Everybody Wants to Rule the World
We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.
Sebuah lagu ceria yang sebenarnya mengkhawatirkan dunia
Ada satu ironi besar yang membuat "Everybody Wants to Rule the World" begitu istimewa. Kalau kamu mendengarkannya sambil menyetir di jalan tol, dengan jendela terbuka dan angin masuk, lagu ini terasa seperti soundtrack musim panas yang paling optimis. Ketukannya berdenyut ringan, gitarnya bergoyang santai, dan suara Roland Orzabal mengalun tanpa beban. Tapi begitu kamu benar-benar menyimak apa yang dia nyanyikan, ada kejanggalan yang muncul: lagu yang terdengar begitu bahagia ini sebenarnya bicara tentang keserakahan, kekuasaan, dan ketakutan bahwa peradaban manusia sedang menuju kehancuran.
Justru di situlah letak kejeniusannya. Tears for Fears sengaja membuat kontras antara nada musik yang menyenangkan dan pesan lirik yang muram. Judulnya sendiri terdengar seperti pengamatan santai — semua orang ingin menguasai dunia — tetapi kalau dipikir lagi, itu adalah diagnosis yang cukup menakutkan tentang sifat manusia. Kita semua, entah dalam skala kecil di kantor atau dalam skala besar di panggung politik dunia, punya dorongan untuk mengendalikan orang lain dan lingkungan sekitar. Lagu ini menaruh cermin di depan wajah kita, lalu membuat kita berjoget sambil melihatnya.
Dua anak muda dari Bath yang mengubah nama band tiga kali
Untuk mengerti lagu ini, kita perlu mundur ke kota kecil bernama Bath di Inggris. Di sanalah Roland Orzabal dan Curt Smith tumbuh besar. Mereka berteman sejak remaja, dan keduanya berbagi masa kecil yang tidak mudah — hubungan yang rumit dengan orang tua dan luka emosional yang membekas. Latar belakang inilah yang kemudian membentuk seluruh identitas band mereka.
Nama "Tears for Fears" sendiri diambil dari konsep terapi psikologis yang dikenal sebagai "primal therapy", yang dipopulerkan oleh psikolog Arthur Janov. Ide dasarnya adalah bahwa banyak rasa sakit orang dewasa berakar dari trauma masa kecil, dan menangis — mengeluarkan air mata untuk melepaskan ketakutan — bisa menjadi bentuk penyembuhan. Album debut mereka, The Hurting (1983), penuh dengan tema-tema kelam seperti kesepian, depresi, dan luka keluarga. Jadi Tears for Fears bukanlah band pop biasa; sejak awal mereka adalah band yang serius memikirkan kondisi psikologis manusia.
Lalu datanglah album kedua, Songs from the Big Chair (1985), yang mengubah segalanya. Di sini mereka memperluas cakupan dari luka pribadi ke luka kolektif — dari trauma individu ke trauma peradaban. "Everybody Wants to Rule the World" lahir dari album ini. Yang menarik, menurut cerita yang beredar, Roland Orzabal awalnya kurang antusias dengan lagu ini. Ia merasa temanya terlalu ringan dan "poppy" dibandingkan karya mereka yang lain. Produser Chris Hughes yang meyakinkannya bahwa lagu ini punya potensi besar. Ternyata Hughes benar: lagu inilah yang membawa Tears for Fears ke puncak tangga lagu di seluruh dunia, termasuk nomor satu di Amerika Serikat.
Bagi pendengar musik di Indonesia yang tumbuh dengan era radio dan kaset di tahun 1980-an dan 1990-an, lagu ini mungkin terasa akrab meski kamu belum tentu tahu judulnya. Suara synthesizer khas dekade itu, ketukan drum yang bersih, dan melodi yang mudah menempel di kepala adalah ciri era new wave Inggris yang sangat berpengaruh. Musik seperti inilah yang menjadi jembatan bagi banyak penggemar musik Barat di Indonesia untuk mengenal gaya pop cerdas — pop yang enak didengar tetapi tetap punya kedalaman. Kalau kamu pernah menikmati Duran Duran, a-ha, atau Depeche Mode, maka Tears for Fears berada di lingkaran budaya yang sama.
Membedah makna: kekuasaan, keserakahan, dan dunia yang berputar terus
Inti dari lagu ini adalah pengamatan tentang bagaimana keinginan untuk berkuasa itu bersifat universal dan tak pernah berhenti. Orzabal, dalam berbagai wawancara, menjelaskan bahwa lagu ini bicara tentang dorongan manusia untuk mengendalikan — bukan hanya para diktator dan pemimpin dunia, tetapi setiap orang dalam kehidupan sehari-hari mereka. Ada sesuatu dalam diri manusia yang selalu ingin lebih: lebih banyak kuasa, lebih banyak pengaruh, lebih banyak kendali atas keadaan.
Lirik lagunya (yang tidak akan saya kutip langsung di sini) menggambarkan dunia sebagai tempat yang terus bergerak, sebuah panggung besar tempat manusia saling berebut posisi. Ada nada undangan di dalamnya, seolah mengajak pendengar untuk mengakui bahwa mereka pun bagian dari lomba kekuasaan ini. Lagu ini juga menyentuh tema tentang membuat keputusan, tentang bagaimana kita menghabiskan waktu hidup kita, dan tentang perasaan bahwa segalanya bisa runtuh kapan saja. Ada rasa fatalisme yang halus — kesadaran bahwa meski kita berusaha mengendalikan segalanya, pada akhirnya banyak hal berada di luar genggaman kita.
Yang membuat lagu ini kuat adalah cara Orzabal menghindari khotbah moral yang menggurui. Ia tidak menuding siapa-siapa secara langsung. Sebaliknya, ia menyampaikan pengamatannya dengan nada yang hampir pasrah, seolah berkata: begitulah manusia, begitulah dunia. Konon, Orzabal menulis lirik dengan gaya yang sengaja longgar dan mengalir, membiarkan makna terbuka untuk ditafsirkan. Karena itulah lagu ini bisa dibaca dari banyak sudut — sebagai kritik politik, sebagai renungan filosofis, atau bahkan sebagai catatan pribadi tentang hubungan antarmanusia.
Konteks zamannya juga penting. Tahun 1985 adalah masa puncak Perang Dingin, ketika dunia hidup di bawah bayang-bayang perlombaan senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Ketakutan akan kehancuran global bukanlah abstraksi; itu adalah kecemasan nyata yang mengendap di benak banyak orang. Ketika Orzabal menyanyikan tentang keinginan menguasai dunia, ada gema dari ketegangan geopolitik saat itu — dua negara adidaya yang masing-masing ingin mendominasi, dengan seluruh umat manusia sebagai taruhannya. Lagu ceria ini, dengan kata lain, adalah produk dari era penuh kecemasan.
Warisan budaya: dari Live Aid hingga film modern
"Everybody Wants to Rule the World" bukan sekadar hit sesaat. Lagu ini telah menjadi bagian dari kanon musik pop dunia. Pada tahun 1986, Tears for Fears bahkan merilis versi ulang berjudul "Everybody Wants to Run the World" untuk mendukung kampanye amal Sport Aid melawan kelaparan di Afrika — memutarbalikkan judulnya dari "menguasai" menjadi "berlari", sebuah permainan kata yang cerdik untuk tujuan mulia.
Sepanjang dekade-dekade berikutnya, lagu ini terus muncul kembali dalam budaya populer. Ia menjadi favorit untuk dipakai di film, serial televisi, dan iklan, sering kali justru karena kontras ironisnya: melodi yang menyenangkan dipasangkan dengan adegan yang gelap atau menegangkan. Banyak musisi generasi berikutnya juga membawakan ulang lagu ini. Salah satu versi cover yang paling terkenal di era modern adalah aransemen yang lebih lambat dan muram oleh band Lorde untuk film The Hunger Games — sebuah interpretasi yang menarik keluar sisi gelap lagu ini dan menempatkannya dalam konteks distopia tentang kekuasaan dan pemberontakan. Ada juga versi dari Weezer dan artis lain yang membuktikan betapa lentur dan tahan lamanya komposisi asli ini.
Yang menakjubkan adalah bagaimana sebuah lagu bisa punya dua wajah sekaligus. Dalam bentuk aslinya, ia adalah anthem pop yang optimis; dalam bentuk cover yang diperlambat, ia berubah menjadi ratapan yang menyayat. Fleksibilitas ini menunjukkan betapa kokohnya fondasi lagu tersebut — melodi dan liriknya cukup kuat untuk menampung berbagai emosi yang berbeda, bahkan yang saling bertentangan.
Di kalangan penggemar musik Indonesia yang menyukai musik Barat era 80-an, Tears for Fears sering disebut sebagai salah satu band yang membuktikan bahwa musik pop tidak harus dangkal. Bersama band-band new wave lainnya, mereka menunjukkan bahwa kamu bisa membuat orang berjoget sekaligus berpikir. Ini adalah warisan yang terus dihargai, terutama di era streaming ketika generasi baru menemukan kembali lagu-lagu klasik ini lewat playlist dan rekomendasi algoritma.
Kenapa lagu ini masih terasa relevan hari ini
Lebih dari empat dekade setelah dirilis, "Everybody Wants to Rule the World" justru terasa semakin relevan, bukan sebaliknya. Perang Dingin memang sudah berakhir, tetapi dorongan manusia untuk berkuasa tidak pernah pergi ke mana-mana. Kalau di tahun 1985 ancamannya adalah nuklir, hari ini kita menghadapi bentuk-bentuk perebutan kuasa yang baru: persaingan teknologi antarnegara, pertarungan pengaruh di media sosial, konsentrasi kekayaan di tangan segelintir orang, dan krisis iklim yang mengancam seluruh planet.
Tema tentang keinginan mengendalikan dunia terasa sangat kontemporer di era ketika perusahaan-perusahaan teknologi raksasa berlomba mendominasi kecerdasan buatan, ketika informasi menjadi senjata, dan ketika setiap orang dengan ponsel di tangannya bisa membangun kerajaan pengaruh sendiri di dunia maya. Pengamatan Orzabal bahwa "semua orang" — bukan hanya elite — ingin berkuasa terasa nyaris kenabian di zaman media sosial, ketika ambisi untuk dilihat, didengar, dan diikuti telah menjadi bahasa sehari-hari.
Ada juga sisi personal yang membuat lagu ini abadi. Di luar politik dan geopolitik, lagu ini menyentuh sesuatu yang sangat manusiawi: ketegangan antara keinginan kita untuk mengendalikan hidup dan kenyataan bahwa banyak hal berada di luar kendali kita. Setiap orang yang pernah merasa cemas tentang masa depan, yang pernah bergulat dengan ambisi, atau yang pernah menyadari betapa rapuhnya rencana-rencana mereka, bisa menemukan diri mereka dalam lagu ini.
Dan tentu saja, ada daya tarik musikalnya yang tak lekang waktu. Aransemen lagu ini begitu bersih, begitu seimbang, sehingga tetap terdengar segar di telinga modern. Itulah sebabnya ia terus muncul di film, iklan, dan playlist baru. Sebuah karya seni yang mampu membungkus kegelisahan mendalam dalam kemasan yang begitu menyenangkan adalah karya yang langka — dan itulah kenapa "Everybody Wants to Rule the World" akan terus diputar selama masih ada manusia yang ingin berkuasa, yang berarti, kemungkinan besar, selamanya.
Cara menyelami lebih dalam
🎧 Menyelami suaranya
Cara terbaik untuk merasakan kejeniusan lagu ini adalah mendengarkan album lengkapnya, di mana lagu ini duduk berdampingan dengan hit besar lainnya. Album Songs from the Big Chair adalah puncak kreatif Tears for Fears, dan mendengarkannya secara utuh memperlihatkan bagaimana mereka menyeimbangkan pop yang catchy dengan ambisi artistik.
- Tears for Fears Songs from the Big Chair vinyl
- Tears for Fears greatest hits CD
- 80s new wave synth pop compilation
📚 Mengikuti kisahnya
Kalau kamu ingin memahami lebih dalam pemikiran di balik lagu ini, ada baiknya menyelami dunia new wave Inggris dan psikologi yang membentuk Tears for Fears. Buku-buku tentang era musik 80-an dan konsep primal therapy yang mengilhami nama band ini akan memperkaya cara kamu mendengarkan.
- Tears for Fears biography book
- 80s British new wave music history book
- Arthur Janov primal therapy book
🌍 Mengunjungi tempatnya
Tears for Fears lahir dari kota Bath di Inggris — sebuah kota bersejarah yang terkenal dengan arsitektur Georgian dan pemandian Romawi kunonya. Menjelajahi Bath dan sejarah musik Inggris memberi konteks tentang dari mana band ini berasal dan budaya yang membentuk mereka.
🎸 Mengalaminya sendiri
Lagu ini punya progresi akor dan ketukan yang sangat khas, membuatnya menyenangkan untuk dimainkan sendiri. Baik kamu memainkan gitar, keyboard, atau ingin memahami rahasia produksi synth-pop era 80-an, ada banyak cara untuk mengalami lagu ini dari dalam.
-
Kenapa lagu yang muram bisa terdengar begitu ceria?
Itu adalah kontras yang disengaja oleh Tears for Fears. Mereka membungkus pesan gelap tentang keserakahan dan kekuasaan dalam aransemen pop yang cerah, sehingga lagu ini bisa masuk radio dan sekaligus menyelundupkan renungan serius ke telinga pendengar tanpa terasa menggurui. -
Apakah Roland Orzabal benar-benar tidak menyukai lagu ini pada awalnya?
Menurut cerita yang beredar, Orzabal memang awalnya menganggap lagu ini terlalu ringan dan "poppy" dibandingkan karya mereka yang lebih serius. Produser Chris Hughes yang meyakinkannya untuk merampungkan lagu tersebut, dan ternyata lagu inilah yang membawa mereka ke puncak tangga lagu di seluruh dunia. -
Kenapa versi cover Lorde untuk The Hunger Games terdengar sangat berbeda?
Lorde sengaja memperlambat dan memuramkan lagu ini untuk menarik keluar sisi gelap yang tersembunyi di balik melodi aslinya. Dengan menempatkannya dalam konteks distopia tentang kekuasaan dan pemberontakan, versinya membuktikan betapa lentur komposisi asli ini — cukup kuat untuk menampung emosi yang sepenuhnya bertolak belakang.