SONGFABLE · 1978

Ever Fallen in Love (With Someone You Shouldn't've)

BUZZCOCKS · 1978 · MANCHESTER, UK

TL;DR: Lagu punk paling manis yang pernah ada ini sebenarnya bukan tentang cinta yang indah, melainkan tentang jatuh cinta pada orang yang tahu betul tidak seharusnya kamu cintai — dan kabarnya terinspirasi dari sebuah baris dialog dalam film musikal komedi lawas, bukan dari kisah asmara yang dramatis.
Listen elsewhere

We couldn't link a Spotify track for this story. Try searching the title on song.link to find it on your preferred service.

Sebuah ledakan manis di tengah kemarahan punk

Bayangkan tahun 1978 di Inggris. Punk sedang mengamuk. Sex Pistols meneriakkan anarki, The Clash meneriakkan revolusi, dan hampir setiap band punk terdengar seperti ingin membakar dunia. Lalu datanglah Buzzcocks dari Manchester dengan sesuatu yang aneh: sebuah lagu secepat kilat, sekeras tembok bata, tapi liriknya bicara soal patah hati dan rasa malu karena mencintai orang yang salah.

Itulah keajaiban "Ever Fallen in Love (With Someone You Shouldn't've)". Lagu ini menabrak harapan orang tentang apa itu punk. Alih-alih kemarahan politik, ia menawarkan kerentanan emosional yang sangat manusiawi. Energinya tetap berapi-api, tempo tetap menggebu, tapi yang diteriakkan bukan kebencian pada sistem — melainkan kebingungan seseorang yang tahu bahwa hatinya sedang berlabuh di tempat yang tidak seharusnya.

Inilah yang membuat lagu ini bertahan hampir setengah abad. Punk yang murni emosional. Sebuah pengakuan jujur yang dibungkus distorsi gitar. Dan justru karena kejujuran itulah, lagu ini terasa lebih abadi daripada banyak anthem punk yang lebih garang pada zamannya.

Manchester, Pete Shelley, dan sebuah baris dialog film

Buzzcocks lahir di Manchester, kota industri di utara Inggris yang kelak menjadi salah satu ibukota musik dunia — kota yang sama yang nantinya melahirkan Joy Division, The Smiths, hingga Oasis. Band ini dibentuk oleh Pete Shelley dan Howard Devoto setelah mereka terinspirasi menonton Sex Pistols. Mereka bahkan ikut menyelenggarakan konser Sex Pistols legendaris di Manchester Free Trade Hall pada 1976, sebuah pertunjukan yang banyak disebut sejarawan musik sebagai salah satu konser paling berpengaruh sepanjang masa karena begitu banyak musisi besar yang hadir di antara penonton yang sedikit itu.

Saat lagu ini dibuat, Howard Devoto sudah keluar dari band, dan Pete Shelley mengambil alih sebagai vokalis utama sekaligus penulis lagu. Shelley adalah figur yang menarik: ia terbuka tentang biseksualitasnya pada era ketika hal itu masih sangat tabu, dan ia sengaja menulis lirik-liriknya dengan cara yang tidak menyebut gender. Maksudnya jelas — siapa pun, dengan orientasi apa pun, bisa merasa lagu itu adalah cerita mereka sendiri. Pendekatan inklusif yang berani dan jauh mendahului zamannya.

Yang menarik, judul lagu ini kabarnya bukan berasal dari curahan hati yang dalam, melainkan dari sebuah baris dialog dalam film musikal komedi tahun 1955 berjudul Guys and Dolls. Konon Shelley dan rekan-rekannya menonton film itu, mendengar sepotong kalimat tentang pernah jatuh cinta pada orang yang seharusnya tidak, dan langsung merasa kalimat itu terlalu bagus untuk dilewatkan. Dari sepotong dialog ringan di layar, lahirlah salah satu lagu punk paling dicintai sepanjang sejarah.

Bagi penggemar musik di Indonesia, ada jembatan budaya yang menarik di sini. Manchester adalah kota yang sangat akrab di telinga orang Indonesia — bukan hanya karena Manchester United dan Manchester City yang punya jutaan pendukung di tanah air, tapi juga karena warisan musiknya. Banyak band indie dan alternatif Indonesia yang tumbuh dengan mendengarkan musik dari kota ini. Jadi saat kamu mendengarkan Buzzcocks, kamu sebenarnya sedang menyentuh akar dari sebuah tradisi musik kota yang sangat dekat dengan imajinasi banyak orang Indonesia.

Apa sebenarnya yang dinyanyikan lagu ini

Inti dari lagu ini sederhana tapi menusuk: perasaan terjebak. Tokoh dalam lagu ini menyadari bahwa ia telah jatuh cinta pada seseorang yang sejak awal sudah ia tahu adalah pilihan yang keliru. Bukan cinta yang membahagiakan, melainkan cinta yang membuat dirinya bertanya-tanya kenapa ia tidak bisa menahan diri.

Shelley menggambarkan perasaan ketika hubungan itu menyakitkan tapi tetap tidak bisa ditinggalkan. Ada rasa frustrasi pada diri sendiri, semacam pertengkaran batin antara akal sehat yang berkata "berhenti" dan hati yang terus melaju. Liriknya menyiratkan seseorang yang merasa terluka, merasa bodoh, dan tetap saja kembali. Ada nuansa rasa malu — bukan malu pada orang lain, tapi malu pada diri sendiri karena membiarkan dirinya begitu rapuh.

Yang membuat lirik ini begitu kuat adalah kejujurannya yang tanpa hiasan. Tidak ada metafora rumit atau puisi yang berlebihan. Shelley menulis seperti orang yang sedang berbicara pada dirinya sendiri di tengah malam, mencoba memahami kenapa ia melakukan hal yang ia tahu menyakitkan. Pertanyaan yang menjadi judul lagu itu — pernahkah kamu jatuh cinta pada orang yang seharusnya tidak — bukan pertanyaan retoris yang sombong, melainkan pertanyaan yang seolah ditujukan pada setiap pendengar: kamu juga pernah, kan?

Dan di situlah letak kejeniusannya. Karena hampir semua orang pernah merasakannya. Pernah menyukai orang yang sudah punya pasangan. Pernah terpikat pada seseorang yang jelas-jelas tidak baik untuk kita. Pernah mengejar perasaan yang akal sehat sudah berteriak agar ditinggalkan. Lagu ini menjadikan pengalaman universal yang memalukan itu sebagai sesuatu yang bisa dinyanyikan bersama-sama dengan keras.

Warisan yang melampaui zamannya

Sejak dirilis, "Ever Fallen in Love" perlahan berubah dari sekadar single punk menjadi semacam standar abadi. Lagu ini telah di-cover oleh banyak musisi lintas genre dan generasi. Salah satu versi yang paling dikenal di kalangan generasi yang lebih muda adalah cover dari band Fine Young Cannibals pada pertengahan 1980-an, yang membawanya ke film Something Wild dan memperkenalkan lagu ini ke audiens yang jauh lebih luas. Bertahun-tahun kemudian, sederet musisi terus menghidupkannya kembali, membuktikan bahwa kerangka melodinya begitu kuat sehingga bisa bertahan dalam aransemen apa pun.

Lagu ini juga sering muncul dalam daftar lagu terbaik sepanjang masa versi berbagai majalah musik dan kritikus. Ia dianggap sebagai contoh sempurna dari apa yang kemudian disebut "power pop punk" — perpaduan antara energi mentah punk dengan kepekaan melodi pop yang nyaris sempurna. Buzzcocks, lewat lagu ini, kabarnya menjadi salah satu pengaruh terbesar bagi banyak band pop-punk dan emo yang muncul beberapa dekade kemudian. Tanpa Buzzcocks, sulit membayangkan band-band yang menggabungkan riff cepat dengan lirik patah hati yang jujur.

Momen yang sangat menyentuh terjadi pada 2018, ketika Pete Shelley meninggal dunia. Sebagai penghormatan, banyak penggemar dan musisi yang menyanyikan lagu ini bersama, dan bahkan ada kampanye agar lagu ini masuk tangga lagu lagi sebagai bentuk perpisahan. Itu menunjukkan betapa dalam lagu ini tertanam di hati banyak orang — sebuah lagu tentang cinta yang salah, yang justru menyatukan ribuan orang dalam rasa kehilangan yang sama.

Kenapa lagu ini masih terasa relevan hari ini

Ada alasan kenapa lagu berusia hampir lima puluh tahun ini masih sering diputar, masih sering di-cover, dan masih membuat orang ikut bernyanyi. Karena tema yang diangkatnya tidak pernah usang. Selama manusia masih jatuh cinta, akan selalu ada orang yang jatuh cinta pada pilihan yang salah.

Di era media sosial dan aplikasi kencan sekarang, perasaan ini bahkan mungkin lebih relevan daripada di tahun 1978. Kita hidup di zaman ketika begitu mudah terhubung dengan siapa pun, dan dengan itu datang godaan yang sama beratnya. Banyak orang yang terjebak menyukai seseorang yang hanya muncul di layar ponsel, atau seseorang yang sudah jelas-jelas bukan untuk mereka. Pertanyaan yang diajukan Buzzcocks hampir setengah abad lalu terasa seperti ditulis untuk perasaan-perasaan modern itu.

Lagu ini juga mengajarkan sesuatu yang penting: bahwa kelemahan emosional tidak perlu dibungkus dengan kelembutan. Kamu bisa berteriak tentang patah hati. Kamu bisa menari sekencang-kencangnya sambil mengakui bahwa kamu sedang bingung dan terluka. Punk membuktikan bahwa kerentanan bisa terdengar keras dan penuh energi, bukan hanya lirih dan melankolis.

Untuk pendengar Indonesia yang menyukai musik Barat, lagu ini adalah pintu masuk yang sempurna ke dunia punk dan power pop. Ia mudah didekati, melodinya menempel sejak putaran pertama, dan emosinya bisa langsung dirasakan tanpa perlu menjadi penggemar berat punk. Dengarkan satu kali, dan kemungkinan besar kamu akan menemukan dirinya berputar di kepala selama berhari-hari — sebuah pertanyaan menggebu tentang cinta yang salah, yang ternyata adalah pertanyaan yang pernah dimiliki semua orang.


Cara menyelami lebih dalam

🎧 Tenggelam dalam suaranya

📚 Mengikuti kisahnya

🌍 Mengunjungi tempatnya

🎸 Mengalaminya sendiri


🎵 Dengarkan lagu ini

🤖 Tanya lebih lanjut
Tags
70s