-kata dipilih bukan karena maknanya, melainkan karena bunyi konsonan dan vokalnya cocok dengan kontur melodi.

"I Want It That Way" direkam pada akhir 1998 untuk album ketiga Backstreet Boys, Millennium. Pada saat itu, grup tersebut telah meledak di Eropa dan Asia, tetapi pasar Amerika masih dipegang erat oleh pesaing mereka, *NSYNC. Millennium dirancang sebagai serangan total. Lou Pearlman, manajer Backstreet Boys yang kemudian terbukti sebagai salah satu penipu finansial terbesar dalam sejarah musik (ia meninggal di penjara federal pada 2016 setelah mencuri lebih dari 300 juta dolar dari investor dan dari grup-grupnya sendiri), menginginkan single yang akan menundukkan dunia.

Yang menarik adalah versi lirik asli "I Want It That Way" sebenarnya berbeda. Versi pertama yang ditulis Martin dan Carlsson memiliki narasi yang lebih jelas — tentang hubungan jarak jauh, tentang seseorang yang tidak ingin pasangannya berbohong. Tetapi setelah didengar berulang-ulang, tim Cheiron memutuskan bahwa versi yang lebih "tidak masuk akal" — yang membiarkan frasa-frasa terbang lepas tanpa terikat pada makna — terdengar lebih kuat secara emosional. Mereka memilih bunyi mengalahkan logika. Dan dunia setuju.

Lagu ini dirilis sebagai single pertama dari Millennium pada April 1999. Album ini terjual 1,13 juta kopi di Amerika dalam minggu pertamanya — sebuah rekor yang bertahan selama bertahun-tahun. Video musiknya, yang disutradarai oleh Wayne Isham dan menampilkan kelima anggota grup di hanggar Bandara LAX dengan baju serba putih, menjadi salah satu video paling diputar dalam sejarah MTV.

Real meaning

Tetapi apa sebenarnya makna lagu ini?

Secara struktur, lagu ini adalah dialog yang terus-menerus membantah dirinya sendiri. Penutur menyatakan cinta, kemudian menyatakan bahwa cinta itu bukan miliknya, kemudian meminta sesuatu yang tidak pernah didefinisikan. Beberapa kritikus telah mencoba menafsirkannya sebagai lagu tentang hubungan toksik — di mana satu pihak mempertahankan pola yang tidak sehat justru karena familiaritasnya. Yang lain melihatnya sebagai meditasi tentang ambivalensi cinta itu sendiri: bahwa hasrat sejati selalu mengandung kontradiksi.

Penafsiran yang paling jujur, mungkin, adalah bahwa lagu ini tidak memiliki makna yang dapat diuraikan — dan justru itulah maknanya. Pada akhir 1990-an, generasi yang tumbuh di bawah bayang-bayang Perang Dingin yang baru saja berakhir, di awal globalisasi yang belum dipahami, di ambang milenium yang menjanjikan Y2K, sedang mencari bahasa untuk perasaan yang belum memiliki nama. "I Want It That Way" memberikan cangkang kosong yang sempurna untuk diisi.

Setiap pendengar memproyeksikan kerinduannya sendiri ke dalam lagu itu. Bagi seorang remaja di Jakarta yang baru saja kehilangan teman sekelasnya yang pindah ke luar negeri karena kerusuhan Mei 1998, "I Want It That Way" menjadi lagu perpisahan. Bagi seorang mahasiswa di Yogyakarta yang jatuh cinta pada teman satu kos, lagu yang sama menjadi pengakuan rahasia. Bagi seorang pekerja di Surabaya yang sedang menabung untuk membeli Discman, lagu itu adalah janji bahwa ada dunia lain di luar sana yang lebih luas, lebih bersih, lebih putih dari hanggar pesawat tempat video itu diambil.

Max Martin tidak sengaja menulis lagu yang resisten terhadap penafsiran tunggal. Tetapi resistensi itu adalah hadiah. Lagu itu menjadi cermin, bukan jendela.

Cultural context untuk pembaca Indonesia

Tahun 1999 adalah tahun yang aneh di Indonesia. Reformasi baru berusia satu tahun. Pemilu pertama yang demokratis sejak 1955 baru saja dilaksanakan. Krisis moneter masih membekas. Dan di tengah kekacauan politik dan ekonomi itu, MTV Asia — yang baru saja mendirikan studio di Singapura — menjadi salah satu jendela paling konsisten ke dunia luar bagi generasi muda Indonesia.

Backstreet Boys tiba di Indonesia bukan sebagai musisi asing, melainkan sebagai bagian dari pemandangan domestik. Kaset Millennium — baik yang resmi dari Aquarius Musikindo maupun yang bajakan dari Mangga Dua — terdengar di angkot, di warnet, di kantin sekolah. Lagu ini bersaing untuk perhatian dengan ekosistem musik Indonesia yang sedang bergejolak.

Pada saat yang sama, Dewa 19 sedang mempersiapkan album Bintang Lima (2000) dengan Once Mekel sebagai vokalis baru, sebuah album yang akan menjadi blueprint pop-rock Indonesia untuk dekade berikutnya. Sheila on 7 baru saja merilis debut album mereka pada 1999, mendefinisikan ulang apa artinya menjadi band remaja Jawa yang menulis lagu cinta tanpa ironi. Sementara itu, Slank dengan album 999% sedang mencatat amarah generasi pasca-Reformasi, dan Iwan Fals kembali ke panggung utama setelah era Orde Baru, suaranya menjadi semacam konselor moral bagi bangsa yang sedang mencari arah.

Ada juga warisan yang lebih dalam: God Bless, raksasa rock yang telah aktif sejak 1973, yang membuktikan bahwa Indonesia memiliki tradisi rock yang sama tuanya dengan Aerosmith atau Queen. Generasi yang membeli kaset Millennium adalah generasi yang ayah-ayah mereka pernah menyaksikan God Bless di Taman Ismail Marzuki.

Yang menarik, "I Want It That Way" tidak menggantikan lanskap musik lokal — ia berdampingan dengannya. Seorang anak muda di Jakarta bisa mendengarkan Backstreet Boys di pagi hari, Sheila on 7 di sore hari, dan Iwan Fals di malam hari, tanpa merasa ada kontradiksi. Pop Indonesia 1999 adalah pop yang plural, omnivor, tidak xenofobik.

Hari ini, di Pasar Tanah Abang dan Pasar Santa, kolektor vinyl muda berburu piringan hitam Millennium dengan harga yang sebanding dengan album indie Eropa. Java Jazz Festival, yang dimulai pada 2005, sering menampilkan musisi yang besar dengan estetika pop akhir 1990-an — produser, vocal arranger, drummer sesi — yang kariernya dibentuk oleh era yang sama dengan Backstreet Boys. Ketika Boys II Men tampil di Java Jazz beberapa tahun lalu, penonton yang menangis bukan hanya nostalgia personal — itu adalah pengakuan kolektif bahwa harmoni vokal lima suara, akar lagu Backstreet Boys, adalah warisan global yang juga menjadi warisan Indonesia.

Mengapa lagu ini masih relevan hari ini

Pada 2026, lebih dari dua dekade setelah dirilis, "I Want It That Way" tetap menjadi salah satu lagu yang paling sering diputar di playlist Spotify global. Statistik streaming-nya melampaui banyak lagu yang dirilis tahun lalu. Pertanyaannya: mengapa?

Jawaban yang dangkal adalah nostalgia. Generasi yang remaja pada 1999 kini berusia 40-an, memiliki daya beli, dan mendominasi algoritma. Tetapi jawaban itu tidak menjelaskan mengapa anak-anak Gen Z di TikTok juga mengadopsi lagu ini sebagai meme, soundtrack untuk video transisi, atau backsound untuk pengakuan dramatis di kamera depan.

Jawaban yang lebih dalam adalah ini: di era ketika setiap produk budaya dirancang untuk memiliki "pesan" yang jelas, ketika setiap merek harus memiliki "purpose", ketika setiap influencer harus memiliki "narrative" — sebuah lagu yang dengan keras kepala menolak untuk berarti apa pun menjadi semacam pemberontakan kecil. "I Want It That Way" adalah ruang kosong di tengah ekonomi perhatian yang terlalu penuh. Ia tidak meminta apa-apa dari pendengarnya kecuali kehadiran.

Di Indonesia, di mana algoritma TikTok dan diskursus politik di Twitter sama-sama menuntut posisi yang jelas, ruang kosong itu menjadi semakin berharga. Lagu ini, ironisnya, menjadi salah satu artefak paling jujur dari era streaming — karena ia mengakui bahwa terkadang yang dicari pendengar bukanlah cerita, melainkan sensasi.

Dan ketika lima suara itu naik bersama di refrain — Brian, Nick, AJ, Howie, dan Kevin, masing-masing dengan timbre yang berbeda tetapi presisi yang sempurna — sesuatu yang lebih tua dari pop terjadi. Itu adalah tradisi paduan suara gereja, dipindahkan ke studio Stockholm, diekspor ke seluruh dunia, dan diterima dengan tangan terbuka di sebuah kamar di Jakarta pada tahun ketika sebuah negara sedang belajar menjadi demokrasi lagi.

Mungkin itulah cara ia menginginkannya.

Cara menyelami lebih dalam

🎧 Dengarkan

Millennium (Backstreet Boys) Album lengkap yang melahirkan "I Want It That Way" adalah dokumen sempurna tentang ambisi pop akhir milenium. Dengarkan secara berurutan untuk memahami arsitektur dramatis yang dibangun Max Martin. → Search

Bintang Lima (Dewa 19) Album yang dirilis hampir bersamaan, dengan ambisi yang setara namun rooted dalam tradisi pop-rock Indonesia. Mendengarkan kedua album berdampingan adalah pelajaran tentang globalisasi musik. → Search

📚 Baca

The Song Machine: Inside the Hit Factory (John Seabrook) Buku investigatif tentang Cheiron Studios, Max Martin, dan mesin pop Swedia yang mendominasi tangga lagu global selama dua dekade. Wajib bagi siapa pun yang ingin memahami bagaimana hits diproduksi. → Search

Musik Indonesia 1997-2001: Kebangkitan, Krisis, dan Mimpi (Idhar Resmadi) Kronik musik Indonesia di era yang sama dengan rilis "I Want It That Way", menempatkan invasi pop global dalam konteks lokal Reformasi. → Search

🌍 Kunjungi

Pasar Santa, Jakarta Selatan Lantai atas pasar tradisional ini telah menjelma menjadi surga kolektor vinyl, dengan beberapa kios yang spesialisasinya adalah pop 1990-an. Akhir pekan adalah waktu terbaik. → Search

Java Jazz Festival, JIExpo Kemayoran Festival tahunan yang sering menampilkan musisi yang membentuk estetika vokal pop akhir 1990-an. Pengalaman menyaksikan harmoni lima suara secara langsung mengubah cara seseorang mendengarkan rekaman studio selamanya. → Search

🎸 Coba sendiri

Mikrofon kondensor untuk rekaman vokal di rumah Pelajari mengapa harmoni Backstreet Boys terdengar begitu presisi dengan mencoba merekam vokal sendiri. Mikrofon kondensor entry-level sudah cukup untuk memulai eksperimen. → Search

Buku partitur vokal pop a cappella Coba bedah harmoni lima suara dengan mempelajari aransemen a cappella. Tradisi yang sama yang melahirkan Backstreet Boys juga melahirkan Pentatonix dan banyak grup vokal Indonesia. → Search


🎵 Listen on all platforms

🤖

  1. Bagaimana metode "melodic math" Max Martin memengaruhi penulisan lagu pop Indonesia di era 2000-an?
  2. Mengapa harmoni vokal lima suara begitu langka di musik pop Indonesia kontemporer, padahal tradisi paduan suara gereja di Indonesia sangat kuat?
  3. Apa yang akan terjadi jika "I Want It That Way" dirilis hari ini di era TikTok — apakah ia masih bisa menjadi hit global, atau justru terlalu "tidak punya hook 15 detik"?
Tags
90s